METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
RUMAH KENANGAN


__ADS_3

Wajah Fathia memucat dan dipenuhi oleh butiran-butiran keringat sebesar jagung. Nafasnya pendek-pendek. Entahlah. Ia merasa seperti akan terjatuh ke dasar jurang yang mengerikan itu. Padahal ia sudah berusaha


memejamkan mata, memeluk Hani sepanjang jalan dan membuang pikiran-pikiran buruk yang menghantui.


“Jembatan ini aman. Sudah diuji keamanannya dan bertahun-tahun belum ada orang yang celaka di sini.” Fathia mencoba mendoktrin pikirannya untuk mengusir ketakutan dan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba saja hadir saat melihat ke bawah dimana jurang ternganga lebar.


Hani mengelus-elus punggungnya. Gadis itu tak henti mendekapnya. “Jangan takut, Fath! Lihatlah ke depan, jangan ke bawah.” kata Hani berulang-ulang dengan suara yang lembut.


Ya. Fathia tidak berani melihat ke bawah lagi. Dilihatnya di depan banyak orang berfoto di sepanjang jembatan dengan wajah ceria. Inginnya bisa seperti mereka, mengabadikan foto di tempat fenomenal ini. Namun Fathia terlalu lemah. Otot tubuhnya kaku, tak kuasa melawan kengerian yang membajak pikiran. Apalagi jembatan terus bergoyang. Kepalanya makin sakit. Perutnya mual.


Boro boro menikmati keindahan alam yang menakjubkan, menguasai diri saja Fathia tak mampu. Tubuh dan jiwanya dikuasai ketakutan seolah-olah hari ini akan menjadi akhir dari hidupnya. Jatuh ke jurang lalu meregang nyawa di dasarnya. Keinginannya saat ini hanya satu, mengakhiri perjalanan di jembatan yang menyeramkan ini. Fathia tak peduli lagi pada foto atau apapun tentang jembatan itu.


Abi ada di dasar jurang itu diantara rimbunnya pepohonan dan suara gemericik air yang damai. Ia menggapai-gapaikan tangannya seraya tersenyum.


"Abi... Abi ..." Fathia menggumam pelan. Hani makin mendekap tubuhnya yang kaku sambil memandunya berjalan lurus ke depan.


Alhamdulillah, Fathia baru bisa bernafas lega setelah berhasil sampai di akhir jembatan dan melepaskan ikat pinggang pengaman yang dikenakannya. Hani membimbingnya duduk di kursi kayu dan memberinya sebotol air mineral.


“Kamu fobia ketinggian ya?”


“Entahlah, Kak.”


Ia tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan takut itu datang. Ini memang pertama kali Fathia naik jembatan gantung. Di vlog atau media sosial yang ditontonnya jembatan gantung terlihat begitu menarik. Berbeda kenyataannya ketika ia menginjakan kaki sendiri di atas kayu ulin itu. Semua jadi terlihat mengerikan. Agaknya ia belum siap dengan perjalanan ekstrem. Sejak kemarin hanya dia yang takut dan membuat repot tim.


“Kak Faiz, aku mau pulang aja ya. Kayaknya aku bakal akan terus-terusan merepotkan kalian kalau tetap ikut.” Fathia memutuskan untuk pulang saja.


“Apa kamu baik-baik aja, Fath?”


“Sepertinya dia punya fobia, Iz.” jelas Hani sambil menyeka sisa keringat dingin di wajah Fathia dengan tissue.


“Antar aku ke rumah abi yang di Sukabumi saja, Kak. Tadi eyang bilang beliau hari ini akan ke rumah Sukabumi menemani calon pembeli yang mau lihat rumah kami."


“Memangnya rumah peninggalan abimu itu akan dijual?”


“Iya. Sayang kalau dibiarkan kosong nanti malah rusak. Umi mau beli tanah dan bikin rumah dekat pesantren biar dekat dengan kakek dan nenek.”


“Kamu?”


“Tetap menemani eyang di Jakarta.”

__ADS_1


Rumah itu memang sudah lama dibiarkan kosong. Sejak om Ardi meninggal, tak ada yang menempati rumah itu. Melihat keadaan Fathia yang pucat dan ketakutan, Faiz tidak bisa mencegahnya. Mungkin lebih baik Fathia tidak ikut dalam perjalanan karena jika dipaksakan dia tidak bisa menikmati liburan ini, begitu pun yang lain.


Faiz memanggil Doni agar membantunya membawa mobil untuk mengantar Fathia ke rumahnya yang sudah cukup lama tidak ditinggali. “Don, kita antar Fathia sampai rumahnya sekarang ya.”


“Ke Jakarta?”


“Nggak. Dia punya rumah di sekitar sini. Nggak jauh kok, sekitar setengah jam dari sini ke arah Cibadak.”


Doni melirik Fathia yang masih belum sepenuhnya pulih dari ketakutannya. Wajahnya masih pucat. “Kamu sakit, Fath?”


Fathia menggeleng.


Faiz menitipkan kamera pada Biru dan Kikan yang melanjutkan perjalanan tracking ke curug Sawer bersama rombongan Amar. Ia memberikan instruksi dan pesan-pesan khusus untuk mengambil gambar atau video pada setiap momen yang menarik.


Selanjutnya Faiz, Doni dan Hani mengantar Fathia pulang. Hani mengawal Fathia naik ojek yang disarankan oleh petugas jembatan gantung sampai ke tempat parkir mobil. Katanya tarif ojek agak mahal karena harus melewati jalan memutar untuk menghindari jembatan gantung. Sementara Faiz dan Doni jalan kaki mengikuti petunjuk arah keluar lewat jembatan gantung yang lebih kecil.


Orang yang menguntitnya terlihat lagi. Faiz menghentikan langkahnya mengamati perilaku orang itu dengan ujung matanya.


"Kenapa ikut berhenti, kang?" sapanya sambil melipat dua tangannya di depan dada.


Tak ada jawaban.


"Iya. Di bawah masih ada tempat kemping dan air terjun. Kenapa malah mengikuti kami?" Sekarang Doni yang bertanya dengan suara yang lebih keras dan tegas.


"Maaf, saya diutus tuan Satya untuk mengawal anda."


Ayah? Kenapa mengutus orang untuk mengawalnya? Kayak anak kecil aja.


Faiz tak peduli apa alasan ayahnya mengutus orang untuk mengawalnya. Apakah orang jahat mengintainya dimana-mana? Masabodo. Ia berjalan lagi menuju pintu ke luar melewati jembatan gantung yang lebih kecil. Namun ia tetap waspada sekalipun orang itu telah menyebut nama ayahnya. Ia tak ingin berlama-lama sebab Hani dan Fathia mungkin telah lebih dulu sampai di tempat parkir. Kasihan kalau mesti menunggu terlalu lama karena membahas sesuatu yang kurang penting. Sepertinya orang itu memang diutus ayah. Keduanya tetap terlihat mengikuti mobil dengan sepeda motornya.


Rumah keluarga Fathia tampak kurang terawat semenjak ayahnya meninggal. Rumah itu dibiarkan tak berpenghuni, hanya dititipkan pada tetangga yang sejak dulu membantu keluarganya membersihkan rumah. Selain pakaian, semua barang-barangnya masih lengkap. Termasuk barang-barang kesayangan om Ardi seperti motor trill


dan beberapa koleksi jam tangan. Faiz pernah sekali diajak tante Nisa menengok rumah itu sepeninggal om Ardi.


“Kamu memangnya belum pernah diajak ke jembatan gantung sama abi, Fath? Padahal termasuk dekat lo dari sini.”


“Belum. Kan kalau hari libur kita seringnya jenguk eyang ke Jakarta.”


"Sejak kapan kamu takut ketinggian?"

__ADS_1


"Nggak tahu." Fathia tak ingin membahas lagi ketakutan yang tadi dialaminya di atas jembatan gantung.


"Yakin nggak mau ikut jalan lagi?"


"Nggak. Aku nggak mau merepotkan kalian. Harusnya menikmati liburan, malah harus jaga aku."


"Kami tidak merasa direpotkan kok." Hani merangkul Fathia dengan lembut. Tak ingin gadis itu merasa sungkan.


"Tujuan selanjutnya kan pantai, Fath. Kita nggak akan naik sesuatu yang ekstrem lagi kok. Kita bakal lihat penangkaran kura-kura di ujung genteng dan menikmati pantai."


Fathia tetap menggeleng. "Lain waktu aja. Aku mau pulang ke Jakarta. Kata eyang, kalau kita tidak yakin 100% pada sebuah pilihan lebih baik memilih yang resikonya lebih kecil."


Sekitar 30 menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah 2 lantai dengan pagar besi yang tinggi dan halaman yang luas. Letaknya di pinggir jalan utama Sukabumi, hanya beberapa ratus meter dari lokasi pabrik dimana om Ardi bekerja semasa hidupnya.


Eyang, tante Nisa dan Rosyid sudah ada di sana. Begitupun orang yang berencana akan membeli rumah itu dan notaris PPAT setempat yang mendampingi.


Faiz mencium tangan eyang yang disambut dengan pelukan hangat setelahnya. Begitupun tante Nisa. Rosyid tetap menyalaminya dengan setengah hati. Tanpa senyum. Faiz tak peduli.


Sepertinya transaksi penjualan rumah itu telah berjalan. Notaris tengah sibuk membereskan berkas akta jual beli dan surat-surat penting lainnya. Pembelinya yang merupakan suami istri dengan 2 anak yang masih kecil tampak berbincang banyak tentang apa saja yang harus diperbaiki agar lebih sesuai dengan selera mereka. Sementara eyang dan tante Nisa sibuk menginvetarisir sebagian besar furnitur dan elektronik yang akan diberikan pada pembeli. Mereka hanya akan membawa barang-barang penting yang tersisa dari peninggalan om Ardi. Mungkin tak banyak yang tersisa. Sebagian barang telah dicicil dipindahkan ke Jampang dan Jakarta setiap kali mereka menjenguk rumah itu.


Fathia mengajak Hani ke kamarnya di lantai 2. Sementara Faiz memilih ikut tante Nisa mengunjungi ruang kerja om Ardi. Mungkin ada buku yang menarik untuk dibaca di sana. Atau mungkin ada semacam petunjuk yang bisa mengarahkan mereka untuk mengetahui siapa yang menembak mobil om Ardi pada hari celaka itu. Faiz yakin, ini semua tak ada kaitannya dengan ayah seperti sangkaan tante dan sepupunya.


"Buku-buku om Ardi mau dibawa ke mana, Tan?"


"Sebagian sudah dibawa Rosyid sebagai koleksi pribadinya. Sisanya akan dipak dan dibawa ke perpustakaan pesantren."


"Banyak banget ya buku om Ardi."


"Om kamu memang suka baca."


"Boleh Faiz dan Doni bantu mengepak barang-barang di sini?"


"Tentu saja boleh. Kamu juga boleh ambil barang peninggalan om kamu kalau kamu suka."


Faiz tersenyum.


_______


Happy reading💚

__ADS_1


__ADS_2