
Saat Viona ingin mengganti botol infusan Devan berdiri dan menepikan kursi yang di dudukinya karena sedikit menghalangi jalan Viona, saat Viona berdiri dekat Devan tatapannya pada wajah Viona terlihat jelas pada Devan, perawat Ayah nya rupanya sangat cantik ia semakin mempertegas pandangan nya pada wajah Viona. Mata Devan menelusuri setiap inci wajah Viona dari mata hidung bibir Viona. lalu pada bagian tubuhnya dan terakhir pada kaki Viona.
Devan sedikit menyunggingkan senyum nya, masih menatapi Viona, kemudian segala gerak gerik Viona diperhatikannya. Viona tersenyum saat bicara pada Ayah nya, Devan melihat senyum Viona sangat manis.
Ia baru menyadari perawat Ayah nya mempunyai kecantikan yang sempurna kenapa tadi saat baru tiba dirinya melihat Viona biasa saja.
Nyonya Elsa diam hanya memperhatikan suaminya saat Viona sedang memeriksa kondisi suami nya. keempat orang itu hanya diam saja sedangkan Devan sendiri diam karena masih menatap wajah Viona. Viona tetap tenang ia hanya fokus pada tugas nya saja.
" Tuan Alex sebaiknya istirahat ya!" ucap Viona.
" Iya Viona, terimakasih." ucap Alex
" Biarkan Tuan istirahat dulu, Nyonya dan Tuan..? eum.." Viona mata nya beralih pada Devan.
" Devan Alexander, panggil saja saya Devan." sambil memberikan tangannya untuk salaman pada Viona.
Viona mengangguk tangannya langsung menyambut tangan Devan.
" Iya Tuan Devan, biarkan Ayah Tuan istirahat." Viona tersenyum pada Devan.
" Iya baiklah."
" Mom, Devan keluar dulu ya"
" Iya Nak, Viona saya didalam kamar saja menemani suami saya."
" Euh..baik Nyonya."
Devan dan Viona sama sama keluar dari kamar, Viona lebih dulu jalan Devan hanya di belakang Viona mengekor Viona, tatapan nya masih terus melihat Viona dari belakang.
Saat Devan menutup pintu kamar orang tuanya Devan memanggil Viona.
" Viona."
__ADS_1
" Iya Tuan."
" Panggil saja Devan, tak usah ada embel embel Tuan ya!"
" Eum..baik Devan."
" Bisa kita bicara, Viona."
Viona tersenyum.
" Baik."
Devan mengajak Viona bicara di luar.
" Duduk lah, Viona!"
" Iya Devan..ada apa?"
" Sudah berapa lama kau merawat Ayah ku?"
" O iya saya kenal dengan Enzio, kau pernah merawat dia?"
" Iya Devan."
" Saya sudah lama belum bertemu lagi dengan nya, apa yang terjadi dengan nya kenapa kau merawat Enzio?"
Viona kemudian mengambil nafas nya dalam dalam sebenar nya ia sudah tidak mau mengingat ingat lagi Enzio.
" Tuan Enzio kecelakaan dan kedua kaki nya patah."
Devan terkejut ia ingin tahu keadaannya karena gimanapun Devan sangat kenal dekat dengan Enzio.
" Saya ingin menelpon dia ingin menanyakan kabar nya, sebentar!"
__ADS_1
Devan kemudian merogoh ponsel nya untuk menelpon Enzio, Viona mulai panik ia terlihat gugup ia khawatir Devan akan mengatakan kalau dia sedang merawat Ayah Devan.
Devan mulai menghubungi Enzio namun rupanya panggilan nya tidak di angkat oleh Enzio.
" Tidak di angkat lain kali saja."
Viona terlihat lega ia membuang nafas nya pelan.
Esok harinya Viona Devan dan Nyonya Elsa membawa Alexander ke rumah sakit, Dr. Smith Hospital. Untuk memeriksakan ginjal pada Alexander.
Selesai memeriksakan hasil ginjal Alexander Viona bertemu dengan Ayah angkatnya.
Smith kemudian menyapa keluarga Alexander.
" Apa kabar Alex Elsa?"
" Kabar baik Dr. Smith."
Devan kemudian bersalaman dengan Smith, mereka sempat berbincang tidak lama kemudian mereka akan kembali pulang, namun sebelumnya Smith bicara pada Viona.
" Viona."
" Iya Papa Smith."
" Enzio mencari mu?"
" Eugh?"
" Dia terlihat resah tidak bertemu dengan mu."
" Dr. Smith aku sudah tenang tidak mau memikirkan Enzio, aku berharap tidak bertemu lagi dengan Enzio lagi Papa Smith."
" Ya sudah kembali, Tuan Alexander menunggu."
__ADS_1
" Iya Papa Smith."