
Seluruh tim telah siap berada di lapangan voli hari ini dengan pemanasan yang cukup dan tentu saja pasokan logistik yang memadai. Selain air mineral yang disediakan kelas dan dibeli dengan menggunakan uang kas, ada buah jeruk medan yang dibawa oleh Biru, kue lapis legit sumbangan Kikan, dan chocolate almond croisant sumbangan Hani. Aih, logistiknya masih berprinsip dari kita, untuk kita dan oleh kita alias dibawa oleh pemainnya sendiri. Sekalipun sudah masuk semifinal belum ada yang berniat menjadi sponsor buat kepentingan logistik pemain voli kelas 10-1. Untungnya Wiwin yang orang tuanya pemilik konveksi menyumbang kostum baru yang desainnya cukup keren dengan warna mencolok hijau pupus kombinasi merah cabai. Jersey para pemain telah memiliki nomor punggung dan disablon dengan nama masing-masing, termasuk kaos buat pemain cadangan Fifi dan satu kaos buat manajer. Hani memakai jersey dengan disain sama bercorak berbeda karena dia akan bertindak sebagai libero atau kapten tim.
“Eh, Win ini kaos yang tulisannya manajer buat siapa? Kita kan nggak punya manajer.”
“Anjas nggak mau jadi manajer kita?” Wiwin menyebut nama ketua kelas mereka.
“Si Anjas sibuk sama pentas seni buat acara prom night besok malam. Kan kamu tahu ketua kelas kita agak agak melambai gitu.”
“Ya udah deh biarin. Siapa aja nanti yang mau pake baju manajer. Anggap aja manajer cabutan hahahaha.”
“Fi, kamu bagian lihat-lihat ya apa ada penonton tim kita yang mau jadi manajer tim.”
“Eh, tunggu sebentar! Aku mau minta Faiz aja yang jadi manajer kita.”
“Faiz siapa?”
Semua anggota tim bingung karena merasa tidak punya teman yang namanya Faiz di kelas mereka. Biru tak peduli. Ia berlari menghampiri Faiz yang kelihatan baru keluar dari ruang kepala sekolah. Hari ini dia menjalani tes khusus materi ilmu komputer. Kelihatannya tesnya gampang. Baru setengah jam sudah selesai.
“Iz, hari ini kamu jadi manajer tim voli Bibi dong. Masuk semifinal nih. Urgent. Butuh banget kamu.”
Faiz malah celingukan.
“Bisa dong, Iz. Please! Jangan ngurusin e-sport mulu. Ini sport di dunia nyata butuh keahlian kamu juga. Nih, sudah ada kostum seragamnya.” Biru memohon-mohon sambil menunjukan kostum yang menurut Faiz warnanya norak itu. Faiz tak tertarik melihat corak kaos tim yang menyala begitu.
__ADS_1
“Ada tulisannya manajer. Keren kan?” bujuknya lagi.
“Ayolah, Iz! Khusus hari ini aja. Paling lama cuma 2 jam kalau main 2 set. Nanti Bibi kasih hadiah deh buat kamu. Butuh apa? Sepatu baru? Atau headset baru?”
“Boleh. Sepatu air jordan ya.” Entah ada angin apa tiba-tiba monster kutub itu mau meluangkan waktu berharganya buat jadi manajer voli cabutan dengan imbalan sepatu. Entah bagaimana model sepatu itu dan berapa harganya, Biru nggak peduli. Ia sangat yakin telah menemukan manajer paling profesional buat tim volinya.
Biru langsung tersenyum riang. Ia menyerahkan kaos seragam bertuliskan manajer di dada dan punggungnya itu pada Faiz lalu menyeret anak itu ke lapangan.
Pertandingan sudah akan dimulai. Pak Zain sebagai wasit sudah berdiri di tengah lapangan memberikan pengarahan.
“Tunggu sebentar, pak Zain. Manajer kami sedang ganti kostum.” seru Biru
“Huuuu.” Suporter tim 11-1 bersorak riuh karena interupsi itu. Biru cuek melihat banyaknya suporter tim lawan. Kelihatannya tidak hanya anak kelas 11-1 saja yang jadi suporter tim lawan, tapi anak kelas 11 lain yang sudah kalah di pertandingan penyisihan. Ada solidaritas angkatan juga rupanya.
Untung Faiz cepat ganti baju. Meski jerseynya norak tapi dia tetap kelihatan keren. Jelas dong. Keponakan Biru.
“Eh, siapa dia? Kenapa orang luar bisa jadi manajer tim mereka?” protes salah satu tim 11.1 dengan suara nyaring.
“Manajer mah bebas dari mana aja. Tim voli nasional Indonesia aja boleh kok punya pelatih dan manajer dari luar negeri.” teriak Kikan sama kerasnya. Dia terkekeh bangga.
Belum mulai main saja suasana sudah panas. Shieny kapten tim lawan menghampiri pak Zein menyampaikan protes yang sama.
“Tenang, Shien! Kalian mungkin belum kenal. Faiz ini terdaftar sebagai anak kelas 10.1 juga, tapi sementara ini dia masih home schooling karena masih harus ikut kejuaraan e-sport internasional.”
__ADS_1
Kicep semua tim 11-1.
“Huuu.” Kini pemain tim 10-1 yang bersorak. Shieny tertunduk malu, namun matanya melirik Faiz dengan tatapan aneh.
Satu per satu penonton berdatangan ketika pertandingan dimulai. Entah karena seru, ramai, kostum yang mencolok atau karena ada manajer keren yang belum mereka kenal. Pokoknya penonton yang ada di luar kotak permainan tim 10-1 mulai terlihat bertambah dan bertambah lagi.
Permainan berlangsung berimbang. Faiz sang manajer cabutan yang tak tahu menahu kemampuan timnya sama sekali mampu belajar cepat membaca situasi. Dia memiliki mata dan otak yang sama tajamnya dan telah teruji dengan kemenangan selama menjadi pemain game online sepak bola yang harus mengatur posisi pemain timnya dalam kompetisi.
Time out pertama Faiz sudah bisa menyusun strategi pemenangan tim 10-1. Kikan yang biasanya menjadi spiker diubah posisinya menjadi kapten tim sekaligus libero. Sementara Hani yang karakternya tenang menghanyutkan justru didampuk sebagai spiker karena ternyata keahliannya lebih mumpuni tapi tak terlalu lihai mengatur personal. Hani memiliki tubuh yang tinggi memungkinkan jadi defender yang dapat menghalau bola lawan saat berada di depan net. Pukulan smashnya keras namun kurang mahir sebagai tosser. Selain itu Hani memiliki teknik jump service yang mematikan. Sayang jika kemampuan itu tidak bisa dimanfaatkan kalau dia ditempatkan sebagai libero.
Tim lawan juga ikut meminta pertukaran posisi pemain. Tapi kayaknya dasarnya hanya ego pribadi semata. Shieny yang biasanya menempati posisi kapten atau libero tim ikut mengganti bajunya dan beralih menjadi spiker. Dari tatapan matanya yang selalu mengarah tajam ke Biru, tampak sekali dia ingin berhadapan langsung dengan Biru yang lebih sering berposisi sebagai defender tim lawan jika sedang berada di posisi depan.
Set pertama dimenangkan oleh tim 10-1 dengan scor 25-17. Suporternya semakin banyak berdatangan bukan hanya dari kelas 10-1 saja. Sorak sorai makin riuh. Entah darimana datangnya, pasokan logistik pun bertambah saat waktu istirahat tiba walaupun dengan cepat pula berkurang sebab sebagian diambil suporter jahil.
“Keren, Iz. Besok di final, kamu jadi manajer tim kami lagi ya.” Pinta Yurika diiyakan oleh seluruh anggota tim dan suporter yang sebagian ikut nimbrung mengambil makanan logistik tim 10-1.
"Nggak janji. Jadwalku padat." jawab Faiz sambil mengangkat dagunya.
"Masih turnamen e-sport?"
"Masih lanjut ke babak berikutnya. Sudah seperempat final."
Semua tersenyum. Sebenarnya bingung mau pasang tampang kecewa karena Faiz tak bisa jadi manajer lagi atau raut senang karena punya teman yang jago main game. Namanya juga manajer cabutan. Jangan harap bisa langgeng. Sudah mau jadi manajer tim aja sudah syukur. Kalau tidak karena Faiz, suporter mungkin tak akan terlalu banyak dan semangat berjuang pun kurang. Padahal ini pertandingan bergengsi.
__ADS_1
_______
Salam sehat semua😘