
Kebersamaan selama beberapa hari ini membuat Biru semakin akrab dengan Fathia, anak SMP yang ceria dan lincah. Mereka berkegiatan bersama sejak awal
liburan sekolah. Dari mulai ikut kajian pesantren kilat, jalan-jalan melihat kebun dan peternakan sampai membantu para pekerja pesantren menyiapkan perhelatan haul meninggalnya abi Fathia di aula dan masjid pesantren. Peserta pengajiannya membludak. Bukan hanya dihadiri para santri, pengurus pesantren, guru dan warga sekitar. Rombongan karyawan PT Cantika Bestari, tempat dimana abi Fathia terakhir bekerja juga turut hadir dalam acara peringatan mengenang 2 tahun kematian Ardhi dan anak bungsunya. Beberapa tokoh masyarakat, kerabat jauh, dan teman baik almarhum turut hadir. Itu sebabnya Biru dan Fathia sibuk membantu para pekerja menyiapkan souvenir dan nasi berkat tambahan untuk para tamu yang hadir.
Fathia terlihat sedih saat foto besar abi dan adik bungsunya dipampang di depan aula, namun ia bersemangat menyukseskan acara doa bersama yang diperuntukan bagi almarhum abi dan adiknya. Kesedihan hanya terlihat di sudut matanya yang berair. Sama sekali tak mempengaruhi gerak lincahnya merapikan souvenir berupa sarung, sajadah, tasbih dan buku yasin yang dimasukan dalam satu goodie bag parasut cantik yang disiapkan khusus oleh Fathia dan eyangnya.
“Kita sama-sama anak yatim ya, Bi." ucap Fahia sendu. Biru mengangguk membenarkan.
Fathia tersenyum menghapus bulir bening yang menetes di sudut mata dengan punggung tangannya. "Aku lebih beruntung karena masih sempat merasakan kasih sayang abi, sedangkan Bibi lahir eyang Wirajaya sudah nggak ada.” ujar Fathia menghibur hatinya sendiri. Hidup tak harus terus diliputi kesedihan sebab banyak orang yang lebih tidak beruntung dan mampu tegar.
Kalimat itu terdengar memilukan, namun Biru merasakan aroma keikhlasan dalam setiap katanya.
"Abi dan adik Fathi sudah menunggu di surga. Tugas Fathi di dunia adalah berdoa dan berbuat baik agar kelak bisa berjumpa lagi dengan mereka." Entah darimana datangnya kata sok bijak itu. Padahal Biru kadang masih lupa berdoa untuk papa yang tak pernah ditemuinya.
Fathia langsung memeluk tubuh Biru. Kesamaan nasib membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Biru mengelus punggung gadis remaja cantik yang memiliki bola mata hitam yang menentramkan dan wajah yang melukiskan anggunnya perempuan jawa priyayi. Fathia benar-benar mirip eyang Dewi. Tutur katanya, pilihan kalimat santunnya dan cara tertawanya yang anggun seperti telah terdisain dan tertata dengan struktur yang baik. Suaranya empuk, apalagi kalau sedang menyanyikan tembang-tembang lawas yang Biru tak pernah dengar
sebelumnya.
Awalnya Biru merinding saat pertama kali mendengar Fathia melantumkan tembangnya di malam hari. Padahal ia hanya menyanyikan tembang ilir-ilir yang sering dinyanyikan para pendakwah seni pengikut kanjeng Sunan Kalijaga selain sholawatan. Suaranya yang mendayu lembut mirip sinden membuat lagu itu terdengar sangat sakral.
Lir ilir...lir ilir... (Bangunlah... bangunlah)
Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo royo (Demikian menghijau)
Tak senggo temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)
Tak senggo temanten anyar... (Bagaikan pengantin baru)
Cah angon cah angon (Anak gembala...anak gembala)
Penekno blimbing kuwi (Panjatlah pohon belimbing itu)
__ADS_1
Lunyu lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodot iro (Untuk membasuh pakaianmu)
Kanggo mbasuh dodot iro... (Untuk membasuh pakaianmu)
Dodot iro dodot iro (Pakaianmu...pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (Terkoyak dan sobek bagian samping)
Dondomono jlumatono (Jahitlah benahilah)
Kanggo sebo mengko sore (Untuk menghadap nanti sore)
Kanggo sebo mengko sore... (Untuk menghadap nanti sore)
Mumpung padang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (Mumpung banyak waktu luang)
Selama liburan Biru tidak tinggal di rumah Lily untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Niatnya itu didukung penuh oleh Ritha. Ia disarankan tinggal berdua Fathia di salah satu kamar asrama putri baru yang masih kosong. Sementara Sari sang bodyguard tinggal di kamar sebelahnya. Kamar yang dipilih Fathia terletak di lantai 2 berhadapan dengan beranda masjid. Tanpa disadari posisi kamar itu mendukung Biru buat mengenang kebiasaan buruknya mencuri pandang saat kang Asep hendak masuk ke masjid untuk sholat subuh. Di antara temaram cahaya, kang Asep masih tetap tampak berwibawa. Wajahnya tenang seolah memancarkan aura dan cahaya yang membius. Biru masih merasa damai melihat pemandangan yang tiap pagi selalu ditunggunya.
Selain kebiasaan buruk itu Biru tak berani bertindak lebih. Ia sadar harus menundukan pandangannya sesuai perintah agama. Demi kebahagiaan kak Lily, Biru harus bertekat jangan sampai ada bunga-bunga memenuhi hatinya lagi. Itu sama sekali tidak baik.
“Bi, kenapa sih suka berdiri di situ saat menjelang shalat subuh? Kenapa nggak turun lalu masuk aja ke masjid. Bukankah lebih baik shalat tahiyatul masjid atau shalat fajar dulu sebelum masuk waktu subuh. Berdiri di situ malah terasa dingin.” Tadi pagi Fathia mulai mempertanyakan keganjilan kebiasaannya itu.
DEG. Biru segera tersadar, berarti besok ia harus menghilangkan kebiasaan buruk itu. Jangan sampai ada berita tak menyenangkan yang bakal membuat kak Lily bersedih. Apaan sih Biru. Kamu harus move on. Kamu harus move on. Biru mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Fathia benar, seharusnya waktu sebelum shalat subuh digunakan untuk yang lebih bermanfaat, yaitu shalat, dzikir atau baca qur’an. Bukannya mencuri pandang pada suami orang.
“Iya, dingin. Tapi dingin segar seperti ini yang aku rindukan, Fat. Di Jakarta tidak pernah ada kesempatan seperti ini.” Untung otak Biru cukup cekatan menemukan alasan lain yang lebih masuk akal daripada alasan yang sebenarnya.
Fathia tersenyum membenarkan ucapannya. Tentu saja, dia tak boleh tahu alasan yang sebenarnya meski selama tinggal bersama 3 hari ini keduanya selalu berbagi cerita tentang banyak hal. Keduanya banyak kesamaan. Sama-sama kehilangan ayah dan agak lemot dalam urusan akademik. Biru dan Fathia adalah anak yang memperoleh anugerah Tuhan berupa kemampuan kinestetik. Bedanya Biru lebih suka olahraga, sementara Fathia mewarisi keahlian eyangnya dalam hal menari. Tak heran jika eyang Dewi sangat menyayanginya. Mungkin karena merasa memiliki boneka mungil yang merupakan kloning dirinya. Kebahagiaannya tentu meluap tumpah sebab memiliki cucu mewarisi kecintaannya pada gamelan dan tari tradisional.
Setelah pulang dari rumah ambu, Biru mengajak Fathia ke rumah Lily untuk bertemu dengan sepupunya karena Faiz sudah tidak ada di rumah eyang guru ketika mereka sampai di sana. Fathia tertarik dengan tawaran Biru ikut piknik ke tempat-tempat wisata di Sukabumi selatan. Anak itu juga diajaknya untuk membujuk Faiz agar meluangkan hari bersama mereka.
“Yang, aku boleh tinggal di sini sampai akhir liburan sekolah ya. Aku mau ikut main dengan bi Biru dan kak Faiz ke pantai dan air terjun.”
__ADS_1
“Kamu yakin bisa jaga diri sendiri?”
“Yakin. Kan ada bi Biru dan kak Faiz. Ada mbak Sari juga yang jadi body guard.”
“Kalau begitu, eyang akan bilang pada mbak Gayatri kalau kita menunda kepulangan kita.”
“Eyang mau nemenin aku sampai liburan selesai?”
“Memangnya kamu tega nyuruh eyang pulang sendirian?”
“Kan ada pak Bunadi.”
Eyang Dewi malah merangkul cucunya yang sudah hampir sama tinggi dengan dirinya, “Pokoknya kita harus berangkat dan pulang sama-sama.” tegas eyang Dewi sembari mengibaskan selendang yang selalu setia
tersampir di pundaknya.
Fathia merangkul eyangnya seraya menatapnya dengan senyum yang mengungkapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar. “Terima kasih, Eyang. Fathi sayang eyang.”
“Eyang juga sayang Fathi.”
Owh, so sweet. Senang rasanya punya nenek seperti eyang Dewi. Sayang, Biru tak punya nenek. Ada rasa iri menyusup di dalam dadanya.
Sampai di rumah besar itu Biru tak mendapati seorang pun kecuali para pekerja rumah. Kemana Faiz, Azka dan Amar ya? Mereka tidak ada di rumah eyang guru. Waktu mengantar nenek dan eyang Dewi, Biru hanya melihat ada
Satya dan Asep yang sedang berdiskusi serius dengan kakek guru. Tidak salah lagi, si mata biru itu pasti mengajak Amar dan Azka ke taman bekas markas mereka. Biru segera menggandeng Fathia berjalan menuju taman belakang rumah yang letaknya agak menjorok ke bawah.
“Kita cari si Faiz, Amar dan Azka yuk!”
Fathia mengekor mengikuti kemana langkah Biru dengan suka cita. Sudah lama ia tak bertemu dengan kakak sepupu yang selalu dibanggakan eyangnya.
“Kita ajak mereka ikut. Biar tambah seru pikniknya. Teman-temanku insya Allah sampai Sukabumi sore nanti. Kita jemput bareng-bareng ya.”
Fathia mengangguk senang. Meskipun lihai menari, anak itu ternyata tidak manja. Ia juga tertarik ingin ikut wisata keliling Sukabumi selatan.
___________
__ADS_1
Terima kasih apresiasi dan doanya🙏💖