METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
TERCIDUK


__ADS_3

Kembali masuk ke dalam rumah, Biru masih mendapati keluarga kakaknya masih bercengkrama di ruang keluarga menonton komik multi dimensi yang diciptakan


Faiz buat ayah bundanya. Satya tersenyum memangku Faiza yang bergelung manja di pahanya. Tangannya merangkul bahu istrinya yang duduk menyandarkan kepala di bahu sisi sebelah kanannya. Sayang, tayangan komik pendek itu sudah hampir rampung saat Biru sampai di tengah kemesraan keluarga mereka.


“Keren, Iz. Ayah suka kreasi kamu.”


Faiz tersenyum bangga dengan pujian ayahnya.


“Bunda? Komentar dong!"


“Komik kamu agak lebay, bunda kok jadi malu sendiri menontonnya. Apalagi pakai ada adegan bareng lumba-lumba itu. Bagaimana kalau adegan itu dipotong saja?”


“Wuis, jangan! Justru disitu nilai jualnya. Romantis banget itu, Bun.” tolak Faiz penuh semangat. Faiz merasa adegan itulah yang menjadi titik balik cinta kedua orang tuanya. Unik dan layak mendapatkan apresiasi. Buktinya sampai sekarang keduanya masih langgeng meski pernyataan cintanya hanya dengan sebentuk rumput laut yang dijatuhkan lumba-lumba ke dalam perahunya. (yang belum tahu adegan ini baca novel sequel sebelumnya ya; terjerat cinta gadis bermata biru)


Apa romantis itu meski memalukan dan dipertontonkan? Sungguh. Sampai sudah menjelang setengah baya begini Ritha masih malu kalau mengenang cinta lumba-lumba di Tanjung Kapota dan kasus tersesat di laut Banda. Cerita itu yang selalu diulang-ulang Satya pada buah hatinya yang akhirnya didokumentasikan dalam bentuk komik NFT oleh puteranya. Faiz sangat terinspirasi dan menganggap kisah cinta ayah bundanya fenomenal dan punya nilai jual. Dasar keturunan pebisnis. Masih remaja aja otaknya sudah cuan melulu.


Biru ikut senyum-senyum. Komik multi dimensi Faiz memang keren dan ceritanya pun unik. Kapan ya Biru punya kisah cinta seromantis itu?


“Adegan lumba-lumba itu memang romantis banget, Kak. So sweet banget... Biru jadi kepingin ke Wakatobi." gumam Biru dengan penuh harap.


Pikiran Biru melayang membayangkan andaikan ia yang menjadi Ritha di perahu itu. Aih, rasanya bunga-bunga kecil yang biasa bertaburan di sekitarnya berubah jadi kunang-kunang yang bersinar kelap kelip aneka warna.


“Boleh, Bi. Tandai kalau ada long-weekend. Kita harus ke Wakatobi bareng sekalian ngontrol operasional resort Goldlight di sana.” jawab Satya santai dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Wow. Kapan? Iza nggak sabar mau ketemu lumba-lumbanya." Si kecil Iza langsung berbinar-binar membayangkan pergi liburan lagi.


Aduh. Meski ada letupan bahagia yang bergejolak. Ritha ingin menghindar perjalanan ke Wakatobi sebab masih enggan mengulang perjalanan dengan kisah yang berbeda bersama keluarga. Pasalnya Satya selalu memutar memori memalukan itu berulang-ulang kali. Tak pernah bosan mengulang cerita yang sama lagi dan lagi. Oh, Wakatobi… Kenanganmu begitu lekat di kepala. Dibuang sayang. Dilupakan jangan.


“Temanmu sudah pulang, Bi?” tanya Ritha mengalihkan topik pembicaraan agar rasa malunya mereda. Pipinya sudah terlalu panas karena malu, butuh pendinginan agar seimbang.


“Sudah, Kak.”


“Ada urusan apa?”


“Minta Biru supaya daftar member klub Flamboyan.”


“Terus kamu mau?”

__ADS_1


“Enggak. Nggak jelas itu klub apaan. Biru heran aja kenapa buat jadi member harus bayar mahal dan mesti ngasih bukti kepemilikan aset juga.”


“Klub kayak gitu mencurigakan. Nggak jelas aktivitasnya apa. Mending kamu ikut klub olahraga aja yang aktivitasnya jelas dan sesuai minat kamu.” saran Ritha santai. Ia bersyukur Biru tidak terpengaruh pada tawaran-tawaran yang tidak jelas juntrungannya. Padahal anak itu masih terlihat lugu dan sepertinya gampang ditipu.


“kakak nggak tahu klub flamboyan itu apa?”


“Enggak.”


“Flamboyan Itu klub sosialita muda yang pengen kaya dan pamer kekayaan, Bun. Kegiatannya pamer, foto-foto dan melatih anggotanya buat menjadikan flexing sebagai bagian dari strategi pemasaran bisnisnya dan memikat calon pasangannya.” terang Faiz dengan ekspresi innocentnya. Cuek.


“Eh, kok kamu tahu Iz? Dapat info dari mana? Apa kamu pernah masuk klub itu?”


“Nggak harus masuk untuk jadi tahu, Bi. Ada beberapa teman sesama gamer yang pernah cerita didekati cewek yang diduga dari klub flamboyan. Mereka ngakak begitu tahu isi instastory, foto dan reelsnya mirip-mirip semua. Mereka tuh sengaja ngeDM anak-anak gamer yang tajir ngajak kenalan dan ketemuan di resto-resto mewah, club malam atau tempat-tempat ekslusif lainnya. Ada aja anak gamer yang nanggepin buat main-main dan jadi bahan olok-olokan di grup."


“Termasuk kamu?” tanya Ritha dengan suara penuh intimidasi dan wajah yang berubah menyeramkan. Sinar matanya menghunus bagai pedang. Dadanya bergemuruh saat tahu pergaulan online putra sulungnya ternyata menyerempet bahaya.


Senjata makan tuan. Wajah Faiz langsung memerah. Keceplosan kalau ternyata ia juga bermain media sosial. Anak yang biasanya mengangkat dagunya kini menurunkan dagunya hingga hampir menyentuh leher. Sama sekali tak berani menatap mata ibunya. Apalagi meminta pertolongan ayahnya. Mau garuk-garuk kepala pun takut karena merasa terciduk bersalah.


"Enggak, Bun." Faiz angkat tangan tanpa berani melirik ke mana pun.


“Bunda tahu sendiri Faiz nggak pernah kemana-mana selama 3 bulan ini. Mana mungkin main sama cewek-cewek aneh kayak gitu. Boleh cek CCTV atau tanya security."


"Faiz ngaku deh emang main media sosial pakai fake account dari mang Rony. Tapi sumpah, DMnya nggak pernah dibaca. Akun media sosial itu berguna buat mendukung karir di e-sport, Bun. Isinya cuma postingan screenshoot kemenangan, tutorial game, atau video streaming pertandingan universe war dan football warrior aja kok, Bun. Demi Allah, sumpah.” katanya sembari menunjukan dua jarinya membentuk huruf ‘V’


Faiz terlihat gemetar, tak seangkuh biasanya. Mungkin karena Ritha tak berhenti menyorotkan sinar matanya yang setajam pedang pada putera sulungnya.


“Coba cek, Bunda mau lihat langsung akun kamu. Berikan ponselmu pada Bunda!”


Faiz melirik ayahnya namun tak digubris. Ayahnya terlihat sibuk mengelus-elus rambut Faiza yang bergelung manja di pangkuannya. Itu artinya ayahnya tak peduli, menyerahkan kekuasaan penuh pada bundanya buat menjadi penyidik. Susah. Bunda itu lebih jeli dan awas daripada penyidik Bareskrim. Matanya saja lebih menyeramkan dari monster. Kadang matanya itu bisa kayak lensa mikroskop yang bisa menguliti detail jasat renik yang ultra mini.


Pasrah saja. Faiz membuka password lalu menyerahkan ponselnya pada bunda yang tak henti menatapnya dengan intens dan penuh curiga. Sebenarnya tak ada sesuatu yang bakal jadi masalah terkait isi akun itu. Faiz hanya takut bundanya marah karena ia tidak pernah memberitahu soal akun sosial media itu. Bunda nggak suka anaknya main belakang. Bisa saja bunda memblokir akun media sosialnya yang selama ini digunakan untuk media komunikasi yang efektif dengan para penggemarnya. Dua hari lagi pertandingan final universe war. Ia butuh dukungan banyak fans yang dimobilisir dari media sosial agar lebih banyak lagi orang yang menontonnya bertanding. Setelah selesai final universe war, Faiz sudah berniat tidak akan aktif lagi di media sosial. Capek baca komentar fans dan hatter yang sama sama menyebalkan.


Ritha membuka akun media sosial di ponsel anaknya dengan ribuan pertanyaan di kepala. Selama ini ia membuka akun media sosial hanya untuk mengintip aktivitas keluarga dan para pegawai rumahnya di dunia maya. Berdasarkan penelusurannya sebagai reserse media sosial keluarga, Faiz diketahui tak punya


akun media sosial. Biru belum lama buka akun tic tak yang isinya hanya video Faiza menari dan selebrasi kemenangan tim voli kelasnya. Suaminya tetap tak pernah tertarik bermain media sosial. Hobi Satya saat ada sedikit waktu senggang tetap konsisten dari sebelum menikah sampai sekarang, yakni bermain forex dan saham di aplikasi resmi yang berlisensi pemerintah. Ritha pikir semuanya aman terkendali. Makanya ia kaget mengetahui Faiz punya fake account. Khawatir anaknya terjerumus dalam pergaulan media sosial yang salah. Sebagai ibu naluri alami bak intelegen Bareskrim harus terus berjalan demi kepentingan pendidikan anak. Mungkin seluruh ibu di dunia ini pun memiliki naluri yang sama.


Ritha melirik Faiz yang masih tertunduk. Faiz benar. Di akun media sosialnya sama sekali tidak ada foto dirinya atau keluarganya. Bersih. Dia memang tak suka pamer. Pengikutnya cukup banyak dan sudah dicentang biru oleh aplikasi itu meskipun akun itu tidak dibuat dengan identitas asli puteranya. Di dunia maya dia terkenal sebagai "Baby F" yang merupakan nama akun gamenya.

__ADS_1


Pengakuan Faiz tidak ada satu pun yang salah. Postingannya hanya berisi screenshoot pamer


kemenangan demi kemenangan yang tiap hari diperoleh Baby F dalam setiap pertandingan dengan berbagai pilihan "Heroes" yang disediakan oleh aplikasi. Ada juga video tutorial cara memenangkan game dan streaming saat dia sedang bermain game. Semua postingannya hanya tentang game dan mendapat banyak apresiasi jempol dan komentar.


Begitu membuka isi DM, Ritha langsung mengelus dada. DM yang masuk mayoritas masih tercetak huruf tebal. Faiz tak pernah membukanya. Entah tidak sempat atau memang sama sekali


tak tertarik membukanya. Isinya kebanyakan pesan dari perempuan-perempuan muda yang mengajak kenalan dan ketemuan di suatu tempat. Melanjutkan kepo ke postingan akun-akun yang menDM Faiz membuat kepalanya jadi ingin bergoyang-goyang bagai boneka kucing yang ada di depan toko-toko babah tionghoa di pasar. Seperti Faiz bilang, mereka semua setipe. Cantik, glowing, memakai barang branded dan foto-fotonya dibidik oleh kamera serta fotografer profesional. Posenya, latar belakangnya sampai mode pakaiannya pun mirip-mirip. Begitukah akun sosialita muda yang katanya tergabung dalam klub flamboyan? Seragam. Seperti orang yang tak punya identitas pribadi.


"Faiz sudah janji pada mang Rony dan diri sendiri. Lusa setelah selesai turnamen universe war Faiz bakal balikin akun itu ke mang Rony lagi, Bun. Mang Rony yang bakalan nerusin aktivitas akun dan gamenya."


Ritha masih memandang tajam puteranya mencari kepastian ucapannya barusan.


"Demi Allah, Bun. Faiz juga sudah bosan jadi budak game. Faiz akan berhenti main game"


"Bunda tolong doain supaya Faiz menang di final 2 hari lagi ya. Faiz ingin mundur dengan dagu terangkat, bukan mundur sebagai pecundang. Please."


Ritha tersenyum. Ia percaya anaknya tak pernah mengingkari apa yang sudah keluar dari mulutnya.


"Faiz akan ke sekolah buat menemani dan melindungi Bibi. Kasihan. Bibi kan orangnya agak-agak sedikit bodoh jadi mudah diperalat orang."


Biru mendelik. Eh, kenapa malah menghina Bibi. Nggak sopan ya jadi keponakan. "Bibi yang diminta Bundamu ke Jakarta buat menemani dan ngawasin kamu, Iz. Bukan sebaliknya." celetuk Biru gemas.


Faiz menjawab dengan senyum remeh yang membuat Biru makin jengkel. Sayang, ia tak ingin bertengkar di depan kakaknya. Ingat akan petuah lama, yang lebih tua dan waras harus mengalah.


Urusan Faiz sementara aman. Namun Ritha mengalihkan pandangannya pada Satya. Curiga itu datang tiba-tiba. Tatapan pedangnya kini beralih menghujam suaminya yang sejak tadi diam memanjakan putrinya dengan sapuan tangan di punggung yang membuat gadis kecilnya tertidur di pangkuannya.


"Jangan-jangan ayah juga punya fake account?"


"Fake account buat apa sih, Bun?"


Ritha menyerahkan ponsel Faiz pada suaminya dengan posisi masih membuka direct massage dari cewek-cewek glowing yang penampilannya nyaris serupa itu.


___________


Siapa yang mau ikut klub flamboyan? Hayo ngaku😁


Sehat terus ya, supaya tetap semangat sebagai penyidik bareskim bagi keluarganya masing-masing🤭

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya


Buat yang masih punya stok vote dan hadiah, boleh dong dihadiahkan buat keluarga Satya agar makin populer.🙏


__ADS_2