
Makan malam berlangsung santai ditemani hangatnya api unggun dan dongeng abah pemandu tentang legenda kuno masyarakat Sukabumi. Fathia duduk dengan gelisah. Kesal melihat Doni terus-menerus mendekati Faiz dan sepertinya melupakan janjinya untuk memberikan coklat buatnya. Keduanya ikut terhanyut oleh cerita abah Bili tentang legenda asal usul danau Situ Gunung. Pintar juga provider wisata itu menggaet wisatawan potensial dengan story telling yang tidak hanya memperkenalkan budaya lokal namun membuat remaja yang awalnya tidak memasukan Situ Gunung ke dalam daftar tempat yang rencananya akan dikunjungi jadi penasaran ingin tahu seperti apa danau Situ Gunung. Tentunya mendengar kata Situ Gunung bukan hanya danau yang menarik, tapi keberadaan jembatan gantung terpanjang se-asia tenggara yang terkenal sebagai penghubung 2 dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah yang cukup dalam di kawasan Situ Gunung.
Menurut penuturan abah Bili sebagian besar orang Sukabumi percaya Situ Gunung bukanlah danau alam, namun sebuah danau buatan manusia. Pembuat danau itu adalah bangsawan Mataram bernama Rangga Jagad Syahadana, yang akhirnya dikenal sebagai Mbah Jalun. Dia merupakan buronan Belanda yang lari dari Kerajaan Mataram karena diburu penjajah pada tahun 1800-an. Setelah bersembunyi di beberapa kesultanan Jawa Tengah, Mbah Jalun kemudian menetap beberapa lama di Kesultanan Banten.
Dalam perjalanan berikutnya mbah Jalun memperistri perempuan asal Kuningan Jawa Barat. Sepasang suami istri itu kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur Cianjur. Karena masih menjadi buronan Belanda, jalan yang dilaluinya lebih banyak membuka hutan di pegunungan. Salah satu jalan yang dibukanya adalah jalan setapak lewat Gunung Gede dan Pangrango yang konon menjadi salah satu jalur pendakian kedua gunung yang menjadi favorit banyak pendaki. Perjalanan ini penuh tantangan alam, seperti jalan yang berliku dan hutan lebat yang dihuni binatang buas. Setelah lama berjalan dengan istrinya, Mbah Jalun akhirnya berhenti di suatu lembah yang dialiri sungai yang jernih airnya. Ia pun memutuskan menetap di daerah tersebut.
Beberapa tahun kemudian, yakni pada 1814, pasangan itu dikaruniai seorang putra yang diberi nama Rangga Jaka Lulunta. Sebagai wujud syukur atas kelahiran anaknya, ia membangun danau dalam waktu tujuh hari dengan peralatan sederhana, seperti kulit kerbau sebagai alat pengangkut tanah. Selesai dibuat, ia menamai danau itu Situ Gunung, artinya danau yang ada di gunung. Namun, Belanda akhirnya mencium keberadaan Situ Gunung dan sangat takjub saat melihat keindahan danau buatan itu. Pada 1840, mbah Jalun tertangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Tapi, sebelum pelaksanaan hukuman gantung yang rencananya digelar di alun-alun Cisaat, ia berhasil melarikan diri. Konon mbah Jalun sendiri wafat tahun 1841 di daerah Bogor. Namun, hingga saat ini makamnya masih dirahasiakan oleh keturunannya.
"Sejak saat itu sampai sekarang, danau ini disebut Situ Gunung. Air danau berasal dari air terjun Curug Cimanaracun yang terletak sekitar 50 meter dari danau. Selain menikmati air danau yang tenang, pohon yang hijau, dan udara yang segar, di Situ Gunung orang bisa menikmati suara kicau burung kutilang dan kepodang yang melintas di sekitar danau." Begitu penutup cerita abah Bili yang sesekali diselingi atraksi hebatnya lelaki paruh baya itu meniup seruling bambu. Irama langgam khas sunda mengalun merdu lewat nada yang dihasilkan seruling itu bersatu dengan suara gemericik arus sungai. Syahdu.
“Kalau begitu besok kita ke Situ Gunung dulu aja yuk. Aku jadi penasaran danau seluas apa yang bisa dibikin mbah Jalun dalam 7 hari dengan peralatan sederhana.” Faiz bersemangat dan penasaran dengan pengetahuan baru yang diberikan abah Bili tentang Situ Gunung.
“Kemampuan orang dulu beda dengan kemampuan orang sekarang, Jang. Mbah Jalun itu punya ilmu setara wali yang tidak dikuasai orang-orang jaman sekarang. Tidak semua orang memiliki karomah seperti beliau. Total luas danau itu sekitar 5 hektar. Kalau orang sekarang mungkin butuh waktu berbulan-bulan buat danau seluas itu dengan mengerahkan eskavator dan alat-alat berat lainnya.”
“Ck ck ck. Nggak ada yang mewarisi ilmunya, Bah? Kalau ada proyek-proyek resort Bunda pasti bisa selesai lebih cepat tanpa perlu mendatangkan alat berat."
Tiba-tiba saja Faiz teringat proyek resort Bunda yang harus mendatangkan banyak alat berat untuk menggali tanah yang akan dibuat basement, buat kolam renang atau buat danau buatan sebagai lanskap resort. Andai orang seperti mbah Jalun masih ada pasti para kontraktor berebut mempekerjakannya.
“Entahlah. Tapi beliau itu bukan orang sembarangan, Jang. Mbah Jalun itu sebenar-benarnya wali yang punya kharomah. Anak keturunannya mungkin ada yang mewarisi ilmunya tapi orang yang punya ilmu putih seperti itu harus selalu tawadhu, begitu muncul sedikit sombong dalam hatinya ilmu itu pergi dengan sendirinya.”
“Ilmu yang aneh.” Nyali Faiz kembali menciut. Sadar diri kalau dirinya kadang masih suka sombong atau ujub.
“Tapi bikin penasaran.” gumam Doni yang tampaknya juga mewakili suara hati Faiz.
“Nggak usah dipikirin, Kak. Besok kita mampir ke sana aja. Yang lain setuju kita ke Situ Gunung dulu sebelum jalan ke selatan kan?’
“Setuju.” Hampir semua meneriakan kata yang sama.
Ittenary pun berubah. Fathia masih resah menunggu. Ia melirik Biru yang sejak tadi tampak gelisah. Rupanya tidak hanya Fathia yang merasa gelisah padahal hanya menanti sebatang coklat. Biru memiliki kegelisahan yang berbeda levelnya dan gadis itu tak pandai membohongi diri.
"Bibi kenapa? Kok kayaknya nggak bahagia gitu?"
"Sok tahu. Aku nggak apa-apa." seru Biru sambil melengos.
"Nggak setuju ke Situ Gunung?"
__ADS_1
Biru diam. Ia sudah menyusun ittenary tapi kenyataannya rencana tinggal rencana. Tak berguna. Semuanya berjalan berdasarkan spontanitas, suka-suka sang penguasa yang didukung antek-anteknya. Makin sebal ia pada si mata biru yang sok kuasa itu. Anak itu sama sekali tak menghargai keberadaannya apalagi menganggapnya tante yang mestinya lebih punya kuasa dibandingkan keponakan.
"Bibi kalau nggak setuju ngomong aja." Fathia kembali memberikan saran dengan disertai senyum santai.
"Percuma. Emang nggak enak pergi ngajak dia, semaunya sendiri. Nyebelin."
"Iya. Tapi kan dia yang bayarin, Bi. Uang itu punya kuasa. Kita mah tinggal ikut dan nikmati perjalanan aja."
Biru cemberut. Gimana nikmatinnya, Fathi. Heran, kenapa Fathia nggak merasa kalau kebahagiaannya terganggu gara-gara ulah Faiz. Sejak tadi Biru kesal dan meracau dalam hati. Pendapatnya sama sekali tak digubris Faiz.
Fathia berlari kecil mendekati Doni yang memberikan isyarat dengan matanya. Begitu dekat, dengan gerakan cepat Doni mengambil bungkusan dari sakunya lalu menyerahkannya pada Fathia lewat belakang tubuhnya agar tak diketahui Faiz yang berjalan di depannya. Oh, ini permainan yang menyenangkan. Dengan gerakan secepat kilat Fathia mengambil bungkusan itu. Dalam sekejap mata bungkusan itu telah berpindah dari saku Doni ke saku Fathia.
"Makasih ya, Fath." bisik Doni pelan nyaris tak terdengar siapa pun.
"Kembali kasih, Bang." ucap Fathia dalam hati, tak berani berucap kecuali lewat sorot matanya.
Biru yang melihat gelagat aneh yang mirip latihan mencopet itu langsung menegur Fathia dengan muka masam dan mata melotot. Tangannya meraih lengan Fathia dan menggenggamnya dengan erat.
"Ada apa antara kamu dan Doni?"
"Nggak ada apa-apa."
"Bukan apa-apa."
Fathia melepaskan genggaman tangan Biru, menghempasnya lalu buru-buru masuk ke dalam vila kecil.
Tentu saja Biru tambah curiga. Ia mengikuti gadis tanggung berparas cantik itu dengan langkah yang sama cepatnya.
Fathia buru-buru menyembunyikan bungkusan berisi coklat itu ke dalam tas selempangnya yang tergeletak di meja kamar.
"Apa yang kamu sembunyiin, Fath. Jangan main-main ya."
"Bukan apa-apa, Bi. Rahasia."
"Jangan ada rahasia-rahasiaan diantara kita. Ayo. Tunjukan benda apa yang tadi dikasih Doni."
__ADS_1
Biru berusaha merampas tas selempang yang berada di tangan Fathia. Tentu saja Fathia bersikukuh mempertahankannya sehingga terjadilah adegan tarik menarik tas itu hingga talinya putus dan Fathia menangis karenanya.
"Hua. Ini milik aku, Bi. Bibi jahat. Bibi sudah ngerusak tas kesayangan aku." Fathia menangis sambil memandang tas kulit yang talinya putus itu dengan tatapan yang membuat siapapun miris melihatnya.
"Bibi jahat. Bibi tahu nggak? Ini tas yang terakhir dibelikan abi untuk aku." ucap Fathia lirih. Ia memeluk erat tas itu dengan segenap rasa. Nafasnya tersengal.
Biru terpaku. Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia tak bisa mengendalikan emosinya? Seharusnya ia tak boleh sekasar itu pada Fathia. Duh, betapa jahatnya dirinya merusak barang yang paling berharga dari anak yang sudah kehilangan ayahnya. Sungguh jahat.
"Ada apa sih, Bi? Kenapa kamu merusak tas Fathia?" tanya Kikan gemas.
Hani dan Kikan sama-sama masuk. Keduanya bingung kenapa Fathia dan Biru bertengkar. Terlebih Fathia menangis sedih di pojok kamar sambil memeluk tasnya.
"Maaf, aku cuma mau tahu apa yang dikasih Doni ke Fathia. Aku takut ...."
Fathia mengambil bungkusan yang tadi ia sembunyikan dalam tasnya dan membukanya di hadapan semua perempuan itu. "Lihat nih! Bang Doni cuma ngasih aku coklat. Apa salah?"
Hani memeluk Fathia. Sementara itu Kikan membawa Biru ke luar kamar dan memintanya menenangkan diri.
"Makanlah coklat itu supaya hatimu lebih tenang! Kata orang coklat dapat menghangatkan perasaan kita."
Fathia masih terisak. Kerusakan tas itu sangat menyakiti hatinya. Mungkin orang hanya berpikir itu sekedar tas. Baginya itu kenangan yang paling berharga yang ditinggalkan ayahnya yang telah berpulang. Sesuatu yang tak mungkin didapatkannya lagi seumur hidupnya.
"Kita makan bareng yuk! Kak Hani juga mau makan coklat yang sama," bujuk Hani.
Fathia tersenyum. Ia memotong coklat pemberian Doni itu lalu memasukan secuil coklat bercampur kacang almond ke dalam mulutnya. Hani pun melakukan hal yang sama. Ia menunjukan senyum menikmati rasa manis gurih yang muncul di lidahnya. Begitu berulang-ulang saling menunjukan senyum hingga coklatnya habis. Keduanya mengakhiri sesi makan coklat dengan tertawa kecil.
"Coklat dari Doni boleh diterima, Fath. Tapi kalau yang dikasih hati, pikir-pikir dulu ya. Doni itu terkenal play boy di sekolah. Kamu nggak sedang menaruh hati sama dia kan?"
"Enggak."
"Berikan tas kamu ke kak Hani. Kita lihat. Mudah-mudahan masih bisa diperbaiki."
Perlahan Fathia menyerahkan tasnya pada Hani. Dengan cepat Hani memeriksa kerusakannya. "Masih bisa diperbaiki. Nanti sampai di Jakarta kita bawa ke toko reparasi tas langganan mama kak Hani. Pasti bisa diperbaiki jadi bagus lagi."
Fathia tersenyum. "Terimakasih, Kak. Ini tas kesayangan aku, hadiah terakhir dari almarhum abi dan selalu aku bawa kemana pun aku pergi. Aku sedih sekali kalau tas ini sampai rusak, karena aku nggak bisa lagi minta gantinya. Aku takut abi kecewa karena aku nggak bisa menjaganya."
__ADS_1
__________________
Happy monday💖