
Setelah bunda Ritha, Bibi dan Faiza berangkat ke Jampang dengan dikawal mbak Sari dan om Andre sebagai pilot, giliran Faiz diantar ayah ke markas GGS untuk karantina selama 2 hari. Faiz mendapatkan kontrak privilege berkat negosiasi ayahnya. Semua pemain yang tergabung dalam tim GGS telah memasuki karantina sejak awal turnamen untuk memudahkan koordinasi tim dan latihan. Hanya Faiz yang diperkenankan latihan dan mengikuti pertandingan dari rumah. Rekan timnya sering bertanya-tanya bagaimana ia bisa mendapatkan privilege itu dan Faiz tak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa bilang, orang tuanya yang mengajukan permohonan itu dengan sebuah konsekwensi tertentu yang ia sendiri tidak tahu pasti. Meski sebagai tim Faiz konsisten dalam strategi pemenangan, namun ia tahu ada beberapa pemain yang iri terhadap privilage yang didapatkannya.
Faiz menghentikan langkahnya ketika melihat ayahnya ikut turun dari mobil yang mengantarnya. “Ayah antar sampai dalam. Ayah perlu bertemu Mr. Yamagata.” kata Satya yang telah bersiap meminta supir membuka bagasi. Ia membantu Faiz menurunkan komputer dan peralatan gamenya.
“Buat apa? Ayah langsung ke kantor aja. Katanya ayah sibuk.”
“Meeting bisa ditunda sebentar. Ayah harus pastikan kamu aman sebab Bunda sudah wanti-wanti nitipin kamu ke Mr Yamagata.”
“Nggak usah, Yah. Faiz Bisa sendiri kok.”
“Lagian emangnya Faiz barang pakai dititip-titipin.”
“Kamu bukan barang, tapi anak yang masih dibawah umur. Harus ada serah terima dengan direktur GGS langsung untuk memastikan anak kebanggaan ayah aman selama di sini.”
“Aku bukan balita, Yah. Rumah karantina ini juga bukan day care.”
“Kamu malu diantar ayah?”
Harus jawab apa ya? Jujur Faiz malu. Dia kan bukan anak kecil yang mesti dilindungi terus oleh ayahnya. Tapi ayahnya sepertinya tak peduli sebab ia tak punya alasan yang logis menolak diantar ayah kecuali malu. Hatinya diliputi rasa khawatir. Takut para pemain lain tahu dan menganggapnya anak manja. Masak pemain universe war yang disegani ke rumah karantina aja pakai diantar ayahnya. Duh, pasti pemain dan kru GGS bakal merundungnya. Sudah dapat privilage karantina hanya 2 hari karantina, eh ke sininya diantar orang tua seperti bayi yang mau dititipkan di day care selama ayah ibunya kerja. Mau ditaruh dimana mukanya.
Faiz hanya menatap ayahnya dengan raut memohon.
“Ayah tahu kamu malu, tapi ayah harus bertanggung jawab sama Bunda. Setelah bertemu mr. Yamagata ayah akan langsung ke kantor kok. Nggak akan lama. Kita perlu berfoto dan dikirim ke Bunda sebagai bukti.”
Faiz menepuk jidatnya. Ya ampun, permintaan emak bareskrim. Harus sedetail itu kah pembuktiannya? Faiz bukan penjahat, Bun. Faiz nggak berniat sedikit pun buat menipu Bunda.
__ADS_1
Apa boleh buat, siapa sih yang mau mendebat Bunda. Makin panjang nanti urusannya. Faiz terpaksa harus menanggung malu. Ayahnya telah menghubungi mr Yamagata. Untungnya pria sipit dengan model rambut berponi datar itu telah siap menyambutnya di beranda rumah besar di kawasan Bintaro itu.
“Selamat pagi, pak Satya.” Sambut mr. Yamagata seraya menyalimi Satya dengan disertai senyum ramah.
“Selamat pagi, Mr. Yamagata.”
Tanpa tedeng aling-aling Satya langsung meminta foto mereka bertiga untuk dikirimkan ke istrinya. “Maaf, Mr. yamagata. Istri saya selalu khawatir dengan anak kesayangannya. Tadi istri saya berpesan agar saya mengirim potret selfi dengan anda sebagai penanggung jawab tim GGS ini. Tidak ada tujuan lain kecuali agar hatinya lebih tenang.”
Emak bareskrim permintaannya bikin malu aja. Faiz tetap sebal dengan sikap posesif bundanya.
“Oh ya, tidak masalah. Ibu-ibu memang banyak yang posesif seperti itu. Saya maklum.”
Untung Mr. Yamagata maklum. Situasi rumah karantina juga kelihatan masih sepi. Mungkin para pemain masih tidur karena semalam ada pertandingan latihan melawan tim dari Jerman sampai menjelang pagi.
Ya ampun. Kata-kata Mr Yamagata membuat Faiz benar-benar merasakan dirinya menjadi bayi sekarang. Dipikir-pikir ucapan Mr. Yamagata mungkin terkait dengan nama bekennya Baby F. Tapi sayangnya, manja bukanlah kepribadiannya yang sebenarnya. Kenapa Faiz baru sadar sekarang kalau nama panggung itu terkesan imut dan manja. Mang Rony yang membukakan akun dengan nama Baby F. Entah apa dasarnya. Waktu itu Faiz tak mau tahu karena hanya fokus pada bagaimana ia bisa main game untuk mempelajari logika, fitur dan algoritmanya. Belum terpikir akan ikut turnamen internasional seperti ini.
Pemain game tidak bisa langsung instant masuk sebagai anggota tim atau ikut turnamen level internasional. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Faiz bukan pemain baru. Ia main game sejak SMP dimana ia pernah ikut dan menjuarai lomba pemrograman game. Awalnya mang Rony, guru komputer di sekolahnya yang membukakan akses game untuk Faiz secara diam-diam tanpa ijin kepala sekolah atau kakek guru sebagai pimpinan yayasan. Tujuan awal main game sebenarnya untuk membedah dan mempelajari fitur, logika, algoritma dan tampilan game sebagai dasar untuk mengembangkan prototipe game rancangannya yang akan dilombakan. Lama-lama iseng jadi ketagihan bermain karena senang berhasil naik ke level dengan cepat ke level grand master. Fansnya makin banyak saat Faiz memenangkan berbagai lomba lokal atau berduel menantang pemain profesional. Banyak saweran yang diterimanya. Tiap kali menang, dapat banyak bonus yang dibayar dalam bentuk bit coin mapun rupiah. Pendapatannya dari berbagai game itu yang kemudian ia belikan lahan billboard di salah satu platform game. Sewanya lumayan. Pendapatannya bertambah lebih cepat dan banyak, selain dari bonus dan saweran game juga dari sewa billboard iklan. Levelnya juga sudah naik ke level tertinggi, yaitu level meta.
Semakin mahir, semakin banyak tuntutan fans dan tantangan berduel. Bukan hanya dari pemain dalam negeri, namun banyak diantara mereka yang berasal dari luar negeri. Faiz susah menolak. Itulah sebabnya kenapa kemudian ia banyak bolos kegiatan pesantren dan sekolah. Mang Rony sudah menasehatinya agar membatasi main game tapi Faiz tak bisa berhenti. Ia masih tak ingin kehilangan banyak fans yang memujanya. Tantangan berduel dan tuntutan fans terlalu besar. Ia jadi punya ambisi untuk menjuarai turnamen internasional. Apalagi ia sudah dapat banyak cuan berkat kemenangannya.
"Saya pasti akan dihukum pak Umar kalau tahu saya yang memperkenalkan kamu sama game online, Iz. Tolong sudahi saja ambisi kamu. Mang Roni dengar beliau nggak memberikan kamu toleransi lagi karena kamu sudah terlalu sering bolos sekolah dan tidak ikut kegiatan wajib pesantren. Kamu tetap akan dikeluarkan dari sekolah dan dikembalikan ke ibumu kalau tetap sering bolos dan kecanduan main game begini."
"Faiz tahu, Mang."
"Kamu nggak kasihan sama orang tuamu? Mereka malu lo anaknya dikeluarkan dari sekolah karena kecanduan game. Keluarga kamu orang berpendidikan semua. Apalagi pak Umar, pimpinan yayasan ini kakek kamu sendiri."
__ADS_1
"Biar itu jadi urusan Faiz aja, Mang. Semua tanggung jawab Faiz. Aku akan tetap bilang ke kakek guru kalau mang Rony tidak bersalah. Kalau ada yang harus dihukum, itu cuma Faiz."
"Kamu yakin dengan memilih game online kamu bisa lebih bahagia?"
"Nggak tau, Mang. Sekolah itu bikin bosen dan nggak ada hubungannya dengan masa depan. Lagipula Faiz bisa home schooling kok buat dapat ijasah."
"Orang tua kamu pasti kecewa, Iz."
"Nggak tahu ah, Mang."
"Kalau kita membahagiakan orang tua, Allah pasti melimpahkan kebahagiaan buat kita."
"Terima kasih atas nasehatnya, Mang. Semua akan saya pertanggungjawabkan sendiri. Saya yakin kedua orang tua saya akan bahagia bila saya bahagia. Sekarang saya ingin membuat dunia metaverse saya sendiri. Cari modalnya yang sudah jelas jalannya ya jadi pemain universe war profesional."
Mang Rony, guru komputer SMP itu tak bisa berkutik menghadapi keras kepala anak orang yang paling berkuasa di lembaga pendidikan itu. Ia menyesal telah memperkenalkan Faiz pada dunia permainan online. Kemenangan yang diperolehnya dalam lomba pemrograman game tidak ada artinya dibandingkan dampak yang terjadi pada anak didiknya. Sangat disayangkan.
Faiz tak pernah peduli siapa pun. Jangankan guru komputer, kakek guru yang sudah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan dibuat menyerah oleh kelakuan cucunya sendiri. Hahaha.
Berdasarkan riwayat cepatnya naik level serta kemenangan Baby F yang tergolong istimewa, banyak klub internasional yang kemudian menawarkannya masuk sebagai anggota tim yang bermain di turnamen universe war internasional. Tawaran honor di kontraknya begitu menggiurkan. Satu musim turnamen bernilai hampir sejuta dolar. Siapa yang tidak tergiur. Itu belum termasuk bonus kalau menang atau berhasil menarik pemain baru lewat link afiliasi. Itu sebabnya Faiz mantap untuk meninggalkan pesantren dan menawarkan diri home schooling sebagai solusi untuk menjembatani keinginan keluarganya agar ia tetap sekolah. Padahal Faiz sendiri sempat berada dalam fase benar-benar tak ingin sekolah.
____________
Hapy reading, Guys.
Untuk tetap bahagia, segala sesuatu harus dicukupkan pada porsinya sebab segala ambisi yang berlebihan itu akan merusak mental🌻
__ADS_1