
Enzio telah dijemput oleh supir pribadinya dari rumah sakit, ia sudah menanggalkan baju pasiennya pakaian yang selama ia dirawat menunjukan Enzio masih lemah saat itu,
kini ia berpenampilan dengan busananya berjas dan berdasi, busana sesuai kepribadiannya angkuh dan sombong tapi berkharisma. Enzio sudah kembali menampakan sosok yang sebenarnya sosok kepemimpinan dan kekuasaannya. Tak banyak bicara, tegas, dan arogan itulah karakter nya, hanya satu kelemahannya yaitu, wanita. Apabila ia sudah mencintai seorang wanita yang ia inginkan, ia akan mencintai wanita itu segenap hatinya.
Enzio memang belum bisa berjalan normal, tapi bukan berarti dirinya tidak berdaya justru kembali nya Enzio Ia akan melebarkan sayapnya dirinya akan kembali menunjukkan bahwa ia masih berkuasa, Viona gadis lugu yang cantik dan lembut yang kini duduk disampingnya telah menyabungkan sayapnya yang patah.
Viona sendiri belum bisa memahami sifat Enzio, bahkan dia pun melihat Enzio yang sudah tidak memakai baju pasien selama Enzio di rawat, penampilan Enzio kini sudah menjadi dirinya sendiri ia memang beda sangat tampan dan mempesona itu saja yang Viona nilai. Viona sendiri hanya berharap setelah Enzio sudah bisa berjalan, Ia bisa terlepas dari Enzio dan kembali pada habit nya nongkrong dan bergaul dengan teman temannya.
Masih didalam mobil, keduanya belum ada yang mengeluarkan suara baik Viona maupun Enzio kedua nya masih sibuk dengan pikirannya masing masing.
Enzio melirik pada Viona, selama perjalanan gadis ini masih terlihat gugup tak berani menoleh kearahnya. Enzio menyunggingkan senyumnya saja.
Enzio mulai bicara.
" Viona."
" Iya Tuan." masih menatap lurus
" Apa yang kau pikirkan?"
" Eum..tidak ada Tuan." Viona menjawab tidak menoleh pada Enzio.
__ADS_1
" Hem..kau gugup?"
Viona menggeleng lalu menarik nafas pelan.
" Kau tahu apa yang aku tidak aku sukai?"
Viona hanya menggeleng matanya menurun.
" Aku tidak suka bila aku bicara lawan bicara ku tidak menatap ku." Enzio bicara menatap lurus.
" Iya Tuan.." Viona menoleh pada Enzio.
Enzio lalu menoleh Viona.
Enzio hanya mengangguk Karena ucapan Viona yang polos.
Mobil sudah membawa Enzio dan Viona sampai di kediaman Enzio. Supir segera membuka kan pintu mobil Tuan nya. Viona bergegas turun dari mobil langsung memutari belakang mobil untuk membantu pasien nya. Matanya sempat mengedari rumah kediaman Enzio yang sangat megah dan kokoh. Dua orang pelayan sigap menyambut Tuan nya yang pulang dirawat dari rumah sakit, pelayan membungkuk dan bergegas membantu perawat Viona dan Tuan nya untuk duduk di kursi roda.
Pelayan wanita ingin membantu mendorong kursi roda Tuannya itu, namun di larangnya oleh Enzio. Tangan sebelah nya mengangkat.
" Biar perawat saya saja."
__ADS_1
" Baik Tuan." pelayan wanita itu membungkuk.
Viona mulai mendorong kursi roda Enzio, sedang kan pelayan hanya mengangkat tas koper Viona. Sampai di dalam Viona mendorong kursi roda Enzio sampai di ruang kamar pribadinya.
" Apa Tuan ingin langsung istirahat?"
" Belum Viona, antarkan saya keruang kerja saya."
" Baik Tuan."
" Biar kamar mu pelayan yang menunjuk kan di mana letak kamar mu."
" Iya Tuan."
Viona kemudian mengantar Enzio keruang kerjanya. Ia meletakkan Laptop dan segala barang barang kerja nya yang Enzio perlukan dari rumah sakit.
" Sudah Tuan."
" Kau gantilah baju mu! tak perlu memakai seragam mu, kecuali kalau kau ikut ke kantor ku."
" Baik Tuan."
__ADS_1
Viona menuju kamar yang sudah di siapkan oleh pelayan rumah Enzio. Matanya kembali mengedar mengelilingi seluruh ruangan rumah Enzio.
" Di mana istrinya?" Viona bertanya dalam hati nya karena belum menampakan sosok istri Enzio dalam rumah, dalam benak Viona.