
Mama terdiam, menyangga kepala yang sepertinya sangat berat dengan kedua tangannya. Biru sendiri tak berani bertanya beban apa yang mendera perempuan itu. Rasanya masih teramat canggung. Berjumpa mama dalam situasi tak biasa justru menyisakan banyak pertanyaan yang membuat hatinya gundah. Kakak-kakaknya pernah bercerita kalau mama sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya. Jelas Biru bukanlah anak yang diinginkan. Kehadirannya bisa menjadi duri bagi keluarga baru perempuan yang telah melahirkannya. Aludra Zain telah dimakamkan dan memiliki pusara tersendiri untuk dikenang. Biarlah tetap seperti itu adanya. Biru tetap ingin menjadi Biru Zenitta Halim sebagaimana dirinya selama ini, bukan Aludra Zain. Anggap saja, keduanya bukan orang yang sama.
Mama memenuhi janji mengantarnya sampai di depan rumah, namun enggan mampir menemui kakaknya walau sekedar untuk basa-basi. Hanya melirik rumah sebentar dengan tatapan dingin.
“Maaf ya, Bi! Mama tidak bisa mampir karena sudah kemalaman. Salam buat keluarga kak Satya. Mama pasti akan sering menghubungimu.”
Biru mengangguk menelan rasa kecewanya dalam-dalam. Malam ini ia tak mampu bicara banyak. Semua rasa ditanamnya dalam hati saja.
Disambutnya pelukan perpisahan mama dengan hati yang hambar. Meskipun tiba saat tengah malam, Biru berharap mama mau mampir menemui keluarga Satya. Apa susahnya mampir sebentar sekedar untuk minta maaf karena telah menculik puteri kandungnya sendiri. Biar bagaimanapun Satya adalah walinya, pengganti papa yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada dirinya.
Namun harapan tinggal harapan. Biru hanya melihat ego seorang perempuan setengah baya. Entah apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Tidak bisakah seorang ibu membaca harapan anaknya hanya lewat insting dan tatapan mata? Rasa ragu semakin menyusup dalam hati. Mungkinkah mama masih punya masalah pelik dengan keluarga kakak tirinya? Biru yakin mama takut bertemu anak tirinya karena merasa bersalah. Jelas-jelas Biru tadi mendengar target penculikan itu adalah Faiz, anak Satya. Apa sebenarnya tujuan mama menculik Faiz? Sekedar minta uang tebusan, melampiaskan dendam lama atau ada tujuan lain yang berkaitan dengan bisnis atau masalah keluarga.
“Jaga dirimu baik-baik ya!” Netra coklatnya menatap Biru dengan tatapan yang lembut sebelum ia melepaskan cengkeraman tangannya pada bahu Biru. Terlihat tulus. Teduh bagai pohon beringin yang mengayomi siapapun yang mencari keteduhan di bawah dahan rindangnya.
Perlahan kegamangan sedikit menyusupi hati. Biru juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Bisakah ia berharap kasih sayang itu dari perempuan yang baru saja dikenalnya ini?
“Mama juga jaga diri.”
“Simpan nomor mama baik-baik ya. Kamu boleh menghubungi mama kapanpun kamu mau. Mama akan selalu ada buat kamu."
Biru mengangguk. Separuh hatinya masih tak yakin dengan kata yang keluar dari bibir perempuan itu. Tidak. Biru tak ingin terbuai harapan semu. Ia tetap harus berhati-hati menaruh harapan sekali pun itu pada ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Eh ada tamu. Bibi, kenapa tamunya tidak diajak masuk.” Tiba-tiba saja si mata biru muncul menyapanya bersamaan dengan satpam yang membuka pintu gerbang.
Anak aneh itu memang kerap keluar rumah di malam buta hanya untuk duduk memandangi langit sambil ngobrol santai dengan satpam rumah. Dia suka sekali memandang langit saat sedang jenuh. Tak peduli saat warna langit biru atau saat langit gelap berhias milyaran bintang. Baginya langit selalu indah. Siang atau malam memiliki pesona yang sama memikat hati. Katanya memandang langit adalah salah satu cara ampuh untuk menormalkan fungsi matanya yang tercemar radiasi sinar layar komputer terus menerus sepanjang hari.
Dih, ngapain anak itu tiba-tiba muncul. Kebetulan itu memacu jantung Biru berdetak lebih kencang. Hatinya mendadak diliputi cemas ketika melihat mama langsung memandang anak itu dengan mata yang menghunus bagai pisau tajam. Harusnya dia yang diculik mama hari ini. Kalau tak ada Biru, satpam dan mbak Sari yang sudah berada di belakangnya mungkin mama akan menyergap Faiz lalu membawa anak itu pergi sebagaimana tujuan awal mereka. Harusnya Faiz tidak usah muncul agar mama tak tahu bagaimana rupanya sekarang. Bahaya, Faiz. Biru sama sekali belum tahu apa tujuan mama merencanakan penculikan cucu tirinya sendiri. Walau kamu menyebalkan dan bikin iri, tapi kamu tetap keponakan yang baik. Biru tak ingin kamu celaka, Faiz. Metaverse biru yang dijanjikan belum terealisir seluruhnya. Biru belum bisa berkomunikasi virtual dengan papa.
“Maaf, sudah malam. Oma tidak bisa mampir.” Mama menjawab dengan suara tenang dan gaya yang anggun.
“Oma?”
“Mamaku, Iz.” jelas Biru yang kemudian diikuti anggukan kepala Faiz.
Faiz langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
“Nama saya Faiz Satria, anak sulung Satya Wirajaya Halim.” Faiz menyebut namanya dengan jelas dan dada yang membusung.
Mama membalas uluran tangan cucu sambungnya dengan wajah yang kaku, “Saya Rissa Paryogi.”
“Silakan masuk, Oma! Mampir sebentar. Ayah belum tidur kok. Terima kasih telah mengantar bibi Biru pulang dengan selamat. Kami sangat mengkhawatirkannya tadi."
Tidak perlu berterima kasih, Faiz. Dia sudah menculikku, sudah seharusnya dia mengembalikan aku ke rumah. Biru bergumam sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
“Maaf, sudah terlalu malam. Oma harus segera pulang. Rumah Oma jauh dari sini dan keluarga pasti sudah menunggu. Sampaikan salam saja buat ayah dan bundamu.”
Mama terlihat menghindar dan terburu-buru masuk kembali ke dalam BMW hitamnya. Sebentar kemudian mobil itu sudah menghilang di kelokan jalan yang sudah mulai sepi.
Pertemuan malam itu bagai mimpi buruk yang nyata. Herannya Faiz tak tampak jutek seperti biasanya. Mungkin malam ini ia habis kejatuhan bintang dari langit. Senyumnya lebar. Sama sekali tak ada prasangka. Dia tak tahu, beberapa jam yang lalu ia telah menjadi target penculikan. Andai penculik itu sedikit pintar, entah apa yang terjadi pada dirinya. Apa dia masih bisa tersenyum sesantai itu.
“Bibi kenapa menghilang maghrib-maghrib? Pak Agus bilang mungkin Bibi diculik kalong wewe. Mbak Sari dan orang-orang di Happy Resto & Game House tadi panik mencari Bibi. Ada yang bilang katanya melihat Bibi pingsan digotong orang dan dimasukan ke dalam mobil SUV warna hitam. Tadinya kami pikir Bibi diculik.”
Memang benar ia diculik. Namun Biru tak kuasa mengatakan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana pun juga orang yang berniat menculiknya adalah ibu kandungnya sendiri.
"Ya sudah nanti aja ceritanya. Sudah malam. Masuk, Bi! Temui ayah dan bunda dulu. Mereka tak bisa tidur sebelum melihat Bibi pulang dengan selamat."
Tumben Faiz sedikit perhatian. Anak itu tidak penasaran ingin tahu kisah uniknya selama beberapa jam usai matahari tenggelam malam ini. Faiz mempersilakan Biru masuk. Sementara Faiz sendiri melanjutkan ngobrol sambil minum kopi di pos satpam bersama dua orang pekerja rumah.
"Kamu nggak masuk sekalian, Iz."
"Mataku masih perih. Butuh melihat di luar melihat langit dan tanaman biar fresh."
_______
Miss you all, reader😘
__ADS_1
Semoga tetap sehat dan bahagia.