
Tidak semua orang baik menampakkan kebaikannya dan tidak semua orang jahat menampakkan kejahatannya. Biru tak mengerti bagaimana membaca sesuatu yang tersembunyi dibalik kebaikan atau kejahatan seseorang. Misalnya Kayla yang digosipkan open BO dan mulai menjauh darinya. Tak ada benci atau suatu masalah yang membuat hubungan pertemanannya merenggang. Kayla masih tersenyum dan basa basi menyapanya. Dia hanya sedikit menjauh, tidak benar-benar meninggalkan Biru
Sebelum pulang tadi Kayla sempat menarik lengannya ke sebuah tempat yang sepi di samping sekolah. Tak disangka ia membayar lunas seluruh hutangnya.
“Hutangku lunas ya, Bi.”
Biru mengangguk sambil memandangi 27 lembar uang seratus ribuan yang diberikan Kayla. Ternyata Kayla tak sejahat sangkanya. Pasti ada sebab yang menyebabkan ia menunda pembayaran hutangnya, walau kelihatannya ia telah mampu membayar. Namun sebab itu sengaja disamarkan untuk tujuan yang Biru tak boleh tahu. Ah, sudahlah. Biru senang hubungannya dengan Kayla tetap terjaga baik meskipun merenggang dan sempat diwarnai prasangka buruk.
“Maaf kelamaan.”
“Tidak apa.” Biru tersenyum memasukan uangnya ke dalam kantung kecil dalam tas ranselnya. Namun menyisakan 5 lembar untuk diserahkan kembali pada kayla sebagai sebuah bentuk pemberian.
“Anggap saja hadiah kenaikan kelas untuk kamu.”
“Terima kasih, Bi.” Kayla menerimanya dengan senyum. Biru tahu uang itu pasti berarti.
Biru memang benar-benar teman yang baik. Kayla sengaja menyisihkan honor dari pekerjaannya sebagai terapis untuk membayar pinjamannya pada Biru. Dia ingin membayar hutangnya dengan uang yang halal dan baik, bukan uang yang statusnya samar dari tips pelanggan yang minta pelayanan di luar standar spa normal. Kayla menjalani pekerjaannya setengah hati namun tetap menjaga diri agar tidak terperosok ke jurang yang lebih dalam. Ia tak ingin mengotori pikiran Biru bila berterus terang tentang pekerjaannya. Pekerjaannya mengandung resiko. Ia juga tak ingin melibatkan gadis lugu itu dalam masalah. Kayla berharap kehidupannya berubah dan bisa segera keluar dari situasi ini. Sementara sekarang hanya ini pekerjaan paruh waktu yang bisa mencukupi hidup keluarganya.
“Kamu punya kartu keanggotaan klub Flamboyan nggak, Bi?”
Biru tersenyum samar. “Aku memang sering nongkrong di bawah pohon flamboyan tapi nggak bikin klub kok. Anak-anak voli memang nyaman berteduh dan beristirahat di bawah pohon itu.”
“Bukan itu maksudku.”
Ah, kamu ternyata lugu sekali Biru. Tak tahu ada klub sosialita yang terkenal bernama flamboyan.
__ADS_1
Biru bertanya-tanya dalam hati. Ia tak mengenal klub yang namanya flamboyan. Satu-satunya klub yang ingin dimasuki hanyalah sanggar silat karena ia memang berminat mengembangkan terus kemampuan beladirinya dengan belajar lebih banyak aliran silat tradisonal. Di samping melestarikan budaya bangsa, dengan rajin berlatih silat tubuh lebih bugar dan bisa untuk bekal mempertahankan diri dari serangan orang yang berniat jahat padanya. Hani mengajaknya ikut klub voli di gelanggang remaja, tapi Biru masih pikir-pikir dulu apakah ia punya waktu
untuk berlatih voli juga.
“Kakak iparmu juga nggak ikut klub flamboyan?”
“Setahu aku kakak iparku nggak pernah ikut klub-klub nggak jelas macam itu. Waktunya banyak habis untuk bekerja dan mengurus rumah tangganya. Arisan aja nggak pernah. Aktifnya hanya di ikatan arsitek Indonesia, kalau nggak salah jadi bendahara.”
Kayla tak yakin, orang kaya pasti punya komunitas juga. Biru mungkin belum tahu karena hidupnya selama ini terkurung di pesantren.
“Dengar-dengar kakak ipar kamu bukan dari keluarga pengusaha. Bagaimana ceritanya bisa menikah dengan kakak kamu yang CEO perusahaan terkenal?”
“Nggak usah kepo, Kay. Yang perlu kamu tahu dari dulu sampai sekarang kakak iparku bekerja sebagai arsitek di perusahaan kakakku. Mereka menikah karena saling mencintai. Orang yang penasaran mau tahu detail kehidupan cinta mereka bisa beli komik NFT yang dibuat anaknya di opensea.”
"Sepertinya begitu, karena hanya dijual pada 10 orang di dunia. Katanya sih mau launching minggu depan."
“Komersil amat.”
“Kehidupan kami memang tidak bisa diakses sembarang orang, Kay. Kami bukan selebriti atau crazy rich yang kerjanya flexing, kehidupan pribadi bukan untuk diumbar di media sosial. Privasi itu penting dan mahal harganya. Lagipula NFT itu karya seni multi dimensi."
Kayla diam. Dia tahu keluarga Biru memang tidak pernah mengumbar kehidupan pribadinya di media. Orang tahu Biru anak istri kedua pengusaha kaya dari desas-desus yang tidak jelas sumbernya. Sampai saat ini Kayla belum tahu apakah berteman dengan Biru ia akan ketularan kaya. Apa yang bisa ia pelajari dari gadis yang merupakan bagian dari sebuah keluarga yang terkenal memiliki grup perusahaan besar itu? Biru hanya seorang pelajar biasa yang prestasinya tak ada yang istimewa. Dia bukan juara kelas. Dia hanya kebetulan menjadi anggota tim voli yang menang pertandingan antar kelas. Tidak terkenal dan belum punya penghasilan atau bisnis. Dia bahkan tidak bergaul sama sekali dengan anak-anak sultan yang kekayaannya setara dengan kekayaan keluarganya. Dia hanya beruntung terlahir sebagai anak pengusaha kaya hingga sepanjang hidupnya tak perlu berpikir bagaimana harus mencari uang.
Berbeda dengan Bianca, keluarganya punya perusahaan yang tidak sebesar perusahaan keluarga Biru. Gayanya jetset. Baju-bajunya berasal dari butik internasional yang pernah ditotal oleh bibir dower harga outfitnya sekali pakai bisa sampai ratusan juta. Bianca sering update status di instagram maupun media sosial lain. Pengikutnya ada ribuan. Bianca sering cerita sudah dapat banyak endors produk. Itu berarti dia sudah berpenghasilan. Tapi anehnya dia masih sering mengeluh tak punya uang hingga makan bakso di kantin pun minta ditraktir. Padahal di instagramnya ia sering memperlihatkan foto-foto sedang berpesta dengan crazy rich yang sedang heboh di media sosial. Sementara Biru meski tak berpenghasilan tak pernah mengeluh kekurangan uang apalagi minta traktir. Gaya hidupnya sederhana seolah dia menghitung dengan teliti tiap rupiah yang digunakannya.
Kayla bingung. Ia ingin mengubah hidupnya tapi tak tahu harus berteman dekat dengan siapa. Biru atau Bianca? Biru berteman tanpa syarat, tapi dia pasti tak tahu bagaimana cara menghasilkan uang. Sementara Bianca hanya ingin berteman dengan orang yang selevel dengannya. Sekarang Bianca tak mau berteman dengan orang yang tidak punya kartu membership klub flamboyan. Kayla ingin masuk klub flamboyan yang katanya merupakan klub lingkaran orang kaya tapi tentu saja ia tak punya syarat untuk itu. Uang membership bisa diusahakan tapi ia tak mungkin bisa menunjukan bukti kepemilikan aset minimal 2 milyar agar diterima menjadi anggota klub.
__ADS_1
Kata Bianca di klub itu orang bisa bertukar pikiran tentang bagaimana menjadi terkenal dan kaya. Bahkan ada semacam training bagaimana memikat pria kaya. Bisakah ia minta tolong Biru? Mungkin ia bisa membuat membership atas nama Biru dengan meminjam fotokopi sertifikat kepemilikan aset tertentu. Ia benar-benar ingin mengubah hidupnya dengan masuk klub flamboyan. Kalaupun tidak bisa mengubah nasib, setidaknya ia tahu bagaimana kehidupan para sosialita dan cara mereka menjadi kaya. Kayla tak ingin hidupnya terus begini. Ia harus bisa seperti crazy rich muda yang berpendidikan rendah namun punya harta bejibun. Caranya untuk tahu bagaimana mereka menghasilkan uang adalah dengan masuk lingkaran pertemanan mereka. Bukan tidak mungkin ia bisa membuat bisnis bersama mereka.
“Tas yang tadi dipakai kakak kamu itu Hermes bukan, Bi?” Kayla memberanikan diri bertanya. Siapa tahu Biru bisa meminjamkan sertifikat kepemilikan tas itu buat syarat menjadi anggota klub flamboyan. Dengar-dengar tas hermes itu ada yang nilainya milyaran. Kayla belum pernah melihat langsung bagaimana rupanya, tapi pasti bagus dan berkelas.
“Kakak iparku bukan pencinta Hermes, Kay. Tas yang dipakainya kelihatan ekslusif, tapi buatan lokal. Dia suka buat desain tas sendiri lalu pengerjaannya dilakukan pengrajin tas kulit di Garut dan Yogyakarta.”
Kayla menelan salivanya. Kecewa telah salah duga. Keluarga Biru memang tak pernah flexing. Akun media sosialnya juga jarang aktif. Tak pernah mengumbar kekayaan di media. Barang-barang yang digunakan berkualitas platinum, tapi bukan merek internasional. Kehidupannya berbeda dengan crazy rich yang suka flexing di media sosial.
“Maaf, Kay. Aku harus pulang. Kamu liburan ke mana?”
“Di sini aja. Kerja supaya dapat uang lebih banyak.”
“Masih kerja di Spa?”
“Iya. Tapi kayaknya mau nyambi juga jadi SPG selama liburan sekolah."
“Semoga sukses ya.” Biru menepuk pundak Kayla yang kecewa karena tak dapat pinjaman bukti kepemilikan aset yang kira-kira bisa digunakan untuk bisa masuk di klub itu.
Harus bagaimana ya? Cuma Biru gadis baik yang ia bisa harapkan. Kayla yakin Biru pasti punya sesuatu, apakah itu sertifikat perhiasan, advice deposito atau asset lain yang nilainya cukup untuk syarat kepemilikan aset yang ditentukan klub flamboyan. Bukan ingin merampas, Kayla hanya ingin meminjam saja agar diperkenankan masuk klub sosialita itu. Mungkin Biru tak akan keberatan membuat membership atas namanya agar bisa digunakan Kayla masuk ke dalam komunitas sosialita bergengsi itu. Kayla belum tahu bagaimana cara bicaranya untuk meyakinkan Biru agar membantunya. Biru sama sekali tak pernah flexing. Kayla tak tahu aset apa yang dimiliki gadis itu. Tapi ia yakin gadis yatim itu pasti masih menyimpan bagian warisan dari orang tuanya dalam jumlah yang lebih dari cukup buat syarat masuk klub itu.
_________
Di dunia nyata juga ada orang serupa Kayla karena terbuai ingin kaya dengan cara instant.
Saya yakin 100% pembaca tulisan saya cerdas dan tidak terbuai flexing di media sosial🤭
__ADS_1