METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SET KEDUA


__ADS_3

Set kedua dimulai. Faiz hanya sedikit merubah strategi. Semua tim berkonsentrasi dengan posisinya masing-masing. Kikan diminta sedikit meredam emosinya karena dia kapten tim.


“Permainan kita di akhir set pertama sudah cukup bagus. Pertahankan. Kikan yang perlu sedikit kontrol emosi supaya saat jadi tosser yang bisa berhitung kemampuan tim dalam hitungan sepersekian detik. Itu butuh konsentrasi. Kalau kita emosi, konsentrasi biasanya buyar.” seru Faiz diikuti anggukan kepala dan senyum para anggota tim dan suporter.


Permainan set kedua berlangsung lebih panas karena banyak faktor. Selain karena matahari makin meninggi, pemain susah cukup lelah dan suporter yang mulai berteriak-teriak berisik bahkan ada yang teriakannya sampai


mengganggu jalannya pertandingan karena berisi cacian pada pihak lawan. Posisi skor susul menyusul dengan selisih yang tipis.


Saat ini Hani giliran serve. Dua kali jump serve tidak berhasil diatasi lawan. Serve ketigapun begitu. Situasi ini memancing suporter untuk menghina lawan sampai wajah-wajah pemain tim 11-1 terlihat merah. Bayangkan


dapat 3 angka gratis tanpa harus bersusah payah.


“Habisin. Habisin. Habisin. Ayo sikat lagi, Han!” suporter tim 10-1 bersorak sorai berharap pertandingan berakhir saat Hani menjadi server.


Sebagian mereka ada yang menggoyang-goyangkan pinggul membelakangi lawan di belakang garis lapangan sebelah belakang. Menjijikkan tapi lucu. Itu merupakan bentuk penghinaan yang membuat tim lawan makin geram saja. Dasar suporter. Ada aja yang rusuh.


Serve ke 4 Hani tidak melakukan jump servis agar lebih permainan lebih santai. Selain itu mungkin dia mempertimbangkan kemampuannya menyimpan energi sampai pertandingan usai. Jump serve butuh energi berlipat-lipat daripada serve normal.


Bola diterima tim lawan yang berada di belakang sebelah kiri sebelum dilambungkan ke arah Shieny yang berposisi sebagai spiker. Kebetulan Biru berada tepat di depannya. Ia telah bersiap sebagai defender karena yakin bola pasti akan melewati dirinya sebelum masuk ke kotak permainan timnya.


Blas. Biru berhasil menepis smash keras Shieny dan bola masuk di kotak permainan lawan tanpa ada yang mengira jatuh ke tempat yang kosong.


Shieny mengepal kuat tangannya. Matanya menatap tajam Biru yang senyum tipisnya dianggapnya sebagai penghinaan. Padahal itu hanya senyum kemenangan biasa.


Hani kembali serve. Kali ini ia melakukan serve atas dengan santai. Posisi skor sudah di atas angin meski belum tentu menang juga, 18-11. Entah kebetulan atau tidak, kejadian yang sama terulang lagi. Biru menepis smash keras Shieny lalu bola jatuh di area kosong lawan. Skor berubah jadi 19-11.


“Habisin. Habisin. Habisin. Ayo sikat lagi, Han!” suporter tim 10-1 tak berhenti bersorak sorai berharap pertandingan berakhir saat Hani menjadi server. Padahal masih butuh 6 angka lagi. Teriakannya makin riuh.


Hani kembali melakukan serve atas yang santai. Kali ini situasi berubah. Tosser lawan tidak memberikan bola kepada Shieny lagi tapi pemain lain yang berada di sisi kiri bidang permainan.

__ADS_1


“Eh, anak pelakor. Kenapa nggak bunuh diri aja sih lu. Hidup lu nggak guna tahu. Hidup lu dalam kutukan. Anak pelakor pasti bakal jadi pelakor.” teriak Shieny sambil menuding Biru. Ia kalap. Padahal Biru main fair. Memang tugasnya sebagai defender yang menghalau bola yang akan masuk di kotak permainan timnya. Kalaupun spikernya bukan Shieny, ia juga akan melakukan hal yang sama.


Resek banget sih ini orang.Biru mengepalkan tangannya geram. Udara panas. Teriakan-teriakan Shieny yang menghinanya makin membuat hati makin panas. Namun Biru mencoba mengendalikan diri sejenak.


Apakah kutukan itu benar ada? Apa takdir anak pelakor akan jatuh jadi pelakor juga? Disadari bibit pelakor sudah ada dalam hati Biru yang memendam cinta pada kakak iparnya sendiri. Biru benci mengapa rasa itu ada dan belum sepenuhnya hilang walau telah terpisah oleh jarak dan waktu.


Mengapa ada hati iblis dalam dirinya? Apa salahnya hingga harus terjebak dalam takdir begini? Maafkan Biru kak Lily. Biru menyesal kenapa harus dilahirkan di dunia ini jika membawa kutukan sebagai pelakor. Mungkin Shieny benar, lebih baik Biru mati saja agar tak ada satu pun perempuan yang terluka karenanya.


Biru terjebak dalam suasana hatinya yang kacau dan tak melihat bagaimana bola jatuh di dekat tubuhnya begitu saja. Konsentrasinya buyar. Tubuhnya mendadak bagai patung yang tak bisa bergerak. Wasit langsung mengumumkan bola berpindah ke tim lawan akibat kelalaiannya. Skor berubah menjadi 19-12


“Huuuu…” sorak kecewa penonton terdengar nyaring di telinga Biru. Dadanya seperti mau meledak. Sial. Giginya saling beradu. Ingin rasanya Biru ******* Shieny dengan giginya sampai tubuhnya hancur lalu dilepeh di tempat sampah.


“Time-out.” Faiz berteriak lantang sebelum peluit dibunyikan pak Zain.


Semua pemain 10-1 berjalan cepat ke arah Faiz yang wajahnya tampak memerah dan matanya menyala. Serius. Dia pasti marah.


“Bibi keluar. Ganti dengan Fifi yang masih fresh.” putus Faiz tanpa tedeng aling-aling.


Biru mengangguk mengerti. Ia menyempatkan diri tetap berada di lingkaran timnya mendengar pengarahan singkat Faiz lalu sama-sama menumpuk tangan di tengah lingkaran lalu menghempaskannya bersama-sama sambil berteriak kencang, “Viva 10-1.”


Semua tim tersenyum kembali ke posisinya masing-masing. Suporter yang ikut selebrasi berlarian ke pinggir lapangan sambil cekikikan. Suasana lebih riuh daripada pasar kaget.


Biru berdiri di samping Faiz setelah menghabiskan sebotol air mineral dalam 3 kali teguk. Hatinya kembali mendingin meski apa yang dikatakan shieny masih terngiang-ngiang di kepala.


Apakah orang sudah banyak yang tahu riwayat hidupnya yang lahir dari rahim seorang perempuan yang dianggap sebagai perebut suami orang? Entah dari mana dan sejak kapan kabar itu beredar. Meskipun itu benar, namun terasa menyakitkan bagi Biru. Apakah ia sehina itu sampai pantas disuruh bunuh diri?


Bola terus melambung, dipukul oleh pemain dengan teknik yang berbeda ke sana dan ke mari sampai jatuh di dalam atau di luar kotak permainan. Di mana jatuhnya dan siapa yang menjatuhkan akan menentukan pertambahan poin untuk tim mana. Begitulah permainan bola voli. Olahraga yang diciptakan oleh William George Morgan pada 8 Februari 1895 sangat mengandalkan kecepatan, postur tubuh, daya tahan, dan kekuatan pukulan. Meski fisik dan stamina Biru kuat, saat sudah kena mental begini rasanya memang susah konsentrasi melanjutkan permainan. Faiz benar. Biru harus keluar dari arena pertandingan karena keadaan mentalnya sudah turun dan itu akan sangat


mempengaruhi kecepatan fisiknya merespon bola.

__ADS_1


“Minum lagi, Bi.” Faiz menyodorkan lagi botol air mineral setengah liter.


“Terima kasih. Tahu aja kalau lagi emosi aku kayak ikan, butuh banyak air supaya nggak belingsatan.”


Faiz tersenyum lebar.


“Kami sayang sama Bibi. Orang kayak pemain nomor punggung 6 itu mah buang aja ke Bantar Gebang. Sampah." Anak yang jarang bicara itu sekalinya komentar memang terdengar pedas.


Biru mengangguk. Ia meneguk kembali air mineral yang tadi diberikan oleh Faiz


“Capek ya, Bi?”


Suara sedikit serak menyapanya dari arah belakang. Tentu saja bukan Faiz. Biru menoleh. Didapatinya Rio telah berada di sampingnya. Rupanya Rio juga mengkhawatirkan dirinya. Otomatis Biru tersenyum sebab hormon bahagianya langsung meluap-luap sampai tumpah berceceran ke mana mana.


“Lumayan.” jawab Biru singkat sembari mengalihkan pandangannya ke lapangan. Yang capek sebenarnya bukan fisik aja, tapi hati.


“Shieny itu kalap. Nggak usah denger omongan orang kalap. Aslinya dia iri dan marah karena kamu bisa ngeblok smash kerasnya dua kali berturut-turut. Bravo. Kamu hebat, Bi.” puji Rio.


“Kamu pasti terpilih jadi kapten tim voli tahun ajaran depan.”


Biru tak mengharapkan itu.


“Dan sekolah kita mungkin bisa jadi juara porseni cabang bola voli putri. Minimal tingkat Jakarta Pusat.”


Biru mengabaikan omongan Rio. Matanya mengikuti kemana arah bola melambung dan dimana jatuhnya. Ia hanya berharap hari ini timnya menang tanpa rubber set.


Pertandingan set kedua berakhir dengan skor 25-18. Biru gembira. Ia ikut melompat-lompat, menari sambil menyanyi lagu kicir-kicir bersama suporter dan pemain yang merayakan kemenangan pertandingan semi final ini. Besok final. Biru harus bersiap dengan lawan yang baru, yaitu pemenang pertandingan semi final berikutnya antara 10-2 atau 11-3. Biru sempat melihat dengan ekor matanya Shieny mencibir sebelum meninggalkan lapangan dengan langkah gontai meratapi kekalahannya. Kikan mengacungkan jari tengah lalu membalikan badan buat menunjukan bokongnya yang bergoyang-goyang sambil cekikikan.


"Huuuu." sorak sorai riuh terdengar.

__ADS_1


_______


Viva Biru!! Kamu tetap yang terdepan


__ADS_2