METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
KEDATANGAN KAYLA


__ADS_3

Jam telah menunjukan hampir pukul 10 malam. Seorang gadis kurus dengan pakaian dekil terlihat berdebat dengan pak Agus di depan pintu gerbang rumah. Kebetulan Ritha dan Satya baru pulang dari sebuah pertemuan penting dengan klien.


“Tolong ijinkan saya ketemu Biru, Pak! Saya tidak tahu apakah besok saya bisa ketemu Biru atau tidak.” Anak berambut hitam sebahu yang dikuncir ekor kuda itu terlihat memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.


“Ini sudah larut malam, Nak. Kami tidak pernah menerima tamu semalam ini. Kalau mau bertamu, datanglah di jam normal. Mbak Biru sudah tidur. Datanglah lagi besok pagi.”


“Saya mohon, Pak! Ijinkan saya ketemu Biru!”


Anak dekil itu masih merengek, sementara Pak Agus mengindahkan gadis itu untuk segera membukakan pintu gerbang agar mobil majikannya dapat segera masuk.


Satya menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Ada apa, pak Agus?”


“Anak ini nekat ingin bertemu mbak Biru, Pak. Sudah saya bilang, kami tidak menerima tamu malam-malam dan menyuruhnya datang besok kalau mau menjenguk mbak Biru. Tapi dia nggak mau.”


Anak itu berjalan mendekati mobil yang berhenti sejenak sebelum masuk pintu gerbang. Dia menatap Satya sebelum kemudian membuang pandangannya ke bawah menatap conblock di tempatnya berdiri dekat pintu gerbang.


“Saya harus ketemu Biru sekarang, Pak.”


“Tapi ini sudah malam sekali dan Biru masih belum pulih dari sakitnya. Maaf, kami tak bisa menerima tamu sembarangan. Anak ini siapa dan ada kepentingan apa kemari?”


“Saya Kayla, Om. Saya teman sekolah yang duduk di sebelah Biru. Saya perlu bicara sebentar sama Biru.”


“Harus sekarang?”


“Iya, Pak. Maaf saya hanya sempat datang malam-malam karena harus kerja. Saya tahu ini bukan jam orang biasa bertamu, tapi saya sudah berjalan kaki lebih dari satu jam ke sini demi bertemu Biru. Tolong pertemukan saya dengan Biru sebentar saja. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih.”


Satya mengamati dengan cermat gadis kurus dekil yang tak henti memohon-mohon agar bisa dipertemukan dengan Biru. Ada banyak kecurigaan yang memenuhi kepalanya mengingat Biru baru saja jadi korban kecelakaan yang sengaja dilakukan orang tak dikenal. Biru belum sepenuhnya pulih lalu ada anak mengaku teman sekolahnya datang malam hari dan memaksa bertemu dengan adiknya. Sulit buat Satya berpikir kalau anak ini baik sedangkan etika jam bertamu saja dia tak punya.


“Saya ingin ketemu Biru. Saya bukan orang jahat, Om.” rengeknya.


Satya makin mencibir. Kenapa harus maksa banget sih?


Ritha menyenggol suaminya dan memberi isyarat dengan kerdipan mata agar mengijinkan saja anak itu masuk. Kasihan sudah jalan kaki satu jam. Kalaupun Biru sudah tidur, biar Ritha yang akan menemuinya sebentar, memberi makan minum, mendengarkan pesannya, dan memberi uang sekedar untuk ongkos pulang. Bagaimana pun juga anak itu adalah tamu yang bertandang ke rumahnya walau tak tahu apa motifnya datang malam-malam begini.


“Pak Agus, persilakan saja anak ini masuk.” kata Ritha sambil mengelus lengan suaminya. “Ijin turun buat nemenin anak itu ya, Mas. Kasihan.” bisiknya lirih di dekat telinga suaminya yang masih saja menunjukan ketidaksukaannya pada tamu adiknya itu.


“Hati-hati.” Satya menatap tajam padanya seolah memberi peringatan akan kemungkinan buruk yang perlu diwaspadai.


Ritha membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum tenang. Bismillah saja. Semoga anak itu benar-benar teman baik Biru dan kebetulan ada keperluan penting yang memaksanya malam-malam bertamu ke rumah

__ADS_1


orang. Ritha pun keluar dari mobil dan mendampingi Kayla sampai masuk ke dalam ruang tamu.


“Terima kasih, Tante.” Kayla tersenyum lebar menyambutnya.


“Rumah kamu di mana, Kay?”


“Ngontrak di dekat stasiun Manggarai.”


“Dengan keluarga?”


“Iya.”


Ritha mempersilakan Kayla duduk di salah satu sofa kulit yang berada di ruang tamu. Kayla terlihat gugup dan terpukau dengan suasana rumah. Kepalanya menunduk namun ekor matanya melirik ke seluruh sudut ruangan. Ritha tidak terlalu respek dengan gestur tubuh anak dekil itu yang menurutnya kurang sopan, namun ia mencoba maklum. Melihat penampilannya yang dekil, mungkin dia belum pernah melihat rumah dengan gaya arsitektur seperti rumahnya. Mungkin dia tinggal di perkampungan yang orang-orang sekitarnya biasa bertamu dengan cara suka-suka tanpa terikat aturan apapun.


“Mbak Pun, tolong ambilkan camilan dan teh hangat buat tamunya Biru ya. Sekalian tolong panggilkan Birunya juga.” titah Ritha pada asisten rumah tangga yang menghampirinya di ruang tamu.


Ritha mendudukan diri di sofa tunggal yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Kayla. Tak bisa dipungkiri, masih ada sekelumit ragu di hatinya dengan kehadiran orang belum pernah dikenal sebelumnya. Otaknya selalu memberi peringatan dini harus tetap waspada mengingat kecelakaan yang menimpa Biru belum diketahui pelakunya. Bisa saja anak itu adalah pelakunya. Biru jarang cerita tentang karakter teman-temannya dan Kayla juga belum pernah datang ke rumahnya sebelumnya.


“Terima kasih ya, Tante. Biru selalu memberi saya makan siang yang enak. Sebenarnya saya kehilangan banget Biru tidak masuk sekolah selama tiga hari ini tapi saya nggak sempat jenguk karena sepulang sekolah saya harus


ikut pelatihan terapis spa.”


“Tante cantik banget ya. Kayak bidadari. Beruntung banget Biru punya kakak cantik, baik dan kaya seperti kakak.”


Anak itu mulai berani menatap Ritha dan terlihat takjub pada apa yang dilihatnya di sekelilingnya. Norak.


“Hai, Kayla.” Biru muncul dari dalam rumah dengan senyum tipisnya. Matanya masih terlihat segar namun ia telah bersiap tidur karena sudah berganti pakaian menjadi piyama. Malam itu ia mengenakan piyama biru bergambar beruang madu.


“Hai, Biru. Maaf baru sempat jenguk dan datangnya malam-malam begini. Aku baru saja selesai pelatihan terapis. Besok sudah mulai langsung kerja di spa.”


“Ohya, dimana spanya?”


“Di kawasan Blok M.”


Mbak Pun datang membawa 3 cangkir teh hangat dan setoples nastar sebagai camilan.


“Silakan diminum dulu tehnya, Kayla!” Ritha mempersilakan tamunya minum sebelum beranjak ke kamar untuk berganti pakaian dengan pakaian rumah. Ia belum berniat meninggalkan Biru sendirian dengan tamunya. Dengan berbisik, ia meminta mbak Pun berjaga-jaga duduk di sofa kecil mengawasi mereka.


“Bagaimana kabarmu, Bi?”

__ADS_1


“Baik. Insya Allah senin sudah masuk sekolah lagi kok.”


“Aku dengar isu-isu kamu mau pindah sekolah.”


“Enggak. Kakakku memang khawatir karena aku kecelakaan, tapi aku akan tetap sekolah di sana kok. Cuma mesti dikawal dan diantar jemput pakai mobil. Pemotor yang sengaja dorong sepeda aku belum ketemu. Jadi wajar kalau mereka masih mengkhawatirkan keselamatan aku.”


Kayla mengangguk-angguk.


“Kira-kira siapa ya yang sengaja jahatin kamu?”


Biru angkat bahu.


“Mungkin salah satu teman yang iri dan cemburu karena kamu dekat dengan kak Rio.”


Lagi-lagi Biru angkat bahu. Ia tak mau menduga-duga.


Kayla langsung menyeruput tehnya sekali teguk dan makan camilan dengan lahap. Kelihatannya lapar.


“Kamu belum makan malam ya, Kay?”


Kayla menggeleng.


Biru mengalihkan pandangannya pada mbak Pun. “Nasi dan lauk masih ada kan, mbak?”


“Masih, Non.”


“Ayo makan dulu, Kay!”


Kayla langsung sigap mengikuti langkah Biru ke ruang makan. Hati Kayla gembira. Memang itu salah satu yang diharapkan kayla capek-capek mencari rumah Biru malam ini. Belum apa-apa ia sudah membayangkan makanan enak yang biasanya dibawakan Biru tiap hari di sekolah. Perutnya memang sudah berbunyi sejak tadi. Cacing-cacing di perutnya belingsatan. Sejak siang ia belum makan nasi. Untung di perjalanan menuju tempat terapi tadi ia diberi roti sobek yang sudah agak tengik oleh orang di jalan. Rasanya nggak enak tapi lumayan untuk mengganjal perut sebelum pelatihan terapis yang butuh tenaga ekstra.


Kayla duduk di kursi mini bar, sementara Biru dan mbak Pun menyiapkan makanan untuknya. Diputar-putar ke kiri dan ke kanan. Aih, asyik sekali duduk di kursi yang bisa berputar 360 derajat. Baru kali ini Kayla menduduki kursi yang hanya bisa dilihatnya di TV. Di rumahnya boro-boro ada kursi serupa. Makan ya lesehan saja di lantai beralas tikar yang sudah lapuk.


Senang sekali Kayla bisa diterima sebagai teman baik Biru. Teman sekolahnya yang lain memandang jijik padanya. Jangankan berteman, mendekat saja enggan. Mereka bilang Kayla bau. Walaupun setelah itu Kayla menyadari bau tubuhnya dan selalu memakai deodorant, mereka tetap saja tidak mau mendekat. Alasannya klasik, berteman dengan orang miskin bisa ketularan jadi miskin. Karena moto itulah orang selalu berusaha mencari teman orang kaya, biar ketularan jadi kaya. Jujur harus diakui, Kayla juga inginnya berteman dengan orang kaya agar ketularan kaya. Makanya ia beruntung sekali duduk bersebelahan dengan Biru yang mau berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu.


_________


Emang iya, berteman dengan orang kaya akan ketularan jadi kaya?


Jangan lupa vote, like, komen dan hadiahnya ya😘💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2