METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
HADIAH UNTUK RIO


__ADS_3

Biru masih duduk di kasur memandang dompet antik berisi uang tabungan yang berasal dari uang saku yang disisihkannya tiap hari. Ia ingin memberi hadiah atas kemenangan Rio. Apa ya yang cocok buat Rio? Buket bunga dan coklat kayaknya mainstream banget. Para fans Rio pasti sudah menyiapkan bingkisan semacam itu. Buket bunga hadiah yang murah meriah paling cocok buat kantong anak SMU. Sayangnya Biru tidak suka sesuatu yang biasa. Ia ingin.sesuatu yang berbeda agar orang terkesan dan mengingatnya karena pemberian itu. Tapi apa ya?


Sejauh ini Biru belum tahu apa yang diinginkan Rio. Biru hanya tahu ketua OSISnya itu suka makan makanan padang dan olahraga futsal. Beli bola lalu ditandatangani olehnya? Ah tetap saja tanda tangannya tidak ada istimewanya sama sekali, malah bikin jelek penampilan bolanya. Siapa sih yang kenal Biru. Hanya segelintir orang saja. Teman sekolahnya saja tak semua mengenal Biru. Kalau dapat hadiah bola yang ditandatangani David Beckam, Cristian Ronaldo atau Ronald Messi mungkin bola itu akan bernilai sangat istimewa. Beda kalau ditandatangani oleh tukang sapu, walau bolanya dari kulit asli pasti tetap dianggap remeh.


Ting. Terlintas ide untuk beli smartwatch sporty yang dilengkapi dengan stopwatch dan aplikasi yang merekam nadi, saturasi oksigen dan detak jantung pemakainya. Kayaknya keren. Cari aja yang berwarna navy. Dengan warna hitam kebiru-biruan pasti setiap Rio melihat jam akan teringat-ingat namanya. Hihihi. Untung ya punya nama yang diambil dari nama salah satu warna. Paling tidak namanya jadi mudah diingat. Menurut Biru sih begitu, entah kalau yang lain. Biru tersipu-sipu sendiri dengan pemikirannya.


“Aku ganti baju dulu ya, mbak Sari. Kita berangkat sebentar lagi karena aku mau mampir ke toko olahraga dulu.”


“Siap, Non.”


“Jangan gitu ah manggilnya. Nggak enak kedengarannya.”


“Terus Non mau dipanggil dengan sebutan apa.”


“Biru atau Bi aja juga boleh.”


‘Nulisnya pakai huruf ‘e’ dua ya?”


“Maksudnya B-e-e?” tanya Biru menegaskan kembali ide Sari.


Sari mengangguk.


“Eh iya, boleh juga. Kesannya jadi lebih imut ya.” Biru tersenyum manja membayangkan boneka lebah lucu yang kulitnya belang-belang kuning hitam.


Ya. Nanti di kartu ucapannya ditulis begitu saja. Salam dari Bee. Hihihi. Biru tak henti-hentinya tersenyum menemukan tulisan yang membuat kesan dirinya imut dan lucu. Agak terlihat bodoh bodoh sedikit tidak masalah, yang penting berkesan. Entahlah. Ide sesederhana itu membuat kepalanya seolah ditaburi bunga-bunga kecil.


“Ide mbak Sari Memang dahsyat.”


Perempuan bertubuh tegap itu tersenyum bijak. Dalam hati ia bergumam, dasar ABG.


Biru buru-buru ganti baju dengan kaos panjang, celana jeans, kaca mata gaya, dan kerudung instan yang diatasnya ditutupi topi lagi. Gayanya sporty. Dengan penampilan begitu kalau orang tidak mengenalnya dengan baik, tak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah Biru. Ia memasukan mukena parasut yang digulung sangat kecil ke dalam tas selempangnya agar memudahkannya tetap menjalankan kewajibannya pada Allah meski tengah berada di luar.


Sari cekatan membawa motor dan sangat menguasai jalan. Enak juga jalan sama body guard ramah seperti dia, seperti jalan sama kakak sendiri. Mungkin karena sama-sama suka olahraga dan tomboi, selera mereka pun hampir sama. Biru terbantu sekali karena Sari bisa memilihkan smartwatch yang dalam bayangannya bila dipakai Rio pasti keren, tambah kelihatan sporty dan fashionable. Biru jadi ingin melompat-lompat saking girangnya mendapatkan smartwatch yang sesuai dengan ekspektasinya dari segi warna, model, fungsi maupun harga. Dia berjalan ke luar toko olahraga itu dengan berjingkat-jingkat riang padahal tidak sedang menemukan harta karun.

__ADS_1


“Mbak Sari tolong bawain ya. Nanti kalau pertandingan selesai dan kak Rio menang, baru kita kasih sebagai surprise.”


“Memangnya cowok yang mau dikasih hadiah jam ini nggak


tahu kalau Bee nonton?”


Biru tersenyum manja. “Enggak. Kan surprise.”


"Kalau kalah gimana?"


"Tetap dikasih buat hadiah supaya dia makin semangat berlatih dan lain kali pasti akan menang." Biru menjawab dengan senyum yang enggan lepas dari bibirnya.


Sari geleng-geleng kepala. Apa bedanya kalah atau menang kalau sama-sama dikasih hadiah. Dasar anak ABG. Bilang saja mau cari perhatian. Gitu aja kok repot.


Orang bilang masa SMU itu adalah masa yang paling indah. Baru kenal cinta, merasa dewasa tapi hidupnya masih terombang-ambing belum tentu arah. Pikirannya masih pendek. Hanya kesenangan yang dipikirkan. Akibatnya di kemudian hari sering kali diabaikan. Makanya anak seusia itu butuh pendampingan ekstra agar tidak terjerembab di jalan yang salah.


Mereka masuk ke stadion anak sehat bersama-sama setelah sebelumnya celingak-celinguk cari mushola buat shalat ashar. Jam 4 suasana stadion mini itu sudah riuh, dipadati oleh siswa-siswi sekolah yang gemar futsal. Mungkin ada juga yang bawa suporter dari sekolah lain sebab hanya sedikit dari wajah-wajah orang yang berkeliaran dalam stadion mini itu yang dikenal Biru. Banyak wajah-wajah asing yang tak dijumpainya di sekolah.


Biru duduk di tribun tengah menyaksikan pertandingan sambil diselingi diskusi kecil mengenai perkembangan dunia olahraga. Cocok. Sari dan Biru sama-sama memiliki kegemaran beladiri dan olahraga. Sebagai orang yang mendedikasikan diri sebagai body guard, tubuh tinggi besar dan tegap Sari memang ditunjang oleh kecakapan beladiri dan kegemaran berolahraga. Melihat bodynya saja kayaknya orang sudah keder.


Shieny sore itu berubah menjadi pom pom girl atau pemandu sorak yang meramaikan  pertandingan futsal bersama 4 teman lain yang membawa rumbai ke sana ke mari dengan tarian akrobatik sederhana saat tim futsal sedang istirahat pergantian babak. Selepas aksinya dia sempat mendekati Biru.


“Lu nonton juga, Bi?”


Shieny menengok ke kanan dan ke kiri mencari-cari teman Biru. Nihil. “Lu dateng sendirian?”


Biru tak menjawab. Pandangannya fokus melihat perpindahan bola dari satu kaki pemain ke kaki pemain lain.


Shieny terlihat kesal dicuekin. Ia memegang kedua bahu Biru dan memaksa untuk berhadapan muka dengannya. “Udah mikir buat bunuh diri? Gue bilangin dari sekarang lu nggak usah deketin Rio. Orang tuanya nggak bakal ngijinin dia pacaran sama anak pelakor kayak elu. Sadar diri deh, Bi. Hidup lu tuh cuma nyusahin orang. Tuh temen lu yang namanya Kayla open BO gara-gara deket sama lu. Jangan-jangan lu yang ngajarin dia jalan pintas supaya kaya. Mentang-mentang sekarang ke mana-mana naik turun mobil, teman disuruh jual diri. Semua orang juga tahu keluarga lu tuh kaya karena mafia, tukang suap, dan suka nyerobot tanah orang.”


Biru hanya melirik. Tanpa harus bicara, Sari sudah mencengkeram tangan Shieny dan memelototi gadis itu hingga bola matanya tampak hampir mau keluar. Shieny langsung mendorong Biru tapi Biru sama sekali tidak oleng.


“Jangan ganggu Biru! Urus saja diri kamu sendiri. Apa yang kamu lakukan ini masuk dalam delik hukum perbuatan yang tidak menyenangkan dan fitnah. Mau dilaporin polisi?” gertak Sari.

__ADS_1


Shieny menarik tangannya dari genggaman Sari. Nyalinya mendadak ciut melihat tubuh tegap Sari dan gertakan lantangnya. Apalagi perempuan berpakaian safari hitam itu telah siap dengan recorder kecil yang sengaja diperlihatkannya di hadapan Shieny. Tangannya bergerak pelan mengacungkan recorder dengan senyum santai yang menghunus.


Sadar kalau ucapan kotornya bisa saja diperkarakan ke polisi dengan bukti recorder itu, Shieny langsung pergi begitu saja. Semoga kapok. Kalau mulutnya masih busuk, biar recorder itu jadi bukti di ranah hukum. Biru tersenyum sinis dengan sangat elegan. Bukan level dia meladeni mulut nyinyir Shieny. Cukup Sari saja. Biru kagum dengan cara kerjanya yang hebat dan cepat tanggap mengatasi situasi yang tidak menyenangkan bagi anak yang dikawalnya.


Pertandingan berakhir dengan kemenangan pada tim Rio. Shieny dan teman-teman kelas triple one berhambur mendekati para pemain buat selebrasi bersama dengan joget, saling berpelukan dan tos tosan antar pemain maupun dengan suporter pendukung. Suasana riuh penuh kegembiraan. Beberapa anak perempuan memeluk dan mencium Rio sambil memberikan buket bunga. Benar dugaan Biru, Rio mendapat banyak buket bunga dan coklat dari para fansnya sampai perlu dibagi-bagikan pada rekan-rekan timnya. Hadiah semacam itu terlalu mainstream. Akibatnya, terlihat beberapa fans Rio kecewa karena bunga pemberiannya diberikan ke tangan pemain lain padahal niat dia memberikannya khusus untuk Rio karena dialah top scorer pertandingan futsal tahun ini sekaligus bintang tim yang menjuarai pertandingan itu.


Cukup lama Biru menunggu di pintu keluar. Selebrasi telah berakhir. Satu per satu penonton pulang ke rumah masing-masing. Sementara pemain harus berganti kostum dulu di ruang ganti sebelum pulang sebab jersey yang mereka kenakan telah dibanjiri keringat.


“Kak Rio.” panggil Biru saat melihat Rio keluar dari ruang ganti.


Rio terperangah. Seorang gadis berjalan di belakangnya membawakan buket bunga dan perlengkapannya. Biru tak kenal siapa gadis itu. Yang jelas dia bukan Sieny atau pom pom girl lainnya.


“Eh, Biru. Kamu nonton juga? Sejak kapan?” tanya Rio sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan stadion mini anak sehat.


“Sejak awal pertandingan.”


Entah kenapa Rio terlihat panik. Tak puas sekali, beberapa kali ia mengamati seluruh sudut stadion mini mencari-cari sesuatu. “Ke sini sama siapa, Bi?”


“Mbak Sari.” Biru menunjuk Sari yang berdiri waspada di dekat pintu keluar.


“Body guard?”


Biru tersenyum tipis sambil mengangguk. Kepanikan Rio tampak sedikit berkurang seperti ada sedikit beban yang menguap.


“Aku cuma mau mengucapkan selamat dan ngasih ini. Semoga suka dan berguna.” Biru menyerahkan kantung kertas yang di dalamnya ada kotak smartwatch dan kartu ucapan. Ia tersipu namun matanya melirik gadis yang membawakan buket bunga dan perlengkapan Rio. Gadis itu menatapnya tajam tapi tak bicara sepatah pun. Siapakah dia? Rio selama ini tidak pernah cerita apa-apa tentang teman dekatnya.


“Terima kasih, Bi.”


“Aku langsung pulang ya. Takut kemalaman. Harus cukup istirahat. Kan besok pagi bertanding final voli.”


“Iya. Sukses ya, Bi.”


Biru langsung berlari meninggalkan Rio setelah hajatnya menyampaikan hadiah terlaksana. Hatinya bertanya, kenapa Rio tidak memperkenalkan dia pada gadis yang membawakan buket bunga dan perlengkapannya? Siapa dia? Biru mau tanya, tapi malu.

__ADS_1


__________


Bravo, Biru😍


__ADS_2