
Viona takut dengan tatapan Enzio, tapi Viona juga sangat kesal pada Enzio.
" Tuan kenapa nimpuk saya?" Viona membungkuk memungut botol air mineral yang tersisa setengah lalu di letakan di meja.
" Kau sangat berisik dan mengganggu saya sedang bekerja."
" Tapi bisa tidak?..tidak usah timpuk saya! Tuan sudah 2 kali ini." Ucapnya pelan dan lembut dengan cemberut.
" Kau ingin aku lempar dengan laptop ku?"
" Coba saja kalau stok laptop Tuan banyak! mentang mentang orang kaya, se enak enaknya saja." Viona melangkah ingin keluar menghindari tatapan nyalang Enzio.
Baru saja tangan Viona memegang handel pintu.
" Kau tidak ku ijin keluar dari kamar ini!" ucap nya datar.
Viona kembali dan melangkah ingin duduk di sofa.
" Tidak juga duduk di sofa."
Viona menatap Enzio yang duduk dengan kedua tangan memangku dagunya sorot matanya tajam pada Viona. Viona tidak duduk di sofa ia melangkah pelan dan berdiri ia bingung apa yang harus dia kerjakan sekarang.
__ADS_1
" Kemarilah!"
Viona menurut dan menghampiri Enzio dan berdiri di depan meja Enzio masih menyisakan jarak. Matanya tidak berani menatap Enzio hanya menatap ke arah lain.
" Kemari dekat dengan saya." menunjuk dengan gerakan dagu kesisi sebelah kanan kursinya.
Terlihat wajah Viona agak ragu mendekatinya. Namun Viona tetap mendekat dan berdiri sampai di sisi Enzio.
" Mana ponsel mu?"
" Buat apa Tuan?"
" Kemari kan, berikan ponsel mu!"
" Kau sedang bertugas merawat ku Viona..24 jam, dan kau sudah melanggar tata tertib karena menerima telepon saat sedang bertugas."
" Baiklah Tuan.saya minta maaf, tapi..buat apa Tuan menyimpan ponsel saya?"
" Saya akan berikan kalau saya sedang istirahat, kecuali Dr.Smith menelpon mu?"
Viona makin bosan saja dengan tindakan Enzio. Enzio sendiri merasa berhak melarang Viona karena Viona sudah di kontrak oleh nya menjadi perawat pribadi Enzio.
__ADS_1
" Baik Tuan." Viona mengangguk.
Enzio membiarkan Viona untuk tetap berdiri di sisi kursi itu dekatnya, sedangkan Enzio hanya fokus pada pekerjaan nya.
" Tuan boleh saya duduk, sudah pegal Tuan."
" Hem." Enzio mengangguk.
Viona melangkah ingin duduk saja di sofa namun sambil melangkah Viona bergumam pelan.
" Saya kutuk kau jadi miskin, Tuan."
Namun Enzio masih mendengar gumaman Viona.
" Kau bicara apa,Viona?'
" Eugh?" Viona menoleh pada Enzio " ti- dak Tuan." Viona tersenyum.
Enzio masih menatap Viona sampai Viona duduk di sofa itu. Enzio masih mengamati gerak gerik Viona, Viona berdiri mengambil sebuah buku bacaan nya lalu kembali duduk.
Satu jam Enzio berkutat pada laptop nya, Ia melihat jam sudah pukul 12 siang, Enzio menutup laptopnya di lihatnya Viona tertidur di sofa itu. Sangat pulas.
__ADS_1
Enzio dengan kedua tangan kanan kiri nya memutar roda kursi itu dan menghampiri Viona yang tertidur di sofa, buku tebal nya sudah terjatuh dari tangan nya ke lantai. Enzio mendekati Viona di tatapnya wajah Viona lekat lekat saat terpejam. Enzio tatapan nya menyusuri dari wajah Viona sampai kaki yang di selonjor kan di sofa. Enzio mengagumi kecantikan Viona yang semakin hari semakin cantik gadis yang di tatapnya ini memang memiliki kecantikan yang sempurna hidung mata dan bibirnya bagi Enzio wajah Viona tidak membosankan di lihatnya. Istrinya memang cantik tapi Viona cantik dan menarik.