
Sama-sama lelah terkapar, Faiz dan Boni saling berpandangan. Luka dan darah avatar Shisimaru dan Silvester turut dirasakan oleh manusia pengendalinya. Benar-benar terasa nyeri dan melelahkan seperti habis pulang dari medan perang yang sesungguhnya. Semua energi terkuras habis. Tidur telentang di lantai dengan kedua tangan terbentang adalah satu bentuk kenyamanan setelah sekian lama punggung dan tengkuknya tegang. Ah, keduanya mengambil nafas dengan perlahan dan panjang seperti tengah mengatur energi pemulihan dalam pose shavasana.
Sementara mister Yamagata, pemain dan kru tim GGS saling berpelukan merayakan kemenangan dengan gembira.
“Akhirnya kita berhasil mengalahkan dominasi bandar judi terbesar yang menginginkan kita kalah, Beb.” bisik Boni
dengan seringai senyum bahagia. Ada suatu kebanggaan yang sulit terungkapkan atas keberhasilan mereka mengalahkan bandar judi yang sengaja membuat suasana tidak menguntungkan dengan berbagai cara agar tim GGS kalah.
Faiz tersenyum tipis. Tekanan kuat bandar judi benar-benar melelahkan fisik dan mental. Untunglah Faiz tak terlampau berambisi menang, hanya berusaha sekuat tenaga tidak kalah. Ia sudah menduga akan ada permainan bandar judi sebab ada potensi cuan yang cukup besar setelah menghitung proyeksi kemenangan di meja pertaruhan judi. Ia juga curiga beberapa rekan timnya telah bersekongkol dengan para penjudi itu. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat 2 pemain timnya sengaja kalah dengan mudah di pertengahan pertandingan tadi. Bahkan nyaris terjadi aksi bunuh diri antar pemain tim. Miris. Tindakannya itu sampai benar-benar melukai nurani pemain profesional. Benat-benar busuk.
Setelah saling berpelukan, coach dan rekan-rekannya mengulurkan tangan pada kedua anak muda yang energinya habis itu. Mereka memaksa bangun dan mendudukkan keduanya di sofa kulit. Seorang kru datang kemudian memberikan keduanya botol air mineral.
“Kenapa jadi pada kayak nggak punya tulang semua?” Mister Yamagata menatap heran kedua pemain timnya dengan bergantian.
“Capek, Coach.” Keduanya memjawab dengan kata yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Kompak. Mister Yamagata langsung tersenyum. Bangga pada dua pemain yang menjadi bintang bagi timnya malam ini.
Faiz menghabiskan sebotol air mineral ukuran 500 ml, begitupun Boni. Air memberinya sedikit energi dan ketenangan.
“Terima kasih ya, Fa dan Boni. Kalian benar-benar kerja keras untuk kemenangan tim GGS.” ucap mister Yamagata sambil menyalami keduanya dengan genggaman tangan yang erat.
Rekan-rekan tim yang lain mengikuti jejak pimpinan GGS itu.
“Kita rayakan dimana kemenangan tim kita, Coach?”
“Club hotel Samudra Hiu.” seru Jose menyebutkan nama tempat yang biasanya jadi tempat merayakan selebrasi
kemenangan menjelang tengah malam begini.
Tujuan Jose jelas, pasti minum dan hiburan malam. Alih-alih mengusir penat telah melewati waktu turnamen yang panjang dan melelahkan, mereka butuh hiburan.
“Bagaimana, Bon? Fa?” Mister Yamagata malah menyerahkan keputusan pada Boni dan Faiz. Menatap kedua bintang timnya dengan bangga.
“Silakan kalau teman-teman mau selebrasi di mana saja. Maaf saya tidak bisa ikut, Coach. Capek. Saya mau bersih-bersih dan tidur. Besok pagi ayah saya menjemput.”
__ADS_1
Semua mata mendadak memandang Faiz dengan tatapan tak suka. “Dasar bayi. Manja. Sok alim,” gerutu mereka hampir bersamaan.
“Saya juga mau istirahat, Coach.” Boni memilih sepakat dengan Faiz.
Rekan-rekan timnya makin tidak suka pada Faiz. Masak karena ada satu bayi di klub mereka tidak bisa selebrasi seperti biasanya.
“Kita tetap selebrasi ke club Samudra Hiu kan, Coach. Kita tak perlu mendengarkan pendapat Baby F. Dia masih bocah. Dia tahu nggak mungkin bisa masuk club sedangkan KTP aja dia belum punya.”
Mister Yamagata masih pikir-pikir. “Bintang kita malam ini lelah semua. Selebrasinya ditunda sampai besok malam.”
Beberapa pasang mata menatap Faiz dengan wajah kecewa.
“Anak manja. Mentang-mentang berhasil nyimpen nyawa sampai pertandingan selesai lagaknya udah sok jagoan.” Kim menggerutu pelan pada Jose yang berdiri di sampingnya. Faiz mendengar gerutuannya, namun memutuskan untuk bersikap acuh.
Walau acuh, rasanya sakit hati pasti ada. Malu juga dianggap bayi manja yang sok jagoan. Bukankah seharusnya mereka berterima kasih Faiz membawa keberuntungan bagi kemenangan tim. Kenapa malah mengejeknya?
“Bagaimana Fa? Kamu bisa gabung besok?”
Mereka makin mencibir mendengar jawaban Faiz. Mereka pikir, seharusnya memang tidak ada bayi manja di tim GGS. Kalau pun ada, bayi itu tidak berhak mendapat hak istimewa. Abaikan saja.
“Benar tak ingin ikut selebrasi? Sayang sekali. Padahal ini akan jadi acara selebrasi yang meriah karena digabungkan dengan welcome sekaligus farewell party buat kamu.”
Faiz keukeuh menggeleng. Ia benar-benar tak tertarik selebrasi. Yang ada dalam benaknya saat itu hanya bertemu bunda, mengucapkan terima kasih atas doanya, dan memeluknya dengan erat.
Kring. Kring. Terdengar suara dering dari gawainya. Dengan sigap Faiz mengambil gawai yang ditaruhnya di dalam tas selempang ala korea yang dibawanya kemana pun.
Panjang umur. Faiz senang sekali dapat telepon dari bunda pada saat dimana ia sedang merasa sangat merindukannya. Apakah ini yang namanya telepati? Ah, Bunda. Aku mencintaimu, Bun.
“Assalamu’alaikum. Selamat atas kemenangannya ya, Iz. Kamu sudah sukses bikin jantung bunda tak karuan rasanya sepanjang pertandingan." Suara bunda terdengar lembut. Gelombang bunyinya masuk ke telinga dengan sopan dan teratur, tidak saling berebut kasar seperti teriakan fans garis keras yang membuat telinganya terbakar.
“Wa’alaikum salam warohmatullah. Terima kasih Bun. Semua berkat doa Bunda."
“Besok kamu ke Jampang sama ayah kan?”
__ADS_1
“Iya, Bun.”
“Capek ya? Kok suaranya tidak kedengaran bersemanngat.”
“Iya, Bun. Capek.” Faiz sengaja menjawab dengan pendek-pendek. Tak enak kalau ada yang persepsi negatif pada dirinya.
Samar ia bisa mendengar, dibelakangnya ada beberapa anggota tim yang mengeluh dan menyebutnya anak mami.
“Ya sudah. Langsung istirahat ya biar lekas pulih. Jangan lupa minum susu. Assalamu’alaikum.”
“Iya, Bun. Wa’alaikum salam.”
Untunglah telepon bunda tidak terlalu lama. Poinnya bunda hanya ingin mengucapkan selamat atas kemenangannya. Faiz sudah merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian bunda sebaik ini. Jelas-jelas sebagian teman-temannya mencemoohnya dengan sebutan anak mami. Mungkin mereka iri dengan perhatian bundanya atau kecewa karena anggota timnya dianggap anak mami. Mereka tak tahu mungkin GGS akan kalah kalau tidak ada suntikan semangat, dukungan dan doa bunda.
Ternyata nama Baby F hoki di dalam permainan universe war, namun ketika bertemu langsung dirinya malah jadi bahan celaan lantaran dianggap pribadinya sesuai dengan namanya, yakni bayi manja yang sok jagoan. Baru kali ini Faiz merasa tak dihargai rekannya. Nggak enak.
Kalau saja mereka tahu siapa Faiz sebenarnya, apakah mereka akan bersikap lebih baik? Bagaimana bila mereka tahu bila ia anak seorang pengusaha terkenal negeri ini? Akankah perlakuan mereka berubah? Entahlah. Faiz merasa orang-orang tetap akan menganggapnya remeh bila tak berada di bawah bayang ayahnya. Buktinya sudah jelas ia berkontribusi besar dalam kemenangan tim, tapi tetap saja mereka meremehkannya. Jengkel banget rasanya.
“Fa, saya mewakili tim GSS sangat berterima kasih atas bergabungnya kamu di tim kami. Walau hanya beberapa bulan plus dua hari di rumah karantina, tapi kehadiranmu sangat berkesan. Tanpa kamu belum tentu kita dapat trofi kejuaraan internasional ini. Kamu dan Boni adalah pahlawan tim GGS.”
Yey. Semua bersorak meskipun pasti ada yang terpaksa.
“Ceburin. Ceburin. Ceburin.” Para anggota tim dan kru GGS berteriak-teriak meminta selebrasi malam ini juga dengan cara klasik, yakni dengan menyeburkan orang yang dianggap pahlawan ke dalam kolam renang.
Beberapa pemain dan kru langsung berinisiatif menggotong tubuh Faiz dan Boni. Mereka mengarak-arak tubuh keduanya sambil bersorak sorai dan berjalan cepat ke arah kolam renang.
BYUR. Tubuh Faiz dan Boni dilempar ke kolam.
Blup blup. Setelah tenggelam beberapa saat, Faiz muncul ke permukaan dengan menjejakkan kakinya ke dasar kolam. Ia berdiri dalam kolam renang yang kedalamannya setara lehernya. Diusapnya seluruh wajah lalu menggelengkan kepala sambil menyibak rambut sampai ke belakang kepala. Gayanya lebih keren dan natural daripada akting model iklan sabun pencuci wajah pria atau iklan rokok yang pura-pura menampilkan kesan lelaki macho yang sehat. Ada sebagian air kolam renang masuk ke dalam telinganya. Faiz memasukan sedikit air ke telinga lalu memukul-mukul telinga agar airnya cepat keluar. Namun justru kegiatan tidak disengaja itu yang membuat pesonanya sebagai seorang lelaki ganteng yang keren tampak berkibar. Desira, satu-satunya tim GGS perempuan yang bergaya tomboi sampai menghisap liurnya yang keluar begitu saja melihat penampilan rekan barunya. Terpaku memandang pesona luar biasa di dalam kolam renang yang disinari lampu tembak yang temaram. Ah, Faiz....
_____
Thanks for your attention😍
__ADS_1