
Sarapan hari ini diwarnai oleh perdebatan dan tatapan sendu Satya yang tak setuju Ritha ikut mengantar Biru dan Faiza ke Jampang dalam waktu lama. Biru dibuat terpana melihat sisi kekanakan dari sosok kakaknya selama ini dikenalnya sebagai lelaki yang angkuh dan berwibawa. Kelakuannya pagi itu agak kelihatan ganjil dan di luar dugaan. Lelaki itu hanya mengijinkan istrinya 2 hari pergi meninggalkannya. Sebagai gantinya ia memerintahkan Sari untuk mengawal anak gadis dan adiknya selama berlibur. Biru tersenyum dalam hati karena merasa lebih bebas bersama body guard ketimbang kakak iparnya yang over protektif dan bermata jeli. Tak nyaman rasanya kalau segala tindak tanduknya sekecil apapun diawasi layaknya tawanan. Namun ia tak habis pikir dengan alasan kekanakan yang dilontarkan Satya dengan disertai tatapan yang sendu. Wibawanya di hadapan keluarga luntur seketika.
“Pokoknya Bunda hanya boleh pergi dua hari. Ayah nggak mau mati berdiri gara-gara kesepian.”
Ritha tersenyum mendengar jawaban absurd suaminya. Ia menepis udara dengan tangannya. “Jangan lebay deh, Yah. Biasanya ayah pergi seminggu ke luar negeri jarang kangen sama Bunda.”
“Kali ini situasinya beda, ayah nggak mau ditinggalin. Ayah juga sebenarnya butuh liburan. Otak ayah sudah mau ambrol. Ayah bukannya nggak mau menemani Iza liburan, tapi kondisi sedang tidak memungkinkan. Nasib keluarga kita dan ribuan karyawan Goldlight bersandar pada ayah.”
“Ralat. Semua nasib manusia itu bersandar pada catatan Tuhan di lauhul mahfudz. Ayah jangan sombong. Kayak Fir'aun aja.” bantah Faiz datar.
Satya langsung tertegun tanpa bisa berkata-kata menyadari kesalahannya memilih kata dan langsung dikoreksi anaknya sendiri yang sangat kritis. “Iya. Maksud ayah kondisi perusahaan saat ini sedang genting dan ayah harus berusaha keras menyelamatkan perusahaan dari kerugian.”
“Please, jangan tinggalin ayah! Kita kan soulmate, Bun. Selamanya harus selalu berdua.”
Kalimat manja Satya terdengar manis di telinga Ritha. Tapi bagi Faiza itu terdengar menjijikan.
“Ayah kayak anak bayi.” cibir Faiza yang belum juga berhenti ngambek pada sang ayah.
Satya tersenyum. Dalam hati ia membenarkan apa kata puteri bungsunya. Dalam banyak hal ia sangat tergantung pada bantuan istrinya seperti bayi yang butuh perlindungan ibunya. Peran istri sebagai partner dalam mengurus bisnis, mengurus anak, mengurus rumah tangga maupun urusan ranjang sangat penting dalam hidupnya. Tanpa dukungan Ritha, rasanya tak sanggup mengatasi beban yang kadang datang bertubi-tubi menghantamnya. Sekarang urusan bisnisnya sedang memasuki masa kacau. Kondisi ekonomi negara sedang resesi berimbas pada bisnis yang semakin sulit dan penuh tekanan. Ia ingin tiap pulang ke rumah membawa sisa beban pekerjaan di kepala, ada istri yang menyambutnya dengan senyum yang manis dan telinga yang sudi mendengarkan segala keluh kesahnya. Ia butuh kelapangan hati seorang istri. Apa artinya pulang ke rumah bila tak berjumpa dengan penyejuk mata dan penentram kalbunya. Segala urusan bisa bertambah kacau balau karena naik darah akibat tekanan di sana sini.
“Ayah memang ingin selalu jadi bayinya Bunda. Biar dimanja tiap hari.” goda Satya sambil memeluk pinggang istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
Faiza makin terbakar cemburu. Dia bungsu di keluarga ini. Harusnya hanya dia yang boleh manja pada semua orang. Yang lain tidak.
“Aku setuju sama ayah. Bunda tidak boleh pergi lebih dari 2 hari. Aku juga mau selalu jadi bayinya Bunda.” tambah Faiz tak mau kalah, menggoda adiknya dengan tampang datar tapi menampar hati.
“Kenapa semua jadi pada mau jadi bayinya Bunda. Kalau gitu, masukin aja Iza ke perut Bunda. Iza nggak mau lahir kalau punya ayah dan kakak yang manja dan egois. Liburan ke Barcelona nggak boleh. Ke Jampang cuma boleh dianterin Bunda 2 hari. Kalian berdua nggak sayang sama Iza. Nggak mau ngertiin Iza. Iza benci.”
__ADS_1
Faiza langsung berlari ke kamarnya tanpa menghabiskan susu murni yang disediakan bi Imah tiap pagi. Sementara Faiz dan ayahnya tertawa. Bagi kedua lelaki itu ngambeknya Faiza adalah kesenangan tersendiri. Wajah gadis kecil itu jadi bertambah imut dan lucu dengan bibir mengerucut kecil serta rona wajah yang memerah.
Kalau sudah demikian para lelaki itu tak ada yang mau bertanggung jawab. Keduanya tersenyum melanjutkan sarapannya, sementara Biru dan Ritha harus pergi menyusul ke kamar Faiza. Perlu segera membujuknya agar acara ngambeknya tidak berlangsung berlarut-larut.
“Iza cantik, susunya diminum dulu. Jangan ngambek terus, nanti mukanya kusut dan banyak kerut-kerutnya.”
“Iza sebel. Kenapa sih sejak ada kak Faiz ayah jadi nggak sayang lagi sama Iza? Iza benci, Bun.”
“Mereka tetap sayang kok sama Iza.”
Faiza memberi tatapan tak percaya.
“Mereka hanya bercanda, Za. Makanya Iza jangan gampang marah. Mereka malah senang menggoda Iza lagi dan lagi kalau Iza marah. Habisnya muka Iza tuh lucu. Coba deh sekali sekali kalau digoda diam aja, mereka pasti akan kecewa dan bosan menggoda.”
Ah, iya. Dari dulu ayah memang suka menggoda. Tapi biasanya setelah puas menggoda ayah selalu membujuknya dengan ciuman bertubi-tubi dan minta maaf. Kenapa sekarang tidak? Pasti gara-gara ada kak Faiz. Dia pasti meracuni ayah agar tidak sayang lagi pada putri bungsunya. Faiza berdialog dengan hatinya sendiri.
“Bun, kenapa kak Faiz nggak disuruh balik lagi aja ke pesantren. Gara-gara kak Faiz ayah nggak sayang lagi sama Iza.”
jalan-jalan sekeluarga lagi.”
“Kenapa perusahaan lebih penting daripada keluarga?”
“Tidak ada yang mengatakan perusahaan lebih penting, Za. Keluarga itu yang terpenting buat ayah dan bunda, Sayang. Kamu menyimpulkan sesuatu dengan pemikiran yang kurang tepat. Jangan berpikir hanya dari sudut pandang kamu sendiri, Sayang. Coba deh kamu pikir, bagaimana kalau seandainya kamu jadi ayah.”
Faiza mulai tampak berpikir tapi tampangnya tetap cemberut. Otaknya mulai membayangkan imajinasi dirinya ketika berperan menjadi ayah.
“Tiket pesawat ke eropa, visa, sewa kendaraan, sewa hotel, makan dan segala kebutuhan kita selama liburan di eropa itu mahal, Sayang. Kita perlu uang banyak buat liburan ke luar negeri. Iza tahu untuk membiayai liburan itu asal uangnya dari mana?”
__ADS_1
“Ya dari keuntungan perusahaan dong.”
“Kalau perusahaannya sedang tidak untung kita harus bagaimana?”
Faiza tak bisa menjawab. Hanya angkat bahu. Bunda sering bilang, bahwa bisnis itu tidak selamanya untung. Ada pasang surutnya. Kadang untung besar, kadang juga bisa rugi. Bunda selalu wanti wanti anaknya untuk bisa bertahan dalam segala situasi sebab hidup tak selamanya menyenangkan.
“Sekarang kita bantu ayah dengan doa supaya urusan perusahaannya cepat selesai dan perusahaan dapat untung tahun ini. Jadi, kita bisa liburan ke eropa sekeluarga pas musim salju nanti sesuai janji ayah.”
Akhirnya gadis kecil itu sedikit paham dan mengangguk.
“Sekarang kamu temui ayah dan berikan senyum supaya ayah makin semangat kerjanya. Bilang pada ayah kalau kamu selalu membantunya dengan doa.”
Gadis kecil itu mengambil gelas susu dari tangan ibunya lalu menghabiskannya dalam beberapa kali teguk.
“Temui ayah dan berikan senyum terbaikmu!” ulang Ritha dengan diiringi senyum yang lembut dan usapan di rambut putrinya yang tebal, lurus dan hitam.
“Ayah akan makin sayang kalau kamu banyak senyum. Kurangi ngambek-ngambeknya. Percaya sama Bunda! Senyum akan membuatmu semakin cantik dan disayang semua orang.”
Gadis kecil itu menyerahkan gelas kosong ke tangan ibunya, menatap penuh harap lalu beranjak pergi menemui ayahnya. Dia sudah mulai mencoba tersenyum. Selesai sudah drama ngambek-ngambekannya. Padahal tadinya Biru ingin membujuk Faiza dengan mengatakan biar saja bunda hanya menemani 2 hari karena perjalanan pasti lebih seru kalau tidak ada ibu-ibu. Lebih bebas mengekspresikan diri. Pemikiran nakalnya rupanya tak diperlukan. Faiza sudah bersedia tersenyum dan berdoa buat ayahnya. Menurut Biru itu solusi yang terbaik karena dengan senyum ceria ayahnya pasti akan bertambah sayang.
Ritha dan Biru belum beranjak dari kamar Faiza, Mbak Pun sudah tergopoh-gopoh menghampiri. Asisten rumah tangga itu memberitahu bahwa ada teman yang mencari Biru di beranda depan.
“Itu, Bu. Teman mbak Biru yang waktu itu pernah ke sini malam-malam waktu mbak Biru sakit.” jelas mbak Pun tentang tamu yang mencari Biru pagi itu.
Kayla? Ada apa ya? Dia selalu datang pada saat yang tak biasa orang bertamu.
______
__ADS_1
Happy terus ya.
Maaf, mungkin beberapa hari ke depan author tidak bisa update 2 x sehari sebab sedang banyak deadline pekerjaan🙏. Sabar ya. Tetap tersenyum jangan banyak ngambek kayak Faiza😍😍😍