METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
GANGSTER PASAR


__ADS_3

Biru mengikuti langkah Sari yang berjalan perlahan ke sisi kanan lapak sayur-mayur lalu menaiki tangga menuju lantai 2. Ada banyak kios tertutup tanpa penerangan di bagian belakang lantai 2 gedung pasar yang luas itu.


“Kamu yang pegang ikan ini ya, Bi. Nanti kalau misalnya mas Tom ketemu, mbak akan kode dengan acungan jempol.” Sari berbisik sangat pelan di dekat telinga Biru dan menunjukan jempolnya agar Biru segera paham.


Biru mengangguk.


“Nanti kamu alihkan perhatian penyandera mas Tom dengan melempar keras plastik ikan lele itu ke arah orang itu supaya mbak Sari punya waktu buat membebaskan mas Tom.”


Aih, Sari telah mempercayakan Biru untuk berperan dalam permainan gangster-gangsteran yang makin seru ini. Biru mengangguk penuh semangat. Adrenalinnya meninggi. Gadis


itu senyum senyum sendiri walaupun situasi makin terasa mencekam. Penasaran ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Apa yang terjadi akan seperti adegan di film-film laga Amerika, kungfu hongkong atau adegan film India? Boleh dong Biru berkhayal, siapa tahu Biru punya kesempatan jadi bintang film laga. Secara, Biru kan bisa silat aliran Jampang yang merupakan kombinasi gerak fisik dengan metafisik yang mengandalkan pernafasan, tenaga dalam dan konsentrasi. Apalagi ditambah dengan keahliannya dalam membidik target dengan panah. Dengan percaya diri Biru menyetarakan diri dengan Srikandi di dunia wayang, pahlawan perempuan yang tangguh.


Keduanya berjalan pelan, namun tetap saja menarik perhatian orang di tempat yang sepi itu. Suara ikan lele yang menggelepar dalam plastik ini berisik sekali. Sari menyuruh Biru melangkah duluan dengan isyarat kibasan tangan. Ia pikir dengan modal wajah yang lugu dan hijab yang dikenakannya, orang pasti mengira Biru hanyalah anak yang tersesat di pasar malam itu.


“Mau kemana?” sebuah suara menghentikan langkahnya.


Biru tersenyum lugu. “Mau nganterin lele ke toko Gaya Fashion.” jawab Biru menyebutkan nama toko dimana Kayla pernah bekerja jadi pelayan di pasar yang sama dengan tempat berdirinya sekarang.


“Uda Gaya Fashion udah pulang kampung ke Padang, Neng. Emangnya belum tahu?”


Biru menggeleng. Dilihatnya dari ekor matanya ada seorang laki-laki duduk lemas dengan tangan dan kaki terikat di kios sebelah pojok. Apakah itu mas Tom?


Mumpung dua orang yang menghadang sedang menanyai Biru, Sari berjalan cepat menghalau Biru dan dua orang laki-laki berbadan tegap yang tadi menyapanya.


Dua orang itu langsung sigap mengejar Sari yang berlari ke kios pojok dimana terdapat lelaki yang tangan dan kakinya terikat itu. Biru melihat Sari mengacungkan jempol. Berarti orang yang terikat itu adalah Tom. Dengan refleks gerakan cepat dan keras Biru membanting plastik ikan lele dan jatuh di dekat kaki dua lelaki yang sudah mengejar Sari.


Byur. Air muncrat kemana mana. Ikan-ikan lele yang berada di dalam plastik pecah itu bergelimpangan ke sana ke mari. Kondisi itu berhasil membuat dua orang berbadan kekar itu terpeleset dan jatuh. Biru menahan tawa sementara kedua orang itu marah dan berusaha berdiri lalu bersiap memukul Biru.


Secepat kilat Biru pasang kuda-kuda, ambil nafas panjang lalu mengerahkan semua energi dan pikiran agar mengalir melalui tangan. Dengan sekali kibasan tangan Biru menghalau pukulan yang nyaris mengenai kepalanya dan kedua orang berbadan kekar itu jatuh tak bisa bangkit lagi. Keduanya mendadak jadi patung yang tak bisa bergerak sama sekali.


Wow. Ilmu kunci raga yang diajarkan abah ternyata bisa bermanfaat menjatuhkan lawan tanpa berdarah. Biru senang bisa uji coba kemampuan silat kuno yang sudah jarang dimiliki orang modern. Baru kali ini Biru mempraktekannya langsung pada preman, bukan hanya sekedar latihan dengan teman seperguruan silat.


Biru melangkah hati-hati di lantai keramik yang basah. Lele-lele itu masih menggelepar ke sana ke mari. Hebat. Lele merupakan jenis ikan yang tangguh. Mampu hidup tanpa air lebih lama daripada ikan lainnya. Tubuhnya yang berlendir dan tak henti menggelepar membuat lantai menjadi licin.


Sebelum menyelamatkan Tom, Sari harus bertarung menghadapi seorang preman lain yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. Lelaki itu menghalanginya untuk menolong Tom yang tak berdaya. Di bawah cahaya yang temaram, samar Biru melihat wajah dan tubuh Tom babak belur penuh luka. Matanya membengkak sebesar telur.


"Mana bos kamu? Nggak berani dia ke sini? Banci! Bukannya datang, malah ngirim perempuan ke sini."

__ADS_1


Bag bug bag bug. Pukulan demi pukulan saling terlontar dibarengi dengan gerakan bertahan dari serangan lawan. Begitu cepat. Begitu keras. Sebentar Biru menyaksikan kehebatan aksi Sari sang bodyguard sebelum ia berinisiatif membuka ikatan tangan dan kaki Tom. Sari tak banyak bicara sementara lelaki bertato palu di dahi yang menjadi lawannya sibuk memaki-maki Bas dengan berbagai jenis makian.


Melihat Biru mendekati Tom, lelaki dengan tato palu di dahinya itu beralih hendak menyerang Biru yang dengan cepat tengah berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Tom. Namun Sari tak tinggal diam, perempuan itu menyerang dengan tendangan memutar bagai angin topan yang kecepatan berputarnya kalau diukur bisa ribuan putaran permenit. Dahsyat. Tendangan beruntun telak menghantam kepala dan dadanya. Pria bertato di dahi itu jatuh tersungkur. Pingsan di lantai.


Biru membuka ikatan tangan dan kaki Tom dengan cepat meski dirinya sedikit gugup. Cukup dibuat terpukau juga dengan tendangan berputar Sari yang dahsyat itu.


Sesaat kemudian terdengar ada tapak kaki orang yang berjalan menaiki tangga dengan sepatu yang bersuara keras.


Tuk tuk tuk. Langkahnya tak terlalu cepat, namun tidak lambat. Ternyata yang datang adalah Bas dengan dua orang pengawalnya.


Bas tertegun melihat tiga preman itu tak berdaya hanya dalam hitungan menit oleh dua orang perempuan muda. Dua orang mematung dikelilingi lele yang menggelepar bergelimpangan. Satu orang lagi telah tersungkur tak sadarkan diri.


Biru dan Sari hendak memapah Tom, namun dua lelaki tegap dan kekar pengawal Bas buru-buru menggantikan tugasnya. Mereka memapah Tom dengan hati-hati melintasi jalan yang licin lalu turun melalui tangga.


"Kerja bagus, Sar. Nggak nyangka kamu bisa menyelesaikan tugas secepat ini."


"Semua ini berkat Biru, Bos. Dia sangat hebat."


"Biru?"


Bas memandang adik bungsunya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu...?"


Biru nyengir kambing memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Senang rasanya bisa membuat kakaknya yang hobi marah, marah dan marah itu tak bisa berkata-kata. Yes! Bisa juga si pahit lidah itu kehabisan kata-kata yang membuat telinga lawan bicaranya terbakar.


"Aku harus belajar silat Jampang sama kamu, Bee. Boleh kan?" tanya Sari dengan diiringi senyum bangga.


"Kalau mau belajar mah sama Abah, masternya. Ilmu aku mah masih cetek, Mbak."


"Lain kali kalau sempat belajar sama Abah. Sekarang belajar sama orang yang dekat aja dulu. Aku benar-benar mau belajar bagaimana caranya melumpuhkan orang sampai jadi patung dengan hanya sekali kibas."


Biru terkikik pelan sambil menutup mulutnya. Tak disangka dia bisa diapresiasi Sari sehebat itu. Suka suka suka. Hatinya riang. Kepalanya membesar bagai balon udara yang siap terbang melayang-layang ke angkasa.


"Tendangan taekwondo mbak Sari juga keren. Kalah Jacky Chan mah." Biru perlu membalas pujian Sari dengan kekaguman yang sama meski dengan gaya bahasa hiperbolik.


Sari terkekeh merangkul Biru dengan hangat tanpa peduli bosnya yang terpaku kehabisan kata. Hatinya lega karena berhasil menuntaskan satu misi kerja yang mampu membuat Bas tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Ayo pulang! Satya bakal ngamuk kalau tahu kamu malam-malam keluyuran ke sini, Bi." Akhirnya Bas menemukan kata yang membuatnya bisa menegakan kepala sebagai bos. Dalam hati ia masih tak percaya pada kemampuan adik bungsu beda ibu yang selama ini dibencinya. Mau bilang mustahil namun ini nyata dan tak bisa dipungkiri.


Biru dan Sari saling senyum dan berpandang-pandangan. Keduanya mengikuti langkah Bas menuruni tangga dan membiarkan ketiga preman itu di sana sampai sadar dengan sendirinya. Bukan urusannya. Dalam beberapa jam mereka juga akan sadar dengan sendirinya. Semoga saja ada satpam pasar yang patroli keliling menemukan dan menolong mereka.


"Motor ditaruh dimana?"


"Di samping belakang dekat lapak sayur."


"Kalian berdua naik mobil. Biar motornya dibawa si Pupo aja."


Sari menyerahkan kunci motor pada Pupo lalu masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang dimana di dalam sudah ada Tom yang masih lemas dengan tubuh babak belur.


"Perlu ke rumah sakit nggak Tom?"


"Nggak usah, Bos."


"Sabar ya! Ben sudah telpon dokter Harry. Mungkin sampainya akan berbarengan dengan kita sampai markas."


"Terimakasih, Bos."


"Rahasia bos Gupta aman kan, Tom?"


"Aman, Bos."


Bas Tersenyum lebar. "Oke."


Tom melirik ke arah Biru dan tersenyum, "Biru hebat banget, Bos." pujinya


"Keturunan Wirajaya Halim nggak ada yang kacangan, Tom." Bas menjawab dengan tegas dan pasti. Di bibirnya terselip senyum bangga.


Ih, bisa bisanya dia tersenyum bangga begitu? Biasanya Bas selalu jengkel dan malu punya adik tiri macam Biru. Sudah tak terhitung berapa kali Bas menyumpahinya mati saja. Malam ini agaknya Bas sudah mengakui Biru sebagai anak Wirajaya Halim.


__________


Hati-hati ya, Bi! Kakak kamu itu culas. Jangan mau kalau nanti dimanfaatkan 🤭


Like, komen, vote dan hadiah buat Biru dong, Guys. Masih sepi nih lapaknya Biru dan Faiz🤭

__ADS_1


__ADS_2