METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
ELEGI MAMA


__ADS_3

Biru tahu gen dari siapa yang membuat otaknya tak sejenius Faiz. Tapi tak apa, sekarang ia sudah sadar dunia butuh kompleksitas agar bisa saling mengisi satu sama lain. Tidak semua orang harus jadi orang jenius. Beruntung ia tak hidup dalam pengasuhan mamanya. Paling tidak, dengan posisinya sekarang sedikit rasa dengki pada keponakan memacu semangat belajar untuk mengejar ketertinggalannya dalam bidang akademis. Biru jadi rajin mengikuti les-les privat. Targetnya tidak muluk-muluk, hanya bisa masuk 5 besar di kelasnya pada semester depan.


Dalam hati Biru mengucap hamdalah, mensyukuri setiap ketentuan Tuhan atas dirinya. Semuanya jadi terasa ringan saat kita bisa menerima diri apa adanya. Semua harus disyukuri sebab Biru percaya Tuhan akan menambah nikmat dan anugerah pada hambaNya yang selalu bersyukur.


Mbak Sari yang duduk di meja yang terletak di bagian luar resto itu menganggukan kepala ketika ia memberikan isyarat agar bersiap pulang.


“Biru  pulang sekarang ya, Ma” Biru berdiri sambil membenarkan letak tas ranselnya.


“Rasanya baru sebentar kita bersama, Bi. Kamu tidak kangen mama? Apa kakakmu mengajarkan kamu supaya melupakan mama?”


Ah, Mama. Kenapa pikirannya jelek melulu sih? Kenapa mama tidak bisa berterima kasih pada kakak yang selama ini merawatnya? Lihatlah. Biru baik-baik saja, Ma. Tidak kurang suatu apapun. Biru punya kehidupan yang jauh lebih baik daripada anak yatim yang terlantar di luar sana.


“Bi …”


Biru kembali duduk dan meremas jari jemarinya. Sesungguhnya ia masih merasa tak nyaman dengan pertemuan ini, tapi tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Ia tak mau jadi anak durhaka. Mungkin ia masih canggung. Apalagi pola pikir dan gaya hidup mamanya tak sejalan dengan apa yang ditanamkan pada dirinya sejak kecil. Biru tak ingin berlama-lama. Ia mulai merasa pertemuan ini akan membuat keduanya berada dalam posisi sulit.


Sejak tadi ia melihat mamanya tidak bisa duduk dengan santai dan nyaman. Entah apa yang membuatnya gelisah. Berkali-kali ia memergoki mamanya melirik mbak Sari yang duduk mengawasinya dengan mata tajam di meja resto yang berada di luar ruangan. Sudah jelas pengawal itu tak mungkin mendengar pembicaraan keduanya, tapi mama selalu menunjukan sikap waspada dan raut tak suka.


“Kak Lily  bilang, keluarga mama sudah menganggap Biru mati beberapa hari setelah Biru dilahirkan. Mama sekarang juga sudah punya keluarga baru. Biru bukannya tak ingin bertemu mama. Biru hanya takut kehadiran Biru akan mengusik kehidupan mama. Biru sayang mama kok. Sejak kecil kak Lily membiasakan kami selalu berdoa untuk kedua orang tua setiap habis shalat. Ustazah di pesantren juga bilang, tanda cinta anak pada orang tua


adalah dengan berusaha menjadi anak baik dan berdoa sebab hanya doa anak yang bisa menyelamatkan orang tua di akhirat nanti.”

__ADS_1


Rissa menunduk. Sepanjang hari makin berat beban yang tak mampu diutarakannya. Biru benar. Pertemuannya dengan anak kandungnya membuatnya berada dalam posisi sulit. Sampai saat ini ia belum bisa cerita pada keluarganya tentang Biru. Tidak. Ia belum siap. Takut membayangkan akibat yang harus ditanggungnya.


Tapi Nurani tidak bisa berbohong, setiap ibu pasti menyayangi darah dagingnya. Apalagi ia telah terpisah belasan tahun lamanya dan tak pernah bisa memiliki anak lagi setelah kelahirannya.


“Mama sayang kamu, Bi.” Hanya kata itu yang mampu terucap di bibirnya.


“Biru juga sayang mama.”


Bibir puterinya merekahkan senyum. Mereka saling berpelukan. Cukup lama. Rasanya tak ingin dilepaskan


begitu saja. Ajaib sekali membayangkan tubuh kecil yang selama 9 bulan bersemayam dalam rahimnya kini tumbuh lebih tinggi dan lebih besar daripada mamanya.


Tak bisa dipungkiri darah Wirajaya mengalir lebih kental dalam diri Biru dibandingkan dirinya. Biru sederhana,


cantik dan pemberani. Sama sekali tidak seperti Rissa. Mamanya hanya perempuan lemah yang tak punya keberanian memperjuangkan puteri semata wayangnya. Ia lebih takut kehilangan semua fasilitas yang dinikmatinya tanpa kerja keras. Saat ini kehidupan mewahnya dibiayai suami yang tak lain pesaing bisnis anak-anak mendiang suaminya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan dirinya seandainya semua fasilitas yang diterimanya selama ini mendadak dicabut karena suaminya tahu anaknya dari Wirajaya masih hidup. Ia juga khawatir anaknya jadi sasaran dendam karena darah Wirajaya mengalir di tubuhnya. Bagaimanapun buruknya seorang ibu, pasti tak sampai hati membiarkan darah dagingnya menderita.


Sekali lagi ia mengeluh, bisa apa?


“Kita bisa ketemu lagi kapan saja kalau mama kangen Biru. Mama sudah tahu di mana sekolah Biru. Mama juga bisa singgah ke rumah Menteng. Pintu selalu terbuka buat mama.”


“Tapi …”

__ADS_1


“Kak Satya dan keluarganya tidak keberatan kok kalau mama datang. Tadi mama dengar sendiri kan kalau kak Ritha titip salam buat mama?” Biru berusaha meyakinkan, namun wajah ibunya masih bimbang.


“Mama tidak bisa ke rumah Menteng karena takut keluarga baru mama tahu?” tebak Biru.


Rissa mengangguk.


“Kalau begitu, kita backstreet. Hahaha…”


Kata orang pacaran backstreet itu asyik juga. Ada sensasi berdebar-debar saat menjalani hubungan diam-diam. Tapi bagaimana bila hubungan ibu dan anak yang harus backstreet? Apa sensasinya ya? Akh, tak perlu mikir macam-macam. Capek sendiri nanti. Cukup jalani saja. Toh yang beresiko terhadap hubungan ini hanya ibunya, bukan Biru. Kak Satya dan keluarganya terbuka. Sama sekali tak menghalanginya bertemu ibunya meski hubungan diantara mereka terlihat tidak baik-baik saja.


Rissa masih menimbang bimbang. Bibirnya otomatis tersenyum saat melihat putrinya menertawakan hal yang sebenarnya sama sekali tidak lucu. Tapi hatinya masih merintih. Bahagia rasanya bisa menemukan darah dagingnya yang semula sudah dianggap mati, tapi belum tahu bagaimana caranya bisa selalu bersama dan menebus semua rasa rindu yang terkubur selama ini. Seorang ibu tetaplah ibu, selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya.


“Ya. Kita backstreet.”


“Mama nggak akan menculik aku lagi kan?”


Rissa menggeleng meski ia tak yakin apakah ia dapat melindungi anaknya yang mungkin saja bisa dijadikan korban balas dendam atas kekalahan – kekalahan bisnis suami dan keluarganya. Suaminya sering kali uring-uringan sebab beberapa tahun belakangan Satya mengakusisi perusahaan bayangan grup bisnis suaminya yang memang sengaja dibangkrutkan, memperbaiki kinerja manajemen lalu menjualnya kembali ke pasar modal setelah sehat dengan harga saham yang melambung. Apa yang dilakukan Satya itu seperti sebuah ejekan yang membuat suaminya merasa terinjak-injak dan semakin sakit hati. Apalagi anak buah Bas sudah terlampau sering terlibat sengketa langsung di pelabuhan maupun di dunia jaringan informasi. Segala cara digunakan untuk menjatuhkan Goldlight dan dominasi keluarga Wirajaya, termasuk star up baru yang bergerak di bidang cyber security. Harus dilumpuhkan.


Rissa menghela nafasnya. Jauh di lubuk hatinya ia tetap menginginkan anaknya bahagia. Tak seharusnya Biru jadi


korban sengketa dan persaingan bisnis yang mungkin sama sekali tak dipahaminya. Tapi posisinya benar-benar sulit. Memilih antara anak dan pasangan hidup bukan perkara mudah bagi perempuan yang tak dapat berdiri sendiri seperti dirinya. Kalau ia perempuan mandiri, tentu saja ia lebih memilih anak. Suami bisa berubah jadi mantan. Apalagi dia memiliki perempuan lain dalam hidupnya. Rissa tak mau kehilangan fasilitas, tapi tak bisa membiarkan anaknya yang tak bersalah jadi korban.

__ADS_1


__ADS_2