METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
YANG TERSISA


__ADS_3

Eyang Dewi tetap tersenyum bijak dengan gayanya yang anggun. Tak ada sama sekali kebencian di matanya. Beliau tetap memuja Satya sebagai junjungan meski tahu banyak cela dalam hidupnya. Sesekali ada butiran air menggenang di sudut matanya yang telah menampakan banyak kerutan yang nyata. Eyang Dewi mengusapnya dengan ujung selendang sutera yang selalu tersampir di pundak. Sulit sekali menampakkan ketegaran di antara gejolak hatinya yang lembut. Eyang Dewi tetap seorang ibu yang rapuh. Tak ada seorang ibu pun di dunia ini yang tak terluka hatinya ditinggal anak semata wayang yang sangat dicintainya.


“Ayahmu memang sering sekali mengancam akan membunuh orang kalau marah atau cemburu, tapi itu hanya ungkapan dilidah saja. Nyatanya ia tak pernah benar-benar berniat membunuh orang. Banyak saksi yang membenarkan itu, termasuk bundamu. Ayahmu sama sekali tak terbukti menyuruh orang untuk menembaki mobil om Ardi.” Eyang Dewi kembali menekankan bahwa bukan ayahnya yang menyebabkan kematian abinya Fathia.


“Kenapa kejadian itu terjadi hampir bersamaan ya, Yang? Eyang tahu kan kalau sampai sekarang Rosyid dan tante Nisa masih tetap memandang ayah dengan tatapan benci?”


“Apa kelihatannya seperti itu?”


Faiz mengangguk.


“Rosyid juga nggak suka sama aku.”


Eyang Dewi merangkulnya lalu menciumi ubun-ubunnya dengan lembut. “Kamu jangan marah ya, Sayang. Bersabarlah! Rosyid dan tantemu belum ikhlas kehilangan orang yang sangat dicintainya. Salah paham ini belum akan selesai kalau pelaku penembakan itu belum ketemu. Ayahmu dalam posisi sulit membela diri di hadapan ipar dan keponakannya. Maaf tak bisa menyembuhkan luka yang telah terlanjur parah. Kejadian itu masih menimbulkan trauma yang dalam pada adik sepupu dan tantemu.”


Faiz mengangguk, mencoba paham dengan berpikir dari sudut pandang mereka. Jika yang terjadi sebaliknya, mungkin ia juga akan merasakan sakit dan kemarahan yang sangat dalam. Bukan salah telinga mereka jika mendengar ayah Faiz marah dan mengancam akan membunuh. Tak lama berselang dari ancaman itu, orang yang dicintainya terbunuh. Siapa pun akan mengaitkan ancaman dengan peristiwa pahit itu walaupun tanpa bukti.


Eyang Dewi mengeluarkan beberapa berkas dari dalam laci yang dibukanya dengan menggunakan kunci duplikat yang baru saja dibuat oleh tukang kunci ahli. Berkas itu tersusun rapi dalam map-map plastik.


“Eyang, mau pesan makan malam apa?” Fathia tiba-tiba muncul di depan pintu dengan senyum manja dan kepala miring.


“Mau pesan makanan online?”


“Enggak, Yang. Aku mau keluar dengan kak Doni dan kak Hani.”


“Kemana?”


“Ke resto Siyeun yang diujung jalan itu.”


“Kak Faiz nggak diajak?”


Fathia tersipu. Sebenarnya ia ke ruang itu sekalian buat membujuk Faiz menikmati malam di pinggiran kota Sukabumi yang dingin. Tapi kelihatannya kakak sepupunya itu sedang serius ngobrol dengan eyang.


“Kak Faiz mau ikut nggak?” Fathia bertanya sambil mengerdipkan mata.


“Enggak. Masih mau ngobrol berdua sama eyang. Kangen.”


“Ya udah. Kalau gitu mau pesan apa?”

__ADS_1


“Nasi goreng aja deh.” Sebuah pilihan standar yang menurut Faiz ada di setiap resto adalah nasi goreng. Entah apapun variasinya selalu ada menu nasi goreng di pelosok nusantara ini.


“Eyang pesan apa?”


“Pesan jus buah tanpa gula sama susu UHT plaint.”


“Aku tambah menu yang sama dengan eyang.” sela Faiz yang spontan tertarik menu makan malam sehat ala eyang Dewi.


“Mahal itu, Kak.”


“Nanti kakak transfer deh.”


“Beneran? Transfer yang banyak ya, Kak! Emang kak Faiz itu kakak yang paling baik sejagat raya. Makasih ya, Kak.” Anak itu malah sibuk menguyel-nguyel Faiz lalu mencium pipinya dengan gemas.


Ups. Ini hadiah atau bencana? Dapat cium pipi dari gadis tanggung yang cantik dan sudah mulai tampak lincah lagi malam ini. Pipinya sudah terlihat segar dengan semburat kemerahan yang merona di dekat tulang pipinya. Rasanya hangat.


Faiz mengambil gawainya kemudian mengaktifkan m-banking untuk transfer biaya makan malam ke rekening Fathia. Hanya dengan sekali klik dana sudah berpindah rekening.


Eyang Dewi terpaku pada berkas yang kini ada di tangannya. Tampak berpikir keras mencerna sesuatu yang berat. Faiz mengintip isinya. Berupa setumpuk rekening koran PT CB yang beberapa transaksinya ditandai dengan stabilo warna kuning terang. Transaksi yang ditandai itu rata-rata berupa transfer ke rekening pemilik perusahaan dan beberapa nama sama yang diduga bukan rekanan perusahaan. Dari tanggal transaksinya rekening koran itu terjadi  2-5 tahun yang lalu.


“Yang, boleh nggak Faiz bawa berkas ini?”


“Buat dianalisa. Siapa tahu dalam berkas ini ada sesuatu yang bisa membuktikan kejahatan seseorang terhadap om Ardi. Ini pasti berkas penting. Makanya om Ardi menyimpan di tempat khusus yang kuncinya tak ada seorang pun yang tahu.”


Eyang Dewi mengangguk. Ia menaruh berkas-berkas dalam map plastik itu ke dalam sebuah tas jinjing yang mungkin dulunya adalah tas laptop om Ardi. Ada logo merek laptop terkenal di depan tas hitam itu.


“Laptop om Ardi di mana, Yang?”


“Hilang. Tantemu dan orang-orang rumah tak ada yang tahu dimana laptop almarhum.”


Hilang? Apa mungkin dicuri seseorang? Pasti banyak rahasia yang ada dalam laptop itu. Sayang sekali kenapa bisa hilang. Padahal di dalamnya mungkin ada bukti yang bisa mengukuhkan ayah Satya tak bersalah. Faiz yakin ayahnya tak mungkin jahat pada om Ardi. Ayah hanya keceplosan berucap sesuatu dan ada orang yang memanfaatkan momen itu untuk balas dendam.


"Apa yang mau kamu lakukan, Iz?"


"Membantu menyelidiki siapa yang menyuruh penembak misterius itu."


"Kamu yakin bisa?"

__ADS_1


"Tidak ada salahnya mencoba, Yang. Kalau semua jalan sudah buntu, baru menyerah."


Eyang Dewi menatapnya dengan binar harapan yang menyala terang. "Kamu nggak takut?"


"Eyang bantu doa supaya Faiz bisa bantu mengungkap semua ini."


Eyang mengangguk pasti dan tersenyum.


Faiz membantu eyang membongkar barang-barang yang ada di laci meja kerja peninggalan om Ardi. Ia melihat ada buku agenda warna hitam terjepit di antara laci atas dan laci bawah. Posisinya tertekuk. Tak dapat ditarik paksa dengan tangan tanpa merusaknya. Ia menarik paksa laci atas sampai laci terpisah dari meja. Buku itu pun lalu jatuh ke laci bawah dan Faiz mengambilnya.


Sebuah foto jatuh ketika Faiz mengibas-ibas buku agenda itu dari sisa debu. Foto bunda waktu masih muda di sebuah area hutan bakau. Cantik sekali.


"Om Ardi menyimpan foto bunda dalam buku agendanya." Faiz bicara dengan datar sambil membuka lembaran agenda harian yang berisi jadwal kegiatan dan catatan pertemuan dengan berbagai relasi bisnis itu.


Eyang Dewi menghela nafas panjang. Hembusannya terdengar sedikit kasar.


"Kamu tahu kalau om Ardi mencintai bunda?"


Faiz menggeleng. Menurutnya bunda memang layak dicintai dan dikagumi banyak orang.


"Tapi bunda sangat mencintai ayahmu."


Kasihan om Ardi. Apa dia masih menyimpan cintanya pada bunda sampai akhir hayatnya?


"Kenapa om Ardi menikahi tante Nisa?"


"Karena menurut bundamu, tante Nisa lebih pantas bersanding dengan om Ardi karena lebih baik agamanya dan lebih cantik."


"Apakah kehidupan keluarga mereka bahagia, Yang?"


"Bahagia. Eyang melihatnya seperti itu. Mereka tak pernah bertengkar dan saling memahami. Cinta itu datang karena terbiasa. Tidak pernah ada masalah besar dalam kehidupan keluarga mereka."


"Apa ayah sering cemburu?"


Eyang Dewi tersenyum. "Ayahmu itu pencemburu, Sayang. Dia sering mengancam orang yang dianggapnya kurang sopan atau menganggu istrinya dengan kata 'kucolok matamu' atau 'kubunuh kamu ya'." Eyang Dewi menirukan ucapan ayah dengan intonasi suara dan raut wajah khas marahnya ayah Satya. Faiz tertawa karena lucu.


Ya. Faiz juga pernah mendengar kata-kata itu sewaktu ia masih sering ikut ke kantor. Ayah selalu memarahi pegawai atau orang baru yang berani menatap bunda dengan tatapan yang dianggapnya mesum, kurang sopan atau tidak menyenangkan. Kebanyakan pegawai memilih menyapa dengan senyum dan kepala menunduk ketika mereka lewat di hadapan mereka.

__ADS_1


________


Terus dukung kami ya😍 dengan doa dan dukungan nyata


__ADS_2