
Biru masih cemberut sejak masuk dalam mobil yang membawanya pergi ke sekolah pagi ini. Sejak peristiwa di Citarik, ia merasa tidak nyaman berada dekat dengan keponakannya yang makin hari makin tampak arogan dan sok ngatur. Sumpah. Berangkat sekolah bareng dengan orang yang merasa dirinya bintang itu tidak enak. Biru sih berharap si ganteng mata biru itu akan bosan atau bermasalah di sekolah lalu dia memutuskan untuk kembali home schooling. Biar ia lebih bebas bergaul tanpa ada yang memata-matai. Sudah terbayang pasti di sekolah Biru bakal direpotkan oleh ulah fansnya dan masalah ini itu. Doni yang sekarang jadi asistennya saja banyak fans, apalagi bosnya.
Lihat saja gayanya. Sok cool. Di meja makan Faiz tak bicara apa-apa, sibuk menikmati sarapan bubur manado yang dimasak bundanya. Ia datang ke meja makan terlambat dan dengan lahap memakan bubur yang berisi
campuran aneka sayur seperti labu kuning, ubi, kangkung, bayam, daun kemangi, dan jagung muda yang disisir. Sambal ikan roa dan perkedel milu yang diambilnya pun habis dalam sekejap.
“Makan yang banyak biar kuat menghadapi kenyataan, Boy.” Satya tersenyum sambil mengusap kepala putera kebanggaannya itu.
Faiz hanya merespon dengan senyum dan mata yang saling bersitatap dengan ayahnya. Makna tatapan itu hanya mereka berdua yang tahu. Lelaki di rumah ini punya rahasia sendiri yang Biru tak boleh tahu. Sebuah pemandangan biasa tapi cukup membuat hati Biru membiru oleh rasa terabaikan. Keduanya terlihat sangat akrab. Kakaknya itu selalu bersikap hangat pada kedua anaknya. Biru merasa sedikit berjarak sebab ia merasa harus tahu diri sebagai penumpang bayangan dalam keluarga kecil kakaknya. Rasa sayang seseorang pada adik seayah tidak akan pernah sama rasanya dengan sayang pada anak kandung. Sudah nasibnya hidup tanpa orang tua. Mendapatkan perhatian dan kasih sayang sedikit saja adalah sebuah keistimewaan. Sepatutnya ia berterima kasih pada kakak seayah yang sampai saat ini mengasihinya dan memperlakukannya dengan baik meski ia lahir dari perempuan kedua yang jadi penyebab sakit dan meninggalnya ibu kandung mereka. Entah bagaimana nasib Biru andai mereka tak mau merawatnya sejak bayi. Mungkin kisah hidupnya bakal lebih tragis. Mungkin ia berada di panti asuhan yang kumuh atau jadi anak jalanan yang dekil, kasar dan menyedihkan.
Lupakan dengki dan iri hati. Fokus saja pada bagaimana cara berterimakasih pada keluarga kakak-kakak yang telah membesarkannya dengan kasih sayang dan limpahan materi yang lebih dari cukup.
Di dalam mobil Faiz sibuk dengan gawainya tanpa melirik atau menyapa bibinya sama sekali. Biru pun enggan mengganggunya dan mencoba menikmati suasana dalam diam. Begitu mobil berhenti di dalam gerbang sekolah, tanpa basa basi Faiz langsung berjalan dengan percaya diri menuju kelas triple one. Kelas pertama dalam
setiap tingkatan merupakan kelas unggulan di sekolahnya dan Faiz masuk di dalamnya. Sementara Biru, berdasarkan indeks prestasinya hanya bisa masuk ke kelas umum di 11-2 bersama Kikan dan Kayla. Ia harus berpisah dari Hani dan Yurika. Otomatis mereka tak akan bergabung dalam satu tim voli dalam class meeting semester ini, tapi mungkin jadi lawan.
Dari kejauhan Doni sudah menyambut Faiz bagai raja. Cowok-cowok kelas 11-1 antri menyalaminya dengan wajah-wajah bangga. Perkenalan mereka tampak seru. Apalagi sebabnya kalau bukan propaganda Doni yang memuji bos barunya setinggi langit. Biru melihat beberapa siswi yang berada di sepanjang jalan yang dilaluinya menatap Faiz lalu berbisik-bisik dan tersenyum. Ih. Sebal. Kenapa sih Faiz harus memiliki semua hal menarik yang diidamkan semua orang? Dia ganteng, cerdas dan orang tuanya kaya. Apa coba kurangnya? Segala yang ada pada dirinya membuat Biru merasa rendah diri. Orang pasti membanding-bandingkan dirinya dengan keponakannya itu dan sudah pasti hasilnya membuat rasa percaya dirinya makin jatuh.
“Kita senasib, terlempar dari kelas unggulan ya, Bi. Kamu kalah sama keponakanmu yang sombong itu.” Sekonyong-konyong Kikan mendekati Biru dan merangkulnya. Dia tersenyum satir. Biru membalas dengan senyum yang serupa. Dunia sedang mengejeknya.
__ADS_1
“Iya.”
“Nggak apa-apa kita nggak di kelas unggulan, Bi. Beban kita jadi nggak terlalu berat bersaing dengan anak-anak yang ambisius."
Kikan menanggapi turun gradenya dengan santai. Sementara Biru merasa sedih tak bisa masuk kelas unggulan. Ia menafsirkan turun grade sama artinya dengan harus siap direndahkan oleh anak kelas unggulan.
“Beban mah sama aja. Gengsi yang turun.” komentar Biru dingin.
Kikan nyengir. Di kelas manapun kurikulum, fasilitas, dan soal ujian sekolah standarnya sama. Kelas unggulan hanya menang gengsi karena pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris dan dipandang keren oleh guru maupun siswa. Wajar kalau Biru menganggap menang gengsi. Sementara bagi Kikan berada di kelas unggulan itu menjemukan sebab persaingan di kelas unggulan sangat ketat dan sebagian siswanya kurang bisa bersikap santai. Mereka yang ambisius biasanya pasang target dan berjuang keras agar menjadi yang terbaik di kelas itu yang tentu saja biasanya otomatis jadi yang terbaik dalam kelas paralel yang lebih dikenal dengan sebutan juara umum. Padahal hidup itu tak melulu soal akademis. Banyak kok orang sukses yang pada masa sekolahnya tak berprestasi cemerlang dalam hal akademis. Lebih baik fokus menikmati hidup dengan mencoba banyak hal selagi masih muda.
Di koridor Biru melihat Rio berjalan cepat sambil ngobrol dan tertawa-tawa bersama teman-temannya. Tapi Rio sama sekali tak melihatnya dan Biru juga enggan menyapanya. Ia hanya bisa memandangi keceriaan Rio hari ini dari kejauhan. Dirinya hari ini bagai hantu, ada tapi tak terlihat oleh orang di sekelilingnya.
Biru angkat bahu.
“Kamu masih berharap dia bakal nembak kamu?”
Biru tersenyum getir. Bingung mau jawab apa. Rio baik tapi sepertinya ia tak bisa berharap lebih dari sekedar teman. Selama ini Biru tersanjung dengan perhatian dan kebaikannya tapi makin ke sini Biru merasa tak memiliki harapan untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Sejak dihukum Faiz dan Amar karena peristiwa di sungai Citarik, Rio makin menjaga jarak. Entahlah. Mungkin dia tahu kalau Biru pura-pura akan jatuh sebab iri dengan kemesraan Fathia dan Doni. Sepanjang perjalanan mereka menyisir bagian selatan Sukabumi, Rio menikmati perjalanan bersama rombongan cowok. Rio lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ngobrol dan membantu Amar menerbangkan drone. Mereka begitu asyik berburu gambar-gambar indah di bukit, pantai, persawahan, kebun dan berbagai tempat lain yang memiliki sudut yang menarik. Biru terabaikan. Ia berdua Kikan menjadi pengamat. Sesekali menjadi model. Kalau bete dengan keasyikan mereka mengambil gambar, Biru dan Kikan jalan berdua menikmati perjalanan dengan caranya sendiri.
“Kayaknya mendingan kamu nggak usah berharap lagi deh, Bi. Takutnya kamu nanti sakit hati. Ribet urusannya kalau sudah menyangkut soal hati. Apalagi kamu kayaknya orang baperan dan ada satpam yang senantiasa memata-matai, yang ngawasin kamu nggak boleh deket-deket cowok apalagi pacaran.”
__ADS_1
Kikan benar. Mungkin Rio juga mikir-mikir kalau mau dekat dengan Biru. Keponakannya resek semua. Sok alim.
“Sebenarnya menurut kamu kak Rio suka nggak sama aku?”
Kikan malah tersenyum. “Kamu jangan kecewa ya, Bi. Jujur menurutku sih kak Rio cuma mau temenan aja sama kamu.”
Sudah sadar Kikan pasti akan menjawab jujur sama dengan yang dipikirkannya tapi kok rasanya masih tetap sakit ya. Biru sudah terlanjur berharap padanya. Ia ingin punya cerita cinta di SMU. Kayaknya seru. Tapi yah... ternyata belum ada yang tertarik pada dirinya.
“Memangnya aku nggak cantik ya, Ki?”
“Bukan masalah cantik nggak cantik, Bi. Cinta itu seringnya datang tiba-tiba tanpa bisa diatur dengan logika. Banyak kok cewek cantik dapat cowok yang biasa aja atau bisa juga sebaliknya. Lagipula klasifikasi kegantengam kak Rio itu cuma 'B' aja. Banyak yang ngefans karena dia ketua OSIS dan sifat perhatiannya bikin baper cewek. Kalau menurutku sih, cowok sekolah kita minder sebab rata-rata mereka berasal dari keluarga yang pas-pasan. Perlu mikir keras kalau mau macarin kamu, anggarannya berapa.”
“Sompret. Gila kamu ya, Ki. Dikira aku jual diri pakai mikirin ada tarif dan anggaran segala.”
"Memang tidak nyata seperti itu, tapi namanya cowok pasti ada gengsinya lah kalau ngajak cewek jalan tanpa nraktir." Kikan tertawa renyah.
Kali ini Biru tak sepakat dengan asumsi Kikan. Ia menganut kepercayaan bahwa cinta itu buta. Semua rintangan dalam sebuah hubungan dapat diselesaikan dengan cinta. Yang penting bisa saling memahami, menghormati dan mengisi kekurangan masing-masing.
_______
__ADS_1
writer block🌻😜 nulis satu bab aja lama banget.