METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SUSPENTION BRIDGE


__ADS_3

Pagi ini ditandai oleh cahaya matahari yang malu-malu mengitip di balik rerimbunan pepohonan tinggi. Setelah sarapan, mobil kembali melaju ke arah utara menuju tempat wisata yang sebelumnya tak ada dalam rencana Biru, Situ Gunung. Fathia sudah kembali tersenyum dan berterima kasih atas tas selempang yang dihadiahi Kikan. Tas itu terbuat dari benang nilon yang dirajut apik dengan bentuk rajutan seperti kerang-kerang kecil yang lucu dengan warna coklat tua.


“Terima kasih, kak Kikan dan bi Biru. Aku suka hadiahnya. Padahal kata kak Hani tas aku masih bisa diperbaiki di tempat reparasi tas langganan mamanya.”


“Kamu tetap butuh tas pengganti buat taruh hp dan benda penting lain selama perljalanan liburan.”


“Iya. Bermanfaat sekali.” Dengan riang dan cekatan Fathia memasukan beberapa barang pribadinya seperti dompet, hand phone, pelembab wajah dan body lotion ukuran kecil.


Setelah selesai dan menutup resletingnya. Ia menyampirkannya di bahu lalu melenggang santai bak model sedang memperagakan produk yang diendorsnya. “Cocok nggak?”


“Cocok. Apapun yang kamu pakai selalu cocok, Fath.”


“Kata eyang, aku lahir kalung usus jadi apapun yang melekat di badanku pasti cocok.” ungkap Fathia sambil tersipu.


“Nggak tertarik jadi model, Fath?”


“Enggak ah. Konsentrasi sekolah dan menari aja. Aku kan diamanahi abi buat menemani eyang. Kalau aku ada


kegiatan lain, nanti kelelahan dan eyang nggak ada yang memperhatikan.”

__ADS_1


Pagi itu kabut tipis masih menyelimuti permukaan Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat. Di kelilingi oleh perbukitan dengan pepohonan yang rindang, sinar matahari pun baru menyinari sebagian danau. Kilaunya membuat suasana di Situ Gunung kian magis. Air danau yang tenang membuat pantulan kontur perbukitannya terlihat jelas. Ketenangannya hanya digoyah sesekali lewat rakit yang terbuat dari susunan bambu dan dikayuh dengan menggunakan tenaga manusia. Ya, daerah ini memang punya cara tersendiri memanjakan wisatawan lewat alamnya. Begitu sederhana, hening dan tenang.


“Hebat ya. Mbah Jalun bisa bikin danau seluas ini dalam waktu tujuh hari.” Faiz masih tak habis pikir apakah legenda itu benar-benar terjadi atau karangan manusia saja.


Legenda adalah narasi populer tentang peristiwa supernatural yang terbenam dalam kerangka sejarah nyata, ditransmisikan secara lisan atau ditulis dari generasi ke generasi. Legenda Situ Gunung yang didengar dari abah Bili menurut Faiz merupakan sebuah cerita yang berkaitan erat dengan sejarah karena sang penutur naratif menceritakan tahun-tahun terjadinya. Sebab itulah Faiz penasaran ingin mengunjunginya buat mengukur seberapa hebat tokoh legenda yang diceritakan itu. Belajar dari sejarah itu penting sebagai sumber inspirasi dan pengalaman yang berharga.


“Mungkin dulunya tidak sebesar ini, Kak. Situ bisa bertambah luas karena pengaruh alam dan mungkin ada campur tangan masyarakat sekitar memperbesar danau untuk kepentingan publik.” jelas Amar sambil mengambil drone yang telah kembali mendekat. Pengambilan gambarnya sudah selesai. Dia begitu riang dan bersemangat dengan kegiatan barunya mengambil gambar pemandangan alam dengan dibantu pak Nandi dan Azka. Terlebih Azka, anak itu selalu berada bersama kakaknya bahkan ke toilet pun ikut. Bagi Azka drone tak ubahnya pesawat mainan dengan remote control yang selalu menarik perhatian.


Bisa jadi dugaan Amar itu benar. Cerita legenda itu kadang perlu diberi sentuhan hiperbolik supaya menarik pendengar agar menarik manfaat dari falsafah di balik cerita tersebut. Bukan luasnya danau yang menjadi pesan legenda itu, tapi ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas limpahan karunia yang begitu besar, yaitu dikaruniai seorang putera di tengah pelariannya. Saking bahagianya orang bisa berbuat sesuatu yang lebih besar dari nalarnya. Terbayang, ayah dan bunda pasti sebahagia itu ketika Faiz lahir. Faiz mencatat pertanyaan dalam otaknya dan akan menanyakan itu nanti pada ayah bunda buat bahan cerita komik multidimensi yang disimpan dalam metaversenya.


“Kita ke jembatan gantung dulu, makan siang lalu jalan ke selatan. Let's go!”


Selanjutnya rombongan remaja itu berjalan menuju gerbang jembatan gantung terpanjang di Asia. Jembatan yang terbuat dari anyaman tali baja dan kayu ulin itu menghubungkan 2 dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dengan ketinggian sekitar 170-an meter itu pernah viral di berbagai media sosial sebagai tempat foto yang fenomenal. Untuk menuju ke jembatan pengunjung berjalan naik melintasi barisan pepohonan khas hutan tropis yang hijau, teduh dan nyaman. Tersedia 2 jalur yang dapat dilalui, yaitu jalur VIP dan jalur biasa. Tentu saja lewat jalur VIP lebih cepat karena jalurnya pendek dan harus bayar lebih mahal. Tapi bagi yang ingin menikmati pemandangan alam jalur biasa lebih menyenangkan karena jalur trackingnya santai, tertata rapi, dan melewati banyak pepohonan tua yang tinggi dan rindang dengan suara burung mencicit dan jangkrik hutan sebagai kawan pengusir sepi.


Faiz sengaja diam sejenak mengamati 2 orang lelaki berkaos hitam yang sejak tadi terlihat menguntit mereka. Keduanya ikut berhenti tiap kali rombongannya berhenti untuk berfoto. Padahal rombongan lain berjalan terus kalau memang tak ingin berfoto di tempat itu.


Untunglah kedua orang itu tidak dapat masuk bersamaan dengan mereka karena pengelola sedang kehabisan stok perlengkapan pengamanan. Pengunjung jembatan memang dibatasi agar tidak terlalu membebani jembatan baja beralas kayu ulin itu dengan beban di luar batas kapasitasnya. Pembatasan dilakukan dengan membatasi jumlah perlengkapan keamanan yang harus dikenakan pengunjung saat melintas jembatan.


Fathia nampak selalu berpegangan tangan pada Hani tak peduli beberapa orang telah menjelaskan kalau jembatan itu aman dan mereka juga telah dilengkapi pengaman untuk mencegah terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

__ADS_1


“Ngeri, Kak. Aku takut ketinggian. Jembatannya goyang-goyang melulu lagi. Kepalaku jadi pusing.”


Hani merangkulnya dengan tenang.


“Kalau jembatan ini tiba-tiba putus gimana nasib kita ya?”


“Kalau langsung terjun bebas ke lembah pasti koit lah. Jurangnya dalem banget."


“Kalau nyangkut di pohon, masih ada kemungkinan ditolong petugas atau sialnya mungkin bisa diangkat jadi anak monyet seperti Tarzan.” komentar Doni sambil tertawa dan berjoget menirukan cara berjalan gorila. Hentakan tubuh tinggi besarnya membuat jembatan kembali bergoyang-goyang terayun keras ke kanan dan ke kiri.


“Doni diam!” bentak Hani sambil memeluk Fathia yang makin ketakutan.


Doni tersenyum sembari melangkah di tengah jembatan agar jembatan tidak miring imbas tubuh tinggi besarnya


dominan ke salah satu arah.


Kadang-kadang jembatan miring ke kiri terasa seperti hampir terbalik karena terlalu banyak pengunjung berada di sisi kiri. Kadang sebaliknya. Keseimbangan harus benar-benar terjaga meskipun jembatan tetap tak berhenti bergoyang. Tarik mang!


Amar dan Faiz asyik dengan kameranya melihat dengan detail sekeliling apakah ada angle yang spesial. Di bawah jembatan terdapat jurang yang ditumbuhi pepohonan yang tampak rimbun. Hutan di daerah tersebut masih terjaga. Banyak pohon besar dan tinggi khas hutan tropis. Tanaman lain seperti pakis dan anggrek hutan juga masih bisa terlihat di beberapa tempat.

__ADS_1


_____


Selamat berlibur😍


__ADS_2