METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
RESTO & GAME HOUSE


__ADS_3

Adakah yang dirugikan Faiz dari tindakannya? Tidak. Teman-teman bahagia dapat makan minum gratis. Bapak dan ibu kantin dagangannya laris dan dapat segera beristirahat sebab kantin ditutup lebih cepat. Faiz membayar semua dengan uangnya sendiri. Jumlah uang yang harus dikeluarkan hari ini untuk membayar tagihan bapak dan ibu kantin pasti dianggapnya hanya recehan. Biru menggaruk-garukkan tangannya di atas hijab putih yang dikenakannya. Jadi malu sendiri. Tapi Biru tak ingin kehilangan muka. Sudah terlanjur menarik Faiz, harus ada hal lain yang dibicarakannya agar tidak ketahuan apa yang dilakukannya hanya tindakan impulsif yang disebabkan oleh rasa cemburu pada keponakannya.


Biru menarik nafas memikirkan hal lain yang bisa dijadikan alasan buat memperingatkan keponakannya. Secara, sebagai tante sepatutnya ia bersikap lebih dewasa. “Bibi mau mengingatkan kamu, jangan terpengaruh sama Doni. Dia itu Don Juan kelas 10-1 yang suka foya-foya dan senang dikelilingi cewek-cewek.” kilah Biru sambil tersenyum. Ia merasa lega menemukan alasan lain yang membuat ia tak seberapa kehilangan muka.


“Siapa yang foya-foya, Bi? Hanya sesekali membuat mereka bahagia bukan suatu masalah. Justru akan jadi berkah buatku. Lagipula Doni itu cuma asisten, Bi. Mana bisa dia mempengaruhi


keputusanku. Mau dia jungkir balik atau ngomong sampai mulutnya berbusa-busa kalau aku nggak setuju dia nggak bisa apa-apa kok.”


“Dia yang mengajukan diri sebagai asisten, bukan aku yang meminta. Kalau dia berani macam-macam, pasti sudah aku pecat.” tegas Faiz dengan dagu terangkat dan nada yang meremehkan. Kepercayaan dirinya penuh sampai meluber dan tumpah tumpah.


Biru kehilangan kata untuk menyanggah. Sebenarnya ia heran pesona apa yang membuat Don Juan sekolah itu tiba-tiba tertarik ingin jadi asisten keponakannya. Tak mungkin hanya gara-gara ngefans pada permainan e-sportnya. Pasti ada udang di balik batu. Tapi Biru tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sudah jelas ia kalah.


“Bibi kenapa sih? Kalau Bibi anggap mentraktir itu bisa menaikan pamor, Bibi bisa kok traktir mereka besok. Kita lihat nanti apa benar pamor itu dipengaruhi oleh adanya traktir mentraktir atau tidak. Aku sih sama sekali nggak kepikiran ke sana."


Benarkah? Saling traktir hanya urusan pergaulan saja. Siapa peduli?


"Maaf, Ini bukan masalah penting untuk dibicarakan. Aku nggak punya waktu lagi buat berdebat. Sebentar lagi bel masuk. Aku harus bayar tagihan bapak dan ibu kantin.”

__ADS_1


Biru tersenyum samar. Ia memang sudah tak berniat mendebat keponakannya. Malu hati, sebab semakin banyak kata yang keluar dari mulutnya Biru malah merasa makin bodoh dan terpojok. Tak ada lagi topik dan kata untuk menyanggah. Stop talking useless.


Faiz berlalu begitu saja. Biru tertegun memikirkan banyak hal di pikiran keponakannya yang tak mampu dinalarnya dengan baik. Biru tak mampu mencerna apa isi kepalanya. Bintang itu terlalu tinggi untuk digapai, hanya bisa dipuja dan dinikmati keindahan sinarnya dari kejauhan pada malam yang gelap. Orang bilang dia visioner dan pandai membaca peluang. Biru tak memiliki kemampuan itu.


Dua minggu kemudian Biru baru mengakui, berkah yang disebut Faiz itu nyata. Kebaikannya mentraktir teman-teman itu dibalas Tuhan dengan berkali-kali lipat. Resto & game house yang baru saja didirikannya langsung ramai dikunjungi orang pada hari pertama dibuka.


Biru memutuskan ikut bekerja sebagai pelayan toko pada saat launching perdana resto dan game house itu. Ia melihat Siswa-siswa SMUnya berbondong-bondong datang dengan memegang kupon diskon khusus yang telah disebarkan Doni. Hari berikutnya banyak remaja yang mengaku fans Baby F datang khusus buat memborong berbagai perlengkapan game multimedia dan merchandise yang dijual di toko yang terletak di bagian depan rumah itu. Toko itu semula adalah sebuah kamar yang berjendela besar. Jendela itu direnovasi sebagian untuk difungsikan sebagai pintu masuk pengunjung. Senang sekali menjadi pelayan di sana. Dagangannya laris manis. Dalam beberapa jam saja stok toko yang tadinya penuh mendadak kosong.


“Merchandisenya habis ya, Kak?” tanya seorang gadis cantik berkulit kuning yang baru datang menjelang maghrib. Biru tengah bersiap menutup toko.


“Maaf, sudah habis. Besok datang lagi ya. Stok merchandise akan datang lagi besok dengan disain yang berbeda. Stok hari ini sudah terjual semua."


“Nggak juga sih. Waktu pertama kali buka siang tadi, kami menyediakan ratusan merchandise. Ada yang borong tadi. Katanya mau dibagi-bagi ke teman-temannya.”


“Cheryl ya, Kak?”


“Iya, namanya Cheryl.”

__ADS_1


Gadis itu mengangguk-angguk mengerti. Tampaknya gadis itu telah mengerti siapa gadis yang memborong merchandise itu. Biru tak tahu siapa gadis yang memborong merchandise itu. Biru hanya ingat gadis bermata sipit itu datang dengan diiringi beberapa orang bodyguard. Gayanya elegan bagai puteri raja. Ia tidak perlu berpikir untuk memborong semua barang dagangan yang ada di toko itu. Pasti Cheryl itu anak orang penting, entah pejabat atau pengusaha.


Kelihatannya gadis bernama Cheryl itu datang karena ingin bertemu Faiz. Setelah membayar dagangannya, ia bertanya, "Baby F nggak ada hari ini ya, Kak?"


"Iya. Hari ini yang kemungkinan perform di sini adalah eks rekan setim Baby F di turnamen global universe war, yaitu Boni."


Cheryl tak dapat menyembunyikan aura bahagia yang meredup. Kecewa. Matanya tetap melirik ke sana ke mari mencari-cari sosok yang dirindu. Mana tahu Baby F mendadak datang.


Resto dan game house itu terletak di blok depan rumah Menteng, tempat tinggal mereka. Dulunya rumah itu adalah sebuah rumah tua yang ditinggalkan penghuninya dan tidak ada yang tertarik menyewanya sebab bisik-bisik tetangga bilang rumah tua itu punya cerita mistik. Faiz terlalu berani mengambil sewa selama 5 tahun untuk bisnis pertama yang kesannya masih coba-coba. Padahal resikonya besar.


Untung saja ia memiliki bunda yang berprofesi sebagai seorang arsitek handal. Sedikit renovasi dan pengecatan seluruh bagian rumah tua itu dengan kombinasi warna-warna pastel membuat kesan suramnya sedikit terhapuskan. Sebelum launching, keluarga Satya mengundang ustadz dan anak yatim untuk membacakan doa selamat, rukyah, sekaligus tasyakuran usaha baru Faiz. Mungkin dengan ikhtiar itu energi negatif dan hantu-hantu penghuni rumah tua itu mau bersahabat, tidak mengganggu aktivitas manusia, atau pindah keluar dari rumah itu.


Bagian dalam rumah besar itu masih dibiarkan sesuai aslinya. Ritha hanya menambahkan sentuhan desain interior vintage guna mempertahakan kesan misterius. Lampu-lampu modern dengan cahaya putih yang terang menghias seluruh bagian ruangan menutup kesan angker rumah yang telah kosong selama bertahun-tahun itu. Pengunjung dapat memilih tempat sesuai dengan tujuannya. Ada 2 tempat yang terpisah secara fungsi, yaitu game room dan public room. Ruang besar di tengah rumah digunakan untuk game house. Sementara area dekat kolam renang dan taman digunakan untuk public room. Aturan masuk ruang itu berbeda. Untuk masuk ruangan game house, pengunjung harus membeli member klub agar dapat fasilitas wifi yang berkecepatan tinggi. Pengunjung yang disasar untuk game house adalah para pecinta game. Member klub bebas menggunakan fasilitas itu selama 24 jam. Ruangan itu dilengkapi dengan komputer dengan layar LCD besar dan perangkat multimedia yang bisa digunakan untuk live streaming atau kegiatan turnamen. Faiz benar-benar telah merancangnya dengan serius hingga pemain game dijamin betah berada berlama-lama di dalam ruangan itu. Bahkan ia sudah merencanakan turnamen tiap hari sabtu minggu.


Pengunjung yang tidak suka main game bisa menikmati hidangan resto dengan ditemani musik yang sedang tren di taman.


Selesai menutup pintu toko, seseorang membekap mulutnya dengan sapu tangan beraroma alkohol.

__ADS_1


_____________


Happy monday💖🙏


__ADS_2