METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
MULAI


__ADS_3

Faiz tak mempedulikan bagaimana tekat Doni yang menawarkan diri menjadi asistennya. Sepulang dari kafe Lily, anak itu masih berusaha nempel dekat dengan Faiz dan tak henti berbicara tentang momen-momen menegangkan pada setiap pertandingan Baby F. Dia bahkan hapal beberapa momen pertandingan Baby F dengan siapa, berapa skornya, berapa lama, strateginya apa dan apa komentar terbanyak dari fans atas permainannya. Memori otaknya setara dengan memori komentator sepak bola profesional. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik jadi asisten. Kalau hobi main universe war, kenapa nggak berusaha keras supaya menang terus, naik tingkat dan bisa lolos seleksi pemilihan pemain profesional dari klub tertentu.


Mungkin tujuannya ingin tetap eksis di dunia universe war walau tak mampu jadi pro player. Faiz tak mungkin mengatakan apa niat yang tersimpan dalam benaknya. Bukankah cara itu lebih bermartabat daripada mengemis-ngemis hanya untuk jadi asisten seorang pro player baru yang bahkan sudah berniat hengkang dari dunia permainan daring itu.


“Kamu berlatih terus saja supaya bisa jadi pemain pro, Don. Sesekali kita bisa latihan bareng."


“Aku sudah berusaha dari dulu, tapi tidak bisa. Aku lebih tertarik jadi asisten kamu.”


“Meskipun tidak dibayar.”


“Meskipun tidak dibayar.” ulang Doni tegas dan pasti.


“Kamu gila, Don. Apa sih yang kamu harapkan dengan jadi asisten aku.”


“Bangga aja.”


“Mau pansos?”


“Itu bonus.” Doni nyengir memperlihatkan susunan giginya yang rapi.


Doni memiliki tubuh tinggi besar. Katanya dia menguasai beladiri karate. Di sekolah ia termasuk anak yang disegani teman-teman. Temannya banyak, termasuk teman-teman perempuan yang katanya menggilainya. Dia juga tidak canggung dalam bergaul di berbagai kalangan. Suka rokok putih dan sedikit alkohol.


Kriteria Doni yang terverifikasi oleh Rio, Biru, Kikan maupun Hani sebenarnya telah memenuhi kualifikasi seorang asisten profesional. Namun Faiz masih belum bergeming. Buat apa ada asisten, toh ia sudah bertekat ingin berhenti jadi budak para pencinta game. Ia hanya akan main sesekali sesuka hatinya. Jangan ada yang menentukan kapan, lawan siapa dan bagaimana. Pokoknya jangan ada intervensi sedikit pun. Ia ingin bebas.


Keesokan harinya, Doni bangun pagi karena Amar mewajibkan tamu lelaki yang kebetulan semua muslim untuk shalat berjamaah di masjid. Doni tak mengeluh sedikitpun walaupun Faiz tahu Doni tidur larut malam karena sibuk ngobrol dengan Rio, Hani dan Kikan sambil menghangatkan badan dengan minum sedikit wine yang dibawanya di beranda belakang rumah. Biar itu jadi urusan dakwahnya Amar memperingatkan mereka hukum dan bahaya rokok serta minuman keras. Faiz tak peduli dengan sedikit perdebatan yang terjadi diantara mereka. Terserah. Malam itu ia hanya ingin jadi pendengar, pengamat dan penikmat bintang malam. Secangkir bandrek dan jagung rebus sudah lebih dari cukup buat menemaninya membuka informasi perkembangan pasar uang, saham dan krypto dari gawainya sebelum beranjak sikat gigi dan tidur.

__ADS_1


Saat sarapan, Doni masih berusaha cari muka dengan membantu menyisihkan talas rebus dan susu murni jatah Faiz. Lagi-lagi Faiz tak peduli. Kalau tidak ada Doni pun, ceu Lilis bakal menyiapkan sarapan khusus untuknya. Semua pekerja di rumah Amar tentu sudah lebih dulu mengenal siapa Faiz. Mereka selalu menghormati dan memperlakukannya dengan baik.


Tak sampai di situ saja, Selain menggoda Fathia Doni sigap membantu Biru menata barang-barang bawaan mereka di mobil. Ia bahkan menawarkan diri untuk nyetir dengan menunjukan SIM yang dimilikinya. Sungguh. Itu bikin Faiz jadi iri, sebab ia sejak kemarin memang ingin mencoba kemampuannya mengemudi di jalan kawasan perbukitan yang konturnya cukup ekstrem. Rasanya perlu menantang adrenalin dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sudah bosan berpacu adrenalin di dunia e-sport. Butuh pelampiasan di dunia nyata.


“Kita berangkat bersembilan aja. Nggak usah pakai supir, Bro. Persiapan bawa tenda seadanya kalau-kalau kita tersesat tak menemukan penginapan.”


“Setuju, Don. Gue dan Rio juga bisa gantian nyetir.” Kikan menambahkan dengan antusias. Jiwa petualangnya menggelora.


“Aku juga bisa nyetir.” ujar Faiz spontan tak mau kalah.


“Tapi kamu belum diijinkan nyetir, Kak. Ingat, kakak belum punya SIM.” Amar memperingatkan dengan mata tajamnya. Anak itu memang cocok jadi polisi, selalu mengingatkannya akan peraturan apapun termasuk peraturan yang dibuat ayah bundanya


“Aku cuma bilang bisa nyetir, Mar. Bukannya mau nyetir. Aku mau leha-leha jadi bos hari ini." kilah Faiz sambil mengambil posisi nyaman duduk malas di sebelah Doni yang sudah berada di kursi kemudi.


Amar tersenyum. Ia langsung melakukan hal yang sama persis di mobil yang berbeda yang disetiri pak Nandi. Azka setia mengekor di belakangnya diikuti Biru dan Rio di sebelah kanan dan kirinya.


"Kita ikuti pak Nandi aja, Don. Biar nggak usah repot pakai maps. Sinyal di sini masih nggak stabil. Udah kayak di planet Corsima aja."


"Di mana itu planet Corsima?"


"Belum saatnya kamu tahu, Don."


Salut. Doni mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari kirinya. Tangan kanannya masih dikonsentrasikan penuh buat mengendalikan arah kemudi. Bagi Doni, calon bosnya itu hebat. Masih muda tapi pikirannya visioner. Masa depannya pasti cerah kalau diterima menjadi asisten orang seperti dia. Planet Corsima yang tadi disebut mungkin investasi masa depan jagat raya. Hanya orang tertentu yang tahu apa, di mana dan bagaimana planet itu.


Penasaran. Mengambil hati Baby F bukan hal mudah. Padahal Doni telah terbukti berhasil memikat hati orang dengan kata-kata dan bahasa tubuhnya. Orang istimewa memang harus berbeda dari orang kebanyakan. Doni belum putus asa. Ia harus makin gencar mencari tahu pasti bagaimana karakter calon bosnya itu tanpa mengandalkan kata-kata pengakuan dari mulutnya. Memang butuh waktu yang lama. Butuh mengamati apa yang dilakukannya tiap hari untuk mengerti kebiasaan sehari-hari yang biasanya berkaitan dengan karakter seseorang. Apa ya kira-kira hal yang menarik buat dia?

__ADS_1


"Makasih ya, Bos. Udah berbaik hati bayarin kita paket wisata alam yang mahal di Citarik. Pas bos bilang mau ke Citarik semalam, rasanya seperti dapat durian runtuh."


Faiz hanya merespon dengan senyum samar. Kelihatannya ia tak butuh pujian.


"Surprise banget. Udah lama pengen ke Citarik, tapi kebentur nggak ada teman dan dana. Orang kayak aku susah banget buat nabung."


"Kenapa?" Mulai ada respon lagi meski hanya satu kata tanya.


Doni tersenyum senang. Bagi orang lain satu kata itu mungkin tak berharga. Bagi Doni satu kata itu adalah peluang untuk menunjukan diri di hadapan calon bosnya.


"Nggak tahu cara nabungnya. Ada aja teman yang menggoda buat ngabisin duit aku yang pas-pasan." Doni bicara kenyataan. Uang yang diberikan orang tuanya tak pernah lebih, selalu saja ada kurangnya. Mamanya sering memarahinya gara-gara ia meminta uang tambahan sebelum waktunya. Padahal kalau dipikir-pikir orang tuanya memberi uang saku yang tidak sedikit.


Faiz tersenyum tipis.


"Ajarin cara beternak uang dong, Bos. Kata Biru kamu selain jago e-sport juga lihai mainin instrumen investasi."


Faiz melirik dengan sinar matanya yang tajam. Ia sangat waspada membaca situasi. Dalam hati ia mengutuk ulah bibinya yang buka kartu tentang keahliannya yang tak diketahui banyak orang. Keahlian yang menurutnya didapati dari warisan genetik ayahnya. Muncul insting begitu saja seperti ilmu yang diturunkan dari langit tanpa proses kursus atau belajar formal. Modalnya hanya berani mencoba mengandalkan insting. Analisa akan muncul pada tahap berikutnya mengikuti pola kebiasaan semi terstruktur semacam algoritma.


"Investasi itu berjalan berdasarkan insting aja, Don. Susah menjelaskan dengan kata-kata bagaimana caranya. Kamu kalau tertarik investasi, ya coba aja. Di tengah jalan kamu akan mempelajari ada pola-pola grafik tersendiri yang terbentuk dari turun naiknya harga. Kalau kita perkirakan pada tahap selanjutnya akan terus naik signifikan, beli yang banyak. Kalau potensinya akan turun, ya dijual aja. Kalau turun tiba-tiba karena sentimen pasar padahal portofolionya bagus kita simpan sampai jangka waktu tertentu sampai dia naik lagi."


"Sesederhana itu?" Padahal dalam hati Doni mengeluh. Beuh. Mendengarnya saja kepalanya sudah berdenyut-denyut. Apalagi memraktekkannya.


Keterangan Faiz sama sekali tak masuk dalam logikanya. Apa betul investasi itu memiliki pola tertentu yang bisa diprediksi berdasarkan riwayat historis yang dipadukan dengan berita atau rumor sosial, ekonomi, dan politik yang sedang berlangsung di suatu negara. Analisa portofolio saham pasti bikin pusing. Tidak hanya soal angka dan pola pergerakan harga saja.


Lebih baik tak usah bertanya lebih jauh. Salah langkah kepalanya bisa tumbuh jadi tiga. Biar Faiz saja yang mikirin bagaimana portofolio saham, forex dan krypto. Hanya otak dia yang sanggup menganalisa tanpa merasa terbebani. Doni cukup mendukung apapun yang dilakukan bosnya.

__ADS_1


______


Always be happy💖


__ADS_2