METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SATU JAM BERSAMA FAIZ


__ADS_3

Dua hari berikutnya beberapa teman perwakilan kelasnya datang menjenguk. Hanya basa-basi sebentar mengantarkan buah-buahan dan susu kesehatan karena Biru belum boleh beranjak dari kasur kecuali buat ke kamar mandi. Bi Imah dan Faiza sebagai penjaganya bertindak refresif setiap kali Biru ketahuan hendak keluar kamar. Menurut Biru itu salah satu bentuk penindasan terhadap orang sakit yang diharuskan selalu istirahat dalam kamarnya agar lekas sembuh. Teman-teman Biru tentu saja bosan berada di kamar. Sungkan kalau mau main di lahan favorit mereka sekitar kolam renang dan meja makan tanpa empunya rumah.


Bukan cuma mereka yang bosan. Biru lebih bosan terkurung dalam kamar selama 2 hari ini. Baru besok ia diperkenankan beraktivitas di sekitar rumah. Duh, ketat banget sih peraturannya. Sungguh. Sakit itu nggak enak.


“Maaf ya, Bi. Kita nggak bisa lama-lama, takut ganggu waktu istirahat kamu,” ujar Dony basa-basi.


“Makasih ya udah mau jenguk aku.”


“Hari senin kamu sudah bisa masuk sekolah kan?”


“Insya Allah. Menurut surat dokternya cuma disuruh 3 hari istirahatnya. Lusa sebenarnya aku sudah mau masuk sekolah, tapi kan hari minggu. Hahahaha.”


“Garing banget canda lo, Bi.”


“Biarin. Udah gabut dalam kamar melulu. Bosen. Herdernya di sini galak-galak.”


“Hush. Nanti kedengeran.”


Teman-teman Biru terkekeh, sementara Biru hanya tersenyum samar. Makin jarang gerak, badannya bukan makin enak tapi makin terasa kaku. Memarnya sudah berkurang. Kulitnya sudah berubah warna dari merah kebiruan sekarang jadi agak kekuning-kuningan. Nyerinya sesekali masih terasa, terutama kalau disentuh. Cuma rasa pegal yang tak kunjung hilang meskipun beberapa hari kerjanya hanya tiduran sambil nonton TV atau browsing lelucon di internet dan aplikasi media sosial.


Hanya satu hal yang membuatnya merasa bahwa sakit itu istimewa, yaitu perhatian dari orang-orang tersayang. Selain Rio berkenan mampir buat menjenguknya tiap pulang sekolah, Faiz yang biasanya betah mengeram di kamarnya dan tak mau diganggu kini sesekali menjenguknya. Anak itu selalu menyempatkan waktu datang ke kamarnya di sela turnamen yang sangat menyita waktunya. Padahal jadwal latihan persiapan dan pertandingan sangat ketat.


Si ganteng bermata biru itu masih sama absurdnya seperti saat mereka bermain bersama di taman belakang rumah Lily. Imajinasinya selalu liar. Sampai saat ini pun dia tak fasih mengucap huruf ‘R’ namun lidahnya sudah mampu membuat getaran samar yang membuat huruf ‘R’ dilafalkannya menggantung. Meski demikian ketidakmampuannya mengucapkan huruf ‘R’ itu membuatnya tampak keren, apalagi saat Faiz melafalkan kalimat bahasa Inggris. Cara melafalnya terdengar mirip lafal para native speaker. Matanya yang biru, kulitnya yang bersih, dan tubuhnya yang semakin meninggi membuatnya tampak eksotis seperti pria berdarah campuran ras kaukasoid. Pemikiran Faiz masih sering berada di luar jangkauannya dan dia tetap konsisten dengan mimpi besarnya menjadi penguasa dunia. Bagi Biru mimpinya itu menyebalkan. Biru tak terlalu percaya sama mimpi anak kepala batu itu tapi ia suka dengan gaya angkuhnya saat bercerita.


Seperti petang hari ini, Faiz menjenguknya sambil membawa apple strudle untuk camilan sore. Tiba-tiba saja dia mengatakan ingin memberikan hadiah dengan mewujudkan apa yang diinginkan Biru tapi terasa mustahil terwujud. Sebuah hadiah yang absurd. Padahal Biru sudah cukup bahagia mendapatkan coklat dan bunga dari Rio. Faiz tak mau kalah. Dia yakin hadiahnya jauh lebih bermakna daripada sekedar coklat dan bunga.


Kedengarannya sih lebih hebat, tapi yang namanya mustahil masak iya dia mau nekat mewujudkannya. Dengan cara apa? Terlalu pintar kadang membuat dia tampak seperti orang gila.


“Bertemu papa.” Itu jawaban Biru ketika ditanya apa hal yang paling diinginkannya tapi mustahil terwujud. Wajar bila setiap anak pasti merindukan orang tuanya, kan? Bagi Biru itu adalah satu mimpi yang mustahil terwujud.


“Mau ngapain kalau bisa ketemu sama kakek?”

__ADS_1


“Mau ngobrol aja dan tanya apa papa sayang sama aku.”


“Sesederhana itu?”


“Ya. Bibi kan nggak pernah ketemu papa seumur hidup. Pasti menyenangkan kalau bisa ngobrol dengan beliau. Sama seperti kamu yang kagum pada ayahmu. Bibi juga ingin kenal ayah dan mengaguminya."


Faiz mengangguk. Sok iya bisa mewujudkan keinginan yang mustahil itu. Dengan cara apa?


"Kakek pasti sehebat ayahku." gumam Faiz yakin. Ia sangat membanggakan darah keluarganya.


Mungkin saja begitu. Tapi kata kak Lily papa tidak mirip dengan kak Satya. Dari fotonya, secara fisik papa lebih mirip kak Bas. Apakah karakternya juga semenyebalkan kakaknya yang sampai detik ini masih betah membujang itu? Biru tak tahu. Semua kakaknya sibuk, jarang sekali ngobrol tentang kehidupan masa lalu keluarga mereka. Apalagi bercerita tentang papa.


“Bagaimana kalau mama? Bibi tidak mau ketemu orang yang melahirkan Bibi ke dunia ini?”


“Kata ayahmu, kalau Bibi mau bertemu ayahmu bisa bantu mencarikan jejaknya karena kabarnya beliau masih hidup dan memiliki keluarga baru."


“Kenapa nggak kita cari aja, Bi?”


Biru menatap langit-langit kamar mencoba merangkum keinginan yang selama ini terpendam dalam hati. “Bibi kecewa pada sosok mama. Karena ulah mama Bibi dibenci kakak-kakak sendiri. Seharusnya Bibi tidak pernah ada di dunia ini biar tak jadi beban buat mereka, terutama kak Lily dan ayahmu."


“Jangan ngomong begitu. Yang nggak suka sama Bibi itu cuma pakde Bas. Dia mah orang aneh. Cuekin aja. Ayah, Bi Lily dan pakde Bram enggak benci kok. Kita semua sayang sama Bibi."


“Pokoknya Bibi kecewa sama mama yang sudah bikin nenek kamu sakit dan meninggal. Dia bukan perempuan baik. Dia nggak punya hati dan naluri keibuan sama sekali. Dia cuma ingin harta papa. Dia pasti membuang Bibi karena tidak mengharapkan kehadiran anak. Kalau masih ada yang namanya naluri keibuan, mestinya dia mencari dimana anaknya. Kalaupun ia mengira anaknya sudah mati, setidaknya dia bisa datang buat nostalgia atau menjenguk anak tirinya.” jawab Biru setengah sewot.


Tak ada yang mengajarkannya benci pada ibu kandungnya, namun rasa kecewa itu sulit dihentikan. Kakak-kakaknya maupun guru selalu mengingatkannya untuk berdoa buat ibu. Itu selalu dilakukannya, namun tidak sepenuh hati. Luka hati yang ditorehkan karena menjadi anak terbuang lebih lebar dari rasa cinta pada orang yang sama sekali tak pernah memperjuangkan kehidupannya sejak lahir di dunia ini. Sampai saat ini Biru masih menunggu apakah hati seorang ibu akan tergerak mencari dimana anaknya berada.


“Nanti Faiz wujudkan mimpi Bibi lewat dunia metaverse. Faiz akan kumpulkan dokumentasi video dan foto-foto eyang Wirajaya. Akan direpro ulang untuk dibuat jadi film animasi multi dimensi dengan judul metaverse biru. Nanti kalau sudah jadi kita bisa nonton dan bicara padanya seperti benar-benar nyata. Dalam proyekku nantinya kita akan punya beberapa film dokumentasi tentang keluarga Wirajaya Halim yang bisa ditonton di Halim Cinema metaverse. Orang boleh nonton, tapi ada tiket masuknya.”


“Emang bisa?”


“Gampang.”

__ADS_1


Dih. Enteng banget menjawabnya. Tapi tak usah dipikirkan. Anggap saja itu cuma intermezzo atau obrolan orang gabut. Mana mungkin bisa merekayasa bicara dengan orang yang sudah mati namun terasa seperti nyata. Paling-paling cuma akal-akalan dia. Memang sih Faiz sudah bisa bikin avatar dan robot, namun dunia rekaan Faiz masih sulit masuk dalam nalarnya.


“Iz, ngapain sih kamu bikin proyek metaverse kayak gitu?”


“Supaya setiap orang yang Faiz cintai bisa mewujudkan mimpinya masing-masing. Avatar ayah dan bunda sudah 90% jadi. Selanjutnya Faiz akan bikin komiknya dan akan dijual di NFT."


"Emang laku?"


"Nggak harus laku, Bi. Just for hobby. Nothing to lose. Buat koleksi pribadi aja. Kalau ada yang tertarik disiapkan versi publikasi berbayar khusus buat orang  yang mau tahu siapa itu keluarga Wirajaya Halim. Ke depan kita bisa menorehkan sejarah sebagai keluarga yang berpengaruh.”


“Halah, impianmu ketinggian Iz. Keluarga kita bukan contoh sempurna buat orang lain. Nggak usah pencitraan deh. Keblinger kamu nanti. Kalau mikir kamu ketinggian lama-lama kamu bisa jadi sesombong Firaun yang


dilaknat Allah atau jadi Qorun yang hartanya ditenggelamkan ke dalam bumi. Santuy aja, Iz.”


Faiz diam tak membantah. Mungkin sedang meresapi apa yang dikatakan tantenya.


“Kayaknya otak kamu mulai kacau karena kurang gaul, kurang olahraga dan terlalu banyak main universe war.”


Apa iya, tanya Faiz dalam hati.


Bukan cuma Biru yang ngomong seperti itu. Kakek, ayah dan bundanya juga menasehati hal yang sama. Tapi akh... mereka hanya belum mengerti apa yang jadi impian Faiz saat ini karena mereka belum melihat wujudnya. Susah menerangkannya kalau belum mengerti dunia yang dibayangkannya akan seperti apa.


Apapun yang terjadi, jangan berhenti meraih mimpi. Buktikan bahwa mimpi itu bisa jadi kenyataan. Asal tak merugikan orang lain ia berhak membuat rencana hidupnya sendiri. Lagipula Faiz tidak sombong, hanya bangga. Kata ustadz yang disebut sombong itu tidak mau menerima kebenaran dan merendahkan manusia.


Asal tahu saja Faiz berjuang mati-matian agar terpilih ikut turnamen universe war internasional karena mengincar hadiah fantastis yang akan diperoleh kalau ia menang. Uang itu akan digunakan untuk modal pembangunan proyek metaversenya karena ia butuh bantuan orang-orang bayaran buat mewujudkan rencana besarnya. Metaverse biru adalah proyek idealis. Punya potensi cuan tapi belum pasti karena banyak orang yang meragukan apakah dunia macam itu dibutuhkan oleh manusia.


__________


eng ing eng semua orang boleh bermimpi, bahkan memimpikan hal yang mustahil sekalipun. Tapi jangan lupa untuk selalu tunduk di hadapan Tuhan🙏


like, komen, vote dan hadiahnya ya😘

__ADS_1


__ADS_2