
Walaupun Rio tak pernah bicara apapun tentang cinta dan sejenisnya, tapi Biru senang mendapatkan perhatian besar dari kakak kelasnya yang ternyata ketua OSIS itu. Selepas pertemuaannya di hari pertama sekolah Biru jarang sekali berpapasan dengannya. Entahlah. Mungkin karena Biru terlalu cuek hingga tak tahu kalau sebenarnya
sejak hari itu Rio membuntutinya tiap berangkat dan pulang sekolah. Kadang Rio juga sengaja lewat depan kelasnya pada jam istirahat. Tak pernah ada komunikasi sedikitpun diantara mereka, kecuali hai-hai saja. Itulah sebabnya Biru kaget ketika 3 orang pengurus OSIS memanggilnya ke ruang UKS dan menutup pintu pada jam istirahat.
“Kamu ada hubungan apa sama Rio?” Shieny sekretaris OSIS menatapnya dengan sorot mata tajam yang mengandung cemburu di dalamnya.
“Nggak ada hubungan apa-apa.” jawab Biru tegas. Ia sama sekali belum mengerti kemana arah pembicaraan para pengurus OSIS. Ia cuma kebetulan bertemu Rio sekali waktu membantu ban sepedanya yang dikempesin orang yang tidak bertanggung jawab. Selanjutnya mereka tak pernah punya hubungan apa-apa, kecuali saling sapa hai sesekali saja.
Biru pikir hubungannya wajar saja, tapi kenapa tampang pengurus OSIS itu pada jutek. Apa salahnya?
“Ngomong aja terus terang, Bi.” sahut Qadir dengan nada lembut dan santai. Wakil OSIS itulah yang tatapannya hari itu terlihat paling ramah. Shieny dan Popi bersikap sama juteknya. Mata mereka itu seperti pedang yang siap menghunus jantung.
“Saya harus ngomong apa, Kak? Kak Rio memang pernah bantu saya waktu ban sepeda saya kempes. Setelah itu kami nggak pernah komunikasi. Ketemu juga jarang dan nggak pernah ngobrol banyak. Cuma say helo aja.”
“Bohong. Jadi anak baru jangan belagu lo. Nggak usah kegatelan sama ketua OSIS.”
“Jaga mulut ya, Kak! Nih silakan lihat! Apa ada nomornya di hp saya.” Dengan kesal Biru meletakkan gawainya begitu saja di atas meja. Biar mereka tahu ia memang tak punya hubungan apapun dengan sang ketua OSIS. Enak aja sembarangan nuduh dan melabelinya sebagai anak baru kegatelan. Kenal juga enggak.
Popi langsung mengambil gawai itu dan melihat daftar kontak yang ada di dalamnya.
“Iya. Nggak ada nomornya Rio. Coba kamu cek lagi, Dir.”
Popi menyerahkan gawai Biru ke tangan Qadir dan Qadir pun dengan cepat mengecek ulang daftar kontak yang isinya hanya sedikit itu. Tak lama kemudian Qadir mengangguk membenarkan. Biru memang tak pernah berkomunikasi dengan Rio.
“Jadi kamu nggak sadar kalau tiap hari dia ngikutin kamu pulang?” tanya Popi.
__ADS_1
Biru menggeleng. Mana peduli. Sepedanya tidak punya spion dan Biru tidak pernah berpikir akan ada orang yang menguntitnya. Selama ini pergi dan pulang sekolah tak pernah ada masalah apapun. Aman. Biru selalu berpikir positif. Selama ia tidak berbuat buruk pada orang lain, niscaya Tuhan akan selalu melindungi dari kejahatan. Ia menikmati setiap kayuhan kakinya sebagai suatu anugerah. Tak berpikir macam-macam. Matanya fokus menatap jalanan di depannya. Tiap pulang sekolah Biru pasti lebih cepat mengayuh sepedanya karena udara Jakarta panas dan berdebu. Kondisi jalan dan penatnya tubuh selalu memacu ingin cepat sampai di rumah.
Ketiganya saling beradu pandang. Biru langsung mengambil gawainya dan memasukan kembali ke saku roknya.
“Kemarin Rio seenaknya mundurin jam rapat OSIS dengan alasan harus memastikan kamu pulang sampai rumah dengan selamat. Sebelumnya dia kabur ninggalin rapat juga gara-gara lihat sepeda kamu lewat mau pulang sekolah. Aneh banget sih. Emangnya keluarga kamu bayar dia supaya jadi bodyguard.” Shieny tersenyum sinis.
“Maaf saya nggak butuh bodyguard, Kak. Gini-gini saya bisa silat lo. Besok saya mau cari padepokannya bang Iko Uwais supaya bisa ikut latihan di sana. Mana tahu saya bisa jadi artis film laga.” Menghadapi orang nyolot, Biru harus mendongakkan kepala. Sombong dikit lah.
Biru memang sempat kepikiran juga sih nyari padepokan artis laga yang terkenal menguasai silat aliran tiga berantai itu. Bukan karena ingin jadi artis laga, tapi ingin belajar aliran silat yang berbeda. Silat Iko Uwais sedikit berbeda dengan silat klasik yang dipelajarinya di pesantren. Ekstrakulikuler pencak silat di pesantren dipimpin langsung oleh abahnya kang Asep yang jawara silat Jampang. Silat Jampang terkenal diwariskan turun temurun dari Raden Haji Alit yang masih keturunan raja pasundan. Pasti berbeda dengan silat tiga berantai yang konon perpaduan aliran silat Betawi dan Jawa Barat.
Shieny dan Popi semakin kesal melihat Biru mengangkat dagu dengan berani di hadapan kakak kelasnya. Berani sekali dia. Padahal dia sendirian berhadapan dengan 3 kakak kelas yang merupakan pengurus OSIS. Sementara Qadir melirik kedua temannya itu dengan tatapan remeh seakan hendak berkata, “Rasain lo. Anak baru itu nggak punya takut. Makanya jangan macem-macem. Slow aja. Tanya dia baik-baik.”
“Nggak usah sombong kamu anak baru.”
“Nggak sombong. Saya ngomong kenyataan, Kak. Mau bukti saya bisa silat?” tantang Biru.
“Mau bukti nggak?” tantang Biru lagi.
Shieny dan Popi mengangkat bahu lalu mempersilakan Qadir yang berkepala lebih dingin untuk menghadapi anak baru yang galak itu.
“Nggak perlu bukti, Bi. Kami percaya kok kamu jago silat. Ini hanya salah paham. Jangan dimasukin ke hati perkataan mereka. Aku yakin kok kamu benar-benar nggak tahu kalau Rio membuntuti kamu tiap pulang sekolah. Kamu juga mungkin nggak sadar kalau Rio juga sering lewat depan kelas kamu pas jam istirahat. Aku pikir mungkin dia suka sama kamu tapi nggak berani dekat karena kamu galak.” ungkap Qadir dengan gaya tenang dan senyum cengengesan.
“Ohya?”
Qadir mengangguk. Dalam hati Biru tersenyum tapi di depan 2 orang kakak kelas perempuan yang arogan itu, ia harus jaga reputasi supaya tidak mudah jadi korban perundungan.
__ADS_1
“Kami nggak mau ikut campur sama urusan pribadi Rio dan kamu. Tapi tolong bilangin sama dia, kalau lagi kasmaran jangan sampai merugikan kepentingan orang lain. Asal kamu tahu, sejak ada kamu kita sudah 3 kali nunda rapat OSIS atau mulai rapat tanpa ketua dulu sebelum dia selesai nganterin kamu. Itu kan nggak adil. Rapatnya jadi lebih lama karena nggak ada yang ngambil keputusan.”
“Itu urusan kalian sama kak Rio. Bukan urusanku.”
“Kamu harus tanggung jawab dong. Sebelumnya Rio profesional kok. Gara-gara ada kamu dia jadi begitu.” Shieny masih kukuh menyalahkan Biru.
Biru mengepalkan tangan kanannya. Kalau bukan di dalam sekolah, ingin rasanya memberikan hadiah bogem mentah buat membungkam mulut kakak kelasnya yang resek itu. Untung Qadir segera menyuruhnya pergi dengan isyarat mata dan kibasan tangannya. Shieny keluar ruangan dengan wajah tak karuan.
Biru melipat kedua tangannya di dada. Tidak ada yang boleh membuatnya terintimidasi sekalipun ia sendirian.
“Kami sudah protes, Bi. Tapi Rio kan pinter ngomong dan ada aja alasannya. Kamu aja deh yang ngomong sama dia. Bantu kami ya, please! Aku yakin dia pasti nurut sama kamu.” Kini Popi memohon dengan tampang memelas.
“Iya, Bi. Bantu kami ya.” Qadir menambahkan dengan tampang yang lebih memelas.
Melihat tampang keduanya Biru jadi luluh. Kasihan juga mereka kalau sering pulang lebih lambat gara-gara ulah ketua OSISnya yang aneh itu. Biru heran, kok bisa ya Rio bersikap begitu.
“Oke. Aku akan bantu ngomong, tapi aku nggak janji ya. Mungkin kalian salah, sebabnya bukan gara-gara aku. Aku aja jarang ketemu dia.” sanggah Biru yang masih tidak yakin akan tuduhan mereka yang belum bisa diterima nalarnya.
“Nanti pulang sekolah, sesekali kamu nengok ke belakang. Jangan pakai kacamata kuda terus, Bi. Rio pasti naik motor pelan-pelan beberapa puluh meter di belakang kamu.” jawab Qadir yakin.
Biru mengangguk. Rasanya tak sabar menunggu pulang untuk membuktikan kebenaran ucapan Qadir. Namun sayang siang itu Biru pulang bersama teman-teman kelompoknya yang ingin mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Meski demikian ia sempat menengok ke belakang buat membuktikan ucapan Qadir. Benar saja. Lewat lirikan matanya, ia sempat menangkap sosok Rio sedang mengamati dan mengikutinya dari kejauhan. Entah apa maksudnya mengintai dari jarak jauh begitu. Rasanya tak nyaman. Berasa seperti penjahat diintai reserse.
Biru membiarkan Rio dengan keanehannya. Ia baru menegurnya hari berikutnya ketika ia pulang sendiri dan Rio membuntutinya sampai di depan gerbang rumah kakaknya. Kemudian terjadilah perdebatan yang akhirnya memancing Ritha turun sebagai penengah.
_______
__ADS_1
Hei, siapa yang suka malu-malu tapi kangen? 😍⚘⚘⚘