METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
PENGUNTIT


__ADS_3

Sudah beberapa kali Faiz mendapati dua orang yang membuntuti langkahnya. Heran. Siapa sih mereka? Mau apa? Sayang sekali tadi Faiz jalan sendirian dan orang yang menguntitnya sedikit jaga jarak. Buru-buru menghindar begitu Faiz memergoki dan hendak menyapanya. Padahal ia sangat ingin menegur penguntit itu untuk bertanya apa maksud dan tujuannya. Dari postur tubuhnya Faiz yakin dua orang itu memiliki ciri yang sama dengan orang yang menguntitnya ketika di Situ Gunung.


Faiz lupa tidak bertanya pada ayah apakah benar mengutus orang menguntitnya tanpa sepengetahuan dirinya. Tadinya Faiz tidak menganggap itu masalah penting. Ayah sangat sibuk dengan banyak pekerjaan akhir-akhir ini, selalu pulang malam dan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Tiga hari yang lalu mendadak ayah ke Dubai buat bertemu dengan rekan kerja dan investor proyek kilang minyak bersama dengan bunda. Sepertinya ada penandatanganan kontrak kerja sama baru yang butuh energi ekstra. Faiz tak berani mengganggunya.


Karena Faiza sudah kembali dari liburannya, begitu ayah pulang anak manja itu mengambil alih seluruh perhatian ayah dengan cerita heboh dan tingkahnya yang manja. Bi Biru juga pulang liburan dengan membawa cerita, video, dan foto-foto yang dipamerkannya pada ayah dan bunda. Obrolan di meja makan selalu didominasi dua perempuan itu.


Faiz hanya jadi penonton. Ia tak ingin menceritakan apapun. Liburannya kali ini lebih banyak diisi dengan main game, menguji aplikasi keamanan jaringan, mereview metaversenya, olahraga ringan dan keluar masuk club dan resto buat survei bisnis bersama Doni. Tentu semua itu bukan hal yang menarik untuk diceritakan di meja makan. Biasa aja.


"Besok hari senin. Kalian bertiga akan mulai sekolah di kelas yang baru. Semua perlengkapan sekolah sudah siap?"


"Belum, Bun. Iza perlu beli buku, alat tulis, dan kaus kaki baru."


"Oke. Berarti nanti jam 9 kita pergi ke mall. Kalian semua catat kebutuhan perlengkapan sekolah yang masih kurang ya biar kita nggak bolak balik."


Bunda yang ditanya selalu standar, kesiapan perlengkapan ke sekolah. Bunda tidak pernah tanya masih penting banget nggak sih mengutamakan sekolah pada jaman teknologi informasi dimana ilmu dan pengetahuan bertebaran di dunia maya. Perkembangan pengetahuan dan informasi jauh lebih cepat update daripada kurikulum sekolah yang diperbaharui beberapa tahun sekali. Sering kali ilmu yang didapat dari sekolah itu basi sebelum digunakan karena perkembangan pengetahuan dunia yang berjalan terlalu cepat.


Beda dengan ayah yang selalu bertanya hal yang ringan yang kesannya tidak penting. "Kamu pasti bersemangat ke sekolah karena sudah punya stok cerita liburan ke Australia kan, Za?"


"Yes." Faiza tersenyum bangga. Akhirnya ia bisa berlibur ke luar negeri meski tanpa ayah dan bunda. Ia senang punya cerita yang setara dengan pergaulan teman-teman sekolahnya.


Meskipun sebelum tidur selalu video call yang isinya keluhan, tapi Faiza merasa sudah jadi gadis kecil yang mandiri. Ia sudah mahir menata dan membereskan sendiri semua perlengkapan dan barang pribadinya. Ia sudah bisa berkomunikasi dengan orang asing saat tersesat di jalan. Karena sifat royalnya, ia membeli banyak souvenir buat ayah, bunda, kakak, bibi, teman, dan para pekerja rumahnya. Banyak yang dibelinya, sampai-sampai harus membayar over bagasi 5 kg di bandara.


"Nanti aku mau kuliah di Melbourne atau Sidney ya, Yah."


"Boleh. Kamu betah di apartemen kak Amel?"


"Betah. Asalkan kita rajin berbenah, kak Amel tidak pernah marah. Kak Amel sudah berubah lebih sabar karena sekarang punya pacar, Yah. Bule Australia."


"Benarkah?"


"Iya. Namanya Greg Donovan. Ganteng dan keren."


"Kamu juga mau punya pacar bule, Za?"


Bunda melotot ke arah ayah yang pertanyaannya dianggap serampangan pada putrinya yang masih berusia 10 tahun. Tapi ayah tak peduli. Bagi ayah itu bukan masalah yang perlu dirisaukan.


"Nggak. Iza mau pacar kayak ayah aja." Faiza menjawab sambil tersipu. Pipinya yang sedikit tembam merona seperti tomat.


"Berarti lebih ganteng ayah dong daripada bule pacarnya kak Amel."


"Iya. Ayah selalu jadi nomor satu. Nggak akan ada orang yang bisa mengalahkan ayah."


Cih, lebay. Kecil-kecil pintar cari muka. Pasti ada udang di balik batu. Biar tidak dimarahi ayah karena kartu kredit platinumnya tagihannya membengkak. Faiza terlalu banyak belanja selama di Australia. Pasti terpengaruh sama gaya hidup kak Amel. Mungkin juga kartunya dimanfaatkan buat belanja kak Amel. Namanya anak kecil kan gampang dikelabui. Dibaik-baiki lalu dimanfaatkan tanpa disadari.


"Cek tagihan kartu kreditnya, Yah. Jangan-jangan over limit." celetuk Faiz spontan seraya mencibir.

__ADS_1


Faiza melotot ke arah kakaknya. Faiz tersenyum cuek. Lirikan matanya liar terkesan meremehkan sang adik.


"Kalau overlimit, bulan ini dan seterusnya Iza harus berhemat. Iza harus tanggung jawab mencicil overlimitnya ya." Bunda langsung menjawab dengan kemungkinan punishment yang akan diterima puterinya kalau belanja diluar batas yang telah ditentukan.


Kena kamu, Za. Bunda itu disiplinnya lebih ketat daripada polisi. Tak bisa disuap. Tak kenal ampun. Emang enak uang jajan dipotong buat nyicil overlimit?


Faiza jadi cemberut pada Faiz. Mengepalkan tangannya dengan mata melotot mengisyaratkan ancaman perang. Faiz makin senang. Kalau marah pipi putihnya makin ranum jadi menggemaskan seolah-olah melambai ingin digigit.


"Yah, punya waktu sebentar nggak? Faiz perlu bicara 4 mata."


"Ngomong aja sekarang, Iz. Ngapain sih rahasia-rahasiaan." Biru protes namun Faiz malah buang muka.


"Ini obrolan laki-laki. Perempuan nggak boleh tahu."


Biru cemberut. Faiz tersenyum melihat adik dan bibinya sama-sama cemberut karenanya. Dendamnya terbalaskan. Sejak kemarin ayah pulang, seluruh obrolan didominasi Faiza dan Biru. Hari ini saatnya Faiz ngobrol dan mereka nggak boleh tahu. Mumpung masih pagi dan mereka belum bersiap-siap pergi ke mall mencari perlengkapan sekolah.


Satya mengajak Faiz ngobrol di taman belakang dekat kolam renang. Ada kandang burung murai yang ceriwis peliharaan pak Tri, tukang kebun rumah ini. Burung itu hampir tak pernah berhenti cicit cuit sepanjang hari.


"Ada apa, Boy? Penting banget pengen ngobrol 4 mata sama ayah."


Faiz senang. Ia tahu ayahnya bangga jika diajak ngobrol berdua sebagai laki-laki.


"Mau tanya, apa ayah menyuruh orang untuk membuntuti Faiz?"


"Yah, pertanyaanku belum dijawab. Kenapa malah bertanya?"


Hehehe. Satya terkekeh.


"Enggak. Ayah terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai nggak sempat nanya apa kamu butuh pengawalan. Ayah pikir kamu bakal aman karena selama ini hanya beraktivitas di rumah saja. Sibuk terus sama e-sport. Ayah lupa besok kalian sudah mulai masuk sekolah. Kamu dan bi Biru harus berangkat dan pulang bersama dengan diantar pak Dadang dan mbak Sari, sementara Iza tetap sekolah dengan menggunakan fasilitas jemputan khusus dari sekolahnya."


"Mbak Sari?"


"Buat ngawal kamu dan Bibimu."


"Kenapa pengawalnya perempuan?"


"Supaya bi Biru lebih nyaman. Apa kamu butuh pengawal khusus, Boy?"


"Ada 2 orang yang membuntuti aku sejak dari Sukabumi, Yah. Beberapa kali kepergok nguntit aku. Terakhir kemarin malam ketemu di tangga menuju basement club Holy Holyday. Orang yang sama dan pernah Faiz tegur. Katanya disuruh ayah."


Satya terkejut namun sedetik kemudian ia sudah menutupi keterkejutannya dengan senyum. Mungkin pesaing bisnisnya sudah tahu siapa pewaris kerajaan bisnis Goldlight. Ini bahaya besar buat Faiz. Apalagi sekarang ia tidak tinggal di pesantren lagi. Nyawanya mulai terancam.


Apa perlu dia dikembalikan lagi ke pesantren agar lebih aman? Oh, Jangan. Anak harimau yang sudah kembali ke habitat aslinya harus belajar berburu dan waspada. Sifat itu tak akan tumbuh kalau selamanya ia hidup diberi makan dalam kerangkeng besi. Dia harus mengenal alam bebas agar jiwa memburu dan kewaspadaannya cukup untuk menghadapi kejamnya kehidupan. Mungkin sudah saatnya Faiz tahu banyak resiko hidupnya sebagai anak harimau.


Satya mencoba menanggapi dari sisi yang lebih santai saja. "Semalam kamu ke club Holy Holyday, Boy? Nggak kena razia KTP?" sindir Satya sambil senyum senyum meledek.

__ADS_1


"Aku cuma sejam di sana, menghadiri undangan sweet seventeen party seorang puteri konglomerat, Yah. Satu gedung dibooking semua buat partynya. Scannya hanya berdasarkan undangan, nggak pakai KTP." jelas Faiz tak ingin ayahnya salah paham.


"Bunda nyuruh mas Tom ngawal dan aku pulang jam 10 sesuai pesan bunda." tambah Faiz meyakinkan kalau dirinya mampu bertanggung jawab terhadap jam malam yang ditetapkan bunda.


Ayah tersenyum dan mengangguk.


"Siapa namanya?"


"Yang ulang tahun?"


"Iya. Masak ayah nanya siapa nama kucingnya. Memangnya yang ulang tahun kucing."


Garing. Nggak lucu. Tapi Satya tertawa kecil.


"Namanya Cheryl Tanuwijaya."


"Ayah kenal baik dengan orang tuanya. Bos mobil mewah dan punya pabrik mie instan serta perusahaan rokok ternama. Masuk forbes sebagai orang terkaya di Indonesia." Satya langsung mengenali siapa orang tua Cheryl.


Hm. Bibit unggul. Tidak disangka seorang putri tunggal konglomerat jadi fanster e-sport, permainan yang dianggap banyak orang sebagai perbuatan sia-sia.


"Anaknya cantik?"


"Cantik. Tapi dia nggak tahu kalau aku anak ayah. Kenalnya aku sebagai pemain e-sport."


Satya terkekeh.


"Lama-lama juga ketahuan, Iz. Tapi tenanglah, ayah Cheryl tidak pernah bersinggungan dengan ayah karena bisnis kita berbeda. Dulu waktu ayah masih mengelola showroom mobil mewah sempat jadi pesaing. Sekarang showroom ayah sudah dijual. Kalah saing."


Satya tertawa satir. Harus diakui diantara puluhan bisnis yang dijalaninya tidak semua berjalan mulus. Ada yang berkembang, ada yang stagnan dan ada pula yang harus gulung tikar. Itu adalah hal biasa dalam bisnis. Satya tak pernah ambil pusing. Hidup baginya adalah arena pertarungan. Kalah menang sudah biasa.


"Kamu harus siap dengan konsekwensi sebagai anak ayah, Boy. Banyak pesaing bisnis yang ambil jalan salah buat bersaing dan itu mungkin bisa membahayakan nyawamu."


"Faiz nggak takut mati, Yah." tegas Faiz.


"Kalau tak takut mati, kenapa kamu resah ketika tahu ada yang menguntit?"


"Risih aja, Yah. Kalau benar ayah yang mempekerjakan dia, Faiz minta tolong buat dihentikan."


"Itu bukan orang suruhan ayah. Hati-hati saja. Kamu mungkin perlu belajar beladiri lagi. Mulai besok ayah akan minta pengawalan khusus kamu dari orangnya pakde Bas."


Apa yang dikatakan ayah sebenarnya bukan jawaban yang diinginkan Faiz. Ia tak ingin pengawalan yang membuat hidupnya makin terasa terkekang. Lagipula ia sudah sadar diri harus selalu waspada dan berhati-hati. Ia juga paham bahwa ia harus belajar mengaum agar kharisma dan wibawanya muncul. Yang membuatnya penasaran adalah siapa orang yang menguntitnya dan apa tujuannya. Apakah orang-orang itu berhubungan dengan kematian om Ardi?


_______


Siapakah dia?🙉

__ADS_1


__ADS_2