
Enzio kemudian kembali meminta secarik kertas dan pena pada pelayan. Enzio ingin menulis pesan pada Viona. Kertas itu Enzio lipat lalu di lempar ke Viona jatuh dekat di sisi gelas minuman Viona. Viona matanya langsung melirik pada kertas lipatan kecil itu, ia mengambil lalu membuka lipatan secarik kertas itu, sebelum membacanya mata Viona melirik sesaat pada Enzio.
Viona lalu membaca pesan singkat Enzio.
" Aku tunggu kau di parkiran!"
Setelah membaca pesan dari Enzio dada Viona mulai berdetak kencang ia sangat gugup.
Enzio berdiri, ia lebih dulu meninggalkan meja jamuan itu untuk menunggu Viona diparkiran.
Viona segera menyusul Enzio.
" Devan."
" Iya Viona." Devan menoleh pada Viona.
" Saya mau ke toilet dulu."
Devan mengangguk.
" Iya Viona..silahkan!"
Viona memundurkan kursi ia berdiri lalu mulai melangkah untuk menemui Enzio. Sampai diparkiran mata Viona mengedar mencari Enzio. Rupanya Enzio sedang menunggu Viona di dalam mobil melihat gadisnya sudah muncul Enzio membuka pintu belakang mobil, Viona melihat pintu belakang mobil Enzio terbuka. Viona menarik nafas dalam dalam lalu melangkah menuju mobil Enzio.
Sampai di mobil itu, Viona masuk Enzio sudah menunggunya kemudian Viona duduk dengan jarak agak menjauh dari Enzio lalu menutup pintu mobil itu.
Enzio melihat Viona nampak gugup, wajah gadisnya hanya menatap lurus kedepan.
" A-ada apa Tuan memanggil saya?"
Enzio senang bisa mendengar kembali suara lembut Viona.
" Kenapa kau menjauhi ku, Viona?"
Viona diam mata menurun ia tertunduk.
" Jawab Viona!"
" Saya tidak menjauhi Tuan, karena saya saat itu memang sudah selesai dengan tugas saya Tuan."
Enzio mengangguk, lalu menoleh pada Viona.
" Kenapa kau jauh jauh duduknya, mendekat lah!"
Viona belum juga menggeser bokongnya untuk mendekat pada Enzio.
" Viona."
__ADS_1
Viona belum juga menggeser duduknya.
" Vionaa."
Viona gemetaran ia mengangguk lalu menggeser duduknya namun masih menyisakan jarak dengan Enzio.
" Kurang dekat Viona."
Viona semakin gelisah wajah nya berpaling pada kaca jendela mobil dan memejamkan matanya sesaat lalu menarik nafas dalam dalam, Viona akhrnya duduknya mendekat Sampai menempel di sisi Enzio, ia tertunduk.
Enzio tersenyum gadisnya menurut, Enzio lalu memegang tangan kanan Viona dan mengecupi punggung tangan Viona telapak tangan Viona ia tempelkan pada pipinya, Enzio memejamkan matanya ingin merasakan sentuhan telapak tangan Viona yang halus. Enzio sangat merindukan telapak tangan Viona yang sangat menenangkan itu sentuhan yang menyembuhkan saat Enzio sakit demam.
Kemudian tangan kiri Enzio merangkul Viona dan semakin ia eratkan rangkulannya pada Viona. Viona terdiam ia masih menunduk belum mau menoleh wajah Enzio.
" Lihat aku Viona!"
Viona perlahan menatap wajah Enzio. terdengar hembusan nafas Viona.
" Kenapa kau gugup sayang."
Tatapan Enzio sudah lembut pada Viona.
" Iya Tuan, sangat gugup."
Enzio tersenyum lebar gadis nya ini memang sangat lugu.
" Aku sangat merindukan mu Viona..aku tahu kau juga merindukan ku."
Enzio mulai memajukan wajahnya ingin mencium wajah Viona. Namun Viona langsung memalingkan wajahnya.
" Kenapa Viona? aku ingin mencium mu."
" Tuan maaf..Devan sudah menungguku saya tidak mau lama lama..saya harus segera masuk."
Enzio seketika tidak suka mendengar nya, mata Enzio kembali nyalang.
" Kau menjalin hubungan dengan nya?"
Viona mengangguk kecil.
" Kau mengkhianati ku, Viona."
" Saya merasa tidak mengkhianati Tuan."
Enzio semakin geram, Enzio langsung menyandarkan kepala Viona di tatapnya wajah Viona lekat lekat.
" Dengar Viona! kau tidak boleh di miliki siapa pun..aku mencintai mu Vionahh."
__ADS_1
Nafas Enzio mulai tidak teratur dan berat karena menahan emosi.
Viona menggelengkan kepala.
" Tidak Tuan, maaf..saya mencintai Devan." ucap Viona berbohong.
" Kenapa Vionahh?"
" Saya tidak mau jadi penghalang hubungan Tuan dengan istri Tuan, maaf Tuan"
Enzio makin pertajam tatapannya pada Viona, ia harus mayakinkan gadisnya ini, bahwa bukan Viona yang jadi penghalang.
" Viona..bukan kau penghalang nya, justru Devan yang akan jadi penghalang ku..Mengerti!"
Enzio langsung memagut bibir Viona, sudah sangat lama Enzio merindukan bibir manis Viona, ciumannya makin ia perdalam, tidak lembut dan tidak kasar. Viona mulai kehabisan nafas.
" Tu-tuan.."
" Kau mulai menikmati Viona, heum?"
Enzio melepas pagutannya sesaat, ciuman nya kini mendarat pada leher Viona. Viona men****h.
" Tuan, Devan sudah menunggu saya harus keluar."
" Benarkah? aku tahu kau berbohong Viona." Ucap Enzio berbisik kecupan nya menjalar ke bahu Viona, tangan kanan Enzio kini menangkup pada dada Viona dan dire***nya lembut.
" Hahh..hhaah..Tuan."
" Heum?" Enzio menarik tali gaun Viona dan mulai mengecupi bagian dada Viona.
" Aghhhh..Tu- tuan hahhh.."
Desa**n Viona tidak bisa tertahan kan lagi mata nya kini terpejam karena menikmati cumbuan bibir Enzio yang kini sudah mengu**m dan menjilat pucuk dada Viona.
" Katakan Viona..kalau kau berbohong, kau tidak mencinta Devan..heum?"
******* bibir Enzio kini berpindah di dada kiri Viona.
" Katakan Viona!"
Enzio semakin intens memainkan kedua dada Viona, Enzio sangat pintar pucuk pucuk dada Viona ia stimulasi dengan lidah nya. Viona terkulai rangsangan yang Enzio berikan tak mampu untuk mecegah Enzio.
" Agghhhhh..Tuaann." Viona mengerang.
Viona mendapat pelepasan, Enzio kini tahu Viona hanya berbohong. Kepala Viona lalu di sandarkan di bahu Enzio, gadisnya terkulai lemas.
" Kau tidak mencintai Devan sayang..kau hanya mencintaiku, kau berbohong Viona." Enzio membelai rambut Viona.
__ADS_1
Viona mengangguk.