METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
TIM COWOK VS TIM CEWEK


__ADS_3

Sampai di kota Sukabumi, tim cowok dan cewek berpisah arah. Remaja cowok mampir ke mall elektronik paling lengkap dan modern di Sukabumi. Sementara Biru dan Fathia menjemput teman-temannya di terminal dan stasiun Sukabumi. Mereka akan bertemu lagi di kafe Lily Sukabumi yang letaknya sedikit di luar kota Sukabumi. Acara pentingnya tentu saja mukbang ceria buat merayakan kemenangan Faiz sambil menikmati senja dan malam penuh bintang di atas bukit sebagai ciri khas kafe Lily.


Amar sangat bahagia mendapat hadiah drone dan kamera tipe terbaru yang sudah diniatkan untuk hibahkan kembali menjadi aset departemen komputer, jaringan dan multimedia pesantren. Ia memang sudah berniat seperti itu sejak dari rumah tadi, meski uang tabungannya hanya bisa untuk membeli drone tipe standar. Makanya pemberian Faiz tetap akan ia hibahkan buat kepentingan pesantren.


“Benar ini hadiah buat aku, Kak?”


“Iya. Jarang-jarang kan aku ngasih hadiah buat kamu.” kata Faiz dengan dagu sedikit terangkat.


“Tapi ini terlalu mahal.”


“Kita perlu kualitas gambar yang bagus buat VLOG pesantren, Mar. Biar subscribernya makin senang. Kan pahala yang buat VLOG pasti bertambah. Insya Allah kalau kualitas gambar dan konten dakwah bagus akan banyak juga yang tertarik melihatnya. Misi dakwah kamu bisa berhasil menggaet lebih banyak orang."


"Amiin." Amar tersenyum. Semoga yang dikatakan Faiz itu bisa diwujudkan. Memang bukan monetisasi tujuan utama membuat video tapi syiar dakwah islam yang mendunia berkat konten yang sesuai syariat.


“Alhamdulillah. Semoga rejeki kak Faiz makin lancar dan dijauhkan dari mara bahaya.”


“Aamiin.”


“Kamu tuh suka sok tua, Mar. Santai aja. Aku bangga lo punya saudara yang alim kayak kamu. Padahal kita belajar di tempat yang sama, kenapa pemahaman agama kita bisa beda ya?” Faiz sebenarnya malu, entah lari kemana ilmu yang diberikan para ustadz di pesantrennya. Padahal jelas-jelas IQ Faiz lebih tinggi.


Ternyata pemahaman agama sering kali tak terkait dengan IQ seseorangnya. Buktinya jelas. Faiz melihat sendiri bagaimana Amar selalu dimudahkan memahami ilmu agama dalam bentuk nyata di dalam aktivitas kesehariannya. Tanpa berpikir. Semua mengalir begitu saja.


Amar tak ingin berbangga hati. Apa yang dikatakan Faiz tak sepenuhnya benar. Ia hanya memiliki kecenderungan untuk berdakwah walau prestasinya biasa-biasa saja. Amar belum jadi hafidz qur’an. Ia termasuk anak yang lambat dalam hapalan qur’an. Hapalannya sekarang baru masuk jus ke 10, padahal ia sudah di pesantren dan mendalami tahfidz sejak balita. Berbeda dengan Faiz yang telah hapal lebih dari 20 juz atau Umair Abdillah yang telah hapal 30 juz dengan tilawah dan suara merdunya. Meski begitu Amar tak pernah berkecil hati. Ia tetap mengejar mimpinya kuliah di Al Azhar dan kelak ingin menggantikan kakek guru menjadi pengelola pesantren di samping rumahnya.


Semua anak lahir dengan kemampuan dan sifat yang unik. Amar tak pernah berkaca pada sosok Faiz atau siapapun. Sejak kecil ia telah menyadari kakak sepupunya itu memiliki kecerdasan dan ketampanan yang luar biasa. Tak akan mampu kalau ia jungkir balik berusaha menandinginya. Keistimewaan faiz tak pernah membuatnya iri atau silau, sebab ia tahu kelemahan Faiz yang selalu berusaha ditutupinya dari orang lain. Tidak ada orang yang sempurna. Yang ada hanya orang yang pandai memanfaatkan kelebihannya untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Itulah yang terjadi pada Faiz. Ia berusaha sangat keras untuk menjadi yang terbaik.


Kebahagiaan Amar itu sederhana, yaitu dengan melihat orang lain bahagia. Kemenangan, kekayaan atau kemegahan tidak ada artinya sebab manusia hanya perlu bahagia agar hidupnya lebih tenang dan berarti. Wejangan abahnya itu yang menempel mudah di dalam ingatan dan hatinya. Ia senang abah dan mamanya tak pernah menuntutnya untuk menjadi pemenang atau juara dalam bidang apapun. Abah dan mama hanya menuntutnya menjadi anak baik yang mengasihi semua makhluk Tuhan dan semesta, sopan dan ingat ajaran pokok agama.


“Aku akan hibahkan lagi agar jadi aset pesantren, boleh kan Kak?”


“Milikmu boleh kamu gunakan sesuka hatimu.”


“Kalau ditaruh di pesantren, anak lain bisa menggunakannya. Manfaatnya lebih banyak.”


“Kamu jadi orang kok baik banget sih, Mar.”

__ADS_1


Bukan Amar yang tersipu, tapi Azka. Anak kecil yang selalu mengekor kemana langkah kakaknya itu agak-agak aneh. Karakternya nggak jelas. Yang dipuji kakaknya kenapa jadi dia yang tersipu.


***


Berbeda dengan tim cowok yang membahas masalah serius, Biru dan Fathia malah terkikik sepanjang perjalanan menceritakan hal-hal remeh yang sama sekali tidak penting dan sudah pasti tak ada falsafah hidup di dalamnya.


“Kamu ditransfer berapa buat logistik kita, Fat?”


“Lima juta.” kata Fathia dengan senyum yang penuh kemenangan karena merasa berhasil memalak sepupunya dengan gaya manja dan kata pujian yang melangit.


“Wuih banyak banget. Kita bisa beli camilan banyak dengan uang segitu, Fath.” Biru sudah membayangkan memenuhi mobil dengan aneka camilan.


“Untung ada kamu, Fath. Umurku sekarang sudah lebih dari 17 tahun, makanya dia sudah enggak mau aku palak atas nama anak yatim lagi. Kira-kira apa lagi ya alasan yang bisa dipakai supaya duit anak itu bisa keluar dari kantongnya yang super duper ketat itu?"


Fathia menggeleng. Tak tahu. Ia jarang bertemu muka dengan sepupunya itu. Belum kenal baik bagaimana karakternya yang sesungguhnya. Lagipula abi mengajarkannya untuk tidak menengadahkan tangan pada siapapun.


"Maaf ya, Bi. Bukannya Fathia mau melawan Abi, ini cuma main-main kok." sesalnya dalam hati. Kalau saja abinya melihat tingkahnya hari ini dari alamnya yang sekarang, mudah-mudahan abi maklum. Sekarang kan abi nggak ada. Apa salahnya meminta sedikit hak anak yatim pada kakak yang punya banyak uang.


“Bi Biru yakin kak Faiz punya uang banyak?"


"Ha?" Fathia hanya bisa melongo.


"Faiz pinter banget bisnis dan kelola uang, Fat."


"Harus belajar nih."


"Orang kayak kita kayaknya nggak berbakat bisnis, Fat. Percuma. Pernah aku diajarin bagaimana menilai portifolio saham tapi akunya nggak ngerti-ngerti. Pusing. Ujung ujungnya dia marah karena kebodohan aku."


"Hihihi. Tadinya aku kira kak Faiz orangnya kaku dan dingin banget. Kayak galak-galak sombong gitu tampangnya. Ternyata orangnya baik banget ya."


“Sombongnya benar, Fat. Cuma kak Bas yang bisa ngalahin sombongnya anak itu. Tapi kalau galak mah enggak. Asal kita baik sama dia, pasti kita dapat perlakuan yang lebih baik darinya. Tapi kalau kita pertama kali aja udah nggak direspek sama dia, jangan harap dia mau baik sama kita. Apalagi kalau jahat, dia bakal berusaha membalas kejahatan itu dengan sadis sampai hancur sehancur-hancurnya. Ngeri pokoknya. Makanya mending kita baik-baik aja sama dia. Lumayan kalau uangnya bisa ngalir terus ke kantong kita. Hihihi." Biru terkikik lagi. Kalau jadi Dora ia sudah melompat-lompat sambil meneriakan kata 'berhasil' berkali-kali.


“Berarti sifatnya hampir sama ya sama ayahnya.”


“Ayahnya waktu masih muda mungkin. Kalau sekarang kak Satya bijak banget. Beda sama anaknya yang nyebelin, keras kepala dan licik.” sanggah Biru yang tak ingin kakak tersayangnya disamakan dengan anaknya walaupun memang kenyataannya mirip.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan sebuah minimarket. Kikan dan Hani yang bertampang lusuh dan kelihatan belum mandi sudah nongkrong di depan mini market dekat terminal. Katanya sudah sampai sejak sejam yang lalu. Keduanya tampak sedang menikmati minuman hangat dan pop mie yang asapnya masih mengepul.


"Hai, apa kabar? Kalian lusuh banget." Biru menyapa kedua sahabatnya dengan senyum ceria.


"Iya. Emang udah kayak gelandangan kita." jawab Kikan sambil tertawa kecil. Matanya melirik ke arah Hani yang tampak santai menikmati makanan dan minuman instan yang terhidang di meja bulat yang ada di hadapannya.


"Belum mandi berapa hari?"


"Eh jangan salah, tadi pagi kita udah mandi."


"Benar. Mandi buru-buru, sekarang udah lusuh lagi." tambah Hani.


"Dimana mandinya? Di kali?" tebak Biru iseng. Ia suka melihat ada orang mandi di sungai yang jernih di kaki gunung. Mungkin temannya yang pencinta alam juga demikian.


"Di terminal Cipanas."


Biru tertawa. Hani dan Kikan tersenyum kecut. Nggak kebayang bagaimana rasanya mandi di terminal. Pasti kamar mandinya bau dan kotor. Biru tidak pernah merasakan backpakeran sampai sebegitunya.


"Pasti mandinya cuma mandi bebek. Tampang kalian masih lecek kayak kertas yang udah diremes-remes mau dibuang ke tempat sampah."


"Biarin."


"Eh iya, kenalin. Ini Fathia."


"Keponakan kamu juga, Bi?"


"Iya." jawab Biru pendek. Malas menjelaskan kalau sebenarnya hubungan darah kekerabatan Biru dengan Fathia agak jauh, bukan keponakan langsung seperti Faiz.


"Kalian tunggu dulu di sini sama Fathia ya. Aku mau jemput kak Rio sama Doni di stasiun."


"Nggak usah dijemput, Bi. Share location aja. Biar mereka pada naik ojek online ke sini. Nggak bagus cowok dijemput, entar ngelunjak." komentar Kikan sambil menghirup kopi mini market yang rasanya pasti ala kadarnya.


Benar juga sih. Ceplas ceplosnya Kikan banyak untungnya. Lebih baik kirim share location lalu tunggu saja mereka di sini. Sambil menunggu Rio dan Doni, Biru bisa keliling mini market buat belanja camilan, obat p3k, dan minuman untuk persediaan logistik besok.


___________

__ADS_1


Happy reading💖


__ADS_2