METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
HADIAH


__ADS_3

Biru melangkah memasuki kamarnya. Membayangkan berada di kamar yang kumuh tadi membuatnya bersyukur memiliki kamar sendiri di rumah ini dengan kamar mandi pribadi yang bersih, lengkap dengan shower air hangat dan sabun organik dengan wangi campuran aroma mawar dan kayu cendana yang diracik sendiri menggunakan bahan-bahan alami. Sungguh. Kalau kita bersyukur hidup terasa begitu indah. Selama hidupnya, ia tak pernah merasakan kekurangan. Meski hidup dari bayi tanpa orang tua kandung, tapi ia memiliki fasilitas yang lebih mewah daripada anak yatim piatu di manapun.


Tak terbayangkan andai Lily dan Satya tidak bersedia menampungnya, mungkin kehidupannya berakhir di salah satu diantara panti-panti asuhan yang biasa dikunjunginya bergantian setiap awal bulan. Mereka yang tinggal di sana harus berbagi kamar dengan banyak anak-anak kurang beruntung lainnya dan hidup dalam keterbatasan sebab kadang donasi yang diperoleh dari dermawan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga panti.


Biru mengembangkan senyum sambil menghirup aroma sabun yang memenuhi kamar mandi kecil yang berukuran 2 x 2 meter.


“Alhamdulillah. Terima kasih, Tuhan. Engkau memberikan kak Lily dan kak Satya yang bersedia menerimaku sebagai adik yang membutuhkan perlindungan, bimbingan dan cinta. Seharusnya aku belajar dari keduanya yang tulus menerimaku tanpa peduli bahwa mereka juga pernah sakit hati pada mama kandungku. Aku harus berusaha menghapus kekecewaanku atas pertemuan tadi. Harus. Kehadiran mama bukanlah beban bila ia tak memikirkannya sebagai beban.” Biru mulai berdialog dengan dirinya sendiri guna membuang segala pikiran buruk yang mengganggunya.


Cukup Lily dan Satya yang jadi panutannya. Keduanyalah yang memberikannya kehidupan nyaman selama ini. Bukan mama yang meninggalkannya. Bukan pula kakak sulungnya Bram yang tak peduli keberadaannya. Dan pastinya juga bukan Bas yang selalu berkata kasar dan menatapnya dengan tatapan yang mengandung kebencian sekaligus meremehkan.


Jangan mengeluhkan nasibmu, Bi. Bersyukurlah agar Allah memberi lebih banyak anugerah.


Gemericik air hangat yang mengalir membasahi tubuh dan wangi sabun organik yang memanjakan hidung membantunya merasa lebih tenang. Biru tahu yang dirasakannya saat ini adalah kecewa, namun bila ia terus mempertanyakan Tuhan kenapa ia harus lahir dari rahim perempuan itu justru akan melahirkan kekecewaan yang lebih dalam. Saat ini ia hanya ingin berpikir tentang hal-hal yang bisa membuatnya bahagia, bukan berpikir tentang hal yang membuat kecewa.


Keluar dari kamar mandi dan berganti baju tidur di walking closet kecil yang dimilikinya, Biru dikejutkan dengan kehadiran Faiz dan Faiza yang tengah menonton TV di tempat tidurnya.


Kedua keponakannya itu menatapnya dengan senyum tengil seperti sengaja hendak memberinya kejutan.


“Kok bisa masuk?” Biru celingak-celinguk. Rasanya ia tak lupa menutup pintu kamarnya. Seharusnya tak ada yang bisa masuk kamarnya. Tak terkecuali dua tikus tengil itu. Keduanya tak punya akses masuk, kecuali dengan mengetuk pintu dan ijinnya. Begitulah SOP sistem keamanan yang menjaga privasi pemilik kamar.


Faiz berdiri dekat pintu dengan tampang sok cool dan tangan terlipat di dada. Dagunya sedikit terangkat. Cih. Gaya angkuhnya itu menyebalkan sekali. Sementara Faiza nyengir kuda.


“Kak Faiz bisa nge-hack seluruh sistem keamanan rumah ini, juga rumah pakde Bas,” terang Faiza dengan senyum bangga. Sementara yang dibanggakan mengerdipkan sebelah matanya.


“Jangankan kamar Bibi, kamar dan ruang kerja ayah bunda juga kita bisa masuk. Iya kan, kak?”


Lagi-lagi Faiz menjawab dengan kerdipan mata dan senyum angkuhnya.


“Ini sudah malam.”


“Iya, memang sudah malam. Iza hanya nggak sabar mau lihat metaverse khusus buat hadiah ulang tahun Bibi.”


“Hadiah ulang tahun?”


“Iya. Anggap saja begitu.”


Biru garuk-garuk kepala. Ini sama sekali bukan hari ulang tahunnya. Ulang tahunnya masih 6 bulan lagi. Biru tak ingin buru-buru menginjak usia delapan belas tahun. Kalau bisa menghentikan waktu, ia tak ingin buru-buru berjumpa esok atau lusa. Bukan karena apa-apa, melainkan karena pada usia itu ia sudah dianggap dewasa dan bisa mengelola harta warisan papanya sendiri. Ia merasa itu berarti pada usia itu ia dipaksa untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Padahal Biru masih belum sanggup, ia sudah merasa terlalu nyaman dengan kondisinya sekarang, di bawah perlindungan keluarga kakaknya.

__ADS_1


“Kak Faiz mau memberikan hadiahnya lebih awal,” jelas Faiza lagi. Kali ini gadis kecil itu memamerkan senyum manjanya yang menggemaskan.


Senyum itu menular. Tanpa sadar Biru ikut tersenyum meski ia sama sekali tak tertarik sedikit pun dengan hadiah yang akan diberikan keponakannya.


Hm. Rupanya si mata biru itu menggunakan adiknya sebagai juru bicara. Kenapa bukan dia saja yang bicara? Kebiasaan banget sih. Di mana-mana senang sekali menggunakan mulut orang lain untuk bicara.


Seperti biasa, si mata biru itu masih tersenyum angkuh. Menyebalkan.


“Hadiah apa sih?”


Faiza bergerak lincah mengambil kotak yang rupanya sejak tadi ditaruh di atas nakas. Sebuah kotak kaca dengan bingkai kayu yang bercat warna biru langit. Isinya terlihat seperti helm atau lebih tepatnya seperti earflap hat atau kupluk bayi, yaitu topi bayi dengan telinga mirip kucing yang menutup seluruh bagian kepala bayi. Benda itu terbuat dari bahan velboa yang berbulu halus, biasanya digunakan untuk membuat boneka.


Apa-apan sih. Malam-malam menganggu hanya untuk memberikan hadiah topeng kucing-kucingan. Merasa dilecehkan. Memangnya Biru anak kecil. Biru merengut kesal.


“Tara… ini hadiahnya.” Faiza menyodorkan kotak itu tepat di hadapan Biru. Walau Biru sama sekali tidak antusias sedikitpun dengan hadiah itu, tapi melihat senyum dan antusiasme Faiza membuatnya terpaksa menunjukan senyum dan antusiasme yang sama. Tak tega.


“Terimakasih ya.”


“Sama-sama. Nanti kalau aku ulang tahun, kak Faiz janji akan dibuatkan alat ini dengan karakter keropi yang imut.” Faiza menepuk-nepuk pelan helm yang sepertinya tidak seempuk penampakannya. Luarnya saja tampak seperti boneka. Dalamnya mungkin plat besi. Suaranya terdengar cempreng saat ditepuk-tepuk.


Biru mengangguk. Ikuti sajalah apa maunya.


Sekarang juga boleh. Bibi sedang tidak butuh mainan lucu lucuan.


Biru melirik Faiz yang masih betah berdiri dekat pintu dengan tangan bersedekap. “Kenapa sih nggak besok aja ngasih hadiahnya? Kasihan Iza udah ngantuk.” protesnya.


“Sstt, kata kakak ini proyek rahasia. Ayah bunda nggak boleh tahu.” Faiza menaruh telunjuk di depan bibirnya yang mengerucut. Kepalanya menggeleng-geleng.


Cih. Pinter banget nipu anak kecil. Lagi-lagi si mata biru itu tersenyum bangga karena berhasil menggunakan adiknya sebagai juru bicara. Faiza pun terlihat bangga sebab merasa berhasil menjalankan sebuah misi. Padahal apa pentingnya misi itu. Biru sama sekali tak paham jalan pikiran kedua keponakannya itu. Permainan macam apa ini. Tidak menarik. Juga tidak lucu.


Faiza mengambil lagi kotak itu dari tangan Biru. Tangan kecilnya dengan terampil membuka kotak kaca dan mengeluarkan helm aneh berbentuk karakter kucing itu. Bagi Faizq yang masih kecil mungkin benda itu menarik karena bentuknya yang mirip dengan kepala kucing benggala yang lucu. Tapi bagi Biru, benda semacam itu sama sekali tak menarik.


Ternyata ada kabel panjang dalam helm itu. Entah apa fungsinya. Yang jelas di dunia binatang tak pernah ada buntut yang menyatu dengan kepala.


“Cara pakainya begini.”


Faiza mulai memperagakan cara pakai dengan percaya diri bak gaya tutor online profesional. Ia memencet tombol on yang berada di bagian helm yang berbentuk seperti telinga kucing itu. Setelah itu menarik kabel lalu memasangkan helm itu di kepala Biru. Biru tak bisa apa-apa. Tak tega marah pada anak kecil yang tampak antusias dengan mainan barunya.

__ADS_1


“Kak, tolong hubungkan ke TV dong.”


Faiz bergerak mengambil kabel yang disodorkan Faiza. Dengan cepat ia menancapkan kabel yang ujung terdapat konektor yang sekilas bentuknya mirip konektor HDMI ke dalam salah satu konektor smart TV yang tadinya tengah menayangkan film kartun kegemaran Faiza.


Layar TV berubah menayangkan video ucapan selamat ulang tahun dari keluarga kak Lily dan kak Satya dengan segala tingkah polahnya yang unik. Biru tersenyum. Rasa kangennya pada kak Lily, kang Asep, Amar, Azka dan Alisa sedikit terobati melihat aksi mereka dalam video itu. Baguslah Faiz ternyata bikin video yang cukup membuat hatinya menghangat. Faiza terlihat tersenyum puas menonton aksinya menari seirama dengan potongan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan keluarga kecilnya.


Durasi video itu sepertinya masih panjang, namun Faiz memutuskan untuk menyelesaikan tayangannya hanya sampai di situ. Ia mencabut konektor itu seenaknya. Padahal Biru sudah mulai penasaran pada video yang durasinya menyamai durasi film biokop.


“Nanti, dilanjut nontonnya menjelang tidur aja, Bi.”


“Kenapa?”


“Karena video selanjutnya adalah metaverse khusus hadiah buat Bibi. Privat.” jawab Faiza yakin.


Biru yang tadinya kesal tak bisa berbuat apa-apa sebab Faiza mencium pipinya. “Aku sayang Bibi. Muach…” ucapnya sebelum pamit berjingkat-jingkat riang meninggalkan kamar Biru.


Faiz tidak buru-buru keluar kamar menyusul adiknya. Ia membiarkan pintu kamar Biru terbuka.


Biru melirik dengan sebelah matanya. Tangannya yang mengibas ke arah pintu yang terbuka lebar. Maksudnya mengusir Faiz agar keluar dari kamarnya tapi yang diusir sama sekali tidak tanggap. Masih diam di tempatnya berdiri.


“Terima kasih sudah bantu-bantu di resto aku. Besok Bibi tidak perlu bekerja di resto lagi. Bahaya.” Suara Faiz terdengar dingin dan penuh tekanan. Itu sebuah perintah atau bisa dibilang pemecatan secara sepihak. Otoriter sekali dia.


“Kenapa nggak boleh? Bibi mau belajar cari uang, Iz.” Biru balas menatap Faiz dengan sorot mata menantang.


“Bibi belajar masak aja biar jadi istri sholehah.”


Cih. Jawaban apa itu. Melecehkan sekali. Memangnya wanita sholehah itu hanya yang pintar memasak. Biru benci mendengarnya. Maunya sih langsung lapor ke aktivis feminisme biar mulut keponakannya itu dibungkam. Dilakban sekalian biar ngomong seenaknya.


“Bibi ingin bisa cari uang juga seperti bundamu.”


“Bibi bukan Bunda.”


“Iya, tapi Bibi bisa belajar agar jadi seperti Bundamu. Bibi pasti bisa kalau diberi kesempatan belajar,” tantang Biru dengan nada sedikit lebih tinggi.


“Nggak usah. Bibi jadi ibu rumah tangga yang baik aja seperti tante Lily.”


“Kamu nggak berhak mengatur Bibi, Iz. Besok kita diskusikan sama ayahmu."

__ADS_1


“Aku sayang Bibi. Aku nggak mau Bibi kenapa-napa. Tadi Bibi sudah menggantikan posisi aku diculik kelompok mafia musuhnya pakde Bas.” ucap Faiz datar tapi dalam.


Deg. Biru hampir terbelalak. Si mata biru ini punya indera ke enam ya? Apa dia belajar ilmu cenayang? Mengapa dia serba tahu? Jadi … Dia sudah tahu kalau dialah yang jadi target penculikan itu. Artinya harusnya dia juga tahu dong siapa yang menculiknya. Kenapa tadi tenang-tenang saja menghadapi mama?


__ADS_2