METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
MAKAN SIANG


__ADS_3

Biru sebenarnya kesal dengan tingkah Faiz yang menurutnya sudah diambang batas keterlaluan. Ia merasa bersalah pada Rio. Kalau saja ia tidak berteriak dan pura-pura hampir jatuh meniru Fathia, insiden hukuman itu tak akan pernah terjadi. Sebenarnya Biru tak selemah dan semanja itu. Ia hanya iri ingin merasakan bagaimana rasanya dipeluk cowok seperti Fathia. Ternyata rasanya enak juga ya. Damai dan hangat. Rasa hangatnya masih terasa sampai sekarang. Seperti diberi setitik api abadi yang diambil dari Gunung Ijen. Kalian tahu kan Gunung Ijen? Gunung Ijen itu adalah sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan kabupaten Bondowoso dengan kabupaten Banyuwangi. Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen adalah blue fire (api biru) di dalam kawah yang terletak di puncak gunung tersebut. Konon itu merupakan salah satu sumber api yang abadi.


Sekarang jadi Rio yang kena hukuman. Padahal ini bukan salahnya dan tadi helmetnya sudah dipukul Faiz juga. Pelan sih, tapi masalahnya bukan dipukul pelan atau kencang melainkan harga diri yang runtuh. Rio kan ketua OSIS. Paling tidak, harusnya Faiz hormat sedikit padanya. Dia nggak keterlaluan kok. Biru yang salah pura-pura ketakutan dan hampir jatuh. Apa Biru mengaku salah saja ya supaya Rio tidak dihukum? Ah, malu. Belum tentu juga Faiz meringankan atau menganulir hukuman dengan pengakuannya. Bisa jadi si ganteng bermata Biru itu mencibir atau menganggapnya berbohong demi melindungi Rio. Masalah bakal makin runyam dan panjang.


“Dihukum apa mereka?” tanya Biru setengah berbisik. Ia sengaja mencari situasi paling nyaman, mendekati Faiz yang sedang menunggu petugas resto membakar pepes ikan yang dipilihnya.


“Nggak tahu. Itu haknya Amar.” jawab Faiz sambil melengos.


Hem, mukanya masam. Masih belum enak dipandang. Biru tahu, itu artinya tak ada sesi tanya jawab atau mengemukakan pendapat. Kalau ia memaksakan diri bicara bakal jadi bumerang buat dirinya sendiri. Batu tak bisa dilawan dengan batu, sebab kalau bergesekan pasti menimbulkan percikan api. Lebih baik Biru yang mengalah karena di sini dia yang dianggap salah.


Selesai mengambil nasi timbel, pepes ikan mas, empal, sambal, dan sayur asem di tempat prasmanan, Faiz membawa makanannya ke meja makan. Tanpa bicara. Yang lainnya ikut sungkan untuk bicara. Sibuk menikmati lezatnya makanan sunda pilihan mereka masing-masing.


Tak lama kemudian Amar, Rio dan Doni bergabung bersama mereka. Tampang Doni sudah normal kembali. Beda dengan Rio yang seperti masih menaruh dendam, tidak terima pada perlakuan Faiz padanya. Keadaan itu membuat Biru semakin merasa bersalah. Seharusnya ia tidak bersikap impulsif. Sungguh nista sekali dirinya. Seharusnya saat Faiz memperingatkan Doni, ia telah sadar bahwa keponakannya itu pasti akan marah. Seharusnya ia tidak pura-pura takut dan nyaris menjatuhkan diri ke sungai. Andai Rio tidak menangkap tubuhnya, Biru mungkin mencelakakan dirinya sendiri. Ya Tuhan, kenapa Biru bisa sebodoh itu?


Doni berjalan santai dengan 2 gulung nasi timbel berbungkus daun pisang kepok yang warnanya hijau mengkilat. Lauk-pauk aneka rupa tampak munjung di piring lebar yang sengaja ditumpuk. Aji mumpung all you can eat. Anak itu makan banyak sekali tanpa canggung. Lebih banyak dari porsi makan kuli bangunan. Dengan santainya ia duduk di kursi kosong sebelah Faiz seolah tak pernah terjadi apapun di antara mereka.


“Tidak ambil paru goreng, Bos?”


“Nggak suka”

__ADS_1


“Usus?” Doni menunjukan potongan usus sapi goreng yang sudah berisi adonan tahu sutra yang telah diberi bumbu, potongan kecil sayuran dan telur.


Faiz memandangnya dengan jijik. Ia sama sekali tidak tertarik mencoba. Ia tak menyukai makanan sampah berupa organ dalam binatang seperti itu.


“Ini usus isi tahu spesial. Rasanya enak sekali kalau dicocol sama sambel dadak begini.” Doni memraktekkan adegan pencocolan usus sapi dengan sambal dadak yang diambilnya semangkuk banyaknya. Beuh, kelihatan nikmat.


Petugas resto tadi hanya bisa geleng kepala melihat Doni mengambil sambal dadak beserta mangkuknya. Mau protes tak bisa sebab menu paket mereka all you can eat. Mau ambil sambal semangkuk juga hak pengunjung. Petugas segera itu mengganti dengan mangkuk sambal yang baru tapi bukan sambel dadak, melainkan sambal terasi. Dalam hati pasti petugas resto bertanya, apakah tamunya itu sangat doyan pedas, sangat lapar atau memang rakus dari sananya.


Gaya Doni sudah mirip pemilik Food vloger ternama. Terlihat santai dan menikmati makanan yang ditunjukannya dengan muka merem melek. Faiz tak melirik sama sekali ke arahnya. Ia menikmati makanannya


sendiri.


Faiz tak peduli. Doni pasti mau cari perhatian lagi lantaran permohonan untuk menjadi asisten tak kunjung mendapat jawaban. Gigih juga dia.


"Saya pasti akan menjalani hukuman dengan senang hati. Sekarang makan yang banyak dulu biar kuat menghadapi kenyataan." Doni tersenyum tengil.


Faiz hanya melirik seulas. Dilihatnya Doni tersenyum riang tanpa beban. Baguslah. Artinya dia cukup bertanggung jawab dengan kesalahannya.


"Bos, aku sudah ngefans banget sama Baby F, bahkan sebelum tahu kalau Baby F itu kamu. Begitu tahu Baby F teman sekelas rasanya bangga banget."

__ADS_1


Rayuan apa lagi ini? Faiz menanggapi dengan setengah-setengah.


"Kita agak beda dalam berbagai hal, tapi menurutku bagus karena dengan perbedaan itu kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Kamu terlalu kaku dalam urusan cewek tapi aku maklum karena kamu besar di pesantren. Sedangkan aku besar di jalanan. Aku tidak punya maksud jelek. Tadi itu naluri aja spontan harus nolong Fathia. Mungkin semua orang akan melakukan hal yang sama kalau temannya hampir celaka, tak peduli cowok atau cewek."


Benar juga sih. Faiz tadinya juga tidak berniat menghukum, cukup memperingatkan saja. Masalahnya ternyata kejadian itu terjadi berulang pada bibinya. Kalau tidak dihukum mungkin mereka tidak akan paham kesalahannya dan menganggap hal itu biasa.


"Kamu mau minta keringanan hukuman?"


"Enggak. Hukuman tetap jalan sebagaimana mestinya, Bos. Aku cuma ingin bos mengerti kalau aku tidak ada maksud jahat."


"Ya. Aku paham."


"Bagaimana tawaran buat jadi asisten?" Eh, nyangkut lagi pertanyaannya pada niat awal Doni mengajukan diri sebagai asisten.


"Aku masih perlu pikir panjang."


Doni menghembuskan nafas dengan satu hentakan. Kecewa karena upayanya belum membuahkan hasil. Tapi tidak apa-apa. Mungkin Faiz butuh bukti bagaimana tekat dan loyalitasnya. Dia bukan orang sembarangan, tak mungkin serta merta menerimanya sebagai asisten.


Setelah kenyang mengisi perut, mereka segera kembali ke vila dengan menumpang kendaraan yang telah disiapkan pihak provider. Faiz tetap mengawasi tingkah janggal bibinya. Ada apa dengan bi Biru ya? Kasihan, sepertinya dia terlalu banyak berharap dari sesuatu yang jelas-jelas bertepuk sebelah tangan. Kasihan. Kasihan. Kasihan.

__ADS_1


__ADS_2