METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SALAH


__ADS_3

Kikan membawa Biru ke luar kamar. Tubuh gadis itu kaku. Sampai 10 menit di beranda Vila ia masih tak mau bicara. Nyamuk-nyamuk yang mengelilinginya pun tak dihiraukan padahal Kikan sudah sibuk mengoleskan lotion anti nyamuk pada bagian tubuhnya yang terbuka.


“Bi, kamu kenapa sih? Kenapa kamu marah-marah sama keponakan kamu sendiri? Tadi sore marah sama Faiz dan Amar. Sekarang kamu bikin Fathia nangis. Kamu itu kenapa? Aku bingung kenapa kamu mendadak jadi pemarah seperti ini.” Kikan memberondong dengan banyak pertanyaan.


Kenapa ya? Biru tak sepenuhnya mengerti perasaannya sendiri. Ia hanya merasa tertekan dan tak dihargai oleh keponakan-keponakannya. Seharusnya liburan bersama teman-teman dan keponakannya membuatnya bahagia. Liburan bersama seperti ini yang sudah lama didambanya. Ternyata zonk. Ia tak bisa menikmati liburan ini lantaran peraturan ketat keponakannya yang sok kuasa. Masak sebagai tante ia harus tertindas dan menanggung malu di hadapan teman-temannya.


“Bi, kamu sadar nggak sih apa yang kamu lakukan hari ini bukan kelakuan Biru yang biasa aku kenal. Kamu kenapa? Kesurupan ya? PMS?”


Biru masih membisu. Matanya menatap Kikan dengan sorot yang tak dapat dijelaskan maknanya.


“Apa perlu aku panggil Amar agar merukyah kamu?”


Benarkah Biru kesurupan? Oh, tidak. Orang kesurupan pasti sudah tidak pegang kendali atas dirinya sendiri. Biru hanya bingung dan merasa tertekan. Tak tahu harus berbuat apa agar tak kehilangan pamor di hadapan teman-temannya. Amar dan Faiz sama sekali tak bisa diajak kerja sama. Kenapa sih menganulir hukuman demi kebahagiaan bersama harus nggak bisa. Ini liburan. Bukan pendidikan militer. Jangan ada hukuman saat berlibur.


“Bi…”


Perlahan Biru mencoba mengembangkan senyum dan menarik nafas sedikit lebih panjang. Suara arus sungai dan binatang malam bersahut-sahutan mendendangkan lagu malam yang tetap bernada syahdu.


"Menurutmu apa aku keterlaluan?"


"Biasa aja."


"Keponakan aku nggak ada yang nurut sama aku."


"Kalian hanya belum saling memahami, Bi."


"Mereka memang tak pernah mau memahami aku, Ki. Di hadapan teman-teman aku pun tetap harus diperlakukan sebagai orang tanpa martabat. Aku memang tak berharga. Sejak kecil hidupku tergantung sama kebaikan orang tua mereka. Itu sebabnya mereka merasa berhak dominan mengaturku."


"Bukan begitu. Mereka itu sayang kamu, hanya cara mengungkapkan sayangnya mungkin berbeda dengan apa yang kamu inginkan."


Benarkah?


"Menurutku mereka fair kok. Tidak perlu dibesar-besarkanlah masalah tadi. Kita kan ke sini mau liburan. Seharusnya kita semua happy."


Harusnya memang seperti itu.


"Senyum dong, Bi! Kami tetap respek kok sama kamu."


Ada segaris senyum mulai muncul bersama senyum dan kalimat respek yang diungkapkan Kikan.


"Makasih, Ki."

__ADS_1


Kikan mengangguk.


"Kamu ada masalah apa sama Fathia sampai bertindak sekasar tadi?" tanya Kikan dengan suara pelan dan hati-hati.


Biru tertunduk. Ia mulai sedikit mengerti akar masalah yang menyelimuti hatinya. Semua berawal dari rasa iri yang tiba-tiba hadir melihat senyum Fathia. “Maaf, Ki. Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan diri. Aku nggak ada masalah apapun dengan Fathia. Aku hanya iri padanya. Entah kenapa aku merasa dia selalu lebih beruntung dariku. Dia cantik dan disayang banyak orang."


Kikan tak punya kata untuk membujuk Biru. Bingung. Ia tak tahu apa sebenarnya masalah yang terjadi diantara mereka. Sebelum kedatangan Rio dan Doni, Biru terlihat akrab dengan Fathia.


“Jalan ke depan yuk!”


“Ngapain?”


“Cari coklat yang sama dengan yang diberikan Doni tadi.”


“Aku bukan iri karena dia diberi coklat, Ki.”


“Aku yang pengen makan coklat.” jawab Kikan santai.


“Yuk.” Kikan merangkul bahu Biru dan memandunya untuk berdiri.


Dengan terpaksa Biru mengikuti langkah Kikan ke lobby depan dimana terdapat mini market dan toko souvenir. Cahaya lampu berwarna kuning menghiasi jalan dengan sinarnya yang temaram. Sementara langit terlihat


“Mudah-mudahan di toko souvenir itu ada tas selempang. Tak mungkin sama dengan milik Fathia, tapi setidaknya kalau kita mencoba memberinya pengganti mungkin bisa sedikit mengobati kesedihannya. Bagaimana pun apa yang kamu lakukan tadi menyakiti perasaannya, Bi.”


Biru mengangguk. Kikan benar, ia menyesali tindakan impulsif yang memalukan itu. Sungguh. Ia sama sekali tak bermaksud menyakiti Fathia. Dia sama sekali tak bersalah. Nasibnya pun tak jauh berbeda dengan dirinya.


Di lobby masih ramai karena banyak orang yang masih bercengkrama di kafe sambil merokok dan minum minuman yang menghangatkan tubuh. Ada juga beberapa rombongan tamu yang baru tiba. Kikan dan Biru masuk ke mini market mengambil coklat dan  2 bungkus keripik singkong lalu memesan minuman hangat kemasan siap saji yang diseduh dengan air panas yang disediakan pihak mini market.


“Kamu mau pesan apa, Bi? Coklat hangat atau bandrek?”


“Coklat.”


Setelah pelayan selesai meracik minuman yang dipesan, keduanya membawa gelas minuman dan makanan itu ke meja dan kursi yang tersedia di depan mini market. Tak sengaja matanya melihat Rio dan Doni duduk di salah satu kursi yang di atas mejanya terdapat lampu pijar emergensi berwarna putih. Keduanya tampak serius mengerjakan sesuatu.


“Mau gabung dengan mereka?” tanya Kikan.


Biru menoleh ke arah yang berbeda. “Enggak. Mereka pasti sibuk mengerjakan hukuman aneh itu.”


“Hukuman aneh?”


“Iya.”

__ADS_1


“Yang kamu protes tadi sore?”


“Hem.” Kikan tak bisa berkomentar apapun. Baginya hukuman itu tergolong biasa, malah menambah pengetahuan kalau yang menjalaninya dapat mengambil sisi positifnya. Tapi ia tak ingin menyanggah pendapat Biru sebab tak ingin membuat Biru merasa lebih terpuruk. Kikan yakin saat ini yang dibutuhkan Biru adalah teman yang mendukungnya.


Kikan membiarkan Biru duduk di tempatnya, sementara ia menghampiri Doni dan Rio. Penasaran apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berempat: Biru, Fathia, Rio dan Doni. Ia tak ingin masalah ini berlanjut mengotori kebahagiaan liburan mereka.


“Hai, Kalian sedang apa?”


“Ngerjain PR.” Doni menjawab sambil tersenyum.


“Serius banget.”


“Santai kok, Ki. Nggak lama lagi juga sudah selesai.”


“Really?"


Doni menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berujar pelan, “Kami dapat tugas mencari padanan kata maaf dari 1000 bahasa. Fathia telah membantu kami mencarikan padanan kata maaf dari 700-an bahasa asing. Kami tinggal melengkapinya dari bahasa daerah dan bahasa asing lain. Kalau perlu ngarang aja pakai bahasa planet.” Doni terkekeh. Sementara Rio tersenyum simpul sambil melanjutkan aktivitasnya mencari padanan kata maaf dari berbagai bahasa lewat mesin pencari google.


Kikan tersenyum. Ia langsung menyimpulkan kalau Fathia tadi sengaja tidak ikut kegiatan team building untuk membantu mereka mengerjakan hukumannya. Kedua cowok itu terbantu sekali. Mereka tidak harus lembur semalamam buat mencarinya.


“Jadi itu sebabnya kamu memberi dia coklat tadi?”


Doni kembali tersenyum. “Kok tahu kalau aku ngasih dia coklat?”


“Ada salah paham di kamar cewek tadi gara-gara kamu ngasih Fathia coklat.”


Kedua cowok itu melongo. Kenapa harus salah paham?


"Kalian berempat sebenarnya ada masalah apa sih?"


"Nggak ada masalah apa-apa, Ki. Kita fine-fine aja. Tugasnya juga sudah hampir selesai." jawab Rio yang diamini Doni.


Hem. Mereka tidak terlihat terbebani dengan hukuman yang dianggap Biru terlalu berat. Fathia pun demikian. Berarti biru yang salah sangka karena sibuk dengan pemikirannya sendiri bahwa hukuman itu terlalu sulit. Aduh, Biru. Mereka bukan disuruh membangun 1000 candi seperti permohonan Roro Jonggrang pada Bandung Bondowoso. Mereka bisa mencari padanan kata maaf dalam 1000 bahasa di mesin pencari. Hukuman itu tidak berat saat dijalani, Bi. Lihatlah! Dengan tidak mengeluh dan saling bahu membahu mereka merasa hukuman itu ringan.


"Lanjut lagi deh. Aku mau ke toko souvenir sebentar."


Kikan mampir ke toko souvenir sebelum kembali menghampiri Biru dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dalam pikiran Biru yang merusak suasana hatinya sendiri.


___________


Maaf ya, belum dapat feel yang dalam🙏

__ADS_1


__ADS_2