METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
PELIT VS HEMAT


__ADS_3

Turnamen Faiz ternyata masih panjang waktunya. Dia hanya mendapatkan dispensasi khusus selama 2 minggu masa ujian akhir semester. Dia menjalani ujiannya pada waktu yang bersamaan dengan siswa kelas 10 yang lain dan dengan soal yang serupa, namun tempat pelaksanaannya tidak di dalam kelas. Dia menjalani ujiannya di ruang kepala sekolah dengan diawasi langsung oleh seorang penilik sekolah. Itu sebabnya Biru berangkat ke sekolah bersama dengan keponakannya selama ujian berlangsung. Seperti yang sudah diduga, ada kehebohan kecil di kalangan siswa dengan kehadiran Faiz yang diperkenalkan sebagai siswa home schooling yang ikut ujian bersama di sekolah mereka.


“Bi, kamu berangkat bareng anak home schooling yang ikut ujian di sekolah kita ya? Namanya siapa, Bi. Kenalin dong.” Teman-teman perempuannya berebut ingin tahu tentang keponakannya itu.


Biru menggigit bibirnya. Hatinya membiru menyaksikan calon-calon fans Faiz sudah mulai menunjukan giginya. Punya keponakan ganteng yang satu sekolah itu asyik nggak asyik. Bangga tapi repot.


"Bi, anak home schooling yang tiap hari berangkat bareng mobil kamu itu ganteng banget. Kenalin dong."


“Tunggu tahun ajaran baru aja, Yur. Mungkin dia akan sekelas dengan kita.” jawab Biru pada Yurika yang sudah dua kali menanyakan hal yang sama tentang Faiz.


“Semester depan dia nggak home schooling lagi?”


“Katanya sih enggak. Ditunggu aja deh. Mudah-mudahan dia nggak berubah pikiran.”


"Jadi nggak sabar nunggu tahun ajaran baru. Hihihihi." Yurika tersenyum genit.


Biru berharap jangan sampai Faiz berubah pikiran. Meskipun pemikirannya absurd, Biru lebih suka bersama keponakannya dibandingan teman-temannya yang lain. Toh ia pindah ke Jakarta juga karena diminta kak Ritha menemani Faiz. Entahlah. Sudah lebih dari 2 bulan sekolah Biru belum bisa percaya pada satupun


teman-teman sekolahnya, kecuali Rio yang sudah terbukti selalu melindungi dan memperhatikan dirinya. Di kelas ia lebih suka menyendiri dan membatasi pergaulannya karena merasa memiliki kebiasaan dan visi yang berbeda. Makan bekal pada jam istirahat pun sekarang cuma sendiri. Hanya sesekali waktu ia makan bersama Rio di taman depan. Sebagai pengurus OSIS, Rio harus mementingkan kepentingan organisasi dan Biru pun tak ingin mengganggu kesibukannya hanya karena ingin ditemani.


Biru berusaha untuk konsisten dan percaya bahwa makanan rumah lebih enak dan sehat daripada jajanan kantin. Hanya sesekali saja ia jajan di kantin. Biasanya hanya untuk membeli air mineral dingin. Ia masih berusaha menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Bagaimana dengan Kayla? Semenjak bekerja jadi terapis di sebuah spa di Blok M sikap Kayla mulai berubah. Tampaknya penghasilannya dari pekerjaan barunya cukup besar hingga ia bisa memperbaiki penampilannya yang sekarang tidak terlihat dekil lagi. Dia mendadak percaya diri dalam bergaul. Setiap istirahat dia ke kantin bersama gengnya Bianca.


“Kamu nggak usah bawa makanan lagi, Bi. Kita makan di kantin aja sama yang lain biar makin akrab sama teman.” saran Kayla hampir tiap hari ketika jam istirahat Biru membuka kotak makan siangnya.

__ADS_1


Biru malas dan bosan menjawabnya. Ia hanya mengangkat alis dan tersenyum tipis.


“Aku ke kantin ya.”


Biru mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Kayla lekas pergi. Makin hari Biru makin muak melihat kelakuan teman sebelah bangkunya itu. Kayla belum melunasi hutangnya. Dia baru 3 kali bayar masing-masingnya seratus ribu. Artinya, baru 10% hutangnya dia bayar. Padahal Biru tahu sekarang dia sudah punya I-phone baru dan sering menraktir geng Bianca makan bakso di kantin. Giliran ditagih hutang dia bilang dia nggak pegang uang. Uangnya sudah habis buat ini dan itu. Biru kan jadi kesal. Salah nggak sih kalau Biru muak dengan kelakuannya? Dia seolah nggak ingat minjamnya bagaimana.


Kayla nggak tahu Biru menyisipkan doa dalam tiap shalatnya agar Allah membukakan pintu rejeki temannya itu. Tapi balasannya apa? Di depan geng barunya dia malah menyebut Biru pelit. Kok bisa begitu sih jadi teman. Biru tak berharap ada timbal


baliknya dari kebaikannya, tapi jangan menjelek-jelekan dirinya di belakang. Terus terang Biru sangat kecewa dengan sikap Kayla.


“Kata Kayla, uang saku kamu banyak tapi kamunya pelit jarang jajan. Uang kamu buat apaan sih, Bi? Keluarga kamu kan kaya, kenapa nggak pernah nonton, ngemall atau nongkrong di Kafe bareng kita.” adu Bianca saat mereka berdua duduk di pinggir lapangan olahraga usai pengambilan nilai ujian bola basket siang itu.


“Kayla bilang begitu?” Biru menghabiskan air mineral dalam botol yang dibawanya dari rumah sampai tetes terakhir. Butuh yang adem buat meredakan panasnya udara maupun suasana hatinya.


“Iya. Aku disuruh ngajak kamu. Besok kan hari terakhir ujian kamu nggak usah bawa makanan dari rumah, Bi. Kita makan di kantin aja biar ramean akrabnya. Kayla mau nraktir kita lagi nih.”


“Dalam rangka apa dia nraktir? Ulang tahun?” tanya Biru dengan nada agak tinggi.


Bayar dulu hutangmu, Kayla. Biru tersungut-sungut dalam hati.


“Nggak tahu tuh. Katanya sih habis dapet rejeki aja. Buang sial kali.” jawab Bianca sambil tertawa kecil dan menutup mulutnya.


“Bilang sama dia, aku nggak butuh traktiran. Aku nggak pelit kok. Kalau kalian kepengen aku traktir, bilang aja. Nanti aku kasih uangnya. Tapi maaf, aku lebih suka makanan rumahan yang kesehatan dan kualitasnya lebih terjamin.”

__ADS_1


“Kamu marah, Bi?”


“Enggak. Cuma kesal aja dibilang pelit. Aku itu hemat, bukan pelit. Tolong kamu catat itu.” seru Biru sambil menunjukan jari telunjuk di depan wajahnya yang berhadapan langsung dengan wajah Bianca.


Bianca cekikikan. Mungkin dia mengira hemat sama dengan pelit. Menurut Biru tidak.


Hemat itu tidak sama dengan pelit. Keluarganya tidak mendidiknya untuk jadi pelit. Ia selalu berusaha berbagi dan membantu orang yang membutuhkan. Kak Ritha selalu mengingatkan ada hak fakir miskin, anak yatim dan lainnya dalam harta kita yang harus dikeluarkan agar harta kita bersih. Semua keluarganya wajib mengisi infaq jum’at di manapun dengan uangnya masing-masing. Boleh dimasukan di masjid, di kotak amal pasar, atau diberikan pada fakir miskin. Tiap bulan juga mereka bersedekah dan melakukan kunjungan ke rumah yatim untuk membiasakan diri mencintai mereka. Tanggung jawab sosial perusahaan keluarga mereka terorganisir di sektor pendidikan, pemberdayaan masyarakat pedalaman dan lainnya. Menurut kak Satya, kebiasaan filantropi itu yang membuat ekonomi berputar lebih cepat dan barokahnya dinikmati perusahaan. Pokoknya harus selalu ada yang disisihkan untuk berbagi. Biru sedang bersikap hemat, tidak pelit.


Biru berlari ke kantin. Ia butuh air mineral dingin lagi guna meredakan emosinya dan membuktikan ia tidak pelit. Sesekali ia juga membeli jualannya ibu kantin kok.


“Bu, Aqua dingin satu ya.” Biru menyerahkan uang sepuluh ribuan setelah mengambil aqua dari dalam showchase ibu kantin.


Ibu kantin menerima uangnya lalu menyodorkan uang lima ribuan sebagai kembalian.


“Kembalinya buat ibu aja.” ujar Biru sambil tersenyum.


“Terima kasih, Mbak Biru.”


Nyess. Senyum tulus dan ucapan terima kasih ibu kantin membuat Biru merasa lebih tenang. Sebuah pemberian kecil yang dihargai dengan senyum tulus.


Ternyata emosi itu membuat Biru menjadi seperti ikan, membutuhkan banyak air agar tidak menggelepar tak karuan. Biru mengambil nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan lebih banyak udara segar. Ia meminum setengah liter air mineral dingin dalam beberapa kali teguk.


Bingung, harus bagaimana bersikap pada Kayla. Biru tak bisa marah jika tidak tersulut api secara langsung, sedangkan Kayla masih bersikap manis di depannya. Biru tak ingin punya musuh. Dia memilih meredakan emosinya sendiri dengan istighfar. Tiba-tiba saja ia kangen kembali ke pesantren dan berkeluh kesah bersama Rumaysha, teman sekamarnya.

__ADS_1


________


Pernah nggak punya teman seperti Kayla?🤭


__ADS_2