
Amar dan Azka sama-sama kaget begitu mengetahui ada perjudian dibalik maraknya E-Sport yang digandrungi masyarakat sebagai permainan daring terpoluler. Tidak hanya di kota besar, anak-anak Jampang pun sudah terpapar maraknya permainan universe war yang digeluti kakak sepupunya itu. Bukan judi yang meresahkan Amar, tapi imbasnya pada keselamatan jiwa kakak sepupu yang disayanginya itu. Amar percaya Faiz tahu betul apa yang terbaik buat dirinya. Faiz pasti berniat keluar dari dunia E Sport profesional buat membersihkan dirinya dari perjudian yang mengotori sportifitas permainan itu.
Meskipun agak nakal dan keras kepala, Faiz paham apa yang boleh atau tidak boleh dalam agama. Tak mungkin berani melanggar aturan syariat. Judi itu haram dan secara logika orang tidak bakal kaya dari judi. Kata eyang haji Rhoma Irama, bohong kalau judi itu bisa bikin orang kaya. Janji-janji bandar judi yang dikemas begitu apik untuk mempengaruhi psikologis orang itu hanya kebohongan belaka. Kalaupun ada yang kaya dari perjudian, itu hanya bandar judinya saja. Sesekali pemain bisa menang judi dan merasa kaya. Namun sesungguhnya itu merupakan awal dari kebangkrutan dan kekalahannya.
“Kak Faiz masih kontrak jadi pemain pro?”
“Sudah aku anulir kontraknya. Mulai hari ini aku bukan pemain pro lagi.”
“Sungguh?”
“Aku tidak pernah bohong sama kamu, Mar.”
Ada raut kecemasan di wajah Amar yang biasanya tenang seperti air danau kecil yang tak beriak sama sekali. Ia memandang Faiz dengan sangat lekat seolah ingin menunjukan bahwa ia takut kehilangan. Bagaimana jika bandar judi itu menyimpan dendam pada kakak sepupunya? Gawat. Dengan keputusannya masuk dunia e-sport makin banyak saja masalah yang berpotensi mengancam jiwanya.
“Pertandingan di live streaming kemarin wajah kak Faiz sempat tersorot jelas di kamera. Aku yakin banyak orang yang sudah mengenal siapa Baby F yang sebenarnya.” ungkap Amar pelan dan hati-hati sekali.
Faiz terbelalak. “Benarkah?”
Amar mengangguk yakin.
Faiz langsung membuang karbon dioksida sebanyak-banyaknya lewat satu hentakan keras. Gas limbah yang merupakan hasil metabolisme sel di dalam tubuh itu melayang kemudian menyatu dengan elemen udara lain di sekitarnya. Sesaat kemudian dihirupnya oksigen sebanyak mungkin memenuhi paru-parunya. Faiz segera sadar posisinya sekarang rawan masalah.
“Mungkin di kemudian hari akan ada bahaya mengintai aku, Mar. Aku telah membuat bandar judi besar itu kalah banyak. Pertama aku menolak kerjasama curang di turnamen perseorangan. Meskipun akhirnya aku dikalahkan oleh konspirasi mereka, tapi pasti ada sisa dendam akibat aku menolak tawaran mereka. Kedua aku berusaha keras menang di pertandingan beregu padahal sebagian rekan tim aku sepertinya sudah dibayar untuk kalah. Bandar judi besar itu mengancamku lagi untuk kekalahannya semalam."
“Mengancam?”
“Tadi pagi-pagi sekali sudah banyak yang DM di IG Rony Fa. Isinya beragam. Ada ucapan selamat, tantangan dan ancaman."
“Buang aja fake account itu.”
“Aku memang sudah niat membuangnya.”
Bagus. Memang sudah seharusnya tidak perlu main media sosial lagi. Keluarga mereka tidak butuh panjat sosial. “Ada lagi yang mereka tahu tentang kakak?”
“Bandar judi itu pernah menulis pesan dan menelponku. Nggak tahu mereka dapat nomor darimana. Aku juga heran. Padahal aku tak pernah membagikan nomorku pada orang sembarangan."
“Cepat buang dan ganti nomor!"
__ADS_1
"Mana hp kakak?” Amar langsung menengadahkan tangannya. Ia makin penasaran dengan kehidupan maya kakak sepupunya.
Faiz mengambil gawai itu di dalam tas selempang yang dikenakannya lalu menyerahkannya pada Amar. Memang sejak tadi pagi sudah ada beberapa ucapan selamat yang bernada mengancam dalam chat box di gawainya. Faiz
tak terlalu mempedulikannya. Orang kalah marah-marah itu biasa. Ada yang diungkapkan langsung saat pertandingan online dengan cara memaki-maki. Ada juga hatter yang cuma berani menyerang dengan menggunakan fake account media sosial. karakter fans dan hatter itu macam-macam. Faiz maklum dan menanggapinya dengan sambil lalu. Fans itu penting buat menunjang karir. Tanpa mereka tak mungkin Faiz menang banyak cuan di industri E-Sport.
Amar langsung menyambar gawai milik kakak sepupunya itu. Dia langsung mengambil tangan kanan kakak sepupunya lalu menempelkan jempolnya di sensor sidik jari. Tanpa banyak bicara ia membuka isi gawai itu.
Amar terperangah mendapati sangat banyak pesan di chat box yang sebagian besar berisi ucapan selamat. Jumlahnya ada ratusan. Di notifikasi saja ada 347 pesan belum terbaca. Ia tak membaca satu persatu pesan yang bunyinya senada. Buang waktu. Dipilah beberapa pesan saja yang dibacanya dengan cepat. Yang terlihat paling menonjol adalah sebuah pesan yang banyak tanda serunya, bernada ancaman, dan ditulis dalam huruf besar berwarna merah darah. Selain itu ada panggilan tak terjawab juga dari nomor-nomor tak dikenal.
“SELAMAT, BABY F!!! KAMU TELAH BERHASIL MEMBUAT BOS KAMI KALAH. TUNGGU PEMBALASAN DARI KAMI.” Itu isi salah satu pesan yang bernada ancaman buat Faiz yang belum sempat dibuka pemilik gawai.
“Banyak fans yang mengucapkan selamat, Kak.”
“Dimana? Kalau di DM IG mah biasa.”
“Bukan. Ini di chat box. Kakak menaruh informasi nomor telepon kakak di media sosial?”
“Tidak. Nomor telepon yang dipakai untuk bikin akun di IG itu fake phone number. Tadinya diaktifkan sama mang Rony tapi kemudian nomor itu dibiarkan hangus.”
“Mang Rony sudah nggak jadi guru lagi semester depan, Kak.” terang Amar dengan sangat hati-hati.
Faiz langsung memandang Amar dengan wajah tak percaya, “Kenapa?”
“Katanya diterima di salah satu perusahaan IT multinasional besar di Jakarta.”
Hah? Kenapa mang Rony tidak mengabarinya kalau pindah kerja di Jakarta? Jangan-jangan mang Rony dipecat gara-gara dianggap mengarahkan santri jadi pembangkang dan kecanduan main game. Faiz jadi merasa bersalah. Bukan mang Rony yang bersalah, tapi ia yang keras kepala. Padahal mang Rony sudah berkali-kali mewanti-wanti dirinya agar tidak sering bolos dan melanggar peraturan pesantren demi game online. Sungguh Faiz menyesal. Keputusannya kali ini mengorbankan seorang guru yang baik, cerdas dan sangat kompeten di bidang komputer. Pesantren bakal sulit mencari pengganti mang Rony. Kalau pun ada mungkin kualifikasi keahliannya berada di bawah mang Rony.
“Mang Rony dipecat gara-gara aku?”
“Nggak tahu. Abah cuma bilang mang Rony pergi ke Jakarta demi karir yang lebih baik. Gajinya di perusahaan IT dunia itu pasti besar. Peluang karirnya lebih baik.”
Mang Rony bukan tipe orang yang haus uang. Kalau memang niat kerja di Jakarta, harusnya sudah dari dulu mang Rony bisa mewujudkannya. Faiz tahu mang Rony lebih senang jadi pendidik. Dengan cepat Faiz merampas gawainya dari tangan Amar lalu mencoba menelpon nomor mang Rony. Berkali-kali ia memencet gambar telepon warna hijau itu. Tak ada jawaban, kecuali suara operator telepon yang memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.
Sepuluh kali Faiz mencoba menelpon nomor mang Rony, namun tetap mendapat jawaban yang sama dari sang operator atau langsung dialihkan ke pesan suara otomatis. Lama-lama kesal. Dibantingnya gawai itu di atas rumput.
“Nomornya nggak bisa dihubungi?”
__ADS_1
“Enggak.”
Tang ting tang ting. Sejak tadi suara dering notifikasi pesan langsung atau DM dan chat box terdengar bertalu-talu. Faiz tak peduli. Sekarang ia hanya ingin tahu bagaimana kabar guru komputernya. Dalam hitungan menit ribuan nomor mengirimkannya pesan yang sebagian besar pasti isinya ucapan selamat. Chat boxnya sampai penuh.
Gila. Darimana para fans itu tahu
nomor teleponnya. Padahal ia sama sekali tak pernah mempublikasikan nomor telepon dan jati dirinya. Kerjaan siapa ini? Seingat Faiz yang tahu nomor teleponnya hanya mister Yamagata dan Boni saja. Apakah ini ulah salah satu diantara mereka? Atau ini ulah bandar judi yang mengaku sebagai salah seorang fans berat yang pernah menelponnya menawarkan uang suap agar kalah dalam pertandingan final universe perseorangan. Faiz sangat kesal. Ia langsung mematikan gawainya lalu kembali tidur telentang di rumput.
Matahari sudah mulai naik tinggi. Panas mulai terasa menyapa kulit. Namun angin gunung yang sejuk senantiasa mengipas-ngipas tubuh agar tidak merasakan teriknya matahari. Tak ada lagi burung yang melintas di awan. Langit berwarna biru cerah. Harusnya ini hari yang indah, namun ada banyak masalah baru yang membuat Faiz menjadi gundah.
“Kenapa mang Rony nggak ngabarin aku ya, Mar? Apa dia marah sama aku gara-gara aku bersikeras jadi pemain e-sport profesional? Dia pasti dipecat gara-gara aku."
"Nggak usah su'udzon, Kak. Mang Rony dapat pekerjaan yang lebih baik buat karirnya di Jakarta." ujar Amar membesarkan hati Faiz yang diliputi rasa bersalah.
"Waktu mau ninggalin pesantren mang Rony pamit sama abah kamu?”
“Pamit baik-baik kok ke Abah dan mama. Kita juga dipamitin. Iya kan, Ka?”
“Iya. Azka dikasih fash disk bentuk sapi sebagai kenang-kenangannya.”
“Masak? Kenapa mang Rony sama sekali nggak pamit sama aku ya?” Bertambah lagi jumlah pertanyaan yang mengumpul di benak Faiz. Azka yang tak terlalu kenal saja diberi kenang-kenangan perpisahan, kenapa Faiz yang pernah jadi murid kesayangannya tidak dikabari apa-apa.
Ada apa ini? Kesibukannya pada dunia E-Sport membuatnya kehilangan banyak informasi penting. Faiz baru menyadari betapa egoisnya dirinya. Waktunya selama ini hanya dihabiskan untuk berlatih, bertanding dan meladeni keinginan fans yang sebagian
besar orang yang ada di luar lingkaran pertemanan dan kekerabatan dengannya. Orang lain diperhatikan, sementara orang dekat terabaikan. Begitulah akibat terlalu banyak berada di dunia maya, mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat.
Konsentrasi pada dunia E-sport telah membuatnya buta pada kehidupan di sekitar. Faiz menyesal. Apalagi keterlibatannya dalam dunia itu harus bersinggungan dengan bandar judi besar yang dari jaman ke jaman tetap saja mendompleng bisnis di dunia olahraga. Faiz pasti bakal punya masalah baru yang pasti membuat hidupnya lebih repot.
“Coba tanyakan saja alasan pastinya kenapa mang Rony tiba-tiba memutuskan kerja di Jakarta pada ayah Satya, Kak. Beliau kan suka menanyakan apa alasan orang memutuskan sesuatu. Mang Rony pasti pamit juga sama beliau.”
Baiklah. Nanti Faiz pasti akan tanya ayah.
_________
bersambung.....💞💞
Like, vote, hadiah dan komen ya😁
__ADS_1