
Suara keras manugaga yang bunyi kokoknya menyerupai tawa manusia membuatnya kaget dan terbangun. Pagi ini tak seperti biasanya, kokok manugaga diiringi dengan kokok ayam jantan lain dengan lengkingan kukuruyuk yang lebih berwibawa. Manugaga membalas dengan kokoknya hingga kokok ayam terdengar saling bersahut-sahutan. Sementara ayam betinanya berbunyi petak-petok tak karuan. Riuhnya mirip penonton stand up comedy yang sedang menertawakan komika yang pecah punch line di panggung. Suara kokok ayam selain tawa manugaga yang kandangnya berada di tengah taman samping rumah itu terdengar lebih mendominasi. Sepertinya letak kandangnya lebih dekat dengan kamar Biru.
Biru membuka matanya, duduk sebentar lalu membuka jendela untuk melongok ada apa di luar sana. Ada kandang ayam baru dekat dengan jendela kamarnya. Penghuni baru itu seekor ayam hutan jantan yang berbulu kehijauan dan ayam betina berwarna blirik-blirik putih. Keduanya menempati kandang besi yang cantik. Entah siapa yang berinisiatif memelihara ayam hutan itu. Setahu Biru kakaknya bukan pecinta binatang. Tak mungkin sengaja beli ayam hutan seperti itu. Manugaga sendiri merupakan hadiah dari kolega asal Makasar. Katanya manugaga pas sebagai simbol status sosial keluarga Satya yang menggambarkan tentang keteguhan, kesuksesan, dan keberanian. Ayam ini juga dipercaya oleh masyarakat Bugis dapat mendatangkan keberuntungan. Tak sembarang orang bisa memelihara manugaga, selain karena tergolong ungas yang dilindungi karena langka dan hampir punah. Dahulu manugaga hanya dipelihara dan berkembang biak di lingkungan bangsawan Bugis. Apakah tamu kak Satya semalam yang memberikan hadiah sepasang ayam hutan yang berisik itu? Yah, mungkin saja begitu.
Jadi ingat om-om yang semalam. Hihihi … tanpa sengaja bibir Biru melengkungkan senyum mengingat senyumnya yang lembut berwibawa dan tentu saja parasnya yang ganteng maksimal. Idaman banget sih. Tapi … kenapa masih jomlo ya?
Akh, Biru segera menepis pikiran ngelaturnya dengan istigfar dan menepuk-nepuk dahinya. “Jangan mudah terpesona pada lelaki, Biru. Jaga pandanganmu. Kamu perempuan terhormat.” ujarnya meyakinkan hatinya sendiri.
Hoam. Menguap pagi ini sedikit melegakan, sebab oksigen segar dengan cepat memenuhi paru-parunya sebagai bekal aktivitas hari ini. Sebenarnya masih mengantuk, tapi sinar jingga telah menerangi bumi. Biru segera ke kamar mandi untuk memulai aktivitas rutin paginya, lalu kembali ke kamar untuk shalat subuh lalu membereskan sprei dan selimutnya. Helm kucing hadiah dari Faiz yang sepanjang malam melekat di kepalanya ia letakkan di atas nakas agar tak lupa menggunakannya ketika akan tidur malam nanti.
Dini hari tadi Biru tertidur sebelum tayangan video multidimensi bertajuk metaverse biru itu rampung. Malam sudah terlalu larut dan tubuhnya sudah terlalu lelah. Tayangan terakhir yang terekam dalam ingatannya adalah foto-foto multidimensi keluarga Wirajaya dari masa ke masa, termasuk perjalanan bisnis Goldlight yang awalnya hanya berupa pabrik kecil yang memproduksi skincare dan beberapa produk customer good seperti detergen, sabun, dan pasta gigi. Gambaran tentang papa belum terekam banyak dalam benaknya, kecuali sekedar foto seorang berparas khas Tionghoa yang tampak keras dan dingin. Tak terlalu menarik, namun tetap berniat akan melanjutkan nonton videonya nanti malam
Ruang makan pagi itu sepi. Hanya ada Faiza dan Ritha yang duduk menghadap meja makan dengan piring yang hampir kosong.
Jadi malu. “Aku terlambat ya?”
“Sedikit.” Faiza menjawab dengan isyarat jari dan kerdipan manja matanya. Bola mata coklatnya terlihat berbinar.
__ADS_1
“Maaf.”
“Tak perlu minta maaf dan canggung begitu. Hari ini kakakmu dan Faiz sarapan lebih pagi kok.”
“Kenapa?”
“Kakakmu ada meeting penting jadi harus ke Surabaya dengan penerbangan paling pagi. Si Faiz dipanggil pakdenya buat briefing para programer sebelum berangkat ke sekolah.”
Hmm… sibuk banget sih mereka.
“Nanti kamu berangkat ke sekolah dengan mbak Sari ya, Bi. Faiz mungkin ke sekolah agak terlambat diantar motor sama mas Tom biar tidak terjebak macet.”
Kegiatannya hari itu berjalan biasa, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Yang tak biasa adalah kehadiran mama yang menjemputnya di gerbang sekolah dan berdebat panjang dengan mbak Sari yang hari itu berkeras menguntitnya bahkan ke toilet sekolah sekalipun. Mungkin prosedur pengamanannya diperketat lagi sejak kejadian penculikan kemarin.
“Saya ibunya, saya berhak membawanya ke manapun.”
“Mohon maaf, ibu harus ijin pak Satya dulu. Beliau wali sah Biru. Sebagai pengawal pribadi Biru, saya bertanggung jawab atas keamanannya. Saya tidak bisa membiarkan majikan saya pergi dengan siapapun tanpa ijin.” jawab Sari tegas.
__ADS_1
Rissa melotot dan mendorong Sari dengan angkuhnya, tapi tenaganya tak cukup menggoyahkan. Perempuan kekar itu tetap berdiri tegak dan tersenyum di hadapannya. Risa terlihat geram. Mulutnya melontarkan cacian buat pengawal berseragam hitam itu. Sari membalas dengan senyum tipis. Gagal melumpuhkan pengawal, ia langsung mencoba menarik paksa lengan Biru agar masuk ke sedan BMW hitamnya. “Ayo, Bi! Jangan pedulikan pengawal sampah ini. Nggak berguna."
“Lepaskan, Ma! Biru tidak suka mama pakai cara kekerasan begini.” Biru menghentakan lengannya. Perlahan genggaman tangan mamanya terlepas seiring raut kecewa memenuhi wajahnya.
“Mama mau bawa Biru ke mana? Biar Biru yang minta ijin pada kak Ritha.” Biru segera mengambil gawainya dan bersiap mencari nomor kakak iparnya.
Perempuan itu cemberut. Biru tak peduli dia suka atau tidak. Bagaimana pun juga ia harus taat peraturan keluarga Satya, jika pulang sekolah tidak tepat waktu harus ijin mau kemana, bersama siapa, dan apa keperluannya. Memang ketat, tapi Biru yakin peraturan itu dibuat untuk melindungi keluarganya sekaligus membiasakan hidup disiplin.
Biru bingung bagaimana menghadapi ibunya sendiri. Jujur ia tak nyaman bersamanya, tapi ia juga tak sanggup menolaknya. Bagaimanapun juga dia adalah ibu kandungnya. Sebagai anak, ia berkewajiban untuk berbuat baik pada orang tua. Karakter dan cara hidupnya berbeda dengan kebiasaan keluarga Wirajaya yang telah tertanam menjadi karakter pribadinya selama ini. Gaya ibunya seperti perempuan jet set yang menurutnya norak. Outfitnya semua bermerek internasional. Baju, perhiasan, tas dan sepatu yang dikenakannya pasti bernilai ratusan atau bahkan mungkin milyaran rupiah. Sangat berbeda dengan Lily maupun Ritha, dua perempuan yang ia kagumi karena sikap lembutnya dan selalu tampak anggun dengan hijab dan kesederhanaan penampilannya.
Sepanjang jalan Biru lebih banyak mendengar ocehannya tentang kekecewaan ibunya pada keluarga Wirajaya yang dianggap telah memperlakukannya dengan kurang layak. Perempuan itu protes kenapa Biru disekolahkan di sekolah swasta murahan, bukan sekolah internasional. Dia tak suka Biru bergaul dengan anak-anak kalangan biasa sebab menurutnya kesuksesan seseorang itu bukan hanya ditentukan oleh kualitas pribadi, namun lingkungan turut mempengaruhi. Bergaul dengan komunitas orang kaya katanya akan membuka wawasan serta peluang untuk menjadi kaya. Mereka tahu cara menjadi kaya dan punya jaringan bisnis yang berlandasan pertemanan serta pengetahuan yang diwariskan dari keluarganya. Dia bahkan protes dengan hijab yang dikenakannya yang menurutnya kampungan.
“Mama salah, keluarga kak Satya dan kak Lily memperlakukan Biru sama seperti perlakuan mereka pada anaknya. Faiz juga sekolah di sekolah yang sama kok. Jangan dipermasalahkan, Ma! Biru bahagia kok selama ini.”
“Mama pasti akan mempermasalahkan, soalnya mereka itu kebangetan pelit. Dulu waktu mama mau melahirkan kamu, Lily yang waktu itu jadi direktur keuangan Goldlight menolak memberikan biaya melahirkan dengan alasan tidak ada uang karena perusahaan sedang sekarat. Padahal Lily itu nggak tahu apa-apa. Dia baru lulus kuliah dan cenderung bodoh bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Tidak punya pengalaman tapi sok berkuasa. Buktinya nggak lama dia diberhentikan. Kenyataannya sampai sekarang tanpa campur tangannya Goldlight masih berjaya. Dia bohong. Kalau seandainya dulu dia kasih mama biaya melahirkan, kamu tidak mungkin masuk NICU. Dialah penyebab kelahiranmu bermasalah, Bi. Dia juga yang menyebabkan mama depresi waktu itu,” katanya berapi-api. Bibirnya mencibir. Kilat matanya memerah. Terlihat ada dendam bercokol di sana.
“Dia juga yang mengambil dan menyembunyikan kamu selama ini di vila kampung itu. Mama tidak terima dia mendidik kamu dengan cara kampungan. Kamu seorang puteri konglomerat, Bi. Seharusnya kamu dididik seperti anak konglomerat lain. Jangan memuji dia! Dia itu tidak ada baik-baiknya sama sekali. Ingat! Dia yang sudah memisahkan kamu dari mama.”
__ADS_1
Apa iya? Masuk akal juga sih. Biru tak tahu kenapa keluarganya selama ini tak memperkenalkannya dengan mama padahal mereka tahu mamanya masih hidup. Mereka juga tahu di mana mamanya tinggal dan bagaimana kehidupannya setelah menikah lagi sebagai isteri siri seorang pengusaha kaya. Mama ternyata tidak punya anak dari suami barunya. Kasihan juga sih nasib perempuan ini.