METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
PULANG


__ADS_3

Sebelum berangkat eyang Dewi berdiri lama di depan gerbang menatap rumah kenangan itu dengan tatapan pilu. Ada sesuatu yang memberatkan langkahnya. Cairan bening tergenang di sudut matanya yang diliputi banyak kerutan. Bibirnya menyungging senyum bangga. Bagaimana pun juga anak semata wayangnya telah berhasil mempersembahkan rumah mewah itu untuk keluarga kecilnya dengan tekat dan usahanya sendiri. Banyak kenangan di dalamnya. Dijual sayang. Namun lebih sayang lagi jika dibiarkan kosong tanpa penghuni. Rumah itu mungkin akan dijadikan markas hantu-hantu tunawisma yang biasanya senang menempati rumah-rumah kosong.


Fathia juga tampak berkaca-kaca. Tubuhnya lunglai. Pasti karena rindunya pada abinya tengah membuncah. Rindu pada orang yang telah tiada itu pasti sangat berat. Gadis itu menatap rumah kenangannya sambil bersandar pada tubuh Hani yang sesekali mengelus punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya. Sejak kemarin keduanya terlihat sangat dekat, akrab bak kakak adik yang sebenarnya.


Entah kenapa banyak orang baik yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Faiz yang biasanya cuek ikut terhanyut pada aura hampa dan kepiluan yang memancar dari orang-orang di sekitarnya. Hatinya ikut teriris melihat Fathia dan eyang Dewi yang biasanya ceria kini menampakkan aura kesedihannya dalam diam. Bisa dibayangkan betapa sulit memulai babak baru dalam hidup saat menyadari seseorang yang sangat kita cintai tidak akan pernah ada di sisi lagi. Om Ardi hidup dalam bentuk kenangan yang memenuhi kepala. Dia tak akan mungkin dapat kembali. Sementara kisah hidup mereka yang ditinggalkan di atas bumi harus terus berjalan, selamanya harus menjalani peran sebagai kekasih yang merindu. Di sini Faiz baru menyadari bila selama ini hidupnya terlalu sempurna. Memiliki orang tua lengkap yang hidupnya harmonis dan berkecukupan harta. Apa yang diinginkan selalu tercapai dengan sedikit perjuangan. Ia pikir semua orang sama beruntungnya dengan dirinya. Kenyataannya tidak. Seharusnya ia lebih banyak bersyukur sebab Tuhan sangat baik padanya.


“Ayo masuk!” Eyang Dewi memberi perintah sambil berjalan masuk ke dalam mobil SUV yang dikendarai pak Bunari.


Semuanya patuh tanpa suara.


Faiz melanjutkan tidur di dalam perjalanan. Lumayan. Semalam ia ditanggap fans main universe war sampai menjelang subuh. Baru sempat tidur dua jam setelah selesai shalat subuh, eyang sudah membangunkan dan mengajaknya pulang pagi itu.


Faiz hampir tak pernah pulang lewat jalur darat seperti ini. Ayah selalu menjemputnya dengan helikopter. Pernah sekali ikut mobil om Ardi ke Sukabumi. Perjalanan terasa lama sekali sebab om Ardi lebih suka lewat jalan alternatif melintasi jalan kampung yang sepi di kaki gunung Salak menghindari macet sambil menikmati suasana khas pedesaan. Tak disangka, hidupnya berakhir di jalan itu.


Sudah kebiasaan Faiz sejak kecil selalu mengantuk tiap kali harus melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Suara dan getaran mesin bagai ayunan bayi yang membuainya agar mudah memejamkan mata. Kalau diijinkan nyetir mungkin ada tantangan tersendiri yang memaksa matanya tak akan seberat  ini. Sayangnya ijin nyetir masih harus menunggu cukup umur dulu.


“Bos, bangun! Sudah sampai rumah.”


“Rumah siapa?” Faiz mengerjap-ngerjapkan matanya


“Rumah kamu.”


“Rumah aku?”


Perlu beberapa detik untuk sadar dan memahami bila Faiz telah sampai di depan rumahnya. Eyang dan Fathia sudah turun bercengkerama dengan bunda di beranda rumah. Pak Bunari tersenyum padanya.


“Kok diantar sampai rumah, Pak?”

__ADS_1


“Eyang mau bertemu ibu dulu katanya.”


Argh. Kenapa bisa tidur selelap itu sih. Faiz buru-buru turun. Pak Bunari membantunya menurunkan tasnya dari bagasi. Doni juga ikut menurunkan tasnya dan bersikeras membawakan tas ranselnya masuk ke dalam rumah.


Senyum bunda telah mengembang menyambutnya. Bunda selalu terlihat cantik meskipun usianya sudah memasuki kepala empat. Bunda tetap perhatian pada anak-anaknya. Seperti sekarang, meski sedang berbicara dengan eyang, ekor mata bunda tak lepas memandang puteranya yang masih bermuka bantal. Jadi malu.


Tidurnya terlalu lelap. Faiz bahkan tak sadar kalau Hani sudah tidak bersama mereka. Hani sudah lebih dulu diantar ke rumahnya.


“Kamu ikut pulang juga, Kak?” tanya bunda ketika Faiz mencium tangannya. Setiap kali bertemu bunda tak lupa memeluknya dan mengecup ubun-ubunnya sambil komat-kamit melantumkan doa.


“Iya.”


“Bukankah piknik melihat alam lebih menyenangkan?”


“Udah banyak fans yang nyariin, Bun.” kilahnya sambil tersenyum tengil.


Bunda mengerucutkan bibirnya. “Ah, kamu." Serta merta bunda langsung mendorong tubuhnya menjauh. Sepertinya bunda sedang kehabisan kata untuk menasehati anaknya.


Faiz mengangguk. Namanya ibu instingnya kuat sekali. Langsung tahu apa yang dibutuhkan puteranya. Faiz berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2. Setelah menunduk dan memberi salam pada bunda, Doni mengekorinya sambil membawa 2 tas ransel. Satu disampirkan di punggung kanan. Satu lagi ditenteng di tangan kiri.


Pintu segera terbuka sesaat setelah ia menempelkan sidik jarinya. Doni terlihat terpukau dengan sistem keamanan kamarnya yang mengedepankan privasi. Faiz membersihkan sendiri kamarnya selama ia tinggal, jadi tak ada yang punya akses masuk kamar selain dirinya dan bunda.


“Kamarmu besar dan lengkap, Bos. Kayak apartemen type studio yang mewah abis.” Doni menjatuhkan bokongnya di sofa coklat yang empuk setelah menaruh ransel-ranselnya di atas karpet. Ia tersenyum, penuh kekaguman.


“Hm.”


Doni memperhatikan seluruh sudut ruangan dengan ekor matanya. Di bagian kanan kamar ada tempat tidur type quen dengan model minimalis. Di sudut bagian lainnya terdapat semacam ruang kerja dengan meja kayu jati yang di atasnya terdapat komputer dengan layar LCD besar lengkap dengan peralatan multimedia. Kursinya terlihat nyaman, mewah dan ergonomis seperti kursi kerja direktur perusahaan ternama. Di samping meja terdapat jendela

__ADS_1


besar yang menghadap ke taman. Interior ruang kamarnya bertema simple modern yang homey.


“Itu tempat kamu streaming dan main game ya?”


“Hm.”


“Nyaman banget. Benar-benar ditata secara profesional mempertimbangkan berbagai aspek. Pantes kamu tidak suka kontrak tim. Ternyata kamar kamu lebih nyaman dibandingkan fasilitas di game house.”


“Enggak kok. Game house kan memang disewa dan didesain dengan layout khusus kebutuhan tim e-sport, kenyamanannya beda. Aku lepas kontrak bukan alasan kewajiban karantina. Ayahku sudah menetapkan beberapa poin dalam kontrak tentang kapan aku harus masuk game house. Beliau ingin aku diberi waktu sekolah dan beraktivitas bersama keluarga.”


Siapa sih yang tidak iri dengan kehidupan Faiz? Ganteng iya. Kaya, banget. Pinter dan jago main game lagi. Apa sih kekurangannya? Kenapa Tuhan terlalu baik padanya?


“Kamarmu privasinya nomor satu, Bos. Nyaman banget. Kalau jadi kamu, aku pasti juga memilih jadi pemain tanpa klub. Bebas."


Faiz mengacungkan jempolnya.


"Aku penasaran ingin lihat sarana dan aktivitas di game house. Kapan waktu ajak aku main ke game house dong, Bos.”


“Nggak janji. Nggak sembarangan orang diijinkan masuk game house."


"Masak bos nggak bisa?"


"Bukan nggak bisa, tapi aku merasa itu nggak penting. Kalau mau lihat kamu kan tinggal lihat di chanel VLOG para pemain pro klub yang bersangkutan. Pasti ada aja yang pernah bikin konten room tour di game house atau house of gaming."


Doni mengangguk. Memang sih sudah ada beberapa gamer profesional yang punya akun VLOG dan pernah buat konten yang memperlihatkan aktivitas dan fasilitas di tempat karantina para pemain e-sport profesional. Semua tinggal nonton. Asal kuota data ada, segala keingintahuan orang terjawab lewat video yang diunggah orang lain.


"Aku mau mandi dulu." Faiz mengambil baju ganti dari dalam ranselnya. Tadi pagi ia memang belum sempat mandi. Bangun tidur, sarapan roti dan susu lalu berangkat pulang. Bahagia rasanya membayangkan bisa berendam di bathtub dengan air hangat dan wewangian segar sudah sangat dirindukannya. Ini sebuah contoh rindu ringan yang sederhana sebab yang dirindukan terlalu mudah digapai. Rasanya pasti tidak seberat rindu pada orang yang sudah tak mungkin dijumpai. Oh... om Ardi. Faiz juga rindu padamu. Rindu senyummu. Rindu kebaikanmu. Rindu semua hal tentang dirimu.

__ADS_1


________


Selamat membaca💖


__ADS_2