
Josh sudah sudah mengantarkan Viona tepat di kediaman Viona. Viona melepaskan seat beltnya.
" Terimakasih Josh untuk makan malamnya, lain kali aku yang traktir." Viona tersenyum.
" Boleh boleh saja kau mentraktir ku,Viona. Istrirahat lah! ini sudah jam 11 malam." Josh melirik arloji di pergelangan tangannya.
Viona mengangguk.
" Maaf juga aku mengantar mu kemalaman, semoga Papa Smith tidak menegur ku, hehhehe."
Viona terkekeh.
" Tidak apa apa...ya sudah aku turun ya! selamat malam."
" Malam Viona." Josh tersenyum.
Viona lalu turun lalu menutup pintu mobil itu tubuh nya sedikit membungkuk, ia melambaikan tangannya pada Josh dari balik kaca mobil.
Mobil Josh kemudian melaju dan menghilang dari pandangan Viona, Viona kemudian masuk ke kamar ingin segera tidur karena pagi pagi sekali Viona sudah di jemput kembali oleh supir pasiennya, Enzio.
__ADS_1
Supir Enzio sudah menjemput Viona, namun selama di perjalanan menuju Mansion Enzio tiba tiba hatinya merasa gelisah dan tidak tenang entah apa yang membuat dirinya gelisah di pagi hari.
Enzio masih menunggu Viona, rupanya dirinya tak dapat tidur semalaman karena memikirkan gadisnya itu, ia sedang menatapi foto foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya foto selama Viona libur mulai Viona menemui Ayah angkat nya kemudian menemui teman teman nya dan terakhir Enzio mendapatkan laporan Viona jalan berdua dengan seorang pria yang di duga Enzio adalah Dr.Josh sambil bergandengan tangan. Enzio menatapi foto foto itu Viona sedang berkencan dengan busana rok yang sangat pendek menampakan kedua kaki Viona dan sangat terlihat jelas kedua paha gadisnya itu.
Enzio masih terduduk di kursi di belakang meja kerja nya. Pukul 05.30 am Viona sudah tiba di kediaman Enzio, Pelayan mengatakan pada Enzio bahwa Viona sudah datang, Ia siap menunggu Viona menemui dirinya.
" Selamat pagi Tuan." Viona melangkah mendekati Enzio.
Tak ada sahutan dan anggukan dari Enzio, Enzio hanya melirik pada Viona, tangannya masih memainkan ponselnya ibu jarinya masih menggeser beberapa foto foto Viona.
Viona masih berdiri tak jauh dari meja kerja Enzio, ia menunggu respond dari Enzio 5 menit kemudian Enzio meletakkan ponselnya.
Viona mengangguk lalu melangkah mendekati kursi yang menghadap dengan Enzio lalu Viona duduk. Mata Viona menatap wajah Enzio ada sedikit lingkaran hitam di kedua mata Enzio muka begadang nya terlihat jelas dalam benak Viona apa pasiennya itu tidak tidur semalaman?.
Viona belum mau mulai bicara sebelum Enzio bicara, hatinya bertanya tanya ada apa dengan Enzio dan sekarang ini Viona semakin gusar di hatinya.
" Bagaimana libur mu?"
" Senang Tuan, terimakasih Tuan."
__ADS_1
Tatapan Enzio mulai terlihat tidak nyaman oleh Viona. Viona menunduk duduknya pun terasa gelisah kenapa tiba tiba saat ini Viona merasa seperti akan disidang. Enzio melihat Viona menunduk ia mulai takut menatap dirinya.
" Hem." Enzio menarik sudut bibir sebelah.
Enzio mengeluarkan sebungkus rokok jarinya menarik sebatang rokok dari bungkusnya kemudian ia menyulutkan api di ujung rokok itu asapnya dia hisap lalu dihembus pelan. Viona nampak terganggu dengan asap rokok yang Enzio hisap itu apalagi dalam ruangan AC.
Viona agak sedikit kesulitan bernafas karna asap rokok namun ia takut untuk melarang Enzio, lama lama Viona terbatuk karena Enzio terus menghisap asap rokok itu asapnya di hembus ke udara.
" Uhuk..uhuk."
Enzio kemudian mematikan rokok, matanya masih terus melihat wajah Viona yang tidak mau melihat dirinya. Enzio masih mendiamkan Viona. Hingga 15 menit Enzio meminta Viona untuk di antarkanke kamera nya.
" Antarkan saya ke kamar!"
" Baik Tuan." Viona berdiri bergegas dengan perintah Tuannya.
Sampai di ranjang tidur Enzio ingin membaringkan tubuhnya ada maksud terselubung ia ingin mengerjai Viona.
" Saya ingin tidur."
__ADS_1