METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
MEREKA YANG TUMBANG


__ADS_3

Berada di tempat yang masih asing bersama orang-orang yang juga belum dikenalnya dengan baik membuat Faiz merasa was was. Faiz bukan siapa- siapa di tempat ini. Jati dirinya adalah Baby F. Sama sekali tak bisa menggunakan nama besar ayahnya sebagai pengusaha terkenal. Nama Baby F hanya terkenal di dunia gamer. Tanpa teman. Tanpa keluarga. Tanpa pengawal atau asisten. Terus terang rasa percaya dirinya sedikit berkurang tanpa keistimewaan sebagai anak Satya Wirajaya Halim. Namun ia berusaha bersikap normal, sopan dan ikut aturan main yang berlaku dalam rumah karantina. Bukankah ini adalah kehidupan yang ia idam-idamkan, yakni lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya.


Latihan berjalan lancar. Tak ada yang berkomentar negatif selama latihan berlangsung. Barangkali karena ada mister Yamagata yang mengawasi langsung selama 2 hari terakhir ini. Padahal hari-hari sebelumnya beliau hanya memantau dari lewat daring. Sama dengan dirinya, mister Yamagata datang khusus menjelang pertandingan final saja. Itu hal lain yang membuat tanda tanya dan nyinyir rekan setimnya. Faiz makin sering mendengar nyinyiran dan sindiran sarkas saat menjelang istirahat makan malam, tapi ia mencoba menepisnya dari otak. Buang jauh-jauh nyinyiran itu. Tidak penting menanggapi orang yang iri pada privilage yang dimilikinya. Fokus berpikir bagaimana strategi untuk menang saja. Untuk itu Faiz merekatkan koordinasi dengan Boni sebagai kapten tim dan mister Yamagata yang akan turun tangan sendiri sebagai coach.


Faiz ditempatkan di lini tengah dengan menggunakan hero Shisimaru, avatar kucing jantan yang memiliki keahlian utama sebagai ninja, pemanah, dan eksekutor bom yang ulung. Faiz sudah hapal betul karakter avatar itu karena shisimaru adalah salah satu avatar favoritnya yang belum pernah dikalahkan.


Simulasi, latihan sekaligus diskusi penyusunan strategi berlangsung sampai larut malam. Tepat jam 00.00 semua pemain baru boleh beranjak ke tempat tidur. Meski masih ada sebagian pemain yang melanjutkan latihan personal dengan memilih lawan tanding random dari luar negeri. Faiz memilih untuk istirahat agar fisiknya lebih segar esok hari.


“Baby, kamu berani tidur sendirian di kamar itu?” tanya Jose yang kamarnya berhadap-hadapan dengan Faiz.


“Kenapa enggak.”


“Kamar yang kamu tempati itu nggak ada yang mau make karena pernah ada pemain yang bunuh diri tahun lalu karena depresi. Gantung diri.” jelas Jose dengan mencontohkan reka kondisi mayat orang bunuh diri berupa kedua tangan yang mencekik leher, mata melotot dan lidah menjulur. Seram.


Kampret si Jose. Tengah malam masih sempat menakut-nakuti rekan timnya. Padahal besok kan bertanding. Bagaimana kalau Faiz tidak bisa tidur gara-gara cerita seram itu. Kalau mister Yamagata tahu, pasti dia kena peringatan karena percobaan menjatuhkan mental rekan setim.


BRAK. Jose lekas menutup pintu kamarnya dengan keras lalu menguncinya.


Faiz juga melakukan hal serupa tapi tidak dengan membanting pintu. Ia sengaja tak mematikan lampu kamarnya. Dibiarkan terang karena tak ada lampu tidur di kamar itu. Bagaimanapun cerita Jose barusan cukup membuatnya psikologisnya terganggu. Rasa lelah membuat ketakutan yang biasanya bersembunyi kini muncul ke permukaan. Rekaan kondisi orang mati bunuh diri yang ditunjukan Jose muncul terus dalam benaknya.


Ditariknya selimut sampai menutupi kepala. Doa menjelang tidur, ayat kursi, surat al Ikhlas, al Falaq, an Nas dibaca berulang-ulang kali sampai terlelap dengan sendirinya. Faiz tak ingin berpikir apapun kecuali menyandarkan diri pada Yang Maha Mengetahui. Percaya saja. Hantu tak mungkin mengganggu jika ia ingat Allah.


Alhamdulillah, Faiz bisa tertidur nyenyak sampai subuhnya agak kesiangan. Sempat terbangun sebentar entah jam berapa namun Faiz tak berani beranjak dari dipan tempat tidurnya. Terdengar suara orang yang merintih sampai terisak-isak di balik kamarnya. Faiz tak peduli. Karena teringat cerita Jose, ia kembali menarik selimut lalu melafalkan doa-doa sampai tertidur lagi.


Sejak kerajingan game online, kebiasaan pesantren yang melazimkan shalat tahajud di akhir malam nyaris tak berbekas. Hanya sesekali kalau terbangun dan tubuhnya punya daya untuk berjalan ke kamar mandi mengambil wudhu. Jika tidak, ia akan tertidur lagi sampai bunda membangunkannya agar menemani ayah shalat subuh di masjid. Di karantina ini ia bangun jam 5.30, nyaris ketinggalan waktu subuh. Sungguh perilaku yang kurang bertanggung jawab.


Ia berjalan ke toilet yang paling dekat berjarak 5 meter dari kamarnya. Suasana rumah masih sepi. Tampaknya belum ada penghuni yang bangun sepagi itu.


Selesai buang air dan berwudhu, Faiz berpapasan dengan Boni yang hendak pergi ke toilet yang sebelumnya digunakannya.


“Selamat pagi, bang Boni.”


“Selamat pagi, Baby F. Sudah bangun?”


Faiz nyengir setengah malu, “Iya nih, subuhnya kesiangan.”


Boni ikut nyengir. “Sama.”


Ternyata bukan Faiz aja yang shalat subuh di ujung waktu. Perasaan bersalahnya sedikit berkurang karena ada teman yang senasib, sama-sama lalai shalat subuh. Faiz kembali ke kamarnya untuk shalat subuh dan dzikir pagi.


Ke luar kamar, ia bertemu Boni lagi di meja makan. Kapten tim GGS itu sudah bersiap dengan sarapan paginya.


“Sudah ada kiriman sarapan, Baby. Makan yuk!” ajaknya


Faiz mengambil jatah susu uht di dalam kardus lalu ikut duduk di sebelah Boni menghadap meja makan yang di atasnya sudah tersaji nasi goreng seafood, timun, selada, telur dan aneka buah-buahan.


“Pagi banget ya cateringnya sudah datang.”

__ADS_1


“Iya. Kita bisa ambil sarapan lebih banyak lo. Sarapan jarang ada yang makan karena biasanya anak GGS pada bangun siang. Nanti jam 9 sudah ada extra fooding lagi. Makanya aku gemuk selama di karantina. Naik 5 kilo. Makan terus, jarang olah raga. hahaha” Boni terkekeh memegang perutnya.


Faiz hanya tersenyum samar.


“Eh, nama asli kamu sebenarnya siapa sih. Geli aku kalau berduaan manggil kamu Baby. Entar yang denger ngira aku hombreng lagi.”


Iya juga sih. Lelaki berduaan manggil teman dengan sebutan Baby, orang yang tidak tahu pasti mengira mereka pasangan hombreng.


“Namaku Faiz.”


Boni terlihat merekam ucapan itu.


“Punya medsos selain akun Rony Fa?”


Faiz menggeleng.


“Rony Fa itu fake account kan?"


Faiz diam.


"Kamu itu sengaja ya nggak pernah nampilin foto kamu sama sekali di medsos. Biar kesannya misterius dan bikin orang penasaran?"


Faiz menggeleng lagi. Tidak enak merasa dikuliti identitasnya. Lebih asyik menikmati nasi goreng seafood dengan campuran kacang polong yang lezat.


“Kenapa selalu sembunyiin identitas sih?”


Boni mencibir. Sok ganteng tapi pengecut, nggak berani menampilkan fotonya.


"Lagipula setelah turnamen ini aku mau cabut dari klub dan komunitas, bang.”


“Ke sini mau jadi pengintai doang ya?”


Eh, kok jadi dituduh pengintai. Mata-mata siapa? Siapa yang mata-mata? Yah, terserah deh kalau dianggap begitu. Bagi Faiz tuduhan itu nggak penting-penting amat karena dia datang ke rumah karantina dengan tulus karena permintaan mister Yamagata harus koordinasi langsung dengan tim sebelum pertandingan final agar chemistry antar tim lebih dapat.


“Enggak. Tadinya aku emang niat buat jadi gamer pro tapi nggak kuat. Capek, bang.”


“Banyak tekanan?”


Faiz mengangguk.


“Ya begitulah kalau jadi gamer pro. Kerja siang malam bagai kuda. Ryan dini hari tadi dibawa ke rumah sakit. Demamnya makin tinggi sampai ngigo merintih-rintih. Kamu nggak dengar? Kamarnya kan sebelah kamarmu.”


Oh, jadi semalam suara rintihan yang didengar itu bukan suara hantu? Kampret emang si Jose. Gara-gara dia Faiz jadi ketakutan mengira itu suara hantu. Jadi merasa bersalah tidak menolong Ryan.


“Dia sudah demam ringan sejak 2 hari lalu, tapi ngotot ingin ikut latihan terus agar terpilih jadi pemain inti di partai final turnamen. Sudah kerja keras mati-matian Ryan hanya terpilih sebagai cadangan. Untunglah, bisa berantakan strategi kita kalau dia dipaksakan masuk tim inti. Dia dibawa kru GGS ke rumah sakit dan katanya perlu rawat inap. Kemungkinan besar sih kena tipes.”


Faiz hanya menyimak.

__ADS_1


“Ada beberapa orang gamer yang kena tipes gara-gara tekanan pekerjaan.”


“Pernah ada yang depresi dan bunuh diri juga?” tanya Faiz penasaran. Jangan-jangan Jose sengaja membohonginya supaya dia tak bisa tidur.


“Begitulah.”


Waduh, ternyata benar. Seram juga resiko jadi pemain game online profesional. Faiz makin memantapkan diri buat amandemen kontrak hanya sampai turnamen ini saja.


Jangan hanya melihat berapa penghasilan yang didapat gamer profesional yang sudah terkenal tapi lihat persaingan dan kerja keras para gamer buat mencapai sukses. Pedih. Orang yang hanya melihat si JNL yang punya rumah gedong dan ferari atau mr Biasa aja yang penghasilannya miliaran mungkin terpukau dan berkata, "Wah enak banget ya jadi gamer". Tak tahu di balik itu semua, ada kerja keras jatuh bangun dari pagi sampai menjelang pagi lagi. Ada gamer yang sampai terpental-pental ke sana ke mari karena kerasnya persaingan dan tuntutan fans tapi tidak menikmati hasil sebesar itu. Yang sakit tipes jumlahnya tak terhitung karena gamer biasanya melupakan apapun kalau sudah kecanduan bermain. Lupa waktu. Lupa makan. Bahkan ada yang lupa status dan jati dirinya.


Mereka yang tumbang bukan semata karena tak mampu. Ada banyak faktor yang mengunci mereka dalam dunia setengah khayal yang penuh tekanan. Faiz yang tergolong cuek dan sering mengabaikan komentar atau makian orang bisa tidak betah di lingkungan itu. Butuh ekstra sabar dan kontrol diri yang baik. Apalagi menghadapi para bandar penjudi yang dengan keras mengintervensi pertandingan demi keuntungan pribadi.


Faiz enggan cari perkara dalam dunia universe war. Kekalahannya di partai final turnamen perseorangan jelas sudah disetel bandar judi itu. Karena ia menolak dibayar untuk kalah, apapun caranya dilakukan agar Baby F jadi runner up. Bahkan cara keji sekalipun. Mereka tak sudi kehilangan keuntungan besar dari banyaknya orang yang bertaruh untuk kemenangan Baby F. Akh, rasanya kok seperti berkhianat pada fans yang setia mendukung. Tapi Faiz bisa apa? Suka tidak suka, ia harus terima. Anggap saja sudah nasib.


Bagi pemain profesional yang sudah bekerja keras dan optimis menang, kasus seperti ini pasti sangat menyakitkan. Wajar bila ada yang sampai depresi. Mungkin karena ada faktor Y seorang gamer yang jenius bisa sering diincar kalah hanya untuk dijadikan tumbal para bandar judi.


"Menurut bang Boni, pada pertandingan nanti malam kita akan menang atau kalah?"


"80% menang."


"Tahu dari mana?"


"Mister Yamagata. Banyak yang yakin kita menang karena ada kamu, Fa."


"Mungkinkah sudah ada tawar menawar dengan seseorang dari luar tim?"


Boni angkat bahu. "Bukan urusan kita, Bro. Yang penting kita berusaha keras. Namanya permainan pasti ada menang dan kalah. Yang menang belum tentu lebih hebat. Ada tangan tak terlihat yang terlibat."


"Menurut bang Boni tangan yang tak terlihat itu siapa?"


"Tuhan."


"Ada lagi di bawah Tuhan yang ikut campur dalam menentukan kemenangan di turnamen ini. Makhluk yang kasat mata, berkuasa dan beroperasi dalam senyap. Dia bisa menentukan kekalahan atau kemenangan dengan banyak cara jitu."


"Siapa?"


"Bandar judi online."


Boni langsung terkekeh. Sepertinya Boni sudah tahu ada yang biasa bermain di balik pertandingan universe war yang paling spektakuler ini. Siapa sih yang tidak tergoda banyaknya cuan di meja judi yang melibatkan jutaan orang di seluruh dunia. Peluangnya masing-masing 50%, menang atau kalah. Omsetnya gila-gilaan. Tentu saja para penjudi itu telah berhitung dengan berbagai analisa, termasuk hedging apabila kalah. Tapi judi tetaplah judi. Selalu ada upaya dan permainan kotor yang dilakukan bandar judi agar usahanya tetap langgeng dan meraup keuntungan sebanyak mungkin.


Ah, buat apa dipikirin. Ambisi boleh tapi harus tetap terima nasib dengan lapang hati. Kenyataannya para penjudi tetap merasa pertandingan adalah alat untuk memuaskan hasrat akan kemenangan instant.


"Supaya tidak kecewa, tipes, atau depresi lebih baik kita makan banyak dan tersenyum, Fa. Ayo nambah lagi." Boni malah menyodorkan pinggan nasi goreng ke hadapan Faiz.


________


Jangan tumbang, sehat lahir batin ya⚘⚘⚘

__ADS_1


__ADS_2