METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
MEMBAYAR BUDI


__ADS_3

Fathia melangkah dengan wajah berseri menuju vila kayu kecil tempat istirahat rombongan perempuan. Ia berjanji akan membantu Doni sebisanya agar dapat mengurangi rasa bersalah dan hutang budinya. Bagaimana pun juga Doni telah melindunginya dan memberinya rasa nyaman dari ketakutan panjang sepanjang pengarungan arus sungai Citarik tadi. Kata eyang, jangan pernah berhutang budi siapa pun agar langkahmu di masa depan lebih bebas. Orang berhutang budi sering kali mudah diintervensi. Fathia tak ingin itu terjadi. Ia tak ingin memenjarakan masa depannya.


Setelah membersihkan diri dan mandi air hangat, ia melihat Hani dan Kikan mengambil kesempatan buat mencuci setumpuk pakaian kotornya. Berdua mengucek pakaian yang telah berlumur detergen sambil bercerita ke sana ke mari tentang perjalanannya.


"Kenapa nggak ditaruh di laundry aja sih, Kak. Di lobby tadi aku lihat ada fasilitas laundry dry cleaning."


Kikan dan Hani nyengir. Ketahuan Fathia pasti bukan anak orang biasa dan nggak pernah naik gunung. Seenaknya aja menyarankan taruh di laundry dry cleaning. Tidak Lihat bentukan pakaiannya yang sudah berlumur tanah. Begitu ditaruh di laundry, petugas laundry pasti langsung ambil bendera putih atau pasang tarif setinggi langit.


"Anak back paker mah harus nyuci sendiri, Fath. Mana ada laundry yang mau nyuci baju yang modelnya udah kayak begini." Kikan menjembreng kaus dan celana jeans yang belum selesai dikucek. Kotor banget.


Fathia mengerutkan hidung, menyipitkan mata, dan menekuk bibir ke atas pertanda jijik. Ia mundur selangkah begitu melihat air di bawah gelembung sabun itu berwarna coklat tanah. Ternyata pakaian Hani dan Kikan penuh lumpur dan tanah.


"Ada aja sih yang mau nyuciin, cuma budgetnya nggak sesuai sama kantong kita." tambah Hani dengan senyum yang hangat. Gadis itu sama sekali tak merasa terbebani dengan kegiatan membersihkan pakaian kotornya sendiri.


"Udah nggak nyuci berapa hari?"


"Hampir seminggu."


"Waktu naik gunung emang nggak bisa nyuci ya?" Fathia bertanya dengan wajah polos seperti bayi yang tak tahu banyak hal. Seperti kertas yang masih bersih tanpa coretan.


"Iya." jawab Kikan lugas.


"Di gunung bukannya banyak pepohonan, sungai atau mata air?"


"Tidak selalu. Untuk minum saja kita harus bawa persediaan air dari bawah. Naik gunung itu tidak hanya perlu kekuatan fisik jalan menanjak, tapi perlu manajemen logistik juga."


"Hmmm. Boleh dong kapan-kapan ikut."


"Yakin kuat?" Kikan malah balik bertanya. Fathia tampak seperti anak rumahan yang manja. Pasti akan merepotkan kalau diajak ke gunung.


Fathia tersipu, "Nggak tahu kuat apa enggak. Tapi kepingin aja bikin video menari di puncak gunung yang berawan. Pasti keren ya. Fathi suka iri lihat pendaki-pendaki cantik yang posting foto di puncak gunung."


"Lebih baik nggak usah naik gunung kalau belum siap mental, Fath. Berat. Kalau mau lihat pemandangan indah di puncak gunung sekarang mah gampang. Tinggal pilih dan tonton channelnya travel vloger dari dalam maupun luar negeri, sebagian besar keindahan alam yang dapat dilihat dari ketinggian sudah tertangkap di lensa kamera mereka. Atau kalau tertarik repro video itu sebagai latar tarian kamu, bisa menghubungi pemilik video dan bayar royaltinya. Lebih gampang, nggak capek, cepat dan bisa jadi biayanya lebih murah."


"Hihihi iya ya." Fathia cukup sadar diri. Cukup menari saja hobinya selain merawat diri ke salon dan membuat puisi. Orang boleh punya hobi sesuai lapaknya masing-masing. Jangan saling ganggu.

__ADS_1


"Btw bi Biru kemana ya, Kak?"


"Ke luar. Kayaknya mau komplain soal hukuman Rio."


Hah? Komplain? Mustahil keputusan dua orang orthodok itu bisa dikomplain. Kenapa bi Biru tidak terima aja sih. Anggap aja hukuman itu sebagai satu langkah untuk mengenal aneka bahasa di dunia. Manusia satu sama lain memiliki cara berkomunikasi yang unik lewat berbagai bahasa yang dimiliki. Konon ada lebih dari 6500 bahasa di muka bumi ini yang sekitar 710 diantaranya adalah bahasa daerah yang digunakan untuk berkomunikasi oleh orang dari berbagai suku di Indonesia. Bisa dibayangkan betapa kayanya suku di Indonesia ini. Ragam bahasanya menduduki urutan ke2 terbanyak setelah Papua Nugini. Menurutnya Amar cukup toleran meminta sinonim kata maaf dari 1/6 bahasa di seluruh dunia.


"Kamu nggak ikut komplain, Fath?"


Fathia tersipu malu, "Enggak. Percuma. Kak Faiz dan Amar itu orang orthodok. Sekali bilang salah ya salah. Nggak perlu bikin capek diri sendiri dengan komplain-komplain."


Kikan dan Hani sama-sama saling pandang lalu tertawa. Membayangkan ke depannya tiap hari pasti akan ada masalah antara Biru dengan Faiz yang akan membuat mereka terhibur. Yang satu terlalu lugu, sedang yang lain terlalu licik dan mau menang sendiri. Perdebatan mereka adalah tontonan gratis yang menghibur.


Fathia pamit meninggalkan Kikan dan Hani yang sibuk menyuci pakaian di kamar mandi. Ia di kamar sendirian mencari padanan kata maaf dari berbagai bahasa dari mesin pencarian google lalu menuliskannya di aplikasi notes gawainya. Tekun sekali dikerjakannya bahkan sampai menulis dalam kurung asal bahasa kata yang dimaksud.


Tak terasa saking seriusnya Fathia telah melewatkan satu kesempatan team building sore berupa permainan river boarding dan flying fox yang dilanjutkan tracking bersama di area persawahan dan perkebunan wilayah setempat sambil menikmati udara sore yang sejuk menjelang matahari tenggelam.


Ada sedikit sesal namun terbayar setelah puas mendapatkan tujuh ratus lebih padanan kata maaf dari berbagai bahasa di dunia. Entahlah. Pekerjaan yang dianggap hukuman itu justru menarik hatinya. Tak menunggu sampai malam, ia langsung mengirimkan hasilnya melalui aplikasi pesan ke Doni.


"Yes!" Hatinya lega. Fathia tidur telentang sambil membentangkan tangan dan bernafas dengan teratur.


"Bagaimana tidurnya, Fath? Nyenyak?" tanya mereka sepulang dari kegiatan team building.


"Memangnya muka aku masih kayak muka bantal?"


"Iya, ada garis-garis karena kelamaan berada di posisi tidur yang sama."


Ooh. Baiklah. Fathia terpaksa mengangguk. Daripada ada orang lain tahu kalau ia bantu Doni mencari padanan kata maaf dari berbagai bahasa, lebih baik mengaku tidur saja. Toh ia sudah terlanjur dipersepsikan sebagai anak manja. Santai aja. Lanjutkan saja permainan ini.


"Seru team buildingnya?"


"Banget."


"Ada yang dihukum?"


"Enggak. Kali ini kita semua sportif. Kita dibagi 3 tim, masing-masing 3 orang."

__ADS_1


"Termasuk pak Nandi?"


"Iya. Tim yang menang dapat hadiah coklat."


"Akhirnya yang menang siapa?"


"Tim aku dong." seru Hani riang. Ia menunjukan tiga batang coklat yang bercampur dengan kacang almond dari balik saku celana panjangnya. Biru dan Kikan di sebelahnya melipat wajah.


Wow. Itu coklat kesukaannya. Fathia menelan salivanya sendiri. Berharap dalam hati Hani memberinya barang sebatang, tapi tak berani bicara. Malu. Masak nggak ikut main minta hadiah


"Anggota timnya siapa aja?"


"Faiz dan Doni."


Wow, keren. Harusnya aku yang gabung di tim itu. Lagi-lagi Fathia berharap dalam hati. Ia langsung menuliskan pesan selamat ke nomor Doni dan Faiz. Berharap salah satunya berbaik hati memberinya sebatang coklat jatah mereka.


Doni yang langsung membuka pesan dari Fathia langsung tersenyum.


"Aku persembahkan semua coklatku untuk kamu deh, Fath. Makasih ya sudah meluangkan waktu serius bantu aku jalanin hukuman. Kamu nggak ikut team building gara-gara nyari padanan kata maaf dari berbagai bahasa itu kan?"


"Iya. Keasyikan jadi lupa waktu."


"Aku yang untung kalau gitu hahahaha."


"Jangan lupa coklatnya ya."


"Iya. Nanti pas ketemu makan malam bareng ya."


"Sip. Makasih, bang Doni."


"Kembali kasih."


_________


Hukuman bisa jadi suatu hal yang menggembirakan kalau kita menjalani dengan ikhlas😁

__ADS_1


__ADS_2