
Akhir-akhir ini Faiz sudah mulai merasa lelah. Tuntutan fans membuatnya kurang tidur dan tak punya kebebasan waktu untuk dirinya sendiri. Lama-lama fans tidak lagi memuja, tapi cenderung memperbudak dirinya untuk terus bermain dan menang. Sekali kalah karena kelelahan banyak orang menhujatnya dengan kata-kata kasar. Belakangan Faiz baru sadar ada banyak diantara mereka yang bertaruh untuk kemenangannya layaknya arena perjudian. Ngenes sekali, rasanya ingin memeluk Bunda mengungkapkan bahwa apa yang dikhawatirkan belahan jiwanya itu adalah benar. Naluri ibu tidak salah. Lama-lama ia merasa seperti binatang yang dipaksa bertarung habis-habisan demi ambisi para penjudi berengsek itu.
Beberapa hari lalu ada orang yang tercatat sebagai salah satu fans menghubunginya. Entah informasi dari mana yang disadap agar dapat nomor teleponnya. Dia menawarkan akan memberinya sejumlah uang agar ia memastikan kalah di final turnamen perseorangan dengan cara XXY dengan scor YYX. Puih, tentu saja langsung Faiz tolak meskipun orang yang mengaku fans itu menawarkan jutaan dolar sebagai bayaran. Tak perlu ditanya, Faiz sudah memastikan bahwa orang yang sering memberikan uang sawer buatnya itu pasti bukan sekedar fans, tapi bandar judi. Ia ingat kakek guru yang pasti kecewa kalau cucunya tahu secara tidak langsung telah mendukung perjudian. Buat apa belajar bertahun-tahun di pesantren kalau akhirnya terlibat dalam perjudian yang diharamkan agama. Padahal demi Tuhan, Faiz hanya ingin bermain profesional. Tak menyangka kalau dalam e-sport ada bandar judi yang terlibat. Sama saja dengan pertandingan sepak bola di dunia nyata.
Faiz sudah muak dengan tingkah fans-fans yang otaknya cuma separuh. Capek. Rasanya petualangannya di dunia
game sudah cukup. Dicukupkan saja sampai akhir turnamen beregu ini. Faiz bertekat untuk istirahat demi kesehatan mental dan fisiknya. Juga demi bunda dan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya siang dan malam. Minggu lalu, Baby F sudah berhasil dinobatkan menjadi runner up pada turnamen universe war internasional perseorangan. Di akhir pertandingan final, konsentrasinya sempat pecah karena kelelahan dan lawan berhasil menjegalnya dengan tipu daya. Kesal itu pasti, namun ia harus menerima hasilnya dengan lapang dada. Toh ia sudah dapat hadiah jutaan dolar dan lawannya bersedia menggelar pertandingan non-turnamen bulan depan sebagai pembuktian siapa sebenarnya yang lebih hebat dan layak jadi juara. Tentu saja fans fanatik Baby F yang tidak terima kekalahan Baby F karena tipu daya menyambut gembira. Yakin kalau pertandingan fair Baby F pasti menang. Sponsor pertandingan itu konon sudah mulai banyak berdatangan. Faiz ditawarkan honor dan bonus yang besar untuk kemenangannya pada pertandingan non-turnamen itu.
Setelah ayahnya pergi, Faiz minta waktu bicara dengan Mr. Yamagata.
"Mister, saya ingin memperbaiki kontrak kerja saya hanya sampai turnamen ini."
"Kenapa, Baby?"
"Saya ingin konsentrasi sekolah, Mister. Saya tertekan jadi pemain profesional. Waktu saya habis untuk berlatih dan bertanding mengikuti tuntutan fans dan klub. Saya ingin punya waktu bermain dengan teman-teman sebaya saya, olahraga dan sekedar ngobrol dengan keluarga."
"Tapi kamu akan tetap komit memenangkan pertandingan lusa kan?"
"Pasti, Mister. Untuk itulah saya di sini sekarang." jawab Faiz tegas meyakinkan.
"Baiklah. Karena turnamen besar sudah tidak ada lagi, kamu boleh putus kontrak setelah pertandingan lusa. Kalau masih kangen main, boleh mengajukan diri lagi sebagai pemain tim kami. Hanya mungkin prosedurnya beda. Kamu nggak akan dapat privilage dalam hal apapun dan wajib mengikuti tes seleksi pemain. Selain itu kamu juga akan kena phinalty. Honormu hanya akan dibayarkan 40% dari nilai kontrak. Sebenarnya sayang sekali membatalkan kontrak yang sudah setengah jalan begini. Akhir-akhir ini semua pemain memang kelelahan karena tekanan turnamen internasional yang paling bergengsi. Sedangkan sampai akhir tahun nanti waktu pemain akan lebih longgar karena turnamennya jarang. Paling hanya ada turnamen kecil untuk penyisihan turnamen inti tahun depan."
Pria keturunan Jepang yang lancar berbahasa Indonesia dengan logat yang patah-patah itu tersenyum bijak. Namun ia masih berusaha mempengaruhi Faiz agar melanjutkan kontrak sampai selesai dengan iming-iming waktu yang lebih longgar dan imbalan yang tak sebanding jika putus kontrak di tengah jalan.
"Kamu sudah bicara dengan ayahmu mengenai ini?"
__ADS_1
"Belum. Tapi saya yakin ayah dan bunda pasti lebih senang kalau saya memilih sekolah."
"Baiklah, Baby. Saya tidak bisa memaksa anak di bawah umur untuk bekerja, begitupun orang tuamu. Saya hanya ingin kamu berusaha keras memenangkan pertandingan lusa."
"Saya janji, Mister. Saya ingin keluar klub dengan tegap dan membuat mister bangga."
Mister Yamagata tersenyum dan mengusap rambutnya. Pria itu selalu bersikap hangat. Entah karena Faiz masih terlalu muda atau karena mengenal siapa ayahnya. Faiz tak peduli. Menjadi anak ayah adalah anugerah. Apapun resikonya, ia bahagia terlahir sebagai anak seorang Satya Wirajaya Halim.
Mister Yamagata membawanya masuk ke sebuah kamar kosong berukuran 3 x 2,5 meter. Kamar yang jauh lebih kecil daripada kamarnya di rumah. Ada tempat tidur single, meja dan kursi kerja serta sebuah lemari 2 pintu yang terbuat dari kayu.
"Maaf, kamar di sini sederhana. Mungkin tidak sebesar kamarmu di rumah. Kamar yang lebih besar sudah digunakan pemain lain, tapi mereka berdua satu kamar."
Faiz mengangguk. "Nggak masalah, Mister."
"Istirahatlah. Satu jam lagi saat sirene berbunyi harus kumpul di ruang tengah buat briefing, diskusi strategi, dan latihan main bareng."
"Sudah sarapan?"
"Sudah Mister."
"Di sini semua pemain dapat makan 3 x sehari dan 2 kali extra fooding termasuk susu. Kamu juga harus pakai seragam seperti pemain lain."
Faiz mengangguk. Alhamdulillah ia sudah terbiasa makan apapun di pesantren. Urusan makan dan tidur tak akan berpengaruh besar buatnya. Ia hanya butuh persiapan mental bertemu dengan pemain lain yang biasanya hanya jumpa lewat daring. Jarang ngobrol kalau tidak ada urusan penting. Sebagai orang baru, tentu saja Faiz harus cepat beradaptasi agar mudah menyatu dan mengenal karakter asli rekan setimnya. Selama ini ia hanya bisa membaca karakter permainannya saja. Padahal meskipun jarang terjadi, karakter asli tidak terbaca lewat karakter permainan karena orang itu pandai memanipulasi diri.
Waktu istirahat digunakannya untuk shalat dhuha dan membereskan perlengkapan game yang dibawanya. Setelah itu ia tidur-tiduran sebentar sebelum sirene untuk berkumpul di ruang tengah berbunyi nyaring. Jadi ingat di pesantren yang jadwalnya ketat. Jika di pesantren ada bel yang mengingatkan santri untuk melakukan kegiatan wajib seperti shalat berjamaah, pelajaran fiqih umum dan berbagai kegiatan terjadwal lainnya, di karantina ada sirene yang memanggil mereka latihan atau kumpul di ruang tengah.
__ADS_1
Faiz memandang timnya yang mayoritas terdiri dari anak-anak muda berusia sekitar 20 sampai 20 tahunan. Mereka telah bersiap di depan layar LCD dan laptop masing-masing. Semua mengenakan kaos seragam seperti yang tadi diberikan mister Yamagata yang merupakan pemimpin sekaligus pelatih klub GGS.
"Guys, kenalkan ini Baby F. Dia baru bisa gabung bareng kita hari ini."
"Hai, Baby. Ternyata kamu benar masih kecil seperti namanya."
"Hebat juga lo kecil-kecil udah masuk tim pro. Nyogok nggak?"
"Pakai akun orang lain kali."
"Hush! Jangan ada yang berburuk sangka. Kita buktikan saja lewat latihan intensif dua hari ini. Seperti yang kita ketahui bersama, Baby F baru saja jadi runner up universe war international competition. Jadi, jangan ada yang under estimate sama dia."
Semua diam tak berkomentar lagi. Faiz tahu kebanyakan pemain tim tidak suka padanya. Mereka semua sudah pernah dikalahkan olehnya dalam kompetisi perseorangan maupun pertandingan bebas. Wajar kalau masih ada yang menyimpan dendam. Apalagi nyata-nyata rekan tim yang pernah jadi lawannya lebih muda dan ganteng. Runtuh sudah harga dirinya.
"Kalian ini satu tim, harap selalu jaga kekompakan untuk kemenangan tim."
Semua diam, tak terkecuali Faiz.
"Ingat. Jaga kekompakan dan disiplin sama strategi yang telah disusun bersama. Boni tetap jadi kapten. Kamu yang memimpin tim GGS, Bon."
"Siap, Mister." Lelaki pendiam yang dipanggil Boni itu segera sigap. Tatapannya terlihat paling tenang dan teduh. Sama seperti karakter permainannya yang dibaca Faiz selama ini, dia tipe lelaki yang diam-diam menghanyutkan, tegas dan disiplin dengan aturan main.
Karakter asli pemain lain masih agak samar. Jose yang jarang bicara selama permainan tampak memandangnya dengan apatis dan remeh. Dia tidak yakin kalau Faiz adalah Baby F yang namanya sedang booming di kalangan pemain game online.
__ADS_1
Keep smile and happy, Guys😍