
Viona sudah masuk ke ruangan kamar inap Enzio, saat Viona masuk hatinya langsung gelisah karena tatapan Enzio yang sangat nyalang pada dirinya. Sepertinya ia akan mendapatkan caci maki serta bentakan dari Enzio untuk dirinya. Viona terasa degdegan di dadanya, kedua telapak tangan nya mulai terasa dingin ia mulai kesulitan menelan Saliva nya, Ia menarik nafas dalam dalam mencoba untuk tenangkan dirinya dan siap menghadapi pasien Enzio.
Viona mulai mengatur nafasnya.
" Maaf Tuan saya baru datang." Viona melangkah dan berhenti berhadapan pada Enzio yang duduk di meja kerjanya.
Enzio menatap lurus pada Viona wajahnya sangat dingin apalagi sorot mata Enzio sangat tajam pada Viona.
" Dari mana saja kau?" ucapnya datar.
Viona menarik nafas dan di hembusnya pelan.
" Eumm.." mata Viona tidak berani melihat Enzio. " Eum..saya..euum..saya..baru dari luar Tuan."
Enzio hanya mengangguk. Kemudian roda kursi nya ia gerakan memutar dengan kedua tangan nya, Enzio ingin duduk di sofa itu Viona lalu bergegas membantu mendorong kursi roda Enzio sampai sofa.
" Tuan ingin duduk disofa?"
Enzio mengangguk.
" Sebentar Tuan!"
Viona kemudian membantu Enzio untuk duduk di sofa. Setelah Enzio duduk dengan posisi kedua pahanya ia lebarkan lalu tangannya langsung menarik tangan Viona hingga tubuh Viona terjatuh menimpa tubuh Enzio, Enzio sengaja melakukan itu. Lalu kedua tangan Enzio langsung memeluk tubuh Viona, Enzio ingin memberi peringatan pada Viona.
Viona tercengang ia di tarik oleh Enzio hingga menimpa tubuh Enzio, Viona gelagapan tangannya ingin melepas dari kedua tangan Enzio yang sudah melingkar di pinggang nya.
__ADS_1
" Tuan apa apan sih? Tuan selalu memperlakukan saya seperti ini."
" Diam Viona!"
" Tuan lepasin, kalau tidak saya akan teriak ."
" Aku bilang diam, Viona! jangan coba kau berteriak!"
Enzio kemudian memposisikan tubuh Viona duduk membelakangi Enzio. Viona sendiri makin gelisah dengan perlakuan Enzio.
Enzio rupanya ingin memeluk Viona dari belakang. Kedua tangan Enzio semakin ia eratkan di pinggang Viona yang terduduk membelakangi Enzio, Enzio memajukan tubuh nya sampai dada Enzio menempel pada belakang tubuh Viona.
Viona semakin tidak menentu dada nya sangat berdegup kencang.
" Eugh..tapi Tuan." Viona memegang kedua lengan Enzio yang melingkar.
" Ssst..diam lah!
" Tuan biarkan saya berdiri."
" Aku bilang diam! jangan kau bergerak kalau kau tidak diam bagaian bawah ku ini makin terasa gesekan dari bokong mu ini."
Mata Viona membulat memang sangat terasa di bagian bokong nya ada yang mengganjal benda keras. Enzio mulai memajukan wajahnya tepat di bagian leher Viona hidungnya menghirup aroma wangi rambut dan leher Viona.
Viona mulai terisak, matanya ia pejamkan ia merasa takut dengan perlakuan Enzio yang semakin kurang ajar pada nya. Viona merasakan gelenyar tubuhnya meremang karena sentuhan dari hidung Enzio di kulit lehernya. Enzio mengusap dengan hidung dan bibir nya lalu mengecupi leher Viona.
__ADS_1
" Katakan Viona...siapa pria tadi?" ucap Enzio berbisik hidungnya mengendus di ceruk leher Viona sangat lembut.
" Euughh..." Viona menggeleng.
" Kau tidak mau menjawabnya, Viona." ucap Enzio masih dengan lembut.
" Di- dia...Euhhh" Viona mende***
" Katakan dengan jelas, Viona!" Enzio mengecupi belakang leher Viona.
" Ahhkhh..hahh..hah.." nafas Viona makin berat.
Enzio senang mendengar desa*** keluar dari mulut Viona.
" Siapa dia, Viona? kau masih tidak mau menjawabnya, Viona." telapak tangan Enzio mulai menjelajahi pada dada kanan Viona dan mulai meremasnya pelan.
" Tu- tuan..akhhhhgk.."
" Kau tahu, Viona....laki laki itu sudah membuat ku cemburu, Vionaahh." Enzio makin mere*** dada Viona.
" Tuan sudah cu-cukup!...me- mang nya, Tuan siapa?"
" Owhh..kau benar Viona..Hem."
Enzio langsung menarik wajah Viona menghadap wajah nya, Enzio langsung menyerang bibir Viona dan melu*** bibir bawah Viona. Viona terisak. Ia merapatkan bibir nya dan berusaha menghindar dari serangan bibir Enzio.
__ADS_1