
Kerjasama bunda dan om Ardi dalam rangka penyelamatan PT Cantika Bestari tak dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ada kakek guru Umar yang menjadi saksi pembicaraan antara bunda dan om Ardi. Kesalahan bunda hanya satu, yakni tidak jujur pada ayah karena takut ayah tidak setuju. Sedangkan ayah terlalu emosional dan impulsif. Begitu tahu bunda berhutang untuk membantu om Ardi, serta merta ayah langsung menelpon om Ardi dan marah-marah. Padahal seharusnya ayah konfirmasi dan bicara baik-baik pada bunda terlebih dahulu.
Faiz menelisik ulang mata biru bundanya dengan sangat detail mencari kejujuran di dalamnya. Sikap bunda tetap tenang bagai air danau yang tak beriak sama sekali. Sepertinya memang bunda telah bercerita dengan jujur. Dengan menyebut nama kakek guru sebagai saksi, tak ada yang bisa disangsikan lagi. Faiz sangat yakin kakek guru adalah seorang brahmana sejati yang bijak dan jujur. Tentu kakek tak mungkin membiarkan ada affair antar anak sulungnya dengan suami dari anak kandungnya yang lain. Itu dosa yang sangat besar.
Faiz mengindahkan kecurigaannya pada hubungan bunda dan om Ardi. Ia penasaran tentang orang yang berhasil menyulut amarah ayah hingga keluarlah kata-kata “Bunda tahu siapa yang memberitahu ayah soal hutang bunda itu?”
“Seseorang tak dikenal mengirimkan tagihan angsuran pinjaman bunda dan bukti transfer dari bunda ke rekening om kamu disertai bumbu-bumbu kalimat provokatif ke nomor ayah.”
“Memangnya nggak bisa diselidiki pengirimnya itu siapa? Surat-surat semacam itu kan harusnya bersifat personal dan rahasia. Tidak bisa sembarang orang memiliki akses transaksi keuangan pribadi."
“Bunda terlalu panik dengan kemarahan ayah dan berita kecelakaan om Ardi, jadi tidak bisa berpikir jernih. Kamu tahu sendiri, waktu itu bunda langsung ke Sukabumi buat bantu nenek yang sendirian mengurus tante Nisa dan Rosyid di rumah sakit sementara kakek dan keluarga eyang Dewi mengurus pemakaman om Ardi dan putera bungsunya yang meninggal dalam kecelakaan itu."
Faiz ingat betul, bunda hampir seminggu menunggu tante Nisa dan Rosyid di rumah sakit bergantian dengan nenek. Kalau saja Faiza tidak merengek kangen, mungkin bunda akan tinggal lebih lama.
“Saat kondisi sudah mulai tenang dan ayahmu diinterogasi polisi selama lebih dari 36 jam, pak Teguh mulai menyelidiki kasus itu. Nomor telepon yang menghubungi ayah ternyata terdaftar atas nama pemilik konter pulsa di wilayah kota Sukabumi. Nomor itu langsung dinon-aktifkan 3 jam setelah mengirim dokumen itu pada ayah. Pemilik konter mengaku tidak ingat pembeli nomor itu. Padahal pemilik konter itu sempat ditahan beberapa hari di kantor polisi karena mestinya dia yang secara administratif bertanggung jawab atas isi pesan provokatif itu. Akhirnya pemilik konter beserta karyawannya dilepaskan sebab tak ada bukti lain yang bisa menjelaskan perkara itu. Kasus pun menguap.”
“Faiz yakin orang yang mengirimkan pesan dan membayar penembak misterius itu pasti melibatkan orang dekat, Bun.”
Ini pasti kejahatan terencana. Orang itu mengenal baik karakter ayah yang mudah terpancing amarah karena cemburu. Dia juga tahu om Ardi dalam perjalanan ke Sukabumi lewat jalur alternatif yang sepi. Mereka pasti telah merencanakan dengan matang. Konspirasinya rapi. Dan yang paling mengagetkan, orang itu punya dokumen pribadi dan rahasia yang tak bisa diakses sembarang orang. Tiga kalimat kunci itu penting untuk menguatkan argumen bahwa otak dari kejahatan itu pasti mengenal kebiasaan serta sikap om Ardi dan ayah. Segala hal yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian demi mendapatkan persepsi bahwa ayahlah yang memiliki rencana membunuh om Ardi.
__ADS_1
Faiz berdiri melipat tangannya di dada. Ia berjalan mondar-mandir sambil berpikir siapa gerangan orang dekat yang patut dicurigai terlibat dalam konspirasi ini. Pakde Bas, pakde Bram, tante Nisa atau sekretaris om Ardi?
“Sudahlah, Iz. Bunda capek diinterogasi begini. Tidak usah kamu ungkit lagi masalah ini. Om Ardi sudah tenang di surga. Semua harus bisa mengikhlaskan ini sebagai takdir. Mengenai Rosyid, nanti bunda bicara dengan kakek guru agar bantu menjelaskan dan meyakinkan bahwa kamu tak patut dibenci karena masalah ini.”
Tidak bisa, Bun. Faiz sudah terlanjur penasaran. Faiz harus cari tahu siapa yang merencanakan kejahatan ini. Sekali melangkah, ia tak akan mundur. Tentu saja Faiz hanya bisa bicara dengan hatinya sendiri. Bunda pasti akan merasa sedih dan tak dihargai bila ia mengeluarkan bantahan.
"Mungkin tante Nisa dan Rosyid masih butuh waktu untuk move on. Kita harus bersabar dan mendukungnya agar cepat dapat bangkit dari kesedihan."
Tidak, Bunda. Ada potensi Rosyid menyimpan kemarahannya dalam waktu lama sebagai dendam. Faiz melihat manifestasi kemarahan di mata Rosyid berupa kebencian yang diakibatkan oleh rasa sakit hati, kesal, dan kesedihan yang dalam. Sekarang dia merasa lemah tak mampu membalaskan dendamnya. Kalau masalah ini tidak dituntaskan Rosyid pasti akan terus menerus menganggap ayah Satya sebagai pembunuh. Apalagi kakinya jadi cacat karena peristiwa itu. Kebenciannya pasti makin membesar. Suatu saat ia pasti akan membalas dendam. Sasarannya jelas Faiz dan ayahnya.
Rosyid pasti sedang menunggu waktu dan mengumpulkan kekuatan dalam diamnya. Pasti. Faiz kasihan terhadapnya. Melihat sosok ayah yang meregang nyawa dalam sebuah kecelakaan itu sangat menyakitkan hati. Apalagi ditambah tahu kalau satu jam sebelum kecelakaan itu ayahnya dimarahi dan diancam oleh orang yang diduga membunuhnya. Siapa pun pasti akan sakit hati dan mendendam. Faiz pun akan demikian jika ia berada dalam posisi Rosyid kala itu.
Ritha menghampiri puteranya yang tak berkata-kata lagi untuk memeluknya. Pembuluh darah di selaput putih mata puteranya terlihat melebar hingga tampak memerah seperti api yang menyala-nyala. Ritha tahu diamnya bukan tanda setuju pada perkataannya. Bukan. Diam itu berarti memberontak.
Ritha memeluknya dengan lembut. Anak remaja itu malah melepaskan diri. Mungkin karena merasa sudah besar hingga tak butuh pelukan untuk menenangkannya.
"Peluk bunda, Sayang. Bunda yang saat ini butuh perlindungan anak lelaki Bunda. Please!" pintanya dengan wajah memelas. Ritha tetap merentangkan tangannya berharap balas.
"Bunda sedih. Semua ini gara-gara bunda kan?"
__ADS_1
"Bukan bunda yang salah. Kita harus cari penjahat itu, Bun. Dia yang harus bertanggung jawab. Rosyid juga harus diyakinkan bahwa ayah tidak membunuh abinya." Faiz mulai bersuara. Kalimatnya tegas.
Ritha tak setuju dengan kata-kata anaknya. Baginya masalah ini sudah selesai dengan damai. Tak ada yang perlu diungkit lagi. Tapi tentu saja ia tak ingin bersengketa dengan anaknya yang kepala batu itu. Percuma. Bantahannya malah akan menimbulkan percikan api yang lebih besar lagi. Ia tetap tersenyum dan membuka tangannya, memohon agar Faiz mau memeluknya. Lagi-lagi Faiz tak bergeming.
Akh, membujuk ayahnya yang marah terasa lebih mudah daripada anak remaja ini. Ampun deh Faiz. Semarah-marahnya Satya pasti pasti lumpuh hanya dengan senyum yang mendamba, suara manja yang diikuti dengan ciuman di bibir atau kecupan lembut yang bertubi-tubi di bagian belakang telinganya. Masalah bisa selesai di atas kasur, paling tidak untuk sementara waktu agar dapat berpikir lebih tenang. Sementara anaknya dipeluk pun tidak mau.
"Jadi Faiz tetap akan menyelidiki kasus kematian om Ardi?" Kini Ritha tersenyum tipis menumpahkan kecewa karena gagal membujuk puteranya dengan sentuhan fisik.
Faiz mengangguk pasti.
Aduh, bagaimana ya? Membujuk Faiz itu jauh lebih sulit daripada menghadapi tukang batu yang mengamuk di lokasi konstruksi. Lebih baik Ritha mengalah saja.
"Bunda nggak akan melarang kok. Bunda hanya mau bilang kalau misi kamu yang satu ini jangan dijadikan beban. Bunda akan pastikan kakek guru akan mengutus guru konseling khusus buat Rosyid agar bisa belajar memaafkan, menerima takdir dan bangga pada dirinya. Dia tidak akan dendam sama kamu. Mungkin butuh waktu buat healing. Tapi apapun yang terjadi kita mesti berdoa agar Allah menjaga hati kita semua agar tetap bersih dari dendam." Akhirnya hanya itu senjata pamungkas Ritha menghadapi anaknya yang kepala batu itu.
Penyelidikan kasus itu bisa membahayakan keselamatan Faiz. Tapi anak itu bersikeras dengan pendapatnya. Sebagai seorang ibu yang bisa dilakukannya sekarang hanya senantiasa berdoa untuk kebaikan anaknya. Tiap saat ia menitipkannya pada penjagaan Yang Maha Kuasa.
_________
Bahagia dan sehat selalu😘
__ADS_1