METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
DI BAWAH POHON FLAMBOYAN


__ADS_3

Sesampainya di sekolah Biru sudah ditunggu geng barunya, tim voli kelas 10-1, di bawah pohon flamboyan rindang yang seperti sudah didampuk sebagai base camp mereka. Seperti yang sudah diduga sebelumnya Yurika langsung berlari menghampiri untuk cari muka mendekati bundanya Faiz. Tidak hanya aktif memperkenalkan diri, Yurika juga dengan senang hati menawarkan bantuan mengantar Ritha sampai di kelasnya. Gerak cepat sekali anak itu melayani orang yang dengan percaya diri disebutnya sebagai “calon ibu mertua”. Sejak kedatangan Biru dia sudah pasang senyum terindah buat memblokir calon-calon pesaing lain yang belum tahu bundanya Faiz. Berteman dengan Biru adalah satu keunggulan kompetitif buat dirinya. Harus bergerak cepat sebelum fans Faiz yang lain tahu trik terjitu buat cari perhatian cowok bersenyum salju yang putih, dingin namun penuh pesona yang membuat hati orang yang melihatnya jadi terpana dan membeku.


“Biru tunggu di sini sama teman-teman ya, Kak.”


Ritha mengangguk.


Yurika yang merasa diberi kesempatan oleh Biru langsung mengempit tangan Ritha dengan posesif. Sebenarnya Ritha risih diperlakukan demikian oleh orang yang baru saja dikenalnya. Namun tak mungkin menepis tangan teman baik Biru yang telah berbaik hati menawarkan diri mengantarkannya sampai di ruangan kelas Biru yang Ritha belum tahu dimana. Mereka berjalan berdampingan layaknya kawan lama.


“Iza mau sama Bunda atau Bibi?”


Gadis kecil itu bergelayut manja di samping tubuh ibunya. “Sama Bunda aja.” jawabnya setelah terlebih dulu menatap teman-teman Biru.


Biru senang dengan jawaban itu, artinya ia bisa bebas ngobrol dengan teman-temannya tanpa ada kewajiban menjadi nanny buat keponakannya yang manja itu.


“Bundanya Faiz itu kakak ipar kamu ya, Bi?”


“Kenapa? Nggak mirip ya.” Biru langsung menjawab ketus.


Kikan tertawa keras. Sudah jelas itu pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Bikin kesal saja. Untung mereka tidak terus terang bilang kalau Biru tidak lebih cantik dari kakak iparnya. Biru tak suka dibanding-bandingkan.


Biru tak mengatakan apapun. Ia memukul buah flamboyan yang jatuh di dekatnya hingga ambyar lalu melempar pelan biji-bijinya yang berwarna coklat kehitaman ke depan. Buah flamboyan berbentuk bilah pedang yang berisi biji-bijian berbentuk lonjong. Buahnya agak mirip dengan petai. Bunganya banyak bermekaran di musim semi ini. Warna jingga kemerahan terlihat cantik sebab bunga-bunganya lebih banyak mendominasi daripada daunnya yang rindang dan melebar seperti canopi.


“Perfect. Warna bola matanya diwariskan ke anak gantengnya. Tapi melihat adiknya yang lebih


mirip kamu, sudah pasti kakak kamu itu ayahnya Faiz kan?”


Hanya senyum tipis yang menegaskan jawaban Biru. Tak perlu dijawab lagi. Analisa mereka benar.


“Gimana, Bi? Jadi ikut muncak nggak?”

__ADS_1


“Maaf, nggak bisa Ki. Aku mau liburan di Jampang menemani keponakanku yang kecil tadi. Kalian aja yang ikut kami ke Jampang yuk! Di sana enak lo. Rumah kakakku besar dan pemandangan alamnya bagus banget. Kayak kastil di eropa. Nanti aku tunjukan pesantren aku, juga taman dan rumah-rumahab kayu tempat persembunyian kami. Selain itu kita berencana liburan ke Geopark dan keliling tempat-tempat wisata di Sukabumi Selatan. Dijamin pemandangannya keren dan kalian nggak akan keluar biaya apapun deh. Kalau mau di sana kita bisa ikut pesantren kilat atau summer camp berupa pelatihan agrobisnis perkebunan dan pertenakan."


“Kayaknya seru ya, Bi.” komentar Hani dengan wajah bimbang. Ia melirik ke arah Kikan dan Biru bergantian. Sudah pasti ia lebih tertarik pada tawaran Biru soalnya ada iming-iming gratis dan ada wisata edukasi. Tapi tak enak hati pada Kikan yang telah lebih dulu menawarkan mengisi liburan dengan ikut hiking anak-anak PAS ke puncak gunung Gede Pangrango.


Kikan cemberut.


“Bagaimana kalau kalian tetap muncak aja, tapi turunnya langsung ke arah sukabumi lalu gabung dengan kami. Aku dan keponakanku rencananya akan ikut pesantren kilat dulu selama 2 hari. Setelah itu baru jalan-jalan.” Biru mencoba menawarkan ide lain agar Kikan tidak kecewa. Siapa tahu bisa jadi solusi.


Hani tampak berpikir keras. Tangannya iseng mengumpulkan bunga-bunga flamboyan yang berjatuhan dan menumpuknya jadi satu di hadapannya. “Kita turun lewat kebun raya Cibodas aja, Ki. Kayaknya sih dari sana ada angkutan umum dari Cibodas ke Cipanas terus lanjut ke Sukabumi."


"Tapi gimana dari Sukabuminya?”


“Telepon aja kalau kalian sudah naik bis ke Sukabumi. Nanti aku jemput di terminal. Rumah kami tidak dilewati angkutan umum. Masih jauh, sekitar sejam lebih dari kota Sukabumi ke arah selatan."


Kikan langsung berbinar-binar begitu menemukan jalan keluar. Sejak tadi ia merasa pikirannya berputar-putar pada labirin yang bikin bingung dan bimbang. “Iya. Iya. Gitu aja, Han. Jadi liburan kita full bertualang.”


“Aku suka. Aku suka. Aku suka rencana kamu yang brilian, Biru.” seru Kikan sambil mengguncang-guncang tubuh Biru. Bagai gempa bumi rasanya. Biru sampai hampir oleng karena ulah gadis tomboi yang satu itu.


“Nggak bisa. Keponakanku itu kan udah berapa hari ngambek gara-gara nggak bisa liburan ke luar negeri. Baru tadi berhasil dibujuk buat liburan ke Jampang. Aku takutnya dia ngambek lagi kalau aku tinggal naik gunung. Diajak juga nggak mungkin. Dia kan anak sultan, nggak biasa hidup susah. Lagipula dia masih kecil, suka ngerepotin. Kita ajak naik gunung nanti bayangannya kayak naik gunung di Swiss yang dilengkapi fasilitas cabel car dan ada kafe unik di atas ketinggian tertentu.”


“Nggak apa-apa kita berdua aja, Han.”


Hani mengangguk sambil tersenyum lebar.


“Eh, tapi kalau misalnya ada anak lain yang mau ikut gimana?”


“Kalau anak kelas kita sih oke. Tapi jangan lebih dari 5 orang ya.”


“Kalau aku ikut, boleh nggak?” Rio tiba-tiba muncul dari balik pohon flamboyan tempat mereka berteduh dan berbincang-bincang.

__ADS_1


Biru kaget. Tapi ia buru-buru tersenyum. Melihat senyum Rio bunga-bunga kecil yang kemarin menghilang tiba-tiba muncul lagi di sekelilingnya.


“Eh, kak Rio. Boleh. Boleh aja kalau mau ikut.” jawab Biru spontan.


Kikan dan Hani mencibir. Enak aja ada yang tiba-tiba ingin ikut. Siapa kamu? Kemarin kemana aja nggak ada kabar. Kayak jailangkung aja datang dan pergi seenaknya.


“Apa nggak merepotkan kakak kamu kalau tamunya kebanyakan?” Kikan melirik Rio dengan tatapan sinis.


“Enggak. Kakakku pasti senang. Apalagi kalau kalian pura-pura mau belajar teknik berkebun dan beternak. Banyak kok orang yang datang untuk ikut pelatihan perkebunan dan peternakan di tempat kami. Ada programnya. Bisa memilih ikut training camp juga.”


“Tapi itu kan bayar, Bi.”


“Untuk yang nggak kenal bayar, tapi untuk teman-temanku gratis.”


Ih, Biru. Kamu itu terlalu baik. Suka nggak sadar kalau kebaikan kamu mudah dimanfaatkan orang.


"Aku boleh ajak sepupuku juga?"


"Kalau ngajak-ngajak bayar, kak Rio. Mahal lo." sergah Kikan sewot. Sudah untung dirinya diperbolehkan ikut, eh pakai ngajak orang luar lagi. Benar-benar nggak tahu diri.


"Iya. Bayar juga nggak apa-apa kok. Kebetulan sepupuku lagi nyari summer camp agrobisnis."


Kikan makin sewot. "Ini tuh cuma khusus cewek."


"Enggak kok, Ki. Cowok juga boleh. Tapi kak Rio harus berangkat dengan kendaraan sendiri ke sana."


Biru tidak paham maksud Kikan tidak memperbolehkan Rio ikut. Dalam benaknya semua temannya boleh saja ikut tanpa kecuali. Kikan jadi sebal.


________

__ADS_1


Happy reading☕


__ADS_2