METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
LIKE FATHER LIKE SON


__ADS_3

Apa yang dikatakan ayah sebenarnya bukan jawaban yang diinginkan Faiz. Ia tak ingin pengawalan yang membuat aktivitasnya tak lagi bebas. Lagipula ia sudah sadar diri harus selalu waspada dan berhati-hati. Ia paham bahwa ia harus belajar mengaum seperti raja rimba agar kharisma dan wibawanya muncul melindunginya secara metafisik lewat aura yang bertebaran di sekitar tubuhnya. Yang membuatnya penasaran adalah siapa orang yang menguntitnya dan apa tujuannya. Apakah orang-orang itu berhubungan dengan kematian om Ardi?


“Yah… Ayah marah nggak kalau Faiz tanya sesuatu tentang om Ardi?”


Satya tersenyum tanpa terlihat kerut di ujung matanya. Faiz tahu ayahnya pasti tak suka dengan pertanyaannya. Senyumnya palsu.


“Ayah sebenarnya tahu nggak sih siapa yang menembak om Ardi?”


Satya mengalihkan pandangannya ke arah burung murai yang berhenti menyenandungkan cicit cuit khasnya. Ia berusaha menarik nafas panjang dan menenangkan perasaannya yang selalu gelisah tiap kali nama Ardi disebut-sebut. Rasa bersalahnya belum jua hilang, hanya bersembunyi dan sewaktu-waktu muncul lagi menghantuinya. Entahlah. Sebuah pelajaran mahal akibat pembajakan emosi harus ditebus dengan kesalahpahaman yang tak jelas ujungnya. Satya bukan tak tahu Nisa masih menyalahkannya atas kematian Ardi, juga anak lelakinya yang cacat karena kecelakaan itu.


“Aku percaya bukan ayah yang menyuruh penembak itu.” Faiz mengucapkannya dengan sangat meyakinkan agar ayah tidak merasa terbebani dengan pertanyaannya.


Demi Allah. Memang bukan ayah pelakunya. Ingin rasanya Satya berteriak namun suaranya tercekat di dasar tenggorokan. Ia tetap merasa bersalah. Ada hutang maaf yang belum tersampaikan hingga Ardi menutup mata. Kesalahpahaman itu terbawa sampai mati.


Lagi-lagi ia mengisi paru-parunya dengan lebih banyak oksigen. Astagfirullahal adzim. Sungguh. Satya tak ingin menghindar. Ritha dan Teguh telah bercerita banyak tentang keinginan Faiz menguak misteri penembak misterius itu. Keinginan anak itu tak bisa dicegah. Makin lama usianya kepala anak itu makin mengeras seperti batu berlian yang dianggap mulia. Makin bersinar dan menampakkan kilau yang memukau. Lebih baik baginya jika ia jujur saja meski beresiko kehilangan wibawa sebagai lelaki dewasa. Daripada tahu dari orang lain, lebih baik ia mendengar cerita dari ayahnya sendiri.


“Ayah tidak menyuruh siapapun untuk mencelakai saudara sepupu ayah sendiri, Boy. Ayah sayang sama om Ardi. Waktu itu ayah hanya emosi, terprovokasi pesan-pesan yang dikirim orang tak dikenal. Ayah tidak tahu kalau


om kamu menerima telepon itu menggunakan bluethoot di mobilnya hingga semua penumpang mobil mendengar kemarahan ayah yang tidak pada tempatnya. Ayah menyesal, Iz. Tapi dengan adanya peristiwa itu ayah jadi belajar mengontrol emosi. Sekarang ayah berusaha lebih bijak. Kami telah melewati semua bersama dan bundamu tidak mungkin mengkhianati ayah.”


“Ayah terlalu bucin sih.” Faiz tersenyum. Baginya ayah tetap ayah yang baik.


Satya ikut tersenyum tipis. Heran. Kenapa ia terlalu mudah tersulut amarah tiap kali ada sesuatu yang berkaitan dengan istrinya. Arogansi bercampur rasa takut kehilangan terlalu kuat mengikat hatinya.


Sakit juga rasanya melihat ayahnya yang kuat berubah mengenaskan setelah dipaksa mengingat kesalahan sepele yang berakhir dengan penghakiman yang tak tahu kapan berakhirnya. Faiz mencoba memelintir keadaan dengan mengalihkan pertanyaan pada keadaan sekarang. Mungkin interogasinya bisa ditarik maju mundur seperti cerita flashback yang unik.


“Sekarang bagaimana keadaan PT Cantika Bestari, Yah?”

__ADS_1


“Sudah berangsur pulih operasionalnya. Pak Safi bekerja profesional.”


“Dia juga beli rumah om Ardi.”


“Ya. Atas saran ayah.”


Sudah diduga. Ayah pasti terlibat dalam jual beli itu.


Kembali lagi ke pertanyaan awal, Faiz bertanya dari sisi yang berbeda. “Kata bunda kasus penembakan itu ditutup karena ada orang kuat dan berkuasa yang sulit tersentuh hukum. Berarti sebenarnya ayah sudah tahu terduga pelakunya dong.”


Satya mengacak-acak rambut puteranya yang lurus dan tebal seperti rambutnya.


“Terduganya mungkin pemilik lama perusahaan yang tak mau ada pengalihan saham atas namanya. Dia bersikeras mempertahankan kepemilikannya padahal perusahaan itu sejatinya sudah bangkrut karena ulahnya. Dia kira bukti-bukti kejahatannya menggerogoti dana perusahaan begitu mudah dimusnahkan dengan meninggalnya om Ardi dan mundurnya direktur keuangan. Banyak orang tahu direktur keuangannya mundur beberapa bulan sebelum kematian om Ardi karena tak kuat hidup di bawah tekanan dan ancaman orang tak dikenal. Kemungkinan om


Ardi juga diancam dengan cara yang sama tapi sayangnya tak ada bukti dan saksi yang menguatkan itu.”


Hm. Begitu ya? Kemungkinan om Ardi ditembak karena ia bersikeras mempertahankan prinsipnya dan tak mempan diancam dengan kata-kata.


“Ya. Disinyalir ada orang kuat yang berdiri di belakang pemilik lama. Daripada berlarut-larut mengorek luka, kakek guru dan eyang Dewi memutuskan untuk menutup kasus ini dan mengikhlaskan kepergian om Ardi.”


Kasusnya masih mengambang. Pantas Rosyid dan tante Nisa tetap menganggap ayah yang paling berpotensi menyuruh orang menembaki mobil mereka karena ayah yang sebelumnya didengar marah dan mengancam om Ardi. Bukan orang lain. Oh iya, Faiz belum sempat membuka hard disk eksternal milik om Ardi. Mungkin ada petunjuk lain di sana. Entah itu berupa rekaman suara atau hal lain yang bisa dijadikan bukti untuk menyeret otak dan pelaku penembakan itu ke penjara. Kalaupun tak bisa diseret ke penjara, setidaknya ia bisa membuktikan ayahnya tak bersalah di depan Rosyid dan tante Nisa.


“Bagaimana cara ayah mengambil alih kepemilikannya sampai jadi milik Goldlight sekarang?” Faiz melipat tangannya di dada. Rasa ingin tahunya masih membuncah.


Satya senang anaknya mulai tertarik mengetahui cara mengambil alih perusahaan yang tengah sekarat. Bagaimana pun belum ada satu pun cucu Wirajaya Halim yang kelihatan tertarik melanjutkan kerajaan bisnis Goldlight. Faiz adalah harapan. Anak-anak Bram kelihatan tertarik pada dunia fashion dan entertain. Anak-anak Lily jelas tertarik di bidang pendidikan, agama dan perkebunan. Sedangkan Bas masih betah melajang di umurnya yang hampir kepala 5.


“Ayah terlebih dahulu menunggu keputusan pailit yang diajukan rekanan PT Cantika Bestari atas hutang-hutangnya yang belum dibayar.”

__ADS_1


Ayah memang penuh perhitungan soal bisnis. Sedikit licik, tapi dijamin jitu. Pasti ayah yang mengkoordinir rekanan PT CB untuk bersama-sama mengajukan pailit agar aset dapat segera dilikuidasi setelah keputusan pailit berkekuatan hukum. Dengan demikian masalah lebih mudah terselesaikan. Para rekanan dapat memperoleh sebagian haknya dan ayah dapat mengambil alih perusahaan dengan membeli aset yang dilikuidasi oleh lembaga lelang independen.


“Lalu bagaimana kasus uang bunda?”


“Bisa diklaim sebagian sesuai hasil likuidasi aset dan putusan peradilan. Hanya bisa kembali 40% dari total dana yang disetor. Masih untung bunda menyimpan rapi bukti transfer dan surat perjanjian penempatan dana yang


diketahui oleh notaris, jadi dananya bisa kembali sebagian. Beberapa supplier dan rekanan yang tak punya bukti kuat secara hukum harus gigit jari sebab dananya tak bisa dibayarkan."


"Pengusaha itu harus bertanggung jawab terhadap banyak pihak, Iz. Ada rekanan, pelanggan, pegawai dan pihak lain yang punya andil dan hak dalam sebuah perusahaan. Kalau serakah hidupnya tak akan berkah. Jangan jadi pengusaha yang serakah dan egois ya, Boy. Banyak orang dirugikan karena keputusan seorang pengusaha yang dzalim. Kalau bukan karena rasa bersalah ayah pada om Ardi, ayah nggak akan beli aset perusahaan itu.”


Faiz mengangguk. Apapun pekerjaan harus dilakukan dengan hati, demi kepentingan bersama dan tidak mendzalimi siapapun.


“Sebelumnya ayah punya masalah dengan pemiliknya?”


“Namanya kompetitor pastilah pernah bersinggungan.”


“Apa mungkin orang itu masih mendendam? Ada kemungkinan yang menembak om Ardi adalah orang yang diperintah oleh orang yang sama dengan penguntit Faiz.”


Satya telah menduganya. Tak bisa balas dendam pada ayahnya, pasti anaknya yang akan diincar. Mereka sudah tahu siapa Faiz. Ini tak boleh terjadi. Tapi bagaimana cara mengendalikannya? Sedang Satya sudah tak tahu dimana pesaingnya itu tinggal setelah perusahaannya dinyatakan pailit dan hartanya disita pengadilan.


“Kamu harus selalu berhati-hati, Boy. Kalau memang mau home shooling, ayah tak keberatan. Nanti biar ayah yang ngobrol meyakinkan bunda."


"Tidak, Ayah. Aku mau sekolah biasa dan bergaul dengan teman-teman sekolah. Jaman sekarang sekolah itu sudah bukan buat cari ilmu pengetahuan, tapi sarana latihan berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain."


Pendapat Faiz benar. Satya menatap puteranya dengan mata sayunya. Ini sebuah konsekwensi yang sulit dari keputusannya menerima anjuran ayah mertua dan ibu kandung Ardi agar menyelamatkan perusahaan itu demi mewujudkan keinginan terakhir almarhum Ardi. Satya sendiri sebenarnya tak mau berurusan dengan kompetitor


bisnisnya yang serakah, arogan dan suka menghalalkan segala cara itu. Bahkan kalau ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya di Goldlight, Satya lebih suka puteranya menjadi pendidik saja seperti kakek dari pihak ibunya agar hidupnya lebih damai. Tapi Faiz sama sekali tak tertarik jadi ulama atau pendidik meski ia tergolong anak yang cerdas dan sejak kecil hidup dalam gemblengan pendidikan pesantren. Tidak juga tertarik mengembangkan agrobisnis seperti Asep meski sebagian besar hidup anak itu dihabiskan di kawasan perkebunan dan peternakan. Harimau yang diasuh oleh kawanan domba tak akan kehilangan sifat aslinya sebagai pemburu. Suatu ketika ia akan rindu berlatih mengaum sebab domba tak bisa mengajarkannya cara mengaum. Itu sebabnya ia kembali ke pangkuan orang tuanya. Ini saatnya dia belajar dan berlatih mengaum bersama ayahnya.

__ADS_1


_____


Mulut aja bisa jadi harimau. Faiz juga bisa mengaum dong🤭


__ADS_2