METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
HARI BAHAGIA


__ADS_3

Mobil SUV itu melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan yang ramai. Biru memilih diam. Hatinya tak tenang tiap kali berada dekat dengan kakaknya yang wataknya paling antik itu. Biru tak ingin mendengar kalimat buruk keluar dari mulut kakaknya yang hobi marah, marah dan marah itu. Sesekali ia melirik Tom yang meringis menahan sakit. Kasihan. Pakaiannya terlihat sangat kusut, lusuh dan terdapat banyak bercak darah setengah kering. Pelipis kirinya yang dekat dengan mata benjol sebesar telur hingga menutup matanya yang tampak merah. Tubuhnya memar di sana sini. Entah kenapa dia tak mau dibawa ke rumah sakit, padahal lukanya cukup parah.


Biru tak berani bertanya-tanya. Ia tertunduk saat kembali beradu pandang dengan lelaki bersimbah luka itu. Tersenyum malu layaknya anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue di meja tamu. Sementara Tom terlihat begitu dewasa. Meski menahan perih, lelaki itu memaksakan diri tersenyum bijak ke arahnya. Dan senyum itu tampak indah serta menentramkan hati.


“Makasih ya, Bi. Namamu Biru kan?” ucap Tom dengan suara bariton yang lembut kebapakan.


Biru mengangguk. Merasa tersanjung karena ternyata Tom mengenalnya padahal baru kali ini mereka bertatap muka. Kepala Biru menunduk namun ekor matanya masih belum mau beranjak memandangi wajah Tom yang dalam keadaan memar dan luka saja masih terlihat tampan. Hidung Tom tinggi dan runcing. Bentuk wajahnya oval dengan kulit kuning kecoklatan. Rambutnya lurus, berwarna hitam legam dengan tekstur yang terlihat kaku. Sekilas agak mirip dengan Satya, kakak Biru yang paling tampan dan mapan.


“Belajar bela diri dimana?” tanya Tom lirih.


Suara baritonnya membuat Biru tak ingin berhenti tersenyum. Di telinganya suara itu seperti gelombang bunyi yang mengalun merdu. Entahlah. Hari ini Biru ingin mencatatkan tulisan dalam buku hariannya sebagai salah satu hari bahagia yang tak akan terlupakan. Bukan karena pesta ulang tahun, namun karena sepanjang hari ini ia merasakan tak hentinya dilimpahi kebahagiaan kecil yang tak terduga. Bunga-bunga kecil bertaburan terus di sekelilingnya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih untuk hari yang indah ini.


“Di pesantren ada eskul silat. Yang ngajar Abah, jawara paling disegani di Jampang. Katanya sih aliran silat kuno khas Jampang yang merupakan bagian budaya lokal yang sudah banyak dilupakan orang.”


Tom mengalihkan tatapannya ke arah Bas. “Kayaknya kita perlu belajar juga ilmu-ilmu silat kuno kayak Biru, Bos.”


“Nanti kita pikirin, Tom. Kamu pikirin cepat sembuh dulu gimana, soalnya susah cari orang yang sementara gantiin kamu ngawal bisnisnya bos Gupta.” jawab Bas acuh.


“Pengawalan bos Gupta lempar pihak aparat aja dulu, Bos. Biar untung dikit, tapi kita bisa aman untuk mementara waktu. Yang diincar dari Bos Gupta sebenarnya bukan bisnis pakaian bekas branded impor yang salah satu gudangnya ada di Pasar Rumput, tapi bisnis solar, perhiasan dan obat-obatan dari China. Seperti kita tahu bos Gupta punya beberapa pom bensin resmi, tapi dia curi banyak solar subsidi buat dijual ke industri dengan model kencing. Ada selang optik kecil dari tangki bawah tanah yang mengalir ke tempat penampungan lain yang tersembunyi. Pengendaliannya sistemik dan tercatat dalam pompa sebagai penjualan normal untuk beberapa truk besar setiap harinya. Perhiasan dan obat impor dari China juga sedang bermasalah di pabean.”

__ADS_1


“Sepanyol kuno. Orang-orang sekarang kayaknya makin bodoh dan mudah dibodohi. Segala sesuatu yang kuno-kuno  jadi unik dan bernilai.” komentar Bas sinis.


Biru mendengar dengan baik dan mencoba mencerna pembicaraan mereka dengan logika yang dihubung-hubungkannya dengan perkataan Shieny di stadion futsal tadi. Mungkinkah keluarganya yang dikenal orang sebagai mafia itu adalah Bas? Bisnisnya tampak abu-abu. Selama ini Biru tahu pekerjaan Bas adalah pengusaha agen property, penyedia jasa keamanan dan konon sedang merambah bisnis cyber security juga. Baru kali ini Biru tahu dari telinga dan kepalanya sendiri kalau klien Bas ternyata kebanyakan orang yang menyembunyikan bisnis kotor di balik perusahaan yang memiliki ijin dan legalitas resmi. Orang bilang bisnis sepanyol alias separuh nyolong. Bukan tidak mungkin Bas juga memberikan jasa keamanan bagi perusahaan yang berbisnis barang-barang ilegal.


Mobil merangsek masuk ke halaman rumah dengan arsitektur eropa klasik yang bercat putih abu-abu. Itu adalah rumah mendiang papa. Biru menggigit bibirnya. Bas belum pernah berkenan mengajaknya memasuki rumah itu sekali pun sebab ia tak pantas berada di rumah itu. Entah malam ini. Biru sudah bersiap-siap turun. Hatinya telah terkondisikan untuk lapang. Kalau disuruh ke luar lewat pintu gerbang, ia akan ke luar dengan senang hati. Ia merasa posisinya sama seperti bodyguard yang lain, menunggu perintah Bos. Sadar bahwa dirinya bukan siapa siapa di mata Bas.


“Masuk, Bi!”


“Boleh?”


“Karena kamu sudah menyelamatkan aset berharga perusahaanku, kamu aku ijinkan masuk ke markas kami. Kamu boleh masuk ke rumah Satya lewat pintu samping. Sari akan mengantarmu dan bilang pada Ritha, kali ini aku kasih pengamanan gratis. Tidak ada invoice yang harus dibayar."


“Cepat sembuh ya, kak Tom. Setelah sembuh kita bisa latihan bela diri sama-sama ya.”


“Terima kasih, Bi.” jawab Tom sambil meringis.


Ada rasa nyeri di dadanya melihat lelaki berbadan kekar itu meringis. Pasti sakit sekali rasanya. Orang biasa pasti sudah pingsan andai mendapatkan luka sebanyak dan separah itu. Untunglah di dalam kamar Biru melihat sudah ada dokter dan perawat yang telah bersiap menangani Tom. Hatinya sedikit lega. Ia berharap semoga Tom segera sembuh.


Biru melanjutkan langkahnya menuju area belakang rumah dimana terdapat pintu penghubung dari baja. Biru sudah beberapa kali melihat Bas muncul tiba-tiba di rumah Satya dari pintu itu. Namun ia belum tahu bagaimana rupa pintu itu jika dilihat dari rumah ini. Dugaannya bentuknya kemungkinan besar sama. Ia sudah bisa menerka kira-kira dimana letak pintu itu.

__ADS_1


Di ruang keluarga yang besar Biru menghentikan langkahnya. Ia melihat foto keluarga di kanvas besar ukuran 3 x 2 meter. Sebuah foto resmi keluarga semasa keluarga Wirajaya masih lengkap. Berfigura warna emas dengan kualitas gambar yang sangat bagus. Semakin dipandangi, foto kanvas itu makin tampak begitu nyata layaknya melihat sebuah keluarga di dalam ruangan lain yang berada di balik tembok tempat figura itu terpasang. Pandangannya tertuju pada sosok suami istri yang duduk di tengah dan anak-anaknya yang berdiri di sekelilingnya. Mereka tampak serasi di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. Sang pria setengah baya berwajah kental tionghoa tampak berwibawa dengan jas hitam dan kemeja merah. Sementara perempuan cantik bersanggul dan berkebaya kutubaru merah itu tampak begitu lembut dan anggun dengan wajah khas bangsawan Jawa. Anak-anak mereka juga mengenakan pakaian serupa. Biru mengagumi foto itu.


Tangan Biru terulur meraba-raba gambar itu dengan segenap rasa yang sulit diungkapkan. Biru perlu berkali-kali meyakinkan diri bahwa yang dilihatnya adalah gambar, bukan sosok nyata yang berada di ruang lain.


“Biru kangen papa.” desisnya dengan suara yang lirih nyaris tak terdengar. Pandangannya tak lepas pada sosok ayah yang selama ini hanya ada dalam bayangan.


“Apakah anak kecil itu kamu, Bi?” tanya Sari yang masih setia mengawal Biru.


“Bukan. Itu Amel, anaknya kak Bram. Aku belum lahir waktu itu.”


Biru memilih jujur. Padahal inginnya mengakui bahwa dialah yang menjadi anak kecil dalam foto itu. Bila itu kenyataannya, rasanya kebahagiaan hari ini lengkap sudah. Selamanya Biru tidak diejek sebagai anak pelakor lagi. Tidak ada alasan orang menyuruhnya bunuh diri atau mati saja. Tapi mana mungkin. Foto itu dibuat jauh sebelum kelahirannya di dunia ini. Barangkali ibu kandungnya pun belum masuk dan merusak keharmonisan keluarga Wirajaya. Amel saja masih bayi dan Lily masih ABG.


"Tapi bayi itu benar-benar mirip kamu, Bee."


Biru menghempas udara dari hidungnya dengan kasar. Kenyataannya bayi itu bukan Biru. Ia melangkah meninggalkan ruang tengah menuju bagian belakang rumah dimana terdapat pintu penghubung menuju rumah Satya. Biru tak ingin berharap atas sesuatu yang sudah jadi takdir masa lalu. Percuma. Harapan semacam itu hanya akan menghadirkan kecewa yang tak berkesudahan. Lebih baik ia bermimpi tentang masa depan, sebab mimpi itu masih mungkin digapainya.


_________


Let's go to the best future🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️

__ADS_1


__ADS_2