
Setelah mengantar putra putrinya masing masing Nick dan Zio melangkah beriringan menuju mobil nya masing masing, walaupun umur mereka sudah tak lagi muda, tapi keduanya semakin menambah tampan dan matang, Pria pria yang sangat dewasa di usianya yang sudah menginjak kepala empat memang banyak perubahan. Perubahan Nicholas dan Enzio semakin bijaksana, sangat mencintai keluarga, Caroline istri Nicholas Sangat memproritaskan pada suami dan ketiga anak nya, perhatian Caroline sangat menonjol Nicholas sendiri pun sangat bahagia tidak salah memilih Caroline untuk menjadi pendamping seumur hidupnya. Pengalaman hidup adalah pelajaran yang sangat berharga bagi Caroline dan Nicholas.
Kasih sayang Caroline memang pantas di acungi jempol ia sangat merawat ketiga anak anak nya yang tampan dan cantik cantik, tak jarang pula Nicholas selalu membawa Caroline keberbagai acara undangan relasi bisnisnya, juga sering liburan bersama anak anaknya.
Dalam berbisnis pun Enzio dan Nicholas sangat sehati, keduanya menjunjung tinggi kepercayaan bila ada pengkhianatan dalam bisnis mereka dan mempermainkan mereka, pun mereka tidak main main dan tidak segan segan untuk melenyapkan orang itu. Kejam menjadi ukuran untuk menyingkirkan yang sudah berkhianat atau korupsi, tidak memandang muda atau pun tua, itu sudah mereka lakukan tanpa sepengatahuan istri dan anak anak mereka.
Enzio George dan Nicholas Hugo sama sama tidak menyukai pengkhianatan, bermula dari tangan tangan usil di kantor akan bisa menghancurkan perusahaan yang mereka bangun dari nol, ibarat sakit di kuku semua anggota tubuh pun ikut sakit lebih baik di potong dari pada berimbas pada semuanya. Perusahaan Enzio semakin melebar kerajaan bisnisnya. Tak ayal ia semakin di takuti dan sangat di hormati, di kota nya.
" Hanya putri mu satu satu yang berani memerintah ku, Nick."
" Hahaha..aku pun terkejut, Zio. Putri ku Tania memang lain sendiri sifat nya, dia berani mengatakan apa yang dia tidak suka."
Enzio mengangguk setuju.
" Bagus sepertinya putrimu bisa diandalkan untuk menjabat di perusahaan mu, bila ia sudah dewasa nanti, dia tegas."
" Tidak beda dengan putramu, Leonald. Putramu pendiam tak banyak bicara, persis seperti diri mu, tidak perduli dengan sekitarnya."
Perbincangan mereka sepanjang menuju mobil mereka masing masing, sampai di mobil supir mereka membuka kan pintu.
" Sampai ketemu nanti, Zio."
" Heum.." Balasnya sedikit mengangguk.
Pulang sekolah kini Caroline lah yah menjemput Kedua putrinya. Sampai di depan sekolah Caroline keluar berdiri di sisi mobil berselang beberapa menit mobil Viona telah sampai sang supir pun membukakan pintu untuk Nyonya Viona.
" Terimakasih..!"
" Hati hati Nyonya..!"
Supir membantu memegang tangan Viona turun dari mobil. Setelah berdiri matanya melihat Caroline dan Caroline pun sama melihat Viona, kedua nya saling melempar senyum.
" Caroline..apa kabar?" Sambil menghampiri Caroline.
__ADS_1
" Baik Viona.'
Caroline menatap perut Viona seingatnya terakhir bertemu perut Viona masih rata.
" Kau sedang hamil berapa bulan..?" Seraya tangan nya menyentuh perut Viona.
" 2 Minggu lagi anak ku lahir!'
" Semoga lancar ya persalinan nya."
" Trimakasih Caroline."
Bel sekolah pun berbunyi nampak siswa siswi murid sekolah dasar mulai berhamburan keluar dari pintu utama sekolah.
Viona dan Caroline melayangkan pandangan ke gedung sekolah itu mata mereka mencari anak anak nya. Namun Apa yang di dapati oleh mata Caroline sang putri Tania berjalan bersama kakaknya Rachel. Rachel memegang tangan Tania yang sedang menangis. Membuat sang Ibu pun bertanya tanya apa yang telah terjadi lagi pada putri nya, Tania.
" Kenapa lagi Tania menangis?"
" Eugh?"
Langkah Rachel dan Tania sudah mendekat pada Ibu nya, yang dari kejauhan mereka sudah melihat mobil ibu mereka sedang menunggu.
" Rachel kenapa lagi dengan adik mu, ada apa Tania?' Caroline bertanya pada kedua putrinya.
Viona pandangan nya masih melihat lihat kedua putranya yang belum nampak keluar dari gedung sekolah.
" Biasalah Mom ulah Sergio lagi.." Ucap Rachel dengan nada kesal.
" Eugh..?"
Caroline dan Viona saling menatap sesaat.
" Eum.. Sergio yang menggangu Tania sampai membuat nya menangis..?" Tanya nya pada Rachel.
__ADS_1
Rachel mengangguk dan Tania pun nampak kesal dan menangis tersedu sedu, kedua pipinya nya nampak pink kemerahan. Putri ketiga Nicholas memang cantik di lihat Viona. Viona pun sedikit membungkuk kemudian membelai rambut Tania.
" Apa yang Sergio putraku itu, lakukan padamu mu?"
" Dia mencium pipi ku Tante..!" Balasnya dengan terisak.
Viona dan Caroline pun terkejut, sekaligus gemas tapi juga terdengar lucu. Viona menutup mulut nya ingin tertawa.
" Astagah anak itu benar benar." Ucap Viona pelan.
Caroline pun tidak bisa marah karena memang tingkah anak anak bagi nya wajar wajar saja.
" Maafkan putraku Caroline..!"
" Tidak perlu meminta maaf, namanya juga anak anak, tingkah anak anak itu biasanya mengikuti kebiasaan orang tua nya."
" Yeah kau benar.."
Tania pun dipeluk oleh Caroline, dan menghapus air mata Tania. Kini Leonald dan Sergio kedua putra Viona baru muncul dan segara menghampiri Ibunya.
" Mom..maaf sudah membuat mu menunggu." Ucap leonald datar.
" Kenapa kalian baru keluar?"
Leonald menjawab nya sambil berlalu melangkah masuk mobil.
" Aku menahan Sergio untuk memarahi nya, karena terus terusan menganggu Tania."
Sergio tetap santai walaupun sudah di tegur oleh Leonald masih saja iseng, matanya menatap Tania yang sudah berhenti menangis.
" Hai Tania..bagaimana rasa nya di cium oleh ku?"
" Sergio.." Tegur Viona.
__ADS_1
Sergio lalu melenggang gayanya yang santai masuk dalam mobil sambil senyum senyum, setelah melontarkan pertanyaan pada Tania.