METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
BAN BOCOR


__ADS_3

Ting tong. Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring. Biru bergegas merapikan alat tulis dan buku yang masih tergeletak di meja sebagaimana diperintahkan gurunya. Bunyi bel itu pasti akan selalu diingatnya meskipun suaranya tidak istimewa. Adalah bel tanda usainya jam pelajaran selalu membuat hati semua siswa gembira. Tak terkecuali Biru. Letihnya belajar dari pagi seolah lenyap ketika mendengar suara bel itu.


Setelah guru mengakhiri kelas, Kayla langsung berjalan ke luar ruangan dengan terburu-buru. Dia telah menata tasnya sebelum guru mengakhiri kelas. Dalam sekejap Biru sudah tak melihat sosoknya lagi. Padahal Biru penasaran ingin tahu dimana anak itu kerja dan bagaimana kehidupannya di luar sekolah.


Ya sudahlah. Dengan tas ransel di pundak kanannya, Biru berjalan santai ke tempat parkir motor dimana ia menaruh sepedanya tadi pagi. Sesekali menjawab sapaan beberapa teman yang sekedar basa basi. Sebagai anak baru, ia harus pandai membawa diri agar tidak dimusuhi banyak orang.


Melihat mushola, Biru mampir sholat dzuhur dulu sebelum pulang agar hatinya lebih tenang dan raganya segar oleh sentuhan air wudhu. Selesai sholat sudah tinggal sedikit siswa yang masih berada di dalam lingkungan sekolah.


"Rumah kamu dimana Biru?" Siswa berkerudung panjang yang tadi telah memperkenalkan diri bernama Hilya menyejajari langkahnya.


"Jalan Malang." jawab Biru singkat.


Hilya memandang Biru dengan mata bertanya-tanya.


"Kapan-kapan aku boleh belajar di rumah kamu?"


"Aku harus ijin kakakku dulu."


"Kok kakak? Memangnya kamu nggak tinggal sama orang tua?"


"Papaku sudah meninggal sebelum aku lahir. Mamaku nggak tahu dimana."


Hilya melongo, "Maaf ya, Bi. Aku nggak tahu kamu anak yatim." katanya dengan raut iba.


Biru tak suka dipandang dengan raut iba begitu, tapi ia juga tak bisa menyembunyikan jati dirinya.


"Kamu pulang naik apa, Hil?"


"Naik angkot."


"Aku naik sepeda. Dah. Aku belok ke tempat parkir motor dulu ya. Sepedaku diparkir di sana." Biru melambaikan tangan saat ia berbelok ke arah kiri menuju tempat parkir.


Hilya berjalan lurus menuju pintu gerbang utama. Masih terlihat ada rombongan siswa yang berjalan ke gerbang. Mereka yang menggunakan transportasi umum harus belok kiri dan berjalan sekitar 200 meter menuju jalan raya yang dilewati bus dan angkutan umum lainnya.


Betapa terkejutnya Biru ketika sampai di tempat parkir, ia mendapati ban sepedanya dalam keadaan kempes. Ia membuka kunci lalu memutar kedua roda sepedanya beberapa kali. Tidak ada tanda-tanda bekas paku atau benda lain yang melukai karet ban tubeless sepedanya. Berarti ban sepedanya tidak bocor karena tertusuk benda tajam. Pasti ada seseorang yang sengaja mengeluarkan angin dari ****** ban.


Siapa sih orang iseng itu? Apa salahnya? Biru memutar roda bannya yang kempes itu beberapa kali lagi. Sebaiknya gimana ya? Tak mungkin ia menuntun sepeda sampai ketemu bengkel yang memiliki kompresor. Biru belum kenal betul area di sekitar sekolah. Tadi pagi ia bersikukuh berangkat sendirian dengan mengandalkan google map sebagai petunjuk arah. Seingatnya tak ada bengkel yang ditemuinya ketika berangkat sekolah tadi. Tak mungkin juga menuntun sepedanya sampai rumah di siang yang terik ini. Pasti payah dan kulitnya bakal terbakar sinar matahari. Apa perlu telepon kak Ritha agar menyuruh supir menjemputnya?  Duh… Biru tak ingin merepotkan siapa pun di hari pertamanya masuk sekolah. Ia ingin mandiri.


Cukup lama Biru bengong menatap ban sepedanya yang kempes. Otaknya sibuk menimbang-nimbang harus bagaimana. Menuntun sepeda sampai rumah atau minta jemput supir ya?

__ADS_1


“Bannya kempes?” Suara berat itu berasal dari mulut seorang siswa lelaki berpakaian rapi dengan senyum dingin. Dia telah nyaman bertengger di sepeda motor Vario tak jauh dari tempat Biru menambatkan sepedanya.


“Iya.”


“Bengkel tambal ban agak jauh dari sini.”


“Kayaknya nggak bocor, cuma kempes aja.”


Cowok itu langsung turun dari sepeda motor yang ditungganginya lalu menghampiri Biru yang masih terpaku memegang sepeda lipat berwarna hitam dengan garis abu-abu. Ia masih melampiaskan bimbang dengan memutar jari-jari pelek sepedanya berkali-kali.


Biru membiarkan cowok itu mengambil alih aktivitas memutar roda sepedanya. Dia memutar jari-jari pelek beberapa kali dan mengamatinya dengan seksama. Tak percaya begitu saja. Baguslah. Biru tak keberatan cowok itu memastikan kebenaran apa yang dikatakan Biru dengan mata dan kepalanya sendiri. Barangkali ia menemukan satu kejanggalan yang tidak diketahui Biru.


“Benar. Cuma kempes. Mungkin ada yang iseng ngerjain kamu.” Itu kesimpulan analisa cepatnya.


Sudah pasti, tapi Biru tak bisa menduga siapa yang melakukannya. Tak ada motif dendam di sana. Hari pertama sekolah tentu saja ia belum punya


masalah dengan siapapun. Lagipula dari dulu ia tak pernah punya musuh.


“Tunggu sebentar! Aku bawa pompa portable.”


Cowok itu benar-benar terlihat keren karena begitu perhatiannya. Ada beberapa siswa yang melintas dan melihat Biru kesulitan namun mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Masabodo.


Tak sampai 10 menit kedua ban sepeda Biru sudah tampak menggembung seperti sediakala. Tentu saja Biru sangat bahagia. Masalahnya selesai tanpa harus menuntun sepeda di siang yang terik atau minta jemput supir. Ada dewa penolong manis yang dikirim Tuhan untuknya.


“Terima kasih ya, Kak,”


“Di sini memang suka ada siswa iseng. Sudah beberapa kali ada kasus penggembesan ban seperti ini.”


“Kakak juga pernah digembesin?”


Cowok itu mengangguk.


“Kalau begitu besok aku akan bawa pompa ban seperti kakak supaya nggak ngerepotin kalau tiba tiba ban kempes begini.”


“Tidak hanya itu solusinya, kita perlu lapor kepala sekolah agar bisa tahu siapa pelakunya. Mudah-mudahan CCTV di area ini tidak dirusak lagi oleh ulah siswa yang tidak bertanggung jawab.”


“Tidak perlu lapor, Kak. Mungkin ada teman yang sengaja mlonco saya buat perkenalan.”


Biru tersenyum malu-malu namun cowok itu menangapinya dengan senyum dingin. Cool banget sih. Biru suka. Biru suka.

__ADS_1


“Plonco? Memangnya kamu anak baru?”


“Ya.”


“Kelas berapa?”


“10-1.”


“Kalau gitu kenalan dulu dong. Aku Rio dari kelas triple one.”


“Namaku Biru.”


“Nama kamu unik tapi menarik.”


Biru tersipu. Pujian spontan Rio membuatnya merasa berada di antara bintang-bintang padahal hari masih terik dan


benderang dimana-mana. Mana mungkin bintang terlihat.


“Sekarang sudah nggak jaman perploncoan, Biru. Kalau kamu nggak mau lapor, aku akan tetap lapor ke kepala sekolah. Tidak boleh ada siswa iseng yang merugikan siswa lainnya di sekolah ini.” tegas Rio.


Terserah. Biru tak mau cari perkara yang bisa jadi bibit permusuhan. Ia selalu ingin punya banyak teman. Jauh di lubuk hatinya, ia mengagumi dengan sikap Rio yang membelanya bagai seorang pahlawan.Hihihi. Biru baru sadar ternyata dirinya gampang jatuh hati pada kebaikan kecil lawan jenis. Tak tahu, apakah perasaan macam itu wajar atau berlebihan.


Biru menaiki sepedanya. “Terima kasih, kak Rio. Senang bisa berkenalan dengan kakak.” ucapnya sebelum mulai


mengayuh pedal sepedanya. Tak lupa senyum termanis mengembang di bibirnya. Biru berharap besok bertemu lagi dengan pahlawannya. Lagi dan lagi.


"Hati-hati dan selalu waspada di jalan ya, Bi. Sepeda kamu itu lebih mahal dari motor aku."


Benarkah? Biru tak tahu harga sepeda kenapa bisa lebih mahal daripada motor. Ia hanya terpukau pada perhatian Rio padanya.


Biru menghitung berapa teman baru yang dikenalnya hari ini sambil mengayuh pedal sepedanya di jalan aspal, di bawah teriknya mentari siang dan di antara debu jalanan. Demi kesehatan sistem pernafasan, besok Biru harus memakai masker. Jakarta tidak sama dengan Jampang. Selain lebih panas, debu dan polusi cukup mengganggunya.


Hari ini ia telah berkenalan dengan teman sekelasnya yang berjumlah 35 orang, 4 orang guru kelas yang mengajar hari ini, kepala tata usaha, guru olahraga dan terakhir berkenalan dengan Rio, kakak kelas yang baik hati dan perhatian. Hatinya riang. Dunianya terasa lebih berwarna. Besok ia harus mendapatkan teman dan kenalan baru lagi. Biru ingin banyak teman.


_______


Bantu karya author agar lebih populer dengan like, komentar, vote dan hadiah ⚘ atau ☕ ya🙏.


Love and miss you😘😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2