
Ritha sempat menatap Biru dengan mata yang waspada sebelum anak itu berjalan ke beranda menemui temannya yang selalu datang pada jam-jam orang tak biasa bertamu. Kelihatannya temannya yang satu itu kurang pendidikan, tak paham etika bertamu. Mungkin orang tuanya tak pernah mengajarkan. Ritha mencoba memakluminya.
“Nanti tolong bilang ke teman kamu waktu-waktu dan etika bertamu di sini ya, Bi.” Ritha mengingatkan Biru untuk memberitahu jam bertamu di rumah pada temannya.
“Iya, Kak.” Biru sebenarnya sungkan pada keluarga kakaknya. Ia merasa Kayla bukan teman dekatnya. Entah kenapa hari ini ia datang lagi. Kenapa tidak telepon atau tulis pesan daring saja.
“Hai, Kay.”
“Hai, Bi.”
“Kita duduk di beranda aja ya, Kay. Masih terlalu pagi buat menerima tamu. Keluarga kakakku biasanya tidak pernah kedatangan tamu pagi-pagi kecuali ada sesuatu yang darurat seperti ada yang sakit, kecelakaan atau hal lain yang tak bisa ditunda. Bukannya melarang kamu ke sini. Tapi tolong kalau bertamu jangan terlalu malam atau terlalu pagi kayak begini. Aku kan di sini numpang di rumah kakakku, jadi harus ikut peraturan beliau." jelas Biru tanpa semangat. Ia menangkap aura-aura yang tak menyenangkan dari kedatangan Kayla kali ini.
“Maaf.”
Biru mengajak Kayla duduk di kursi teras samping rumah kakaknya yang berdisain minimalis itu. Tidak di ruang tamu.
“Kamu jam berapa berangkat ke Sukabumi, Bi?”
“Agak siangan, mungkin sekitar jam 10 atau jam 11.”
“Naik apa?”
“Kendaraan pribadi.” Biru menjawab dengan kalimat pendek yang bermakna luas.
Kayla tak perlu tahu Biru dan keluarganya sering menggunakan helikopter agar lebih cepat sampai ke Jampang. Tidak ada kepentingannya buat tahu. Biarlah dia mempersepsikan sendiri kendaraan pribadi apa yang akan digunakan Biru.
“Oooh”
“Bi, kamu sudah tanya belum kakak kamu punya kartu member klub flamboyan atau tidak?”
Alamak, Biru belum sempat tanya soal itu. Baginya itu bukan persoalan penting. Ia pikir dengan menjawab kakak iparnya tak pernah ikut organisasi kecuali ikatan arsitek Indonesia saja sudah cukup untuk membuat Kayla mengerti bahwa keluarganya tidak suka ikut klub-klub komunitas yang tidak berbadan hukum, kecuali komunitas hobi yang digeluti Satya.
“Kan aku sudah bilang kakakku nggak pernah jadi member-member klub gitu. Paling sebulan sekali pergi ke salon muslimah untuk perawatan. Pemilik salonnya sudah kenal baik karena keluarga kami pelanggan lama, jadi tanpa kartu member pun dikasih layanan prioritas. Biasanya janjian dulu kalau mau spa atau perawatan tertentu hari apa dan jam berapa.”
“Aku butuh kartu member klub flamboyan, Bi.”
__ADS_1
“Buat apa?”
“Buat ikut training pemasaran produk dan sosialisasi dengan orang-orang yang sudah sukses.”
Biru mengernyitkan keningnya. Sebuah tanda tanya besar menggantung di kepalanya. Training pemasaran kok harus pakai kartu member.
“Kalau kakak kamu tidak punya, aku mau minta tolong kamu bikin kartu membernya, Bi.”
“Kenapa aku?”
“Nanti aku yang bayar iuran bulanannya, tapi pakai nama kamu.”
“Kenapa harus pakai nama aku? Kan aku nggak mau ikut klub nggak jelas begitu."
“Karena syarat keanggotaannya harus pengusaha atau orang yang memiliki aset paling sedikit 2 milyar.”
Biru tertawa. “ Kamu pikir aku itu siapa, Kay. Aku aja hidup masih numpang sama kakakku, mana bisa aku memenuhi syarat ikut klub itu. Kamu tuh jangan suka ngaco deh, Kay. Itu klub mungkin dikhususkan buat pengusaha dewasa, bukan remaja yang masih sekolah kayak kita."
"Tapi beberapa teman kita sudah gabung ke klub itu. Mereka sudah dapat penghasilan dari endors dan marketing produk di media sosial. Followernya banyak, duit ngalir cepat."
"Siapa contohnya?"
"Buat apa buang-buang uang bayar member dan maksain sesuatu yang diluar kemampuan kita, Kay. Saranku, buat pengalaman ikut training pemasaran yang gratis aja atau yang bayar lepas tanpa harus jadi member. Aku pribadi belum tertarik berbisnis. Sekolah aja masih belum benar.”
“Ini trainingnya beda, Bi. Dibimbing sampai sukses sama mentornya bagaimana menggunakan media sosial untuk pemasaran. Dijamin sukses. Makanya metodenya beda dari training yang abal-abal."
Biru diam. Ia masih tak sepakat dengan pemikiran Kayla tapi bingung mau menanggapinya bagaimana.
“Kamu sih enak, Bi. Hidup nggak mikirin gimana harus dapat uang. Keluarga kamu sudah kaya turun temurun. Beda sama aku yang lahir sebagai orang miskin. Aku ingin meningkatkan taraf hidupku dengan belajar cari uang.”
“Tapi maaf, aku nggak bisa bantu kamu, Kay. Aku nggak tahu klub flamboyan itu apa dan syarat keanggotaannya nggak ada. Aku nggak punya aset apa-apa.
Warisan orang tua masih dikelola oleh kakakku sampai usiaku 18 tahun dan aku juga nggak bisa gunakan itu kecuali untuk biaya kuliah dan biaya hidup sebelum aku bisa mandiri. Kamu kerja aja dulu yang benar, Kay. Jangan tergiur sesuatu yang belum jelas. Kayaknya kerjaan kamu yang sekarang lumayan. Aku lihat kamu punya i-phone baru dan baju-baju bagus.”
“Aku sebenarnya nggak betah dengan kerjaanku sekarang, Bi. Maunya jadi marketing atau punya usaha.”
__ADS_1
“Bertahap, Kay. Perlu sabar buat mencapai satu kesuksesan. Jadi pengusaha itu capek lo. Untung bisnis kan turun naik tapi tiap bulan mikirin hutang dan gaji karyawan yang harus dibayar.”
Kayla tak terlalu menanggapi. Agaknya ia punya pemikiran tersendiri yang Biru tidak mengerti.
“Jadi bagaimana, Bi? Bisa nggak nolong aku? Keluarga aku butuh pendapatan lebih buat bayar kontrakan, makan dan biaya sekolah adik-adikku. Mamaku sudah makin tua. Siapa lagi yang diandalkan keluarga buat cari uang selain aku. Please, tolong dong Bi."
Ih, sebal. Kayla itu bebal atau apa sih. Kenapa dia nggak ngerti-ngerti kalau Biru nggak bisa bantu apa-apa. Mana tebal banget lagi mukanya datang ke rumah tanpa pemberitahuan dan bukan pada jam bertamu yang normal. Kalau ingat yang lalu Biru masih kesal. Giliran butuh, ngemis-ngemis memelas setengah mati. Begitu sudah dapat yang diinginkan Biru dilupakan begitu saja.
“Kamu minta tolongnya sama dinas sosial atau rumah zakat aja, Kay. Kakakku biasanya menyalurkan zakat lewat lembaga resmi begitu. Aku kan anak yatim dan tidak berpenghasilan pula. Hidup kamu lebih baik daripada aku. Kamu alhamdulillah sudah punya penghasilan. Sedangkan aku masih tergantung sama kebaikan hati kakak-kakakku. Martabat kamu lebih tinggi daripada aku.”
“Kamu sih nggak pernah merasakan gimana susahnya phidup kekurangan seperti aku. Sakit lahir batin tahu. Lahirnya harus kerja keras. Batinnya dihina-hina terus sama orang.”
Aduh, kursinya seperti berduri. Biru sebenarnya sudah tak betah berlama-lama meladeni obrolan Kayla. Padahal mbak Pun sudah menyediakan sus kering dan teh cammomile hangat buat teman ngobrol. Mau ngusir nggak enak. Tapi dengar keluhan Kayla rasanya capek bukan kepalang. Bukannya Biru tak mau berempati sama orang yang hidupnya kekurangan. Bukan. Biru capek aja mendengar dengan permainan psikologis Kayla yang memaksa dengan ekspresi memelas-melas begitu. Dia menjual penderitaan dan kemiskinannya agar orang lain iba. Padahal Kayla sudah jelas tahu siapa Biru. Apa sih yang dia harapkan dari seorang anak yatim yang hidup saja masih tergantung pada belas kasih saudaranya?
Biru minta ijin ke dalam sebentar. Kayla pikir mungkin Biru akan bicara dengan kakaknya yang kaya agar mengasihaninya. Padahal Biru hanya ke kamarnya untuk mengambil uang sekedarnya agar Kayla pergi dan tak mengganggu paginya dengan masalah yang Biru tak tahu solusinya.
Biru menyerahkan uang diamplop. Lima lembar seratus ribuan.
"Kay, maaf ya. Aku cuma bisa bantu ini buat tambahan biaya sekolah adik-adik kamu. Aku nggak mau ikut klub flamboyan dan nggak punya aset yang bisa jadi jaminan keanggotaan. Aku tidak sekaya yang kamu pikir."
Biru menyerahkan amplop itu, tapi Kayla menolak menerimanya.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau bantu, Bi. Aku tidak butuh uang anak yatim kok." tolak Kayla dengan wajah masam. Ia tersinggung dengan sikap Biru yang dianggap merendahkan.
"Aku ikhlas, Kay."
Kayla menggeleng. Dengan cepat ia memasukan i-phone ke dalam tas slempang kecil yang dikenakannya lalu berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Aku pulang dulu ya, Bi. Aku mau ke rumah teman lain. Mudah-mudahan ada yang mau bantu aku."
Biru mengangguk pelan. Dalam hati Biru ingin menyangkal, bukannya tidak mau membantu tapi tidak bisa. Biru masih punya empati kok. Andai bisa, Biru pasti bantu mencarikan solusinya. Tidak mau itu tidak sama dengan tidak bisa, Kay. Mau itu berkaitan dengan kehendak hati, sedangkan bisa menunjukan kemampuan. Jangan pernah samakan tidak mau dengan tidak bisa. Biru sebenarnya mau menolong kamu tapi apa daya ia tak punya kemampuan memenuhi permintaan Kayla karena tak mau memaksakan sesuatu di luar kemampuannya. Ia juga tak mau merepotkan kakaknya yang sudah cukup lelah dengan peliknya masalah bisnis yang sedang kacau.
Meski demikian, Biru salut juga dengan keteguhan hati Kayla. Dia gigih sekali memperjuangkan keinginannya. Tidak putus asa ditolak. Pantang menyerah. Ia masih berusaha mencari cara buat mencapai apa yang diinginkannya meski menurut Biru pemikiran Kayla agak kurang masuk di otaknya. Mungkin latar belakang dan pengalam hidup yang membuat pemikirannya berbeda.
Alhamdulillah, selalu ada peristiwa yang disyukuri Biru setelah kepergian Kayla. Terima kasih Tuhan. Engkau telah memberi aku kecukupan dan saudara yang baik hati.
__ADS_1
________
Happy reading😘