
Biru terdiam sejenak di hadapan pintu rumah berdisain modern minimalis itu. Ia tak segera menempelkan sidik jarinya pada sensor otomatis untuk membuka pintu. Tidak pula membunyikan bel sebagaimana yang dilakukan tamu rumah atau siapapun yang tidak memiliki akses membuka pintu rumah yang didesain dengan sistem keamanan tingkat tinggi itu. Hatinya masih gamang. Rasanya Biru masih tak percaya dengan apa yang dialaminya hari ini. Aneh. Kisahnya benar-benar luar biasa. Bisa-bisanya ia diculik oleh orang yang ternyata telah melahirkannya ke dunia ini. Entah harus bahagia atau marah Biru tak tahu. Pertemuan ibu dan anak yang seharusnya menjadi momen hangat yang paling penting dan membahagiakan dalam hidup justru terasa sangat hambar. Perasaannya kosong bagai di ruang hampa yang tak pernah dikunjungi manusia.
Mama, perempuan yang kata sebagian orang memiliki surga di telapak kakinya mengantarkannya pulang ke rumah kakaknya tanpa singgah atau sekedar menyapa sang empunya. Cih. Pengecut. Dia pasti takut ketahuan telah berusaha menculik cucu tirinya. Jujur, Biru tak ingin bertemu perempuan itu lagi. Ia tak ingin berpolemik dengan keluarga kakaknya yang telah bersusah payah membesarkannya selama ini. Mama memang telah berjuang melahirkannya, tapi sebagai anak Biru juga tak pernah meminta dilahirkan dari rahim perempuan yang tak pernah berupaya memperjuangkan anaknya. Dia perempuan egois. Lupakan saja pertemuan tadi. Anggap basa-basi. Yang penting sekarang Biru telah kembali ke rumah. Biru sudah menerima takdir dirinya sebagai anak yatim piatu dan perempuan itu juga sudah membuat pusara untuk anak yang dilahirkannya. Itu artinya Biru tak butuh kehadiran mama, begitu pula sebaliknya. Semoga keadaan akan tetap dan kembali seperti sediakala.
Lalu bagaimana jika esok atau lusa perempuan itu datang menemuinya lagi seperti janjinya? Alasan apa yang tepat digunakan untuk menghindar. Biru tak ingin menyakiti siapapun. Biru tak mampu memilih kemana harus berpihak, pada ibu atau keluarga ayahnya yang selama ini membesarkannya bila kenyataannya mereka bersengketa. Entah apa yang disengketakan, Biru tak mau tahu. Ia tak ingin ambil pusing.
“Kenapa bengong di situ? Masuk, Bi!” Biru mendongak, sedikit terkejut mendengar suara lembut yang mendayu bersama desah angin malam
Kakak iparnya yang malam itu tampak sangat cantik dengan gaun dan kerudung warna salem telah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Perempuan itu menyambutnya dengan wajah cerah meski gurat-gurat kelelahan terbias samar di sela-selanya. Senyumnya begitu teduh. Perempuan anggun yang tak banyak bicara itu langsung memeluknya. Nyes. Kehangatan pun perlahan mengalir ke dalam tubuh Biru yang nyaris membeku.
Tuhan, kenapa tidak Kau takdirkan aku lahir dari rahim perempuan ini saja? Aku tak suka pada mamaku pada pandangan yang pertama. Walaupun sering membuat kesal dan iri, aku merasa lebih sayang pada keponakanku daripada mama. Faiz selalu ada saat aku membutuhkannya. Sementara mama ...? Bagaimana aku bisa mengukur kebaikan hati seorang perempuan yang berniat menculik cucu yang tak dikenalnya dengan baik.
Apa salah Faiz? Apa salah kak Satya? Tak tahukah dia bila selama ini keluarga inilah yang membesarkan darah dagingnya dengan kasih sayang.
Biru menampik pikiran-pikiran yang memenuhi rongga-rongga otaknya, menyambut pelukan Ritha, dan membenamkan dirinya dalam kehangatan yang lebih dalam agar memberinya sedikit rasa tenang.
“Mamamu tidak mampir?”
Biru menggeleng.
Ritha menepuk-nepuk pelan pundak adik iparnya. Dengan senyum mengembang ia melepaskan pelukannya lalu mendorong perlahan tubuh Biru dengan kedua tangan yang menggenggam kedua bahu Biru yang masih kaku.
“Nggak apa-apa. Mungkin sudah kemalaman. Kalian ada janji untuk bertemu lagi kan?” Kedengarannya kalimat itu seperti menghibur. Padahal tidak.
Aku tak ingin bertemu lagi, Kak. Aku tidak ingin bertemu
lagi dengan orang yang telah menganggapku mati. Biar dia memuja pusara Aludra
__ADS_1
Zain. Aku adalah Biru, bukan Aludra Zain.
Biru sama sekali tak membuka mulut. Membatu.
“Kakak senang sekali kamu pulang dengan selamat, Bi. Kamu
harus selalu ingat, sampai kapan pun ini rumahmu. Seorang anak perempuan adalah tanggung jawab walinya. Kak Satya adalah walimu, pengganti papa. Apapun yang terjadi, kamu tetap akan bersama kami. Kami semua sayang kamu.”
Biru mengangguk pelan. Tanpa dipaksa bibirnya melengkungkan garis senyum lalu kembali merengkuh perempuan berwajah teduh itu. Kalimat itu meneguhkannya kemana ia harus mengikat diri. Kalau boleh memilih, Biru ingin dilahirkan dari rahimnya saja agar ia bisa membanggakannya di hadapan teman-temannya. Ia tak ingin punya ibu penculik anak yang tega menelantarkan anak kandungnya.
Ritha tak bertanya lagi meski sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang mengendap di kepalanya, sebab tahu perasaan Biru tidak sedang baik-baik saja. Biru pasti masih shock dan enggan bicara apapun yang berkaitan dengan mama. Isyarat itulah yang terbaca dari bibirnya yang melengkungkan senyum datar. Hambar.
Ritha merangkul bahunya
dan membawanya masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa lagi. Ia tahu Biru butuh waktu istirahat dan menenangkan diri dulu. Lagipula malam sudah larut.
“Iya. Badan pegal semua.”
“Kalau belum shalat, shalat dulu biar istirahatnya lebih tenang.”
Biru mengangguk. Ia baru ingat lagi kalau harus menjamak shalatnya karena kekacauan yang terjadi di hari ini. Semoga Allah memaklumi keadaannya.
Keduanya bergegas berjalan masuk melintasi ruang tamu keluarga. Terlihat Satya sedang
berbincang serius dengan tamunya. Jarang-jarang kakaknya itu mengundang tamu ke rumah. Hampir semua pembicaraan bisnis dilakukan di kantor, restoran, atau di business room
hotel. Tamunya asing, bukan kerabat yang pernah dikenal Biru sebelumnya.
__ADS_1
Biru menghampiri kakaknya sebentar untuk cium tangan
dan bermaksud sekedar menyapa tamu dengan anggukan kepala dan senyum tipis basa basi. Setelah itu, ia akan langsung masuk kamar, mandi air hangat dengan sabun yang wanginya menyegarkan, ganti baju, shalat lalu tidur. Hari ini sangat penat.
Usai menyalami tangannya, Satya malah merangkul dan memperkenalkannya pada pria tampan berpakaian kasual yang usianya sekitar pertengahan tiga puluhan itu. “Kenalkan! Ini adik bungsu yang tadi kuceritakan, Za. Namanya Biru.”
Pria dengan paras rupawan itu mengangguk dan tersenyum. Duh, melihat senyumnya lutut Biru langsung terasa lemas. Senyumnya itu seperti bisa yang melumpuhkan dengan hanya sekali sembur. Biru sempat terpaku sejenak. Jantungnya berhenti berdetak, namun detik berikutnya Biru justru tergugah ingin membalas senyum itu dengan senyum terindah yang dimilikinya. Hatinya menghangat. Tiba-tiba saja bunga-bunga bertebaran di sekelilingnya.
“Ini kolega kakak asal Surabaya, Bi. Namanya Riza. The best jomblo of the year.” Satya memperkenalkan tamunya sambil tertawa lepas. Entah apa maksudnya.
Hah? Jomlo? Nggak salah? Kenapa orang ganteng dan keren itu masih jomlo? Eh ... Jangan-jangan dia termasuk golongan orang yang tidak suka perempuan. Ih amit amit
Bodoh. Bodoh. Bodoh. Biru mengutuk dirinya sendiri yang terlalu mudah terpesona.
“Fokus saja pada pendidikan dan aktivitas yang membuat
kamu bahagia, Bi. Jodoh tak perlu dikejar, nanti kalau sudah waktunya juga datang sendiri.” Biru mengeja doktrin itu dalam hatinya berkali-kali. Sungguh. Ia tak ingin jadi orang yang mudah jatuh cinta. Kesannya murahan banget sih. Perempuan itu harus jual mahal supaya dihargai orang.
Berprasangka baik saja, Biru. Setiap orang baik akan dipertemukan dengan jodoh yang baik pula. Jadi, fokuslah untuk belajar memperbaiki diri.
________
Maaf ya, lama tidak update.
Semoga saja ke depannya diluangkan waktu dan dimudahkan pikirannya untuk menulis dan menulis lagi.
Terima kasih buat reader yang sabar dan setia. Love you soo much😘
__ADS_1