
Hari telah beranjak malam saat mereka keluar dari mushola kecil yang berada di samping stadion mini anak sehat. Langit gelap bertabur bintang-bintang kecil. Suasana di sekitar stadion masih ramai. Biru tak merasa gelap sebab lampu putih bersinar sangat benderang. Jakarta tak pernah tidur karena di beberapa tempat aktivitas manusia dan cahaya lampu membuat mata kota sulit terpejam. Biru telah bersiap di atas motor saat terdengar ponsel Sari berbunyi sangat keras. Ia telah memakai helm dan jaketnya. Begitupun Sari.
“Sari, kamu masih di sekitar Pasar Rumput kan?”
“Iya, Bos.”
“Sekarang juga kamu pergi ke toko yang dijadikan gudang penimbunan barang di belakang pasar itu. Tom disandera preman pasar gara-gara masalah bos Gupta.”
“Tapi saya masih sama Biru, Bos. Apa saya pulangkan dulu ke rumah baru jalan ke gudang itu?”
“Nggak bisa, Sar. Kamu harus ke sana sekarang. Sangat urgen. Harus sekarang. Kamu yang posisinya paling dekat dengan TKP. Yang lain sudah otw juga, tapi karena jauh mungkin sampainya akan lama.”
“Lalu Biru?”
“Biarin aja dia pulang sendiri. Nggak usah dipikirin. Anak itu mah mati juga nggak apa-apa. Hidup juga cuma bisa bikin repot. Pokoknya kamu harus ke gudang itu sekarang juga. Ini masalah keselamatan Tom. Kalau sampai ada apa-apa sama Tom, klien besar kita pasti murka. Bos india itu bakal nggak pakai jasa keamanan kita lagi selamanya dan akan menyebarkan ketidakbecusan kita ke semua klien. Repot urusannya.”
Blup. Tak ada suara lagi. Bas menutup teleponnya.
“Baik, Bos. Siap laksanakan.”ujar Sari pelan. Semangatnya menguap oleh rasa bimbang yang melanda hatinya.
Sari memandang Biru dengan tatapan kasihan. Tidak tega. Masak ia harus meninggalkan anak ABG yang masih lugu itu? Ritha pasti kecewa padanya. Sari harus bertanggung jawab atas keselamatan Biru sampai anak itu tiba di rumah. Tapi menolak permintaan bosnya berarti sama dengan cari mati. Bukan hanya pekerjaan saja yang luput, nyawanya juga terancam bila membangkang perintah Bas. Apalagi perintah mendadak ini mencakup jumlah uang yang besar yang digelontorkan bos Gupta untuk keamanan bisnisnya yang bergenre sepanyol (separuh nyolong). Dan Tom adalah rekan terbaiknya. Nyawanya terancam.
Ekor matanya sibuk mencari-cari, tapi teman Biru yang terakhir dilihatnya sudah tak ada lagi di tempat itu.Mau menitipkan Biru pada siapa? Sari menggemeretakkan giginya.
“Bawa aku ikut ke gudang itu, mbak Sari. Aku bisa bela diri kok.”Biru menawarkan diri dengan tatapan tulus dan wajah tanpa dosa.
Sari masih bimbang. Ia menatap Biru dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya.
__ADS_1
“Jangan bengong. Cepetan jalan, Mbak! Kita harus menyelamatkan teman mbak Sari.”Biru kembali mengingatkan Sari dengan wajah polosnya. Dia tidak tahu bagaimana bahaya mengintainya. Mereka harus menghadapi preman pasar. Bukan main-main. Nyawa taruhannya.
Drt drt drt. Gawainya yang sudah langsung diubah menjadi mode getar kembali kedap kedip. Bas mengirimkan sinyal peta keberadaan Tom. Semua bodyguard yang bekerja pada Bas memiliki chip kecil yang terselip di saku celananya. Chip itu berfungsi mengirimkan sinyal dimana keberadaan seluruh personil body guard dan langsung terhubung ke server komputer yang ada di kantor. Semua personil diawasi dengan ketat oleh sebuah sistem dan controler. Makanya seluruh personil sistem keamanan patuh pada tugas dan protokol keamanan. Jika berada kesulitan, seorang body guard bisa menekan chip itu 3 kali hingga alarm bahaya terbaca di server. Kadang-kadang Bas sendiri yang bertindak sebagai controler selain 3 orang staf IT kepercayaannya. Seperti malam itu, Tom mengirimkan sinyal bahaya lalu Bas menghubunginya agar membantu rekannya itu.
Sari harus bertindak cepat. Tak berpikir panjang, ia harus segera berangkat ke daerah yang ditunjukan oleh peta yang dikirimkan Bas. Apapun resikonya harus ditanggung. Semua resikonya sama-sama berat. Tidak ada jalan lain kecuali bertindak cepat sesuai arahan bosnya. Sepeda motor langsung dibawa 0melaju ke arah yang ditunjukan pada peta elektronik di belakang pasar tradisional yang telah sepi itu. Sari memarkir motornya begitu saja dekat kios pasar yang paling belakang. Tempatnya becek dan bau.
“Kamu sebaiknya jalan ke depan pasar saja, Bee. Tunggu di dekat kios barang loakan. Pura-pura aja nawar-nawar sesuatu atau segera cari taksi dan pulang,” saran Sari. Kios-kios barang bekas yang ada di depan jalan memang banyak yang masih buka. Bahkan mungkin ada yang buka 24 jam.
Biru menggeleng. Ia belum mengenal betul lika-liku kota Jakarta. Apalagi ini malam hari. Lebih baik ia ikut Sari saja. Toh Biru sudah waspada dari segala bahaya yang mengancam, jadi ia akan sangat berhati-hati. Lagipula kelihatannya asyik juga ikut terlibat dalam pekerjaan bodyguard. Anggap saja main detektif-detektifan.
Sari tak sempat berpikir. Ia berjalan pelan melewati kios-kios sayuran yang sebagian besarnya telah tutup di sisi belakang pasar.
“Mau cari apa, Neng?” Seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik persembunyiannya di balik lapak penjual ikan yang bau amis.
“Butuh kacang kapri, kucay dan daun bawang, Pak. Penjualnya dimana ya?” Sari langsung menjawab santai. Tak terlihat terkejut atau panik sedikitpun seolah-olah dia memang berencana membeli sayur-sayuran yang disebutkan itu.
“Itu masih ada beberapa kios yang buka.” jawab Sari sambil menunjuk salah satu kios yang terlihat terang.
“Yang buka mah cuma kios buah dan ikan hidup aja. Biasanya 24 jam bukanya. Ada yang tidur di lapak seperti saya."
Benar. Banyak tumpukan pisang di toko yang terang itu. Sudah pasti toko buah. Sedangkan di tempatnya berdiri terdengar gemericik air dan mesin pompa kecil. Yang menyapanya pasti penjual ikan hidup.
"Ikan lelenya sekilo berapa, Pak?”
“23 ribu.”
“Boleh deh. Beli dua kilo.”
__ADS_1
Sang pedagang menyalakan lampu emergensi lalu menangkap beberapa ekor ikan lele dengan serokan dari dalam bak miliknya. Ia memasukannya ke dalam sebuah plastik bening. Terlihat ikan-ikan itu menggelepar di dalam plastik. Dengan cepat, ia memasukan plastik berisi ikan lele itu ke dalam timbangan. Sementara mata Sari berputar-putar mengawasi situasi sekitar mencari-cari kira-kira di mana kios atau gudang yang dijadikan tempat penyekapan Tom.
Sari berkonsentrasi menajamkan pendengarannya. Tak ada suara yang terdengar. Hanya suara gemericik air, pompa dan gerakan ikan yang menggelepar dalam plastik yang tertangkap oleh gendang telinganya.
“Pas. 2 kilo ya, Neng.” Pedagang itu menunjukan angka digital pada timbangannya yang menunjukan angka 2005 gram. Dua kilo lebih sedikit.
Sari mengangguk. Sang pedagang memasukan sedikit air ke dalam plastik bening tempat ikan lele itu.
“Di sini banyak kios yang dijadikan gudang ya, Pak?”
“Banyak. Di belakang mah sepi pembeli, Neng. Rata-rata kios bagian belakang cuma dijadiin gudang penyimpanan barang sama pemilik toko. Display barang biasanya di kios bagian depan.” kata sang pedagang
“Suka ada orang yang nginep dalam gudang?”
“Jarang banget orang nginep di gudang yang bentuknya kios pakai rolling door tertutup, Neng. Engap.”
Sari manggut-manggut. Ia mengeluarkan uang lima puluh ribuan lalu menyodorkannya pada tukang ikan itu.
“Nggak usah kembali, Pak.” ujar Sari ketika pedagang ikan itu sibuk mencari uang kembalian di dompetnya yang lusuh.
“Makasih, Neng.”
Pedagang itu memasukan plastik ikan ke dalam kantung plastik lagi sebelum menyerahkannya pada Sari. Ikan lele itu masih menggelepar-gelepar. Suaranya sedikit mengganggu konsentrasi Sari yang nyambi cari dengar suara-suara janggal yang bisa menunjukan dimana preman pasar atau Tom berada. Titiknya berada di sekitar sini. Tapi dimana? Pasar terlihat sepi. Penerangan pasar sangat terbatas. Hanya berupa lampu temaram saja yang sebagian mati. Makanya penjual ikan itu butuh lampu emergensi untuk menunjang aktivitas dagangnya. Setelah melayani Sari tukang ikan itu kembali mematikan lampu emergensinya. Suasana di tempat yang becek, bau dan temaram terasa agak mencekam.
________
Eng ing eng Biru mulai ikut-ikutan di dunia yang digeluti Bas.
__ADS_1
Stay here🧚♀️