
Biru tak ingat apapun. Kepalanya terasa berat. Bumi terasa bergerak miring-miring tak beraturan saat ia mulai bisa membuka mata. Limbung. Dilihatnya suasana di sekeliling tempatnya berbaring dengan tangan dan kaki terikat. Ia berada di sebuah kamar sempit bercat putih yang kusam. Sarang laba-laba bertebaran di langit-langitnya. Kotor. Sungguh ini adalah ruangan menjijikan. Meski terlahir yatim piatu, namun Biru belum pernah tidur di kamar yang tak terawat semacam ini. Sepanjang hidupnya ia selalu memperoleh kamar dengan kenyamanan standar hotel berbintang. Dimanakah dirinya sekarang? Siapa yang membekapnya dengan sapu tangan yang berbau menyengat itu? Sepertinya sapu tangan itu mengandung obat bius hirup yang baunya mirip dengan bau alkohol. Kenapa dia diculik dan untuk apa mereka membawanya ke kamar sempit yang kumuh ini? Hujan pertanyaan memenuhi otaknya. Kepala Biru jadi semakin sakit.
Biru menghela nafas dengan panjang dan mencoba menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengukur seberapa kuat ikatan yang merantai kaki dan tangannya. Akh, tak seberapa kuat. Kalau tenaga dalamnya dikerahkan, Biru pikir ia dapat melepaskan diri dari jerat tali tambang yang terbuat dari nilon ini dengan mudah.
Kepalanya masih berdenyut-denyut. Biru membiarkan dirinya terikat dulu sambil beristirahat menunggu sakit kepalanya mereda.
Jam berapa ini? Seingatnya, ia menutup toko sendirian menjelang maghrib. Para pegawai lain sibuk melayani pengunjung yang membludak di resto dan game house. Menutup toko itu perkara mudah. Tinggal mematikan komputer kasir, mematikan lampu, menutup tirai, lalu mengunci pintu kacanya. Biru sama sekali tak butuh bantuan mengerjakan pekerjaan seringan itu. Namun ternyata urusannya bukan hanya soal pekerjaan, tapi keamanan pribadinya. Kalau sudah begini, esok Biru tak akan keberatan jika mbak Sari menguntitnya kemana pun demi keamanan pribadinya. Jakarta tidak sama dengan Jampang. Ada orang jahat mengincarnya meski ia tak kenal dan tak berbuat jahat pada siapa pun. Alasannya hanya satu, sebab ia adalah bagian keluarga Wirajaya Halim.
Apa kabar dengan keluarga kak Satya ya? Saat ini mereka pasti resah dan sibuk mencari keberadannya. Mbak Sari pasti kena getahnya. Dia bakal dihukum berat karena kelalaiannya. Biru tak takut pada penculik. Ia resah memikirkan orang-orang yang merasa kehilangan dirinya.
Agar hati lebih tenang, Biru mengalihkan pikirannya untuk berdoa dan shalat maghrib semampunya karena yakin sekarang pasti sudah lewat dari azan maghrib. Bagaimana pun keadaannya, ia selalu ingat pesan keluarga dan ustadzahnya untuk mengutamakan sholat. Sebab bagi umat muslim, shalat adalah kewajiban yang harus ditunaikan selama manusia masih dalam keadaan sadar. Biar saja tak bisa wudhu atau tayamum karena keadaan. Allah Maha Mengetahui. Biru terus mengucapkan doa-doa shalat maghribnya dengan disertai gerakan isyarat dalam imajinasinya. Sampai salam mengakhiri rakaat ketiga, belum ada tanda-tanda ada orang yang datang melihatnya di kamar itu.
Ceklek. Seseorang membuka pintu kamar dengan kasar. Sekilas ia melihat seorang perempuan cantik masuk dikawal beberapa perempuan dan laki-laki berbadan kekar. Biru segera memejamkan mata, pura-pura masih tak sadarkan diri. Lebih aman begitu. Ia penasaran ingin tahu apa yang dibicarakan orang-orang yang menculiknya.
“Kalian harus pastikan tidak salah menculik anak orang.”
“Benar, Nyonya. Kami sudah lama menyelidikinya. Sudah beberapa bulan ini anak ini tinggal di rumah tuan Satya. Sebelumnya dia tinggal di pesantren yang letaknya di dekat vila nona Lily.”
Hah? Mereka berniat menculik anak Satya. Jadi mereka mengira Biru adalah anak Satya. Sumpah. Biru ingin sekali menertawakan kebodohan mereka tapi urung sebab saat ini ia masih pura-pura tak sadarkan diri.
“Kenapa anak perempuan yang kamu bawa kemari? Bego. Kamu salah orang, Meng. Anak pertama Satya itu laki-laki. Usianya sekitar 15 tahun. Mungkin sekarang sekolah setingkat SMP. Aku pernah bertemu waktu anak itu masih balita di kantor Goldlight."
“Kalau bukan anak tuan Satya lalu dia siapa? Dia tinggal di rumah tuan Satya, Nyonya. Pakaiannya bagus dan bermerek. Tidak mungkin anak pembantu. Lagipula matanya agak sipit dan sedikit mirip dengan tuan Satya.”
__ADS_1
“Bego kamu. Lain kali cari informasi yang benar. Anak pertama Satya yang bakal mewarisi kerajaan bisnis Goldlight itu laki-laki dan matanya Biru seperti mata istrinya.”
“Lalu dia siapa? Apa yang harus kami lakukan, Nyonya?”
“Buang saja dia di taman yang sepi tengah malam nanti.”
Terdengar pintu dibanting dengan kasar. Biru tersenyum dalam hati. Penculik bego. Seharusnya Faiz yang ada diposisinya sekarang ini, tapi anak itu beruntung sekali. Pada launching hari kedua ini ia sama sekali tidak menampakkan diri ke resto game house rintisannya. Apakah ia sudah punya insting sedang diburu orang atau hanya kebetulan. Biru tak tahu. Faiz bilang, ia dipanggil pakde Bas karena tiba-tiba ada virus jenis baru menyerang di aplikasi pengaman jaringan yang dikembangkannya. Alhamdulillah, anak itu punya stok berkah dan keberuntungan dalam hidupnya yang membuat Tuhan berkenan menghindarkannya dari marabahaya seperti ini.
Lalu bagaimana dengan Biru? Nasibnya belum jelas. Perempuan pimpinan penculik itu menyuruh anak buahnya membuangnya di taman. Taman mana? Biru masih belum tahu ini dimana. Sepertinya gawai sebagai petunjuk pintar tak lagi bersamanya. Pasti penculik itu yang mengambilnya. Lalu bagaimana caranya ia bisa kembali pulang?
Perlahan Biru membuka matanya. Sakit kepalanya sudah sedikit mereda. Dilihatnya ada seorang pengawal perempuan yang tertinggal di kamar itu.
Biru menoleh ke kanan dan ke kiri pura-pura bingung. Ia pun mengucek matanya yang sama sekali tidak gatal.
“Dimana aku?”
“Dimana aku, Kak? Kenapa tangan dan kakiku diikat?” tanya Biru dengan wajah polos. Ia pura-pura ketakutan.
Perempuan muda berpakaian kaos dan celana jeans warna hitam itu tak menjawab. Pasti karena pertanyaan itu terlalu to the point.
“Aku kebelet pipis. Bisakah anda melepas ikatan ini dan mengantarkan aku ke toilet?” Biru punya alasan lain. Di film-film orang pura-pura ingin buang air untuk melihat peluang buat melarikan diri.
Perempuan itu tak bergeming.
__ADS_1
“Anda suka kalau tempat ini jadi bau karena saya mengompol ya?”
“Tunggu sebentar! Saya tanya bos dulu.”
Meski dengan kekuatannya ia bisa melepaskan diri, namun Biru memilih bersabar dan pura-pura bodoh. Sementara perempuan penjaga itu keluar menemui bosnya, Biru mengisi waktunya dengan dzikir agar pikirannya tidak sibuk menduga-duga sesuatu yang belum pasti. Cemas itu biasanya memakan banyak energi, padahal Biru harus lebih hemat energi buat mengantisipasi keadaan.
"Jangan cemas, Biru. Hasbunallah wa nikmal yakin. Nikmal maula wa nikman nasir. Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami” Biru mengucapkannya berulang-ulang sambil mengisi paru-parunya dengan lebih banyak oksigen.
Seorang perempuan cantik yang gurat wajahnya pernah ia lihat di foto-foto yang ditunjukan keluarganya muncul dari balik pintu bersama penjaga tadi. Biru terperangah, namun secepat kilat segera menetralisir keadaan. Ia harus tetap tampak seperti gadis bodoh yang lemah tak berdaya.
Hatinya terus bertanya-tanya, benarkah yang dilihatnya saat ini adalah ibu kandungnya? Mengapa ia berniat jahat menculik Faiz? Ada masalah apa antara ibu dan kakaknya.
“Kamu sudah sadar?” Suaranya lembut tapi Biru melihat api berkobar di tubuhnya. Tampaknya dia sangat kesal dengan kerja bodoh anak buahnya yang bisa-bisanya tertukar target.
“Saya kebelet pipis, Nyonya.” jawab Biru agak terbata.
Perempuan yang wajahnya mirip potret mamanya itu menatapnya dengan tajam. Apakah ikatan batin antara ibu dan anak itu ada? Biru ingin merasakan hangatnya dipeluk ibu kandungnya. Tapi itu cuma mimpi belaka. Jangan harap ada ikatan batin. Seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya yang lahir yatim pasti bukan perempuan yang punya hati. Biru melengos, menghindari tatapannya dengan kebencian yang mendaki puncak. Dadanya terasa penuh dan sesak. Tangannya mengepal geram. Mestinya pertemuan ibu dan anak itu adalah pertemuan paling romantis yang peluh peluk dan cium pelepas rindu.
“Buka ikatannya dan antar dia ke toilet. Jangan lama-lama di toilet. Maksimal waktumu hanya 5 menit.” ucapnya tegas.
Biru tak menjawab. Ia sangat kecewa dengan sikap perempuan cantik yang mirip dengan foto ibunya itu. Anggap saja sudah benar-benar mati. Mungkin benar apa kata William Shakespeare, harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati. Sungguh. Biru ingin memusnahkan harapan bertemu dengan ibu yang melahirkannya.
Setelah kedua tangan dan kakinya bebas dari ikatan, Biru berjalan mengikuti perempuan muda yang mengawalnya menuju toilet. Sekali lagi ia menatap tajam perempuan cantik yang merupakan otak penculikannya. Dia benar-benar mirip foto ibunya. Lihat saja tahi lalat yang ada di samping kanan bibirnya. Persis. Perempuan itu seperti tak bisa menua karena waktu.
__ADS_1
_________
Bahagia dan sehat selalu😘